
Aku mengejar langkah lebar Raihan yang lebih dulu pergi dan meninggalkan ku. Aku tau dia sedang kesal dan mungkin marah padaku dan ku yakini penyebab utama kekesalannya adalah karena aku telah mengakuinya sebagai teman di depan dokter Bayu. Karena Raihan sendiri tidak ingin di sebut teman melainkan ingin disebut kekasih oleh ku.
Setelah aku melihat punggungnya diantara orang orang yang hilir mudik di koridor rumah sakit, aku segera berlari cepat agar sampai padanya hingga menabrak seorang pria yang sedang berjalan.
"Maaf...maaf..saya tidak sengaja, saya buru buru,"ucap ku pada seorang pria yang ku tabrak. Beruntungnya pria itu tidak marah melainkan memperhatikanku saja dan di saat itu pula aku berlari lagi mengejar Raihan.
Ternyata usahaku tidak sia sia meskipun aku harus bernafas tersengal sengal. Setelah melihat tubuh Raihan yang sedang berjalan di hadapanku dan berjarak lima meter aku menghentikan sejenak langkahku untuk mengatur nafasku yang sudah terputus putus.
"Rai, stop Rai..."panggil ku, aku berusaha memberhentikan nya dengan sisa nafas yang ada. Raihan melirik ke arahku sejenak namun dia tidak menghiraukan panggilanku melainkan mempercepat langkahnya menghindari ku. Aku tidak ingin Raihan menjauh lagi maka aku memaksa menggerakkan kedua kakiku dan semakin mempercepat langkah ku bahkan berlari dan ketika jarak ku dengannya tinggal menyisakan hanya satu meter aku langsung meraih tangannya dan bersamaan dengan itu pula Raihan menepis lenganku tanpa menghentikan langkah nya.
Aku menyerah, rasanya tidak sanggup lagi berlari mengejarnya. Aku berdiri mematung dan menatap punggungnya dengan pandangan nanar. Aku tidak menyangka Raihan bisa berbuat sedikit kasar, padahal selama ini dia selalu bersikap lembut. Apa sebegitu marahnya dia padaku? Zain yang berada dalam gendongan Raihan menangis melihatku namun dia membiarkannya saja hingga tubuh itu tidak lagi nampak dari pandanganku.
Setelah nafasku kembali normal, aku berpikir aku tidak boleh egois dan harus mampu menyeimbangkan sikap. Jika Raihan marah aku harus bisa meredakan kemarahannya bukan malah ikut ikutan marah padanya, meskipun sebenarnya aku tidak salah dan entah siapa yang salah.
Aku melanjutkan langkahku dengan langkah sedikit lemas setelah berlari lari. Setelah tiba di lobby yang terlihat sedikit sepi aku mendengar suara balita menangis. Ketika menoleh ke arah sumber suara itu ternyata Raihan sedang menenangkan Zain di pojokan. Senyum tersungging di bibirku karena telah menemukannya. Setelah itu, aku segera berjalan menghampiri nya.
"Rai..tolong kemari kan Zain, biar aku yang gendong," kata ku, aku mengangkat kedua tanganku bersiap hendak mengambil alih Zain dari gendongan pria yang sedang marah itu.
Raihan menoleh dan menatapku. Mulanya dia diam saja namun ketika tangan Zain terulur ingin di gendong oleh ku, dan seperti terpaksa dia memberikan Zain pada ku.
"Maaf sudah membuat Zain takut,"ucap Raihan, namun aku tidak menghiraukannya melainkan sedikit menjauhinya karena aku akan menenangkan Zain terlebih dahulu.
Setelah Zain terdiam aku melirik Raihan, dia menyenderkan tubuhnya di dinding dan menatap kosong ke arah tembok yang kosong seperti tengah melamun entah apa yang dia pikirkan. Disaat Raihan seperti itu aku memberanikan diri mendekatinya dan ikut berdiri di samping.
"Maafkan aku Rai," ucap ku, membuka pembicaraan.
Raihan masih diam dan tidak pula menoleh ke arahku.
"Aku bingung harus mengaku apa sama dokter Bayu. Dia mengenalmu dan juga kekasih mu Nura. Lantas apa aku harus mengaku bahwa aku ini kekasihmu juga Rai?"sambung ku, aku berbicara langsung pada intinya saja karena aku yakin itulah penyebab permasalahan yang membuat dia marah saat ini padaku.
Raihan mengalihkan pandangannya kemudian menatap lekat wajahku."Iya mba, aku ingin mba mengakui siapa aku bagi mba di hadapan orang orang. Kenapa sulit sekali untuk mba mengakui kalau aku kekasih mba bukan teman mba."
__ADS_1
"Rai..."
"Mba harus mengakui aku sebagai kekasih mba pada laki laki mana pun termasuk mengaku pada kakak Nura."
Aku mengernyitkan dahi." Kakak Nura, maksud mu?"
"Dokter tadi adalah kakak Nura dan mestinya mba katakan padanya kalau aku ini kekasih mba."
