
Semenjak kejadian dimana aku tidak ingin meminjamkan sertifikat rumah ku untuk di jadikan jaminan bank oleh mas Surya, dia tidak lagi menghubungiku selama satu minggu ini bahkan dia tidak pernah mau mengangkat atau membalas pesan yang aku kirimkan padanya. Sepertinya mas Surya benar benar marah padaku.
Jujur, aku bingung dengan sikapnya. Selama tiga tahun dia mendzolimi ku dengan alasan karena aku menyebut nama pria lain di saat malam pertama kami serta uang yang dia berikan sebanyak tiga ratus juta pada keluargaku. Kemudian tiba tiba saja dia bersikap baik serta lembut padaku sehingga aku mempercayainya dan tak dapat di pungkiri bahwa aku mulai mencintainya meskipun belum seratus persen. Dan sekarang hanya gara gara aku tidak ingin memberikan sertifikat rumahku mas Surya kembali marah besar padaku bahkan mulai lagi menghinaku mengatakan aku adalah wanita bodoh, tidak berguna dan tidak dapat di andalkan. Tentu saja perkataanya membuatku sakit hati namun aku tak ingin egois dan aku selalu berpikir positif bahwa mas Surya mengatakan demikian karena kesalahanku yang tidak ingin meminjamkan sertifikat rumah. Oleh sebab itu, aku masih saja berusaha menghubunginya dan ingin bicara baik baik dengannya.
Hari ini aku tidak memiliki kegiatan apa pun di rumah dan dengan iseng aku membuka akun facebook ku yang sangat jarang sekali ku gunakan. Setelah terbuka, seketika mataku berkaca kaca mendapati foto foto pernikahan Ipah dengan mas Surya bertebaran di beranda facebookku. Dalam hitungan detik air mataku mengalir deras, dadaku terasa sesak sekali. Sakit sekali rasanya melihat suami ku yang mulai aku cintai menikah lagi dengan mantan istrinya. Kenapa mas Surya begitu tega padaku, kembali lagi dengan mantannya tanpa menceraikan aku terlebih dahulu.
Aku menangis, menangisi jalan hidupku yang bersuamikan seorang mas Surya, seorang laki laki yang tak memiliki hati. Aku baru menyadari bahwa dia memang benar benar tidak pernah tulus mencintaiku. Aku mengerti sekarang dia baik dalam satu setengah bulan terakhir ini karena dia memiliki tujuan tertentu bukan benar benar berubah menjadi suami yang lebih baik dan bodohnya aku percaya saja atas sikap palsunya selama ini.
Aku tidak ingin di poligami, dari pada di poligami lebih baik aku menjadi seorang janda. Aku segera mencari nomer mas Surya lalu menghubungi nya, satu kali tidak di angkat, dua kali tidak diangkat juga, ketiga kalinya nomer mas Surya tidak bisa di hubungi seperti nya dia mematikan ponselnya. Tak cukup dengan menelpon aku mengirim pesan padanya.
"Tega sekali kamu mas, menikah lagi dengan mantan mu tanpa memberitahu bahkan tanpa menceraikan aku terlebih dahulu. Cerai kan aku mas, lebih baik aku menjadi janda daripada di poligami olehmu. Tidak sudi aku berbagi suami dengan ipah Saripah."
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk, ternyata mas Surya membalasnya.
"Oh, jadi kamu sudah tau? bagus kalau gitu, tak perlu repot lagi aku memberi tahu kamu kalau kamu memiliki madu sekarang."
Dengan dada terasa sesak sekali aku pun membalasnya kembali.
"Cih, aku tidak akan pernah ridho dunia akhirat di poligami oleh mu. Benar katamu aku memang bodoh, bodoh karena telah mempercayai mulut manis laki laki yang tak punya hati sepertimu, pura pura baik ternyata karena ada tujuannya. Ceraikan aku brengsek."
"Jangan marah dulu Nuri sayang, aku terpaksa menikahi Ipah karena dia mau membantuku melunasi hutangku. Andai saja kamu membantuku meminjamkan sertifikat rumahmu, aku tidak akan menikahi Ipah."
"Omong kosong, aku yakin ini sudah rencana mu dari dulu. Silahkan kalian balikan lagi mungkin kalian memang masih saling cinta dan tidak bisa di pisah kan. Aku hanya minta satu saja padamu mas, tolong talak aku."
__ADS_1
"Tidak bisa sayang, aku masih cinta sama kamu, aku tidak akan menceraikan kamu. Aku terpaksa menikahi Ipah."
"Oh, masih cinta? kalau gitu kamu pilih saja diantara kami, aku apa Ipah? kalau kamu pilih aku ceraikan Ipah dan kalau kamu pilih Ipah cerai kan aku."
Lama ku tunggu balasan dari mas Surya tapi tidak ada lagi pesan masuk ke ponselku. Kemudian aku mengirim pesan kembali pada mas Surya.
"Baik, aku anggap kamu lebih memilih istri siri mu dan karena kamu tidak ingin menalak ku maka aku akan mengajukan gugatan cerai."
