
Di tengah perbincangan serius kami, tiba tiba perut ku keroncongan dan terdengar cukup keras. Aku langsung menunduk malu karena Raihan tersenyum melihat ku.
"Kamu lapar, sayang?"
Aku mengangguk pelan. Bagaimana tidak lapar, saking sibuk kesana kemari kami lupa dan melewatkan makan malam.
Raihan melihat pada jam yang melingkar di tangannya."Jam sepuluh, pantas saja perut mu bunyi." Kemudian dia menyalakan mobilnya." Semoga saja masih ada restauran jam segini."
"Setahu ku arah sini tidak ada restauran, Rai."
"Oh ya, aku lupa. He he." Raihan tersenyum nyengir.
"Terus kita mau makan dimana?"
"Di pinggiran jalan saja. Pecel ayam atau nasi goreng."
"Siap ratu ku."
Raihan melajukan mobilnya pelan menyusuri jalanan sembari mencari tempat mangkal pedagang nasi goreng atau pecel ayam. Tak lama kemudian, dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Sayang, tidak ada pecel ayam. Ada nya tukang nasi goreng," kata Raihan.
"Mana?"
"Itu!" tunjuk Raihan pada suatu arah dan aku pun mengikuti arah pandanganya. Nampak gerobak nasi goreng yang sepi tidak ada pembeli.
"Ya sudah." Kemudian kami turun lalu mendekati penjual nasi goreng tersebut.
"Kami pesan nasi goreng dua porsi makan di sini ya, pak," kata Raihan pada penjual nasi goreng itu.
"Alhamdulilah, silahkan duduk mas, mba. Di tunggu sebentar ya," kata bapak itu sembari tersenyum senang.
Aku dan Raihan mengangguk lalu duduk di atas kursi plastik tanpa meja.
Tidak lama kemudian, penjual nasgor itu datang dan memberikan dua piring nasgor pada kami.
"Terima kasih pak," ucap Raihan.
"Sama sama mas."
Kemudian kami makan dalam diam dan hanya suara dentingan sendok saja yang saling bersahut sahutan. Ketika aku melihat ke suatu arah yang nampak remang-remang tersorot lampu yang tergantung di tiang listrik aku melihat sosok wanita yang pernah beberapa kali melihatnya sedang berdiri menatap kami. Aku berhenti mengunyah menatapnya. Samar samar aku melihat dia tersenyum karena nampak gigi putih namun aku tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana bentuk rupanya.
"Kamu sedang lihat apa?" Ternyata Raihan memperhatikan arah pandangku.
"Wanita itu ada di sana,"ucap ku.
__ADS_1
"Wanita, wanita siapa?"
Tiba tiba wanita itu menghilang. Aku sedikit terkejut lalu mengusap wajah ku.
"Kamu kenapa sih?"
Aku menggeleng." Tidak apa apa. Aku hanya berhalusinasi saja."
"Halusinasi!"
"Rai, aku sudah kenyang. Bisa tidak kita pulang sekarang."
"Ya sudah."
Kemudian Raihan memanggil tukang nasgor lalu dia menyodorkan uang seratus ribu pada tukang nasgor tersebut.
"Wah, besar sekali. Apa tidak ada uang pas saja mas! terus terang baru mas dan mba yang beli nasgor saya."
Raihan tersenyum." Tidak perlu di kembalian, pak. Oya, bapak punya anak berapa di rumah?"
"Anak saya dua mas, satu masuk SMP dan satu lagi masih SD."
"Istri bapak kerja apa?"
"Oh, maaf pak, saya tidak tau. Tapi kenapa bapak tidak menikah lagi. Saya rasa bapak masih muda."
Bapak itu tersenyum." Saya sangat mencintai istri saya, mas. Selain itu, saya juga takut tidak bisa memberi nafkah yang layak pada istri kedua saya. Oleh karena itu, lebih baik saya fokus membesar kan anak anak saja dan menyekolahkan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi agar setelah besar nanti kedua anak saya tidak bernasib sama dengan saya."
Cukup lama kami berbincang dengan pedagang nasgor itu hingga di akhir cerita, Raihan menarik belasan lembar uang warna merah yang ada di dalam dompetnya lalu memberikan uang itu pada bapak tersebut. Mulanya, bapak itu menolaknya tapi Raihan memaksanya dan akhirnya bapak itu menerima uang pemberian Raihan.
"Calon suamiku baik sekali, sering banget memperhatikan orang kecil." Aku memujinya di saat kami sudah masuk ke dalam mobil.
Raihan tersenyum." Tidak semua orang kecil aku baiki sayang, aku itu pilih pilih orang. Aku memang lebih suka memberikan uang pada pedagang kecil dari pada memberikan uang pada seorang pengemis atau pengamen yang masih sehat dan masih bisa bekerja kecuali pengemis yang sudah tua renta atau pengemis yang memiliki kecacatan fisik. Kalau mereka sudah jelas tidak bisa mencari uang dengan kondisi seperti itu.
