
Aku kesal pada tanggapan mas Surya yang malah memarahiku setelah aku bicara jujur padanya bahwa aku jualan gorengan keliling setiap pagi.
"Apa mas pikir uang nafkah yang mas berikan itu cukup selama ini? memang kenapa kalau aku jualan gorengan? toh pekerjaan yang halal. Menurut mas uang dari mana sehingga aku bisa memberi mas makan di rumah ini kalau tidak hasil dari jualan gorengan? apa selama di sini mas pernah kasih aku uang belanja? tidak pernah kan?"
"Setidaknya kamu nyari kerjaan yang berbobot sedikit kek, ini malah jualan gorengan keliling. Memalukan sekali, mau di tarok dimana mukaku kalau teman temanku tahu bahwa istri seorang Surya hanya tukang jualan gorengan keliling."
"Terserah kamu saja mas mau bicara apa. karena hanya itu satu satunya yang bisa aku lakukan untuk mencari tambahan rizki sambil mengasuh Zain anak ku."
"Ya satu satunya cara yang bisa kamu lakukan karena kamu hanya tamatan SMA dan bodoh makannya otaknya tidak berfungsi untuk berpikir. wajah mu memang cantik Nuri tapi sayang otak mu kosong dan bodoh tidak pintar seperti Ipah mantan istriku."
Darahku mulai mendidih. Lagi dan lagi suamiku menghinaku serta membandingkan aku dengan mantan istrinya. Ku pejamkan mataku dan tangan ku mengepal ingin rasanya aku menonjok mulut lemas suamiku namun aku berusaha untuk menahan emosiku agar tidak meledak.
"Ya sudah kalau begitu kamu ceraikan saja aku yang bodoh ini dan kembalilah sama mantan istrimu yang pintar itu." Aku bicara setenang mungkin meskipun tanganku rasanya sudah sangat gatal ingin merobek mulut suamiku.
"Tuh kan kamu sedikit dikit ngancam minta cerai. Padahal aku bilang kayak gitu biar kamu mikir Nuri supaya kamu bisa kayak ipah yang pandai cari uang."
"Ya, tapi sayangnya aku bukan Ipah Saripah yang pandai nyari duit dengan cara menjerat orang dengan hutang dan mengambil keuntungan yang berlipat lipat." Karena mas Surya yang sering kali membandingkan aku dengan mantan istrinya yang katanya pandai mencari uang diam diam jiwa kepo ku meronta dan aku mencari tahu tentang profesi mantan istri yang di banggakan nya itu. Menurut informasi yang aku dapatkan dari salah satu temanku yang kebetulan bertetanggaan dengan mantan istri suamiku bahwa Ipah Saripah merupakan seorang rentenir kelas menengah.
"Apa maksudmu bilang seperti itu? jangan sekali kali memfitnah mantan istriku kamu Nuri!" Sampai segitunya mas Surya membela mantan istri. Aku heran pada mas Surya kalau dia masih cinta pada mantan istrinya kenapa bercerai dulu.
"Siapa yang memfitnah. memang kenyataannya mantan istrimu yang pintar cari uang yang sering kamu bangga banggakan dan banding bandingkan dengan aku sebagai istri sah mu ini bahwa mantan istrimu itu seorang rentenir semua orang juga tau kok. Ck, hebat ya sekolah sampai sarjana tapi ujung ujungnya jadi rentenir. Jadi rentenir tidak perlu sekolah sampai sarjana yang penting modal bacot doang." Akhirnya mulutku yang sudah gatal ini berani membalas ucapan menyakitkan suamiku.
"Tapi setidaknya dia tidak bodoh kayak kamu Nuri."
"Ck, iya, mantan istrimu memang pintar dan kepintarannya hanya untuk membodohi orang orang."
"Kamu...!" mas Surya tidak terima atas ucapan ku lalu dia mengayunkan tangannya hendak menamparku namun sebelum tangannya mendarat di pipiku aku lebih dulu menangkisnya lalu mendorongnya hingga dia terjungkal ke belakang.
Mas Surya terperangah melihatku, mungkin dia tidak menyangka aku yang terlihat lemah bisa mengalahkannya. Aku sendiri pun tak mengerti kenapa aku bisa sekuat ini. Apa karena rasa sakit hatiku yang sudah di luar batas membuat aku menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi diriku sendiri dari orang yang hendak melukai fisik ku.
"Lebih baik kamu cepat kembali ke Jakarta mas, aku tidak ingin kamu ada di sini karena hanya akan bertengkar saja. Dan satu lagi jangan coba coba kamu menyakiti fisik ku kalau tidak ingin ku buat patah kaki serta tanganmu."
Ancaman ku membuat mas Surya terbengong dan di tambah lagi secara halus aku mengusir mas Surya dari rumahku. Mas Surya yang merasa mendapat pengusiran dariku tidak terima.
"Owh, kamu berani mengusirku Nur? baik, kalau begitu aku tidak akan sudi lagi memberi kamu uang biar kamu tau rasa dan ku pastikan kamu tidak akan bisa hidup tanpa uangku."
Sombong sekali mas Surya seolah olah uang yang dia beri tiap bulan berjumlah jutaan saja padahal tak seberapa.
"Silahkan mas, silahkan kamu simpan saja uang yang berjumlah lima ratus ribu itu. Aku tidak takut kelaparan karena aku percaya bahwa rizki Allah tak akan pernah habis."
"Sombong sekali kamu Nur, baru jualan gorengan keliling saja sudah merasa hebat. aku ingin lihat sampai dimana letak kemampuanmu tanpa uangku."
__ADS_1
"Tidak udah banyak bicara mas, tolong talak aku sekarang juga."
