Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bertemu Oma dan dokter Bayu


__ADS_3

Aku melangkah kan kaki ku dengan langkah gontai meninggalkan tempat dimana Raihan, Nura serta keluarganya sedang bersenda gurau. Aku pikir Raihan mencari ku ternyata tidak, dia justru asik mengobrol dengan Nura dan keluarganya seolah olah lupa dengan keberadaan kami di mall ini.


Aku menyeka air mata ku dengan kasar. Aku menyesal telah ikut dengannya ke tempat ini jika pada akhirnya harus menyaksikan keluarga bahagia itu.


"Kenapa kamu tega berlaku seperti ini pada kami Rai? apa kamu lupa bahwa kami orang kampung dan orang asing di tempat ini bahkan di kota besar ini? apa kamu tidak mengkhawatirkan kami Rai?"Aku bermonolog.


Aku kebingungan kemana harus melangkah kan kakiku selanjutnya karena mall ini begitu asing bagiku. Aku pun tidak tau seluk beluk mall ini. Selain itu, aku juga tidak punya kenalan di mall besar ini dan satu satu nya orang yang aku kenal hanya Raihan tapi dia sedang asik mengobrol bersama kekasih serta orang tuanya. Sempat berpikir untuk mendatangi nya saja tapi aku berpikir ulang dampak nya jika nekat mendatangi mereka, takut hanya akan membuat kekacauan di sana.


"Apa aku tunggu Raihan sampai selesai mengobrol saja. Aku tidak mungkin kembali ke apartemen sendirian karena aku tidak memiliki kartu akses."Aku bermonolog


Meskipun kecewa padanya aku memutuskan untuk menunggu nya saja karena aku sendiri tidak punya pilihan lain. Demi Zain, aku tidak ingin dia ikut luntang lantung bersama ku jika aku nekat keluar dari mall ini.


Satu jam berlalu aku menunggunya hingga tidak kuat lagi menahan beban tubuh Zain yang cukup berat. Ketika aku melangkah hendak berpindah tempat dimana selama satu jam ini menunggu Raihan sembari menggendong Zain, tiba tiba saja kaki kanan ku terkilir dan beruntungnya kami tidak sampai terjatuh. Sembari meringis menahan sakit serta menahan tubuh Zain ekor mata ku mengitari mencari tempat yang sepi agar aku bisa mengistirahatkan kakiku.


Sorot mataku tertuju pada tempat yang cukup sepi yaitu samping lorong menuju toilet. Ku paksa menyeret kaki meskipun nyeri serta linu sekali. Setelah bersusah payah akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju. Aku menurunkan Zain terlebih dahulu setelah itu duduk di atas lantai tanpa alas.


"Sebentar ya nak, kita istirahat di sini dulu. Kaki mama sakit sekali."


"Iya mama."


Aku mendudukkan Zain di atas pangkuanku tak lama dia menguap lalu tertidur. Selama aku duduk tidak sedikit pasang mata yang sedang keluar masuk toilet memperhatikan kami dengan berbagai ekspresi. Ada yang memandang iba ada pula yang memandang sinis dan mungkin ada saja di antara mereka yang menganggap aku sebagai seorang pengemis namun apapun anggapan mereka tentang kami aku tidak peduli. Yang penting aku bisa duduk tanpa membayar. Aku bisa saja duduk di restauran, kopi shop atau outlet yang biasanya menyediakan tempat duduk tapi aku harus membeli dulu baru bisa duduk.


Sudah satu jam lamanya aku menunggu Raihan. Tapi sepertinya Raihan benar-benar tidak berniat menyusul dan mencari kami lantas untuk apa menunggunya. Sempat aku berpikir untuk pulang kampung saja tanpa harus menunggu atau berbicara pada Raihan terlebih dahulu. Toh, seperti nya dia saja tidak peduli pada kami.


"Apa aku pulang kampung saja sekarang."


"Maaf mba, ini mall bukan jalanan. Kalau mau ngemis sebaiknya keluar saja karena akan mengganggu kenyamanan pengunjung mall." Di tengah sedang berpikir, nampak sepasang kaki tiba tiba berdiri di hadapanku dan suara bariton menegurku.


"Pengemis!"Ucap ku lirih. Kemudian aku mendongak tinggi, nampak pria tinggi tegap memakai seragam hitam berdiri tegak di hadapanku dan memasang wajah angkuh. Aku meyakini pria yang sedang berdiri angkuh ini adalah seorang satpam mall ini.


Pria itu tercengang melihatku, mulutnya terbuka sedikit. Entah apa yang dia pikirkan tentang aku. Namun aku mendengar dua kata keluar dari mulutnya." Cantik sekali."


Aku menyipitkan mataku melihatnya."Maaf pak, apa kami ini seperti seorang pengemis? kami hanya numpang duduk sebentar saja pak bukan untuk mengemis.


"Oh, bu..bukan seperti itu maksudnya Ma..maaf mba, maaf."Ucap satpam itu gelagapan.


"Lantas apa kami tidak boleh duduk disini?"


"Sebenarnya di larang duduk sembarangan mba, karena mall ini sudah menyediakan tempat duduk umum gratis di ujung sana." Tunjuk satpam itu pada suatu tempat yang terlihat sangat jauh sekali dari posisiku saat ini."


"Oh, begitu. Baik pak, saya akan pergi sekarang juga. Zain bangun ya nak, kita tidak boleh duduk disini, kita harus pergi dari sini." Zain pun terbangun. Kasihan anak ku sedang enak tidur harus di bangunkan.


Perlahan aku bangun dengan bantuan tembok. Satpam itu menawarkan diri untuk membantuku namun aku menolaknya mentah mentah karena aku sedikit kesal dia sudah menyebutku seorang