
Setelah Raihan pergi dari rumahku, aku segera beranjak ke dapur untuk memasak sebelum anak anak terbangun. Sebab, jika mereka sudah terbangun lebih dulu aku akan sedikit kerepotan terutama di saat Zain dan Fatan terbangun.
Pukul setengah tujuh, aku sudah selesai mengerjakan pekerjaan dapur mulai dari memasak, membuatkan bekal untuk Sumi, mencuci baju dan mencuci piring. Jujur saja, semenjak kehadiran adik adik Sumi di rumahku tenagaku cukup terkuras banyak. Aku harus mencuci+setrika pakaian dalam jumlah yang banyak, harus memasak dalam jumlah yang banyak pula. Selain itu aku juga harus mengurusi segala keperluan mereka yang lainya.
Ria dan Rio sudah terbangun dan aku menyuruhnya untuk segera mandi. Mereka semangat sekali karena akan sekolah memakai sepatu baru. Sementara fatan ku biarkan bermain mobilan terlebih dahulu selama menunggu kedua kakaknya selesai mandi.
Aku memasuki kamarku ternyata Zain pun sudah bangun. Dia duduk di atas kasur dan menoleh ke arahku yang baru saja masuk.
"Anak ganteng mama sudah bangun, kita mandi dulu yuk?"sapa ku, sembari merentangkan kedua tanganku. Zain tidak langsung menyambut ku melainkan melirik ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Zain cari apa nak?"
"Angkel lehan mana mama?" Zain balik bertanya.
Aku menyipitkan kedua mataku, tumben sekali bangun tidur Zain menanyakan keberadaan Raihan.
"Uncle Raihan sudah pulang sayang."
"Kenapa pulang mama?"
"Kan uncle Raihan harus kerja sayang."
Netra matanya mulai berkaca kaca, aku di buat bingung olehnya. Kenapa Zain bangun tidur menanyakan Raihan dan sekarang mau menangis pula. Aku segera mengelus pucuk kepalanya lalu mendekapnya agar dia tidak menangis.
"Kata uncle, nanti setelah pulang kerja uncle akan kembali lagi ke sini," bohongku.
Zain mendongak."benelan mama?"tanya Zain penuh harap.
"I...iya sayang," jawab ku dengan ragu. Aku ragu apakah raihan akan datang lagi ke rumah ku setelah aku bersikap demikian padanya.
"Ya sudah, sekarang Zain mandi dulu ya?"
Zain mengangguk.
Seperti biasa, aku memandikan Zain dan Fatan secara bersamaan untuk menghemat waktu setelah Rio dan Ria selesai mandi dan aku menyuruhnya untuk langsung memakai seragam sekolah mereka.
Setelah semuanya rapih, aku menyuapi Zain dan Fatan, sementara Ria dan Rio makan sendiri.
Bang Supri terlihat baru bangun tidur dengan rambut yang acak acakan. Dia menoleh ke arah kami yang sedang sarapan bersama di atas karpet.
"Kalian sarapan tidak bangunin Wawa,"kata bang Supri.
"Wawa kan sudah besar kenapa tidak bangun sendiri,"sahut Ria.
"He'eh, masa kalah sama anak kecil ya kak!"ledek Rio."
__ADS_1
"Ishh, dasar bocah," umpat bang Supri.
"Sudah bang, cepetan sana mandi aku mau titip zain dan Fatan mau antar mereka sekolah dan setelah itu mau langsung ke rumah sakit,"kata ku.
"Baik nyonya ratu."Kemudian bang Supri beranjak pergi dari hadapan kami. Aku geleng-geleng kepala saja melihatnya. Gara gara Raihan menyebutku ratu, bang supri jadi meledek ku.
