Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Tiga hari sudah mas Surya libur kerja dan selama di rumah mas Surya tidak pernah membelanjakan uangnya untuk kebutuhan kami sehari hari. Aku bersyukur di saat suami ku tidak memberikanku uang belanja Allah masih memberikan rizki untukku melalui tangan Raihan dan Bu Rida. Jika saja mereka tidak memesan gorengan dalam jumlah yang banyak mungkin aku tidak bisa memberi makan enak pada suami serta ibuku.


Tepat pukul setengah empat setelah melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu aku mulai membuat gorengan pesanan Bu Rida. Membuat bakwan, tahu isi, goreng pisang serta onde onde. Ku kerjakan pekerjaanku dengan penuh semangat dan senyum yang selalu mengembang di bibirku.


Tepat pukul lima sore semuanya sudah selesai di kerjakan dan aku sudah siap untuk mengantarnya ke rumah Bu Rida.


Ku lirik suamiku yang sedang menikmati kopi serta gorengan yang ku suguhkan sambil memainkan ponselnya.


"Mas...aku boleh pinjam motornya untuk mengantar pesanan Bu Rida sebentar?"


Mas Surya menoleh ke arahku sekilas lalu pandangannya di alihkan kembali ke layar ponselnya.


"Sebentar lagi aku mau pergi! kamu jalan kaki saja bukannya rumah Bu Rida dekat?"


Aku menelan saliva ku mendapat penolakan dari suamiku. Jangankan mengantarkan aku meminjam motornya saja tidak di bolehkan olehnya. Pelit sekali suamiku jika di pikir.


Aku beranjak dari hadapan mas Surya tanpa ingin berbicara lagi karena aku bukan tipe orang yang suka memaksa atau merengek ketika keinginannya tidak di kabulkan. Selagi kedua kakiku masih berdiri kokoh serta dapat di gerak kan dengan baik aku tidak akan pernah mengemis pada mas Surya dan semoga aku tidak akan pernah mengemis apapun padanya termasuk meminjam sepeda motornya.


Ku langkahkan kakiku menuju rumah Bu Rida yang letak rumah nya memakan waktu dua puluh menit dengan berjalan kaki. Sambil menggendong Zain ku telusuri jalanan beraspal namun sepi pengendara. Dalam perjalanan aku merasa gelisah sekali karena sudah jam lima lewat lima belas menit gorengannya belum sampai di rumah Bu Rida dan aku takut Bu Rida merasa kecewa padaku.


Tin...tin...tin..


Sebuah klakson motor sedikit mengagetkan kan ku. Aku menghentikan langkahku di pinggir jalan dan pengendara motor itu memberhentikan motornya tepat di sampingku. Sang pengendara motor besar membuka helmnya nampak wajah tampan rupawan tersenyum manis ke arahku.


"Rai...kamu rupanya !" Aku sedikit tidak mengenalinya karena motor besar yang di tumpangi Raihan saat ini berbeda dengan motor besar yang biasa dia pakai.


"Mba Nuri mau kemana?" tanya Raihan. Pandangannya tak lepas dari keranjang gorengan yang sedang ku tenteng.


"Aku mau ke rumah Bu Rida Rai...mau antar pesanan."


"Kalau begitu saya antar saja mba biar cepat."


"Apa aku tidak merepotkan mu Rai?"


"Sama sekali tidak lah mba, lagi pula kasian Zain harus berjalan kaki jauh."


"Zain dari tadi ku gendong Rai...dia tidak aku jalankan."


"ha..ha..ha.. aku becanda saja mba. Ya sudah yuk aku antar sekarang."


Aku tidak berfikir panjang lagi karena aku sendiri sedang di buru oleh waktu oleh karena itu tawaran Raihan aku terima dengan cepat. Aku menaiki motor besar Raihan dengan sedikit kesusahan karena membawa Zain serta keranjang berisi gorengan.


"Pegangan yang kuat ya mba!"


Aku mengangguk lalu melingkarkan satu tanganku ke pinggang Raihan karena tangan satunya memegang keranjang. Sementara Zain dihimpit di tengah antara aku dan Raihan.


