
Setelah memastikan bang Supri benar benar sudah bangun dan ke kamar mandi, aku melanjutkan langkahku menuju dapur untuk berbenah, mencuci piring selanjutnya menggiling baju di mesin cuci. Untuk menghemat waktu aku mencuci baju sembari memasak untuk sarapan sekaligus memasak untuk makan siang karena pagi ini aku harus mengantar makanan lagi ke rumah sakit.
Aku membuka kulkas, lalu mengambil semua bahan makanan yang kemarin sore telah di beli namun belum sempat di masak karena Raihan membawa makanan banyak untuk kami.
Untuk sarapan pagi ini aku masak yang mudah dan cepat saja yaitu nasi goreng toping telur mata sapi. Sementara untuk makan siang aku membuat sup ayam dan ayam goreng setelah di ungkep terlebih dahulu agar bumbu meresap dan tekstur empuk supaya anak anak tidak kesulitan menggigitnya.
Pukul setengah tujuh aku sudah selesai memasak dan tinggal mengurusi anak anak yang belum bangun.
"Ria, Rio ayok bangun sudah pagi kalian harus sekolah."Setelah bersusah payah membangunkan mereka, akhirnya mereka bangun juga.
"Aku mau libur lagi sekolahnya kak,"kata Ria sembari mengucek kedua matanya, memperjelas penglihatan nya.
"Aku juga kak, aku masih ngantuk," ucap Rio, lalu menguap lebar.
Aku geleng-geleng kepala melihat mereka." Tidak bisa seperti itu karena kalian sudah libur dua hari. Bagaimana kalau nanti kalian tidak naik kelas karena jarang sekolah?"
Mereka terdiam lalu saling pandang namun tak lama kemudian mereka berseru secara serempak.
"Kami mau sekolah kak."
Aku tersenyum mendengarnya dan menyuruh mereka untuk segera mandi dan mereka pun menurut.
Sambil menunggu Ria dan Rio selesai mandi, aku masuk ke dalam kamar hendak mengecek dua balita yang ada di dalam sana namun ternyata dua balita itu sudah terbangun entah sejak kapan. Aku tersenyum melihat dua balita yang sedang anteng bermain mobilan.
"Anak anak ganteng mama sudah pada bangun, kita mandi dulu yuk bau acem." Aku mengajak mereka untuk mandi terlebih dahulu sebelum main kembali dan mereka menurut.
"Ria, Rio seragamnya langsung di pakai ya? sudah kakak siapkan di atas kasur depan TV," titah ku pada dua bocil yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya kak," jawab Ria, kemudian mereka berjalan beriringan ke ruang TV.
Untuk menghemat waktu aku memandikan dua balita itu sekaligus dan mendandani mereka sekaligus pula. Setelah semua terlihat rapih, aku mengambil tiga piring nasi goreng yang sudah di siapkan sebelumnya. Dua piring nasi goreng untuk sarapan Ria dan Rio dan satu piring untuk sarapan Zain dan fatan yang akan aku suapi secara bersamaan.
Setelah semuanya sudah di pastikan sarapan dan kenyang, aku menitipkan Zain dan fatan pada bang Supri terlebih dahulu karena harus mengantar Ria dan Rio ke sekolah mereka masing masing.
Aku memboncengi dua bocah itu sekaligus. Pertama aku mengantar Rio terlebih dahulu ke sebuah sekolah SD negeri. Sebelum aku meninggalkannya aku memberikannya uang jajan sebesar sepuluh ribu.
"Biasanya kamu pulang jam berapa Rio?"tanya ku.
"Jam dua belas kak."
__ADS_1
"Ya sudah nanti kakak jemput. Kamu belajar yang rajin ya?"
"Iya kak." Kemudian Rio berjalan memasuki gerbang menuju sekolahnya sementara aku memperhatikannya hingga dia benar benar sudah masuk ke area sekolah.
Setelah itu, aku mengantar Ria yang bersekolah di SMP kecamatan. Sebelum aku meninggalkannya aku memberinya uang jajan dua puluh ribu.
"Terima kasih kak Nuri," ucapnya, sembari menyalamiku.
"Iya, kamu yang benar sekolahnya okey."
Ria mengangguk.
Setelah dipastikan Ria memasuki kelasnya aku bergegas menancap gas karena ada tugas satu lagi yang belum terealisir yaitu mengantar makanan untuk sumi di rumah sakit.
Setelah tiba di rumah aku mencari keberadaan bang Supri karena melihat dua balita bermain berdua saja tanpa di temani olehnya. Ketika ke dapur ternyata bang Supri sedang sarapan nasi goreng di atas meja makan. Kali ini bang Supri makan dengan benar, dia tidak lagi mengangkat satu kakinya di atas kursi dan aku senang melihatnya.
