
Hari ini aku mengatakan pada Raihan bahwa aku ingin pulang ke rumahku. Awalnya, Raihan tidak mengijinkan aku untuk pulang hari ini karena dia khawatir atas kondisiku. Namun setelah ku yakin kan bahwa aku benar benar sudah sehat maka Raihan pun mengijinkannya dengan berat hati.
Aku menunggu Raihan mengambil sepeda motornya di dalam garasi sambil menggendong Zain. Raihan mengeluarkan motor matik nya lalu mendorongnya hingga sampai di depanku.
"Ayok mba naik!"
Aku tidak langsung naik melainkan masih memperhatikan dirinya serta motor matic yang masih terlihat kinclong. Sepertinya Raihan jarang sekali memakainya, karena aku sendiri pun tidak pernah melihat Raihan memakai motor matic.
"Kenapa lihatin aku seperti itu mba? terlihat aneh ya aku mengendarai motor ini?"
"Oh bukan, aku hanya heran saja. Kenapa kamu mengoleksi begitu banyak motor Rai?"sebenarnya aku memang ingin mengatakan bahwa Raihan tidak pantas membawa motor kecil karena tubuhnya yang tinggi dan tegap. Dia hanya pantas membawa motor sport. Tapi, itu bukanlah hal yang penting untuk di utarakan. Aku hanya bertanya pada intinya saja atas rasa keheranan ku pada koleksi motornya.
Raihan tersenyum ke arahku lalu menjawab," kalau rusak satu masih ada motor yang lainnya mba, Jadi tidak perlu menunggu motor di perbaiki dulu. Apa mba Nuri mau memakai salah satu motor saya agar lebih mudah kalau mba mau pergi kemana mana?"
Aku tersentak mendengar tawaran Raihan dan langsung menjawab,"Oh, tidak Rai, terima kasih."
"Aku serius mba, ingin memberikan satu motor matic untuk mba!" Raihan berbicara sambil menatapku dengan sorot mata serius. Aku tahu bahwa Raihan tidak pernah main main dengan ucapannya.
"Tidak perlu Rai, aku tidak perlu motor lagian aku mau pergi kemana sih? paling juga hanya sekitaran kampung saja."Tentu saja aku tidak ingin menerimanya karena motor itu benda mahal dan tidak cukup dengan uang seratus dua ratus ribu untuk membelinya melainkan harganya hingga belasan juta. Dan aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan Raihan karena cukup sudah selama ini dia menolongku. Membiayai rumah sakit ku yang nominalnya tidak sedikit dan aku tidak ingin menguras uangnya lagi.
"Mba...!"
"Sudah yuk Rai, aku ingin segera pulang nih!" Aku mengalihkan pembicaraan karena aku tidak ingin Raihan semakin mendesak ku untuk menerima pemberiannya.
Raihan terdengar menghembuskan nafas berat dan berkata," ya sudah yuk naik!"
Raihan melajukan motornya dengan sangat pelan seolah olah dia tidak ingin segera sampai. Padahal jarak rumahku dengannya hanya membutuhkan waktu lima menit jika mengendarai motor dan lima belas menit jalan kaki.
Tiba di rumah ku, aku tidak mendapati motor mas Surya lagi mungkin dia sudah kembali ke jakarta. Seulas senyum pun tersungging di bibirku. Namun aku melihat sebuah motor yang ku ketahui milik kakak ipar ku yaitu mba Yati istrinya bang supri ada di depan rumahku.
__ADS_1
Ketika aku membuka pintu, ku dapati ibu sedang mengobrol dengan mba Yati di sofa ruang tamu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tumben tumbenan mba Yati mengunjungi rumahku.
"Assalamualaikum bu, mba Yati!" sapa ku.