Sepuluh menit kemudian kami tiba di tempat tujuan. Bu Rida sedang menunggu kedatanganku di teras rumahnya. Aku mengucapkan salam lalu memberikan keranjang berisi gorengan pesanannya.


"Maaf Bu Rida, saya sedikit terlambat. Soalnya tadi tidak ada kendaraan."


"Tidak apa apa Nur, yang penting belum lewat magrib kan? Oya duduk dulu Nur, saya ambil uang kekurangannya dulu."


"Terima kasih Bu!"


Aku duduk di bangku teras rumah Bu Rida bersama Raihan dan Zain yang sedang di gendong oleh Raihan.Tak lama Bu Rida muncul dari dalam rumahnya.

__ADS_1


"Ini nur, sisa uangnya."Bu Rida menyodorkan uang padaku dan aku menerimanya.


"Alhamdulilah, terima kasih banyak Bu Rida. kalau begitu saya langsung pulang saja Bu, keburu magrib."


"Oh, begitu. Eh sebentar kamu Raihan anaknya Bu hajah Fatimah kan?" Bu Rida memperhatikan Raihan yang dari tadi menunduk sambil menggendong Zain sehingga Bu Rida baru menyadari jika ada Raihan ikut bersamaku.


Raihan mendongak kan wajahnya lalu tersenyum pada Bu Rida.


"Benar Bu..!" jawab Raihan singkat.


"Oala...aku baru ngeh dari tadi. Eh Raihan kok kamu ganteng dan gagah banget sekarang? masih kuliah apa sudah kerja Rai?"


"Alhamdulilah dua duanya Bu!"


"oalaa, keren banget kamu Rai.. cocok banget kalau di jadikan mantu he he."


"Mamah di panggil bapak di dapur..!"seorang gadis muda muncul dari dalam rumah Bu Rida lalu melihat ke arah ku serta Raihan dengan ekspresi wajah terkejut.


"Kak Raihan..!"


"Nah, ini Risa anak saya Rai..kamu masih ingatkan sama Risa? Risa jarang di rumah karena dia sedang kuliah sudah semester empat. kayaknya kalian itu cocok lho, sama sama ganteng dan cantik juga sama sama anak kuliahan." Bu Rida terlihat semangat sekali mempromosikan anak gadisnya pada Raihan dan Risa sendiri terlihat malu malu. Sementara aku hanya menyimak saja. Ku lirik Raihan sedang tersenyum dan melirik ke arah gadis yang tengah malu malu. Dan aku langsung berpikir bahwa Raihan pasti tertarik pada Risa selain cantik dia juga seorang gadis terpelajar sama hal nya dengan Raihan.


"Hai Risa apa kabar?"sapa Raihan.


"Lho, kalian sudah saling kenal rupanya!"


"Risa itu idola kampus Bu, siapa yang tidak kenal sama Risa." Raihan memuji Risa dan pujiannya membuat Risa tersipu malu.


"Oh, jadi kalian ini satu kampus toh? wah, kebetulan sekali ya Rai..kalian bisa kenalan lebih dekat lagi...siapa tau kedepannya kalian cocok dan berjodoh."


"Bagaimana ya Bu, saya tidak bisa mendekati wanita yang memiliki fans laki laki banyak seperti Risa Bu!" Aku tau secara tidak langsung Raihan menolak keinginan Bu Rida. Aku heran pada Raihan padahal Risa gadis yang cantik dan terpelajar tapi kenapa Raihan tidak menyukainya.


"Mba Nuri, apa urusannya sudah selesai dengan Bu Rida?" tanya Raihan padaku tiba tiba. Aku yang sedang menyimak obrolan mereka sedikit tersentak.


"Su..sudah Rai..!"


Ku lirik Risa dia tampak cemberut karena ucapannya tidak di tanggapi oleh Raihan.


"kalau begitu kita pulang sekarang saja bentar lagi mau Maghrib."


"Owh, ya sudah kalau gitu. Bu Rida saya pamit pulang dulu ya!"


"Oh, ya nur!"