Aku duduk termenung sembari menatap ponselku yang tak lagi bergetar. Sepertinya mas Surya mengabaikan pesanku. Dalam hati aku bertanya apa benar mas Surya terpaksa menikahi Ipah karena dia butuh uang dua ratus juta dan Ipah memberinya dengan imbalan mas Surya harus menikahinya mengingat Ipah yang masih mencintai dan mengharapkan mas Surya, tapi bukan kah selama ini Ipah yang menguras uang mas Surya? memikirkan dua orang itu membuatku cukup pusing. Aku memutuskan akan memberi waktu pada mas Surya selama satu minggu ini, jika dia masih tidak mau memilih terpaksa aku akan mengajukan gugatan cerai.
Aku tidak ingin melamun lagi memikirkan masalah rumah tanggaku, rasanya sia sia, aku pikir lebih baik mencari uang saja yang banyak karena hidup itu perlu makan. Selain itu, aku juga tidak yakin kalau mas Surya masih akan memberikan nafkah padaku mengingat dia memiliki istri lagi dan siapa tau uang mas Surya dikuasi sepenuhnya oleh istri sirinya.
Ku langkah kan kakiku menuju warung Bu Siti sambil membawa kerupuk yang hendak aku titipkan di sana. Namun ketika aku melewati rumah Raihan, ku dapati Bu haji yang selama ini tidak terlihat bersamaan dengan Raihan sedang berdiri di ambang pintu gerbang rumahnya entah siapa yang dia tunggu. Dia melihat ke arah ku dan aku memberikan senyum tipis sembari mengangguk kan kepalaku dan ketika aku meneruskan langkahku Bu haji memanggilku.
Aku menoleh ke arah Bu haji dan dengan perasaan ragu aku mendekatinya. Bu haji tersenyum padaku aku pun membalas senyumannya."Bu haji apa kabar?" tanya ku, ketika aku sudah berdiri di hadapannya.
"Alhamdulilah sehat juga Bu, Bu haji sedang menunggu siapa?"
"Saya sedang menunggu keponakan yang mau datang. Lama kita tidak bertemu ya Nur?"
"Oh, Iya Bu, hampir tiga bulan. Memang Bu haji kemana saja selama ini?"
"Saya berada di rumah anak saya di Bogor dan baru seminggu ini ada di rumah."
__ADS_1
"Oh, pantas saja."
Ingin aku menanyakan kabar Raihan dan apakah beliau sudah bertemu dengannya tapi aku tidak ingin Bu haji salah paham dan mengira aku masih menyukai Raihan maka ku urungkan saja keinginan itu.
Bu haji memperhatikan kantong besar yang sedang aku tenteng kemudian dia bertanya," kamu bawa apa itu Nur?"
"Oh, ini kerupuk Bu, saya mau membawanya ke warung Bu Siti. Apa Bu haji mau mencoba nya?" tanya ku dengan ragu, karena aku tidak yakin Bu haji suka makan kerupuk apalagi dia orang kaya.
"Apa boleh Nur, itu kan untuk dibawa ke warung Bu Siti." Di luar dugaan ku ternyata Bu haji justru menginginkannya.
"Boleh lah Bu, saya bawa lebih kok!" Kemudian aku mengambil satu renteng dan menyodorkannya ke arah Bu haji. Sorot matanya terlihat berbinar binar menerima kerupuk dariku seperti mendapatkan sebuah hadiah saja.
"Ayok Nur masuk dulu, saya ambil dulu uangnya," ucap bu haji sambil menarik pelan lenganku.
"Oh, tidak usah Bu haji, kerupuk itu untuk Bu haji tidak perlu di bayar. Bu haji menyukainya saja saya sudah senang."
"Kamu tau Nuri, saya suka sekali sama kerupuk mu ini. Pertama kali saya makan kerupuk ini saat pertama kali Raihan membawanya pulang. Saya tidak sempat tanya dia beli dimana agar saya bisa membelinya kembali. Tapi saat kamu menjemur kerupuk pas waktu saya terakhir ke rumahmu, saya baru menyadari kalau kerupuk yang saya makan dan rasanya enak itu adalah hasil buatan mu."
Aku tersenyum mendengar pengakuan Bu haji, rasanya seneng sekali kerupuk ku di hargai serta di sukai olehnya. Raihan sendiri memang pernah membawa kerupuk dariku sengaja aku berikan untuk Bu haji dan aku tidak menyangka dia menyukainya.
"Alhamdulilah kalau ibu suka. Oya, kalau gitu saya permisi dulu ya Bu, takut keburu hujan." Aku pamit pada Bu haji karena langit memang sudah terlihat mendung. Aku takut turun hujan sebelum sampai di warung Bu Siti apalagi aku membawa Zain.
"Yaudah hati hati, makasih banyak ini kerupuknya," ucap Bu haji sembari tersenyum.
__ADS_1
"Sama sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu Bu, assalamualaikum."
Aku melangkahkan kakiku kembali dengan senyum mengembang di bibirku, aku merasa kesedihan ku hilang begitu saja setelah bertemu dengan Bu haji, aku pun tak tau apa penyebabnya.