Mas Surya terdiam mendengar permintaanku lalu tertawa lebar.
"Aku tidak akan menceraikan mu Nuri, agar kamu merasakan bagaimana rasanya hubungan di gantung," ucap mas Surya sambil tersenyum sinis.
Aku memejamkan mataku dan tanganku terkepal. Aku kesal, aku kecewa, aku benci pada mas Surya yang telah mendzolimi hidupku. Aku segera bergegas pergi dari hadapan mas Surya tanpa menanggapi ucapannya lagi. Ku basuh muka ku lalu mengganti baju. Lebih baik aku menyusul Zain di rumah Raihan dari pada berada di rumah hanya akan selalu melihat muka menyebalkan mas Surya.
Aku bersiap hendak ke luar rumah namun mas Surya mencegat ku di ambang pintu.
"Mau kemana kamu? apa kamu lupa suamimu belum sarapan?"
Aku mencebik kan bibirku. Dasar laki laki tidak punya muka tanpa malu minta makan padaku. Padahal kami baru saja bertengkar masalah mantan dan juga nafkah. Dia bicara seolah olah tidak ada kejadian apa pun antara aku dengannya.
"Mulai sekarang cari saja makan sendiri. Urus diri sendiri serta cuci bajumu sendiri. seperti yang kamu bilang tadi bahwa kamu tidak akan memberi aku nafkah materi maka aku pun tidak sudi lagi melayani kamu."
Mas Surya tercengang. Pernyataan tegas ku mampu membuatnya bungkam. Aku berjalan melewati mas Surya yang masih terbengong menatapku. Setelah berada di luar rumah aku berbalik badan lalu menatap tajam ke arah mas Surya yang masih terdiam sambil memperhatikanku.
"Aku harap setelah aku kembali pulang kamu sudah tidak ada lagi di rumah ini mas dan jangan lupa bawa semua bajumu karena aku tidak ingin menampungnya." Kemudian aku melanjutkan lagi langkahku menjauhi rumah serta mas Surya.
"Nuri...!" panggilan mas Surya tidak aku hiraukan karena aku sudah tidak peduli lagi.
Ku langkahkan kakiku menuju rumah Raihan dengan mata yang berkaca kaca. Setelah tiba di depan pintu gerbang rumah Raihan aku segera menarik nafas dalam dan mengusap air mataku. Aku membuka pintu gerbang yang tidak terkunci mungkin Raihan sengaja tidak menguncinya.
"Ayok masuk mba..!"
Aku mengekor di belakang Raihan dan aku merasa tubuh Raihan benar benar wangi sekali dan aku menyukai wanginya.
"Rai..!"
Raihan berbalik menghadap ke arahku." kenapa mba?"
"Bu haji kemana? kenapa rumahmu terlihat sepi sekali?"
"Memang rumah ini selalu sepi mba. Ibu tadi pagi pergi ke Bogor katanya mau nginap dua malam di rumah kak Syifa."
"Kak Syifa...!"
"kak Syifa kakak ku yang pertama mba Nuri."
"Owh!" aku memang tidak begitu kenal dengan anak anaknya Bu haji dan aku pun rasanya tidak pernah bertemu dengan kedua kakak Raihan.
__ADS_1
"Zain dimana Rai?"
"Ada di atas mba. Yuk ke atas!" aku mengekor di belakang Raihan menuju lantai dua dimana kamar Raihan berada.
Setelah tiba di depan kamar Raihan aku segera membuka pintu dan nampak anakku Zain sedang bermain puzzle di atas lantai kamar Raihan.
"Mama....!" Zain tersenyum melihatku lalu bangun dan menghampiriku.
Aku memperhatikan penampilan Zain yang sudah rapih dan memakai baju baru.
"Zain sudah mandi nak?"
"cudah mama...!"
Aku menoleh ke arah Raihan yang sedang tersenyum melihatku serta Zain.
"Rai...apa kamu yang memandikan Zain serta membelikan baju baru untuk Zain?"
Raihan tersenyum manis sekali lalu mengangguk.
"Itu baju baju untuk Zain mba!" Raihan menunjukan tumpukan paper bag di atas kasur. Aku tercengang melihat banyaknya paper bag lalu mendekatinya.
Ku pegang satu persatu paper bag dan ku hitung jumlahnya ada sepuluh. Aku yakin baju baju ini harganya mahal mahal jika di lihat dari paper bag serta nama toko yang tertera.
Aku menoleh ke arah Raihan yang sedang menatapku.
"Rai...apa kamu membelikan semua baju ini untuk Zain?"
Raihan tersenyum." iya mba..!"
"Ini pasti bajunya mahal mahal Rai..kenapa kamu boros sekali. Kamu kan sedang kuliah dan tentu butuh uang banyak apalagi sebentar lagi kamu skripsi. terus kenapa kamu membelanjakan uangmu untuk Zain Rai? apa kamu tidak takut di marahin Bu haji?"
"Mba tidak usah khawatir. uangku tidak akan habis kalau hanya sekedar membelikan Zain baju."
"Tapi Rai..!"
"Mba tenang saja. Aku membeli semua baju ini memakai uangku bukan uang ibuku."
"Kamu banyak duit ya Rai...memangnya kamu kerja apa Rai sampai duit mu tidak habis habis?" Aku sengaja menyindir Raihan karena dia yang selalu royal padaku.
"Kerja serabutan mba he..he..!"
__ADS_1
Aku tidak percaya dengan jawaban Raihan pasti ada yang di sembunyikan oleh Raihan dariku. Namun aku memilih untuk tidak bertanya tanya lagi mengenai sumber uang yang Raihan miliki dan aku meyakini bahwa uang yang di dapat Raihan adalah uang halal.