
"Nur, Nuri...!"
Teriakan mas Surya cukup mengejutkanku yang sedang berada di dapur dan kemudian bergegas menghampirinya. Sambil berjalan tergesa gesa ke arahnya aku bertanya padanya yang sedang berdiri di ambang pintu kamar."Ada apa sih mas, malam malam teriak? seperti sedang berada di hutan saja."
Mas Surya menatap kesal ke arahku lalu bertanya balik setelah berdiri di hadapannya."Siapa yang nyuruh Zain tidur di kamar kita?"
Sejenak menenangkan jantung yang berdebar kemudian aku menjawabnya,"aku sendiri yang menginginkannya. Memang kenapa? kamar ini kan kamarku dan Zain."
"Tapi tidak ketika aku sedang di rumah Nuriii...!"omelnya padaku.
"Memang kenapa sih mas? Zain itu anak mu juga, darah daging mu mas, dan apa salahnya kalau dia tidur dengan kita."
"Ya karena aku tidak mau tidur satu ranjang sama anak itu."
Aku menggoyangkan kepalaku, tidak habis pikir sikap mas Surya pada Zain yang menganggap Zain seperti bukan anak kandungnya sendiri.
"Apa karena Zain tidak mirip dengan mu sehingga kamu menganggapnya orang lain?" tanya ku dengan nada ku tekan kan.
"Lebih dari itu. Apa kamu lupa apa yang aku katakan tadi siang kalau pada saat membuat si Zain kamu membayangkan pria lain?"
"Mas, aku tak seperti yang kamu pikirkan. kamu menuduh ku yang bukan bukan mas," sangkal ku dengan kesal.
"Terserah lah Nuri, kamu mau mengakuinya atau tidak. Sekarang cepat pindahkan anak itu ke tempat lain."
Sambil menatap kesal dan kecewa padanya aku berucap," Saat ini kamu bisa saja memperlakukan Zain seperti bukan anak kandungmu sendiri. Tapi suatu saat nanti ketika Zain sudah dewasa dan kamu sudah tua serta tidak bisa apa apa, aku yakin Zain pun tidak akan mau menganggap mu sebagai papanya karena sikap mu sendiri. Cam kan kata kata ku ini mas."
Kemudian aku menerobos masuk ke dalam kamar membuat bahu mas Surya ikut terdorong. Setelah itu, aku mengangkat tubuh Zain dan memindahkannya ke kamar sebelah.
Tepat pukul sebelas malam ketika aku sedang melelapkan mataku di samping Zain, mas Surya memanggilku di luar kamar.
"Nuri..Nuri..!"
Kedua mataku langsung terbuka mendengar teriakan yang cukup kencang. Dengan keadaan mata yang masih mengantuk di barengi dengan perasaan kesal, aku menyeret kedua kakiku mendekati pintu. Terlihat mas Surya yang hanya memakai bo xer sedang berdiri tegak memandangku. Daun pintu di tutup rapat agar Zain tidak terusik oleh pembicaraan kami.
__ADS_1
"Ada apa mas tengah malam berteriak? tanya ku kemudian.
"Aku lapar Nuri," jawab mas Surya sambil pandangannya tak lepas dari tubuhku yang hanya memakai daster lusuh sebatas betis.
Aku tidak bertanya atau tidak bicara lagi karena aku tau apa maksud dari ucapan mas Surya. Aku pun berjalan melewati mas Surya yang tengah menatap nafsu ke arahku. Kemudian dia mengekor di belakang dan setelah di dalam kamar mas Surya langsung melucuti pakaianku hingga aku terlihat polos. Aku hanya diam dan menunduk saja atas apa yang mas Surya lakukan padaku karena berontak pun percuma sudah pasti kalah tenaga dengannya.
Dia memandangi tubuh polos ku. Setelah itu, dia mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kemudian mencium ku dengan amat sangat bernafsu. Kemudian menjalar ke leher hingga gunung kembar. Dia menyapu hingga menyisakan jejak jejak merah di areanya. Aku hanya memejamkan mata serta menggigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara laknat. Namun apa yang aku lakukan membuat mas Surya kesal lalu dia menggigit salah satu pucuk gunung kembar dan membuatku memekik kesakitan.
"Tolong jangan sakiti fisik ku mas!"Aku protes sambil meringis menahan sakit.
"Aku hanya ingin kamu men de sah Nuri agar aku lebih bergairah lagi. Apa jangan jangan kamu masih tidak ikhlas melayaniku?" tuduh mas Surya dengan sorot mata mulai menyala.
"Kita sudah melakukannya puluhan kali kenapa kamu masih berfikir aku tidak ikhlas mas?"jawab ku dengan kesal.
"Benarkah? tapi..kenapa aku tidak pernah mendengar kamu men de sah di saat kita bercinta? Apakah permainanku tidak pernah membuatmu puas? katakan padaku Nuri, agar aku bisa memperbaikinya karena aku ingin kita sama sama puas bukan hanya aku sendiri."
Apa yang dikatakan mas Surya adalah benar. Aku tidak pernah merasakan sebuah kenikmatan ketika bercinta dengannya melain kan seperti sebuah tekanan hingga aku tidak pernah mencapai ******* meskipun dengan berbagai gaya. Aku tidak tau mengapa aku merasakan hal seperti itu.
"Apa kita harus membahas hal itu di saat seperti ini mas?"
"Stop mas, jangan bicara lagi. Kamu mau melanjutkan permainan kita lagi atau tidak? Kalau tidak aku mau memakai bajuku karena aku tidak mau masuk angin," ucap ku dengan nada mengancam karena kesal. Apa dia tidak tau bahwa aku sudah sangat kedinginan di tengah malam dalam keadaan tubuhku polos tanpa baju, tanpa selimut. Selain itu aku juga mengantuk.