"Kenapa seperti itu? bukan nya pengemis atau pengamen yang masih sehat juga orang kecil."
"Aku rasa pengemis atau pengamen yang nampak sehat itu merupakan hanya orang pemalas saja. Alasan saja kalau mereka bilang sulit mencari pekerjaan. Padahal jika mereka mau banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk mencari uang meskipun tidak memiliki ijazah. Tapi kalau pedagang itu, sudah jelas mereka berusaha meskipun dagangan nya kurang laku setidak nya mereka sudah berusaha."
Mendengar perkataan Raihan tentang pedagang kecil, aku jadi teringat sangat aku jualan gorengan keliling. Aku juga merasakan bagaimana rasanya ketika dagangan tidak laku. Seketika air mataku mengalir padahal aku tidak sedang ingin menangis.
"Hei, sayang. Kenapa menangis?" Raihan mengusap air mataku yang mengalir.
Aku menatap nya." Apa karena itu alasan mu selalu membeli banyak gorengan ku atau memberi uang sama aku ketika aku masih jualan gorengan keliling?"
"Maaf sayang, aku sama sekali tidak bermaksud mengingatkan mu pada masa sulit mu."
__ADS_1
Aku tersenyum." Tidak apa apa Rai, justru hal ini akan mengingat kan aku untuk selalu menunduk ketika berada di atas."
Raihan mengusap pucuk kepalaku.
"Tapi sayang, kamu tau alasan sebenarnya aku memberikan uang itu ke pedagang bubur itu?"
"Apa?"
"Selain bapak itu berusaha mencari uang dengan cara berjualan, dia itu jujur terlihat dari sorot matanya dan dia juga setia pada pasangan. Kisah hidupnya sebuah inspiratif dan pola pikirnya sebelas dua belas dengan ku, hehe. Kamu tau sayang, dulu aku ingin sekali menikahi mu saat aku masih sekolah dulu. Tapi aku berpikir ulang karena ke adaan hidup ku yang saat itu belum mapan meskipun sebenarnya aku sudah memiliki penghasilan tapi tetap saja aku merasa belum pantas dan takut tidak bisa menafkahi mu dengan layak. Tapi sekarang, apa pun yang kamu mau aku pasti sanggup memberikannya."
Aku tersenyum." Aku tidak ingin apa apa dari mu Rai, aku hanya ingin di cintai sampai mati seperti bapak tadi mencintai istrinya."
"Kenapa ujung ujung nya bicara soal kematian sih sayang. Tapi tentu saja aku akan seperti bapak tadi, hidup untuk anak bukan untuk mencari wanita lain."
"Benarkah! tapi nasib mu berbeda dengan bapak tadi Rai, kamu tampan, muda, pintar, kaya raya dan berasal dari keluarga terpandang. Tidak terhitung berapa banyak wanita yang...."
Cup
Tiba tiba Raihan mencium pipi ku lalu menyalakan mobil dan melaju.
Aku tersenyum menatap nya. Bagaimana aku tidak begitu bersyukur di cintai oleh nya. Aku merupakan cinta pertamanya, wanita pertama yang dia peluk dan wanita pertama yang dia cium. Sementara Raihan bagi ku, bukan cinta pertamaku karena cinta pertamaku adalah Andre. Dia juga bukan sosok pertama laki laki yang menyentuh tubuhku karena sejati nya aku wanita yang pernah menikah. Terkadang aku merasa insecure padanya jika mengingat hal itu.
Tidak terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan rumah Raihan. Nampak Bu haji sedang mengobrol di teras dengan Art. Aku tau mereka pasti sedang menunggu kedatangan kami.
"Kenapa kalian lama sekali perginya? kenapa juga tidak mau membalas pesan dan telpon ibu? kalian tahu, kalian bikin ibu khawatir saja." Bu haji langsung memberondong pertanyaan ketika kami baru saja menaiki teras.
"Maaf Bu, ponsel ku ke tinggalan di kamar," ucap Raihan lalu tersenyum nyengir.
"Ya ampun Rai, Rai."
"Apa Zain nakal Bu?"
"Dia anak pintar dan pengertian mana mungkin nakal."
Aku tersenyum." Terus Zain nya dimana sekarang Bu ?"
"Sedang tidur di kamar ibu. Biarkan saja dia tidur sama ibu malam ini."
"Apa tidak akan merepotkan ibu?"
"Tidak Nuri, ya sudah kamu sana istirahat. Ibu mau bicara dulu sama Raihan."
Aku mengangguk." Iya Bu." Kemudian aku bergegas memasuki kamar Raihan.
Aku memejamkan mata ku berharap esok segera tiba. Rasanya sudah tidak sabar melihat orang orang yang sudah dzolim padaku menangis meraung di hadapanku.
__ADS_1