Aku melajukan motorku mengantar anak-anak ke sekolah mereka masing-masing. Setelah Rio masuk ke dalam area sekolahnya, ku lajukan lagi motorku menuju sekolah Ria. Kedatangan kami di gedung bercat hijau itu bersamaan dengan kedatangan si cungkring. Ku sebut dia cungkring karena aku sendiri tidak tau siapa namanya meskipun dia anak mantan suamiku tapi mas Surya tidak pernah mengenalkan anak anaknya padaku.
Terlihat si cungkring di antar oleh seseorang memakai helm namun bukan Ipah melainkan mas Surya, mantan suamiku. Aku bisa menebaknya meskipun orang itu tidak memperlihatkan wajahnya karena postur tubuhnya sama persis seperti mas Surya.
Aku tidak menghiraukan keberadaanya dan melainkan pura pura tidak tahu keberadaanya. Ria turun dari motorku lalu memberi salim.
"Belajar yang benar ya?"ucap ku.
"Iya kak."Kemudian Ria memasuki gerbang sekolahnya di ekori oleh si cungkring di belakangnya. Aku harap mereka tidak bertengkar lagi karena sebelumnya Raihan sudah mengancamnya jika masih saja jahil pada Ria maka Raihan akan membawanya ke rumah sakit dan menyunat nya. Dia pun ketakutan dan berjanji tidak akan nakal lagi pada Ria.
Aku melirik dengan ekor mataku ke arah pria memakai helm itu. Meskipun muka nya tertutup rapat aku yakin mas Surya sedang memperhatikanku di balik kaca helmnya. Setelah di pastikan Ria sudah masuk ke sekolahnya aku menyalakan motorku namun baru saja aku mau menancap gas, pria memakai helm itu lebih dulu menghalangi motorku dengan motornya, aku kesal sekali melihatnya.
Pria itu membuka helm nya dan benar saja dugaan ku bahwa pria itu adalah mas Surya.
"Kenapa menghalangi jalanku mas?aku buru buru,"ucap ku dengan sedikit ketus.
"Aku ingin bicara dengan mu Nuri, sebentar saja,"kata mas Surya dengan nada memaksa.
"Mau bicara apa? ya sudah bicara saja di sini."
"Aku tidak bisa mas, aku buru buru anak ku sedang menunggu di rumah."
"Sepuluh menit saja Nuri, please."Mas Surya masih memaksa.
Aku merogoh tas kecil ku dan melihat jam yang ada di ponsel itu. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan dan mestinya aku harus segera ke rumah sakit.
Aku melirik malas ke arah mas Surya."Ya sudah sepuluh menit. Kita bicara di sana saja," tunjuk ku pada sebuah pohon mangga yang mana kemarin aku memarkir kan motorku dan Ipah di sana.
Setelah itu aku menyalakan motorku kembali dan melaju mendekati pohon mangga dan di ekori oleh mas Surya. Aku sendiri tidak turun dari motor melainkan duduk saja di atas jok. Sementara mas Surya turun dari motornya dan duduk di atas jok motornya sendiri.
"Mau bicara apa?"tanya ku tanpa basi basi dan tanpa melihat ke arahnya.
"Kamu makin cantik saja Nuri,"puji mas Surya, namun aku tidak suka mendengar pujiannya itu.
"Langsung to the point saja mas, mau ngomong apa?"
"Ehm, gimana kabar Zain Nuri?"
"Baik."
__ADS_1
"Syukur lah, aku rindu sekali sama Zain, tapi sayang nya kamu melarang aku bertemu dengannya."
"Jadi kamu ngajak bicara aku hanya untuk membahas masalah Zain?"Aku mulai kesal, dulu kemana saja dia ketika kami belum bercerai. Sekarang bilang rindu, Zain saja sudah lupa kalau dia punya seorang papa.
"Apa sekarang kamu baru melek tiba tiba ngomong rindu sama Zain? kemana saja kamu sebelum kita bercerai? Di saat Zain butuh pelukan mu dan uluran tangan mu kemana saja kamu mas? dan sekarang kamu bilang rindu apa kamu tidak malu sama Zain?"sambungku.