Mereka menoleh ke arah ku yang sedang berdiri di ambang pintu. Ibu tidak bertanya bagaimana keadaanku? melainkan memalingkan wajahnya ke arah lain melihat kedatanganku. Sedih sekali rasanya, jangankan di jenguk atau di rawat olehnya di tanyai bagaimana keadaanku saja tidak. Sementara mba Yati memandang ke arah ku tanpa kedip dan dengan mulut menganga lebar. Aku tau apa yang membuat ekspresi wajah mba Yati seperti itu? apa lagi kalau bukan karena melihat kehadiran Raihan, pria muda yang tampan sedang berdiri di sampingku.
"Mba, aku letak kan dimana tas ini?" tanya Raihan yang sedang menggendong Zain dengan wajah datarnya. Aku merasa Raihan tidak menyukai sikap ibu yang cuek serta mba Yati yang memperhatikannya tanpa kedip.
"Oh, sini biar aku yang pegang saja Rai."
"Tidak mba, biar aku saja. Ini berat lho,"tolak Raihan.
Aku tidak bicara lagi melainkan berjalan ke arah kamarku melewati ibu serta mba Yati dan Raihan mengekor di belakangku. Selama Raihan berjalan melewati mereka, mba Yati terus saja memperhatikan Raihan seperti yang baru melihat pria tampan saja dan aku tau dia terpesona pada ketampanan Raihan.
Raihan meletak kan tas di kamar serta menurunkan Zain dari gendongannya. Aku memberikan mainan untuk Zain di dalam kamar agar Zain anteng bermain sendiri. Aku serta Raihan berjalan ke luar kamar. Di depan pintu kamar Raihan menghentikan langkahnya.
"Aku pulang ya mba, mba harus banyak istirahat dan jangan dulu kerja," ucap Raihan memperingati ku. Aku merasa terharu di perhatikan nya.
Raihan tersenyum lalu meraih pipiku dan mengelusnya dengan lembut.
Setelah itu, Raihan dan aku berjalan melewati mba Yati yang masih saja memperhatikannya sementara ibu entah kemana. Aku mengantar Raihan hingga teras depan rumah.
"Kalau ada apa apa kasih tau aku ya mba, jangan di simpan dan di rasakan sendiri saja. Anggap saja aku ini bagian dari anggota tubuh mba jadi apa pun yang sedang terjadi sama mba atau di rasakan oleh mba aku pun harus ikut merasakannya juga."
Aku tersenyum hangat. Rasanya terharu dan senang sekali dekat dengan seseorang yang dapat mendengarkan keluh kesah ku.
Raihan tersenyum ke arahku lalu melajukan motornya meninggalkan rumahku. Setelah kepergian Raihan, aku memasuki rumah ku kembali.
Pada saat aku melewati ruang tamu, mba Yati bertanya dengan nada mengejek," dapat brondong dari mana kamu? Hebat juga kamu Nur, penampilan kumel dan kucel dan jelek bisa dapat brondong ganteng seperti dia."
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku lalu memiringkan tubuhku mengarah pada mba Yati yang sedang duduk sambil sebelah kakinya di tumpangi ke kaki sebelahnya hingga nampak betis besarnya serta lutut yang hitam karena mba Yati memakai rok renda pendek. Mba Yati memang kerap kali memakai baju se xi serta wajah penuh make up. kontras sekali dengan penampilan suaminya bang Supri yang selalu terlihat dekil dan pakaian yang tak pernah rapih.
"Kenapa mba, apa mba terpesona oleh ketampanan teman saya itu? aku maklumi sih mungkin karena mba yang tiap hari selalu melihat suami dekil mba, jadi ketika melihat pria tampan langsung terpesona dan melupakan suami dekilnya." Aku membalas ocehan mba Yati, kesal sekali aku pada ucapannya mengatai ku kumel, kucel dan jelek, seperti dirinya cantik saja.
"Dih, mana tertarik aku sama brondong. Bukan level ku ya, emangnya aku kamu apa?"
"Kalau tidak tertarik, kenapa mulut mba terbuka lebar ketika melihat temanku yang tampan tadi? Oya, sebenarnya bang Supri itu ganteng lho mba kalau di urus. Jangan hanya mengurus dan mempercantik diri saja tapi lakinya juga harus di urus."