Mas Surya bungkam sejenak. Kemudian tanpa bicara lagi dia mengangkat sebelah kaki ku lalu memasuk kan pusaka kebanggaannya dalam posisi berdiri dan menempel di tembok. Aku pasrah saja.
Belum puas dengan posisi berdiri dia mendorong tubuhku hingga terlentang di kasur. Dan lagi lagi aku pasrah saja atas apa yang dia lakukan di atas tubuhku.
Cukup lama kami bercinta hingga peluh membanjiri tubuh kami. Aku merasa kelelahan dan tak sanggup lagi untuk meneruskannya namun mas Surya masih saja bersemangat menggempur ku tanpa lelah. Padahal usianya sudah tidak lagi muda tapi dia memilki tenaga yang super kuat selayaknya pria muda.
"Aku sudah lelah mas, aku sudah tidak kuat!" rintih ku di bawah kungkungan nya.
"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi," ucapnya dengan deru nafas yang memburu.
Lima menit kemudian mas Surya mencapai puncaknya. Dia mengerang panjang seiring dengan semburan lahar hangat memasuki rongga milik ku. Setelah itu, dia mengecupi wajahku dan berucap,"aku sayang kamu Nuri." Kemudian dia menggulingkan tubuhnya di sampingku. Aku tergugu mendengar ucapannya. Dalam hati aku bertanya apakah mas Surya sebenarnya memang benar menyayangiku? atau hanya sekedar ucapan semata karena aku sudah memuaskannya.
__ADS_1
Aku menoleh ke samping dimana mas Surya berbaring. Bersamaan dengan itu mas Surya menoleh ke arahku. Dia tersenyum hangat kemudian tangannya mengelus dahi ku yang berkeringat dengan lembut lalu berucap," tidur lah kamu lelah dan mengantuk bukan?" kemudian menutupi tubuh polos kami dengan selimut. Seumur pernikahan kami, baru kali ini mas Surya berlaku lembut padaku setelah melakukan hubungan suami istri.
Aku tidak langsung tidur melainkan duduk dan bersender di tembok. Entah mengapa mata ku rasanya sulit sekali terpejam padahal raga ku benar benar lelah setelah permainan panas kami. Aku menoleh pada mas Surya yang sedang tertidur lelap kemudian mengingat kembali ucapannya setelah percintaan kami.
"Apa benar aku ini belum ikhlas menjadi istri mas Surya? kenapa mas Surya bisa merasakan ke tidak ikhlasanku padahal selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik meskipun dia berlaku kasar padaku."
Malam menjelang pagi aku mengejapkan mata. Ku lirik ke samping namun aku tidak menemukan keberadaan mas Surya.Tumben sekali masih pagi buta mas Surya sudah terbangun. Tak lama kemudian pintu terbuka ternyata mas Surya dengan penampilan yang hanya memakai handuk serta rambut yang basah masuk ke dalam kamar. Dia menoleh ke arah ku yang masih berpenampilan polos namun di tutupi oleh selimut sebatas dada kemudian dia tersenyum dan menyapa," kamu sudah bangun Nuri?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya melainkan balik bertanya," kamu tumben pagi pagi sudah bangun mas, mau kemana?"
Sambil memakai kemeja dia menjawab," Mau balik ke Jakarta tapi sebelum nya mau mampir dulu ke rumah orang tuaku ada perlu." Kemudian menyisir rambutnya yang sudah mulai di tumbuhi uban.
Aku manggut manggut kecil. Dalam hati aku bertanya tumben sekali dia pulang cepat biasanya juga sampai berhari hari baru kembali ke Jakarta.
Kemudian mas Surya duduk di tepi kasur lalu mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya. Setelah itu, dia sodorkan padaku dan berkata,"Ini aku hanya ada uang di dompet segini nanti aku transfer lagi melalui rekening mu, ambilah!"
"Uang apa ini mas?"tanya ku dengan ragu.
"Karena kamu sudah melayani ku dengan baik selama aku disini," jawabnya sambil menempelkan uang itu ke telapak tanganku.
Aku menatap lekat sorot mata mas Surya dan berucap dengan bibir bergetar,"apa...kamu menganggap aku ini seorang pe la cur di bayar setelah puas memakai ku mas?"
"Hei, aku tidak pernah menganggap mu seperti itu. Kamu adalah istri sah ku yang telah ku nikahi secara hukum negara dan agama."
"Tapi kamu beri uang ini untuk ku, apa maksudnya mas?"
"Karena kamu istriku. Apalagi sudah dua bulan aku tidak memberi uang padamu."
Kemudian dia mengecup keningku dengan lembut lalu pindah ke bibirku. Aku terhanyut atas perlakuan lembutnya dan tanpa sadar aku membalas ciuman mas Surya untuk yang pertama kalinya.
Setelah melepas pagutan kami mas Surya tersenyum dan aku menunduk kemudian dia berkata," terima kasih ciuman ikhlas nya Nuri." Aku mendongak lalu menelan saliva ku yang terasa nano nano.
"Aku pergi dulu ya!" pamit mas Surya kemudian. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. Namun sebelum dia membuka pintu dia menoleh ke arah ku dan berkata," aku mencintaimu Nuri." Sembari tersenyum.
__ADS_1
Aku tercengang mendengarnya. Setelah tiga tahun usia pernikahan kami baru kali ini dia mengucapkan kata cinta dan sayang padaku serta perlakuan lembutnya. Dalam hati aku bertanya apakah mas Surya benar benar sudah berubah menjadi suami yang baik atau ada sesuatu yang tidak aku ketahui.