"Kak Raihan....!" panggil Risa ketika aku hendak menaiki motor Raihan.


Raihan menoleh ke arah Risa yang sedang berdiri di samping ibunya.


"Ada apa Ris?"


"Ucapan ku serius kok kak, aku tidak suka mereka tapi...!"


"Sudah mau magrib kami permisi dulu ya Risa Bu Rida...assalamualaikum!" Raihan segera menancap gas untung aku sudah berpegangan kalau tidak bisa terjatuh karena Raihan mengemudikan motornya secara tiba tiba.


Ku cubit pinggang Raihan karena dia melajukan motornya sedikit kencang. Aku yang tak biasa menaiki motor besar jadi merasa ketakutan.

__ADS_1


"Duch, sakit mba..!daripada di cubit mending di cium saja mba,"ucap Raihan sambil melajukan motornya.


Aku tidak menanggapi ucapan becanda Raihan melainkan menambah lagi cubitan yang lebih kencang. Raihan menggeliat lalu sebelah tangannya menggenggam tanganku yang sedang mencubit pinggangnya.


"Mba Nuri tangannya nakal ya?"


"Habis kamu bawa motornya terlalu kencang Rai..!"


"He..he..!"


"Lepasin tanganku Rai.. nanti kita bisa terjatuh kalau kamu nyetirnya hanya satu tangan!"


"Tidak mau, nanti mba Nuri mencubit pinggangku lagi. Aku lebih baik di cium mba Nuri dari pada di cubit tidak kuat sama geli."


"ehmm, becandanya tidak lucu Rai..!"


"He..he..!"


"Rai..gerimis..!" cuaca sudah terlihat mendung sejak tadi sore dan sekarang tiba tiba saja gerimis rintik rintik.


"Pegangan yang kuat mba!"


Aku menuruti perintah Rai kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Raihan melajukan motornya dengan kencang sehingga kami tiba di rumah bertepatan dengan turun hujan cukup lebat. Aku menyuruh Raihan untuk singgah terlebih dahulu sambil menunggu hujan reda dan Raihan pun menuruti perintahku.


"Masuk dulu Rai...tunggu di dalam rumah saja." Ku buka pintu rumah terlihat rumahku sepi sekali. Seperti nya ibu serta suamiku sedang pergi entah kemana.


"Terima kasih mba..!" Raihan mengekor di belakangku sambil menggendong Zain.


"Silahkan duduk Rai..!" ku persilahkan Raihan duduk di atas sofa ruang tamu dan Raihan pun menurut dia duduk di sofa sambil menggendong Zain.


"Zain turun nak, kasihan uncle Rai dari tadi gendong Zain."


Zain mendongak kan wajahnya ke atas melihat pada wajah Raihan.


"Uncle cape?" tanya Zain dengan polosnya.


Raihan tersenyum pada Zain.


"Kata siapa uncle capek? Zain duduk di pangkuan uncle saja ya tidak apa apa kok."


Zain mengangguk lalu tersenyum senang.


"Bentar ya Rai..aku ke dapur dulu !"


"Silahkan mba!"


Aku bergegas ke dapur membuatkan teh hangat untuk Raihan. Setelah itu, aku kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi teh hangat serta satu piring gorengan.


"Wah, aku jadi merepotkan mba Nuri..!"


"Sama sekali tidak repot Rai..justru aku yang merepotkan kamu kalau tidak ada kamu mungkin saat ini aku kehujanan sama Zain."


"Memangnya suami mba Nuri tidak mau antar mba tadi?"


"Dia...dia katanya sih mau pergi jadi tidak bisa antar aku."

__ADS_1


"Oh, begitu...kok rasanya tega banget membiarkan istri sama anak berjalan kaki jauh... padahal apa susahnya mengantar sebentar sebelum dia pergi." Raihan terlihat geram pada suamiku.


"Ehmm..Rai..di minum teh nya mumpung masih hangat." Aku mengalihkan pembicaraan agar Raihan tidak lagi membahas suamiku karena aku sendiri tidak ingin membahasnya.


__ADS_2