Mba Yati terlihat salah tingkah. Sepertinya dia baru sadar bagaimana ekspresinya ketika melihat Raihan.
"Lah, emang kenapa? mulut mulutku, mau terbuka mau tidak bukan urusanmu."
"Memang bukan urusan ku sih, hanya geli saja aku melihatnya. Oya, urus itu bang Supri, baju dan sepatu di cuci kan biar tidak terlihat dekil, jangan hanya ingin duitnya saja tapi merawatnya tidak mau."
"Jangan bicara kurang ngajar kamu sama Yati, Nur!" ibu tiba tiba membela mba Yati padahal aku sedang membela anak kesayangannya yang kurang di urus oleh istrinya.
Mba Yati tersenyum sinis lalu menambahkan ucapan ibu," iya tuh Bu, si Nuri tidak ada sopan sopan nya sama kakak iparnya. Padahal aku disini sedang bertamu lho, eh malah di sambut kurang ngajar oleh si Nuri."
"Bukan aku yang menyambutnya kurang ngajar mba, tapi mba Yati sendiri yang bertamu tapi mulutnya tidak sopan sama pemilik rumahnya."
Ucapan ku mendapat tatapan tajam dari ibuku. Aku tau bahwa dia tidak suka jika aku mengakui kalau rumah ini adalah milikku. meskipun kenyataannya demikian walau pun membangunnya di atas tanah miliknya.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar ku sebelum mereka mengoceh lagi. Kesal sekali aku pada mulut kakak ipar ku yang menyebalkan. Di dalam kamar, aku mengeluarkan isi tas yang di bawa dari rumah sakit. Terlihat beberapa baju baru aku dan Zain serta beberapa baju bekas pakai aku dan Zain. Setelah aku mengeluarkan semua isi tas, aku menemukan sebuah amplop cokelat yang berisi entah apa namun nampak tebal. Aku penasaran lalu membukanya. Seketika mataku membelalak melihat isi dalam amplop. ber lembar lembar uang warna merah ada di dalamnya. Aku mengeluarkan semua uang nya lalu mendapati sebuah surat yang di tulis di selembar kertas yang di lipat.
"Uang tidak seberapa ini untuk kebutuhan mba dan Zain. saya tau mba pasti tidak ingin menerimanya tapi saya mohon untuk kali ini saja tolong di terima ya?kalau tidak saya akan merasa sedih sekali. Mba baru saja sembuh dan tolong jangan bekerja dulu dan pakai saja uang ini untuk kebutuhan sehari hari hingga mba benar benar sembuh dan bisa bekerja kembali."
Ku hitung lembar demi lembar uang yang ada di dalam amplop yang terlihat sangat banyak. Aku tercengang setelah mengetahui berapa jumlah uangnya. Raihan memberiku uang sepuluh juta secara cuma cuma. Aku menitik kan air mataku melihat uang di tanganku. Kenapa Raihan begitu baik padaku hingga rela mengorbankan waktunya serta uangnya untuk diriku dan Zain.
Uang sebanyak sepuluh juta aku dapatkan dari Raihan dalam hitungan menit. Uang sepuluh juta bisa saja aku dapatkan dari suamiku tetapi dalam waktu dua puluh bulan baru aku bisa mendapatkannya. Miris memang, Raihan yang bukan suamiku memberiku uang banyak dengan ke ikhlasan hatinya. Sementara suamiku sendiri memberiku uang yang nominalnya tidak seberapa namun meminta imbalan untuk melayani nafsunya siang dan malam hingga aku sakit dan di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Ingin rasanya aku mengembalikan uang pemberian Raihan tapi aku takut akan membuatnya merasa kecewa padaku. Mungkin uangnya akan aku simpan saja di rekeningku. Aku tidak ingin memakannya dulu hitung hitung sebagai tabunganku.