"Bang, aku mau pergi ke rumah sakit sekarang. Aku titip anak anak ku dulu ya bang?"
"Ya sudah Nur, sana pergi, biar anak anak aku yang jaga."
Setelah menitipkan dua balita pada bang Supri, aku bergegas membawa satu kotak berisi nasi dan satu bungkus nasi serta lauk pauk yang terpisah.
Tiba di rumah sakit aku segera memarkirkan motorku di parkiran khusus roda dua. Setelah terparkir cantik aku segera memasuki gedung itu dengan langkah yang lebar karena berburu dengan waktu.
Tepat pukul sembilan pagi, aku baru sampai di ruang khusus pasien paru paru dimana ibu nya Sumi di rawat. Ketika aku masuk ke ruang itu aku mendengar di balik penyekat Sumi sedang berbicara dengan seorang dokter. Mungkin dokter itu sedang memeriksa ibu Mariam dan dengan terpaksa aku menunggu dokter itu selesai memeriksa saja karena jika aku nyelonong masuk rasanya tidak sopan.
Lima menit kemudian, terlihat tirai terbuka dan aku mengernyitkan dahi ku melihat sosok dokter yang baru saja memeriksa Bu Mariam. Dokter itu melihat ke arah ku dan wajahnya nampak tercengang.
"Bukan kah mba yang....kemarin menabrak saya hingga jatuh?"tanya dokter itu.
"Bapak dokter bayu kan ya?"aku balik bertanya.
"Mba masih ingat dengan saya?"
Bersamaan dengan pertanyaannya, Sumi keluar dari balik tirai lalu menyapaku.
"Nuri..."panggil Sumi sembari jalan ke arahku.
"Sum, ini sarapan sama makan siang mu."Aku menyodorkan tas kain ke arah nya.
__ADS_1
"Ya, ampun Nuri, aku ngerepotin kamu terus ya, aku banyak hutang budi sama kamu Nuri," ucap Sumi, kemudian meraih tas di tanganku.
"Pagi pagi sudah ngomongi pak budi Sum, Oya gimana ibu mu ada kemajuan?"
"Ini dokter yang menangani ibuku, Nur,"tunjuk Sumi pada pria berjas putih dan berdiri di samping kami.
Aku mengalihkan pandangan ku pada pria itu."Oh, jadi bapak dokter yang mengobati ibu Mariam?" tanya ku padanya.
"Bapak?" ucap ulang dokter itu.
Aku tersenyum nyengir, aku lupa kalau dokter itu tidak ingi di sebut baik.
"Apa saya ini terlihat tua banget ya sampai nona cantik ini memanggil saya bapak?" Dokter itu protes.
"Ah, ya maaf dokter bayu. Emm gimana keadaan ibu Mariam mas dokter?" tanya ku langsung pada intinya meskipun terasa canggung.
Dokter itu tersenyum.
"Kondisi ibu Mariam sudah berangsur membaik, mungkin sekitar tiga atau empat hari ke depan beliau sudah bisa di bawa pulang." Dokter bayu menjelaskan.
"hmm syukur lah. Terima kasih banyak mas dok."
Dokter Bayu itu mengangguk dan tersenyum.
"Apa kalian bersaudara?"tanya dokter itu.
"Kami berteman sekaligus tetangga di kampung dok." Bukan aku yang menjawab melainkan Sumi.
"Oh, begitu.
"Ehm Sum, aku tidak bisa lama di sini. Aku harus jemput Ria dan Rio di sekolah mereka," kataku pada Sumi.
"Jadi Ria sama Rio mau sekolah?"
"Iya, tapi itu juga harus di bujuk dulu baru mereka mau sekolah. Aku juga tidak enak ninggalin lama anak anak di rumah."
"Ya ampun Nur, aku jadi benar benar merepotkan kamu. Sudah jagain adik adik serta anak ku, harus bolak balik nganterin makanan buat aku. Selain itu kamu juga yang membiayai perawatan ibuku. Aku benar benar berhutang budi sekali sama kamu Nur."
"Ngomongin pak Budi mulu dari tadi kamu Sum, jangan di pikirin Sum selagi aku masih bisa why not, he he. Ya sudah ya aku mau pulang dulu."
__ADS_1
Sumi memeluk ku, dokter itu hanya memperhatikan kami saja tanpa ikut berbicara. Setelah itu aku ijin pamit pada mereka. Namun ketika aku sedang berjalan meninggalkan ruang paru paru, dokter yang memiliki nama bayu itu memanggilku. Aku menoleh ke arah nya, dia terlihat melangkah lebar ke arahku setelah menutup pintu ruang paru paru itu terlebih dahulu.