
Aku menatap kepergian mobil Andre dari rumahku dengan pikiran yang terbagi bagi. Memikirkan Andre, memikirkan Raihan serta memikirkan perasaan Nura sebagai sesama wanita. Aku berandai andai, Jika aku menikah dengan Andre bagaimana dengan perasaan Raihan, jika aku menikah dengan Raihan bagaimana dengan perasaan Andre begitu juga dengan Nura yang terlihat mencintai Raihan. Mana mungkin aku tega menyakiti hatinya apalagi kita sama sama perempuan.
Baru saja aku memegang gagang pintu hendak masuk ke dalam rumah tiba tiba suara sebuah motor berhenti di halaman rumahku. Aku berbalik nampak Raihan menaiki motor sport tengah membuka helm nya. Keningku berkerut menatapnya, dalam hati aku bertanya kapan Raihan datang ke kampung ini? seperti sedang bermimpi saja bertemu dengannya kembali di kampung ini seperti dulu padahal sekarang Raihan adalah seorang bos besar. Ku pandangi sosok tampan itu yang sedang berjalan ke arah ku sembari menyunggingkan senyum manisnya.
"Mba Nuri...!" Raihan menyapaku dan berdiri tepat di hadapanku. Aku menelisik penampilan Raihan yang kasual, kaos oblong hitam yang kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih dan celana pendek penuh kantong. Terlihat seperti seorang pemuda biasa yang apa adanya, sosok Raihan yang aku rindukan selama ini.
"Rai..kamu kok bisa ada di kampung ini lagi?" Aku bertanya dengan polosnya.
Raihan tersenyum." Karena rumah orang tua ku ada di kampung ini mba. Selain itu, belahan jiwaku juga ada di kampung ini." Dia berkata dengan sorot mata yang tak lepas dari wajahku serta senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Hatiku menghangat mendengarnya namun aku bertanya lagi pura pura tidak tau." Memang nya siapa belahan jiwa mu itu Rai?" pandangan ku alihkan ke arah lain karena aku tidak sanggup menatap sorot mata sipitnya.
"Aku rasa mba pasti tau siapa belahan jiwaku yang aku maksud!" kedua tangannya terangkat dan membenarkan letak wajahku yang tadinya miring menjadi lurus tepat berhadapan dengan wajahnya. Aku menjadi gugup di buatnya.
"Aku..aku serius tidak tau siapa yang kamu maksud itu Rai." Aku masih berpura pura, tidak mungkin aku mengakui nya sendiri bisa malu jika salah, biar Raihan sendiri yang mengakui siapa yang dia maksud.
"Masih mau pura pura lagi, hem."Raihan berkata sambil menarik hidungku sehingga seluruh wajahku ikut tertarik dan di saat itu pula dia mengecup keningku. Aku membulatkan pupil mataku, kemudian melirik ke arah kiri dan kanan karena aku takut ada yang sedang memperhatikan kami.
"Aman mba, hanya ada pohon pohon yang menjadi saksi cinta kita." Raihan menyadari kecemasanku, aku tidak menghiraukan gombalannya, kemudian aku mendengus kesal dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Raihan mengekor di belakang ku hingga aku hendak memasuki dapur dia masih saja mengekor.
Aku menghentikan langkahku di ambang pintu dapur kemudian menoleh ke samping dan berucap,"sebaiknya kamu tunggu di ruang tamu saja Rai, biar aku buatkan minum dulu."
"Aku kemari bukan untuk minta minum, mba."
"Terus?"
__ADS_1
"Mau minta peluk mba saja."
"Rai..!" Belum sempat bicara Raihan sudah lebih dulu memeluk ku dari arah belakang kemudian dia berucap pelan." Aku rindu sekali sama mba Nuri, rindu sekali."
Aku memejamkan mataku sejenak kemudian memohon,"Tolong lepas kan jangan seperti ini Rai!" Aku menolak di peluk Raihan, bukan tanpa alasan aku menolaknya karena aku sendiri sebenarnya merindukannya. Tapi aku hanya tidak ingin Raihan mengkhianati ke kasihnya.
"Kenapa mba? sudah tidak ada penghalang lagi kan? mba sudah bercerai dengan mas Surya kan?" kata Raihan tanpa mau melepas pelukannya melainkan semakin mengeratkan.
"Ada Rai, ada."
"Siapa?"
"Nura, kekasihmu."
"Aku tidak mencintai nya mba."
"Kalau tidak mencintainya kenapa kamu memacarinya?"