"Aku tau Nuri, aku salah dan menyesal, aku minta maaf. Aku menyesal sudah menelantarkan kalian dulu. Andai waktu bisa di putar kembali aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian."
"Tapi sayang nya mas, waktu sudah tidak bisa di putar lagi. Dan aku pun tidak mungkin kembali lagi sama kamu mas. Lebih baik kamu fokus saja sama istri dan anak anak mu yang lain. Tidak usah mengkhawatirkan hidup Zain karena hidup Zain sudah jauh lebih baik daripada dulu." Kemudian aku melirik ponselku sudah menunjukan pukul delapan. ternyata pembicaraan kami membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit melebihi waktu yang di minta oleh mas Surya. Aku harus buru buru pergi ke rumah sakit kasihan Sumi pasti sedang menunggu makanan dariku.
"Maaf mas, aku harus pergi. Kamu meminta waktu sepuluh menit tapi nyatanya hampir setengah jam." Aku menyalakan motorku namun sebelum melaju mas Surya lebih dulu menahan stang dan mengambil paksa kunci motorku. Aku menatap berang ke arahnya.
"Kembalikan kunci motorku mas,"bentak ku dan berusaha mengambil kunci itu dari tangannya mas Surya yang dia acungkan ke atas.
"Tidak, aku tidak mau membiarkan kamu pergi Nuri, kamu tau aku masih cinta sama kamu Nur, dan aku mau kita kembali lagi seperti dulu. Aku janji tidak akan menelantarkan kalian lagi, aku juga akan memberi mu nafkah yang sangat besar."
"Jangan mimpi mas, kamu sudah mentalak tiga aku dan itu artinya kita tidak bisa kembali lagi. lagi pula aku sudah tidak memiliki perasaan apa apa lagi sama kamu mas. Tolong kembalikan kunci motorku karena aku harus buru buru ke rumah sakit."
"Tidak." Mas Surya masih saja menahan kunci ku bahkan masih dia acungkan ke atas. Aku kesal sekali pada sikap pemaksa nya.
Ekor mataku melirik kesekitaran berharap ada orang sedang berada di sekitar kami. Dan ketika aku melihat tiga pria yang sedang berjalan aku pun berteriak.
"Tolong....tolong...." teriak ku dengan kencang. Mas Surya terlihat panik, mungkin dia tidak memiliki pemikiran kalau aku akan berteriak. Tak lama kemudian tiga orang itu datang menghampiri kami.
"Ada apa neng, ada apa?"tanya salah satu dari mereka.
"Tolong saya pak, dia mengambil paksa kunci motor saya pak."
Tiga orang itu menoleh pada mas Surya yang sudah memancar kan muka panik.
"Apa benar pak? bapak sudah mengambil kunci Eneng ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Sa...sa...." mas Surya tergagap.
"Benar pak, dan itu di tangannya kunci saya yang di ambilnya."
"Anda ini mau mencuri motor eneng ini? mau anda kembalikan atau anda kami bawa ke kantor polisi?"ancam mereka.
Mas Surya nampak ketakutan dan dia segera memberi kunci itu dengan cara di lempar ke arahku, kemudian menyalakan motornya lalu menancap gas dan berlalu pergi.
"Ini mba kuncinya," salah satu dari mereka memberikan kunci itu padaku setelah mengambilnya dari atas tanah.
"Terima kasih mas, pak," ucap ku. Aku bersyukur sekali untung ada mereka jika tidak aku tidak tau kapan mas Surya akan mengembalikan kunci.
Setelah itu aku melajukan motor ku meninggalkan gedung SMP itu menuju rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang jalan aku mengumpat kesal pada mas Surya karena masih saja menggangu hidupku. Aku berpikir apa aku harus segera menikah agar mas Surya tidak lagi menggangu hidupku?