Cukup terkejut mendengarnya bahwa pria yang belum lama ini membuat aku merasa nyaman mengobrol adalah kakak dari kekasih Raihan sendiri. Aku tidak tau andai dia tau bahwa aku dekat dengan kekasih adiknya apa yang akan terjadi. Tapi tiba tiba aku teringat cerita dokter Bayu tadi pagi bahwa dia mengatakan adik perempuannya telah meninggal setelah sehari di lahir kan dan setelah ibunya meninggal, lantas Nura siapanya dokter bayu?
"Aku...aku tidak mengerti apa maksudmu Rai, kamu menyuruhku untuk mengakui bahwa kamu adalah kekasihku di depan kakak kekasih mu sendiri, apa kamu sudah gila Rai? bagaimana kalau dokter Bayu cerita pada Nura kalau kamu selingkuh?"
Raihan mengacak acak rambutnya seperti merasa frustasi.
"Aku tidak selingkuh, lagi pula aku tidak pernah mengajaknya menjalin hubungan denganku. Dia sendiri yang menawarkan diri menjadi pacarku dan menganggap ku pacarnya padahal aku sama sekali tidak pernah merespon tawarannya. Saat itu dia bilang dia ingin membantuku untuk melupakan mu melupakan wanita yang aku cintai dan ternyata aku tidak bisa. Saat di acara syukuran waktu itu, aku sengaja membiarkannya mengaku bahwa dia pacarku hanya karena aku ingin tahu bagaimana tanggapan mba padaku, apa kah mba cemburu atau tidak. Aku hanya ingin tau bagaimana perasaan mba sama aku."
Aku tercengang mendengar pengakuannya. sekarang aku mengetahui fakta baru bahwa Raihan tidak pernah mengajak menjalin hubungan dengan Nura melainkan Nura sendiri yang menawarkan diri dengan alih alih ingin membantu Raihan untuk melupakan aku. Aku tidak tau apakah ini kabar gembira atau sebaliknya.
Aku tertawa tertahan mendengarnya.
"Rai..kamu...cemburu sama dokter Bayu? jadi kamu marah karena kamu cemburu?
Raihan tidak menjawab melainkan mengalihkan pandangannya.
"Lucu sekali kamu Rai, kenapa harus cemburu? aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya."
Raihan melirik."Tapi aku yakin dia menyukaimu mba."
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan demikian?"
"Dari cara dia menatap mba, dari gesture tubuhnya dan sikapnya ke mba."
__ADS_1
"Rai..."
"Mba..."
"Cup"sebuah kecupan singgah di pipinya. Tanpa malu aku mencium pipinya agar dia tidak marah dan berhenti membahas tentang kecemburuannya lagi, karena aku sendiri kesal dan aku rasa hanya membuang waktu saja.
Wajah Raihan terlihat bengong, mungkin dia tidak menyangka aku memiliki keberanian mencium nya meskipun hanya di pipi nya saja karena selama ini dirinya sendiri yang lebih dulu mencium ku tanpa permisi.
"Sudah jangan marah lagi ya, ayok kita pergi ke mall sekarang, kasihan anak anak ku di mobil sudah terlalu lama menunggu kita." Belum sempat Raihan bicara aku lebih dulu menarik paksa tangannya hingga keluar dari gedung itu.
Baru saja mendaratkan pinggul ku di atas jok, bang Supri protes."Kalian habis ngapain dulu sih di dalam lama banget? mana nanem kita disini tanpa makanan lagi."
"Makanan mulu yang di pikirin,"ucap ku.
"Aku kan dalam masa proses pemulihan Nur jadi harus banyak makan ."
Aku memajukan bibir bawahku, alasan saja masa pemulihan padahal dia sendiri memang suka makan.
"Nanti kita makan sepuas puasnya kalau sudah sampai bang," kata Raihan.
"Tapi masih lama tidak Rai? aku sudah lapar banget ini?"
"Tidak, paling sekitar lima jam lagi."
"Buset dah, yang benar Rai? kamu mau membiarkan aku mati kelaparan Rai."
Raihan tidak menanggapinya melainkan hanya tersenyum tipis, sementara aku geleng-geleng kepala saja. Padahal bang Supri sudah makan sekitar tiga jam yang lalu sekarang dia bilang lapar lagi seperti perut karet saja.
Setelah itu, Raihan melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit lalu mengelilingi kota kabupaten dan berakhir di sebuah mall yang paling besar di antara empat mall di kota kabupaten.
Anak anak bersorak gembira karena ini merupakan yang pertama bagi mereka memasuki mall termasuk Zain. Begitu pula dengan bang Supri, dia mengaku baru kali ini masuk mall padahal selama ini istrinya sering belanja pakaian bahkan makan makan di mall. Namun tidak dengan aku karena dulu sebelum menikah dan aku memiliki gaji sering kali main ke mall sekedar nongkrong atau makan dengan teman kerja setelah habis gajian.
__ADS_1
"Rai, setelah masuk kita makan dulu ya Rai?" ajak bang Supri pada saat baru saja keluar dari mobil. Raihan mengangguk dan aku hanya geleng-geleng kepala.