"Kamu mempermainkan perasaannya Rai, mempermainkan perasaan wanita. Kamu menjadikan Nura hanya sebatas pelampiasan mu saja. Aku tidak suka sikap mu yang seperti itu, aku ini wanita mana tega menyakiti hatinya dengan cara merebut mu dari nya. Aku bukan wanita egois yang tidak memiliki hati dan perasaan.
"Lantas aku harus bagaimana mba?"
"Belajar lah untuk mencintainya Rai.. aku rasa dia wanita yang baik.
"Tidak bisa mba, aku hanya mencintai mba dan hanya ingin menikahi mba."
"Menikahi ku?"
__ADS_1
"Iya mba, aku terima tawaran mba untuk menikahi mba, kita akan menikah setelah masa Iddah mba selesai."
"Kita akan menikah di atas rasa sakit hati orang lain Rai...aku tidak bisa seperti itu, aku....hanya ingin menikah dengan mu ketika Nura benar benar mengikhlaskan kamu untuk ku bukan memaksanya untuk melepas mu demi aku."
Raihan melepas kan pelukannya dia terdiam, pandanganya di arahkan ke langit langit lalu menghembuskan nafas besar. Setelah itu, dia menatap ku kembali dan berkata," aku bingung sama sikap mba, dulu aku meminta mba untuk bercerai dari mas Surya karena dia bukan suami yang baik untuk mba tapi mba lebih memilih mempertahankannya. Kemarin mba memintaku untuk menikahi mba dan aku akan mengabulkannya tapi sekarang kenapa mba berubah sikap lagi? Kenapa mba lebih mementingkan perasaan Nura dari pada perasaan mba sendiri. Mba mau menikah denganku asal Nura ikhlas melepas kan aku untuk mba, apa mba pikir itu mudah bagi Nura? Nura sudah menyukaiku sejak dari SMP mba."
Apa yang dikatakan oleh Raihan cukup membuatku bingung. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku yang ambigu. Dulu, aku lebih mempertahankan pernikahanku dengan mas Surya bukan karena aku mencintainya tapi lebih ke menghargai sebuah ikatan pernikahan karena aku tidak pernah menganggap pernikahan itu sebuah mainan. Dan sekarang aku memang mencintai Raihan dan ingin menikah dengannya tapi aku tidak ingin pernikahan kami melukai perasaan orang orang yang mencintai kami karena aku wanita perasa dan bukan wanita egois yang hanya mementingkan perasaanku sendiri.
"Jika mba tetap pada pendirian mba yang harus menunggu keikhlasan dari Nura aku rasa sampai kapan pun kita tidak akan bisa menikah mba, kecuali.."
Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Andre. Aku bingung harus bagaimana, di satu sisi aku ingin menikah dengan Raihan tapi di sisi lain aku tidak sanggup jika harus mengorbankan perasaan Nura dan juga Andre yang mencintaiku.
"Uncle lehan...!" Zain menyapa Raihan lalu berlari ke arah kami. Raihan tersenyum kemudian berjongkok dan merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap Zain.
Raihan menciumi seluruh wajah Zain dengan gemas, setelah itu dia berkata," uncle sayang banget sama Zain," kemudian memeluknya dan mengelus elus punggungnya dengan sayang. Aku terharu melihatnya, meskipun Zain kurang mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya tapi setidaknya Zain mendapatkan kasih sayang dari dua pria yang sangat sayang dan perhatian padanya. Aku melanjutkan kembali langkahku menuju dapur dan ku biarkan saja Raihan bersama Zain.
Tiba di dapur aku segera membuka isi kulkas mengambil bahan bahan makanan untuk di oleh menjadi sebuah masakan karena tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas siang dan mendekati waktu makan siang.
Ketika aku sedang berjibaku dengan aktifitas ku di dapur Raihan melingkar kan tangannya kembali di pinggangku tanpa permisi.
"Rai..."aku hendak protes.
"Sebentar mba, sebentar saja..biarkan aku memeluk mu seperti ini." Raihan menolak dan semakin mengeratkan pelukannya.
Aku menghela nafas kesal kemudian berkata," aku sedang masak Rai, dan aku tidak bisa bergerak kalau kamu peluk seperti ini.
"Mba jangan repot repot masak, kita makan siang di luar saja yuk?"
__ADS_1
"Tidak mau."Aku menolaknya karena sudah terlanjur akan memasak karena bahan bahannya pun sudah terlanjur ku rajang.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku bantu mba masak ya?" Aku mengangguk dan Raihan melepaskan tangannya dari pinggangku. Seulas senyum tersungging di bibirku dan aku merasa Raihan ku yang dulu telah kembali, Raihan yang sederhana, dan bersikap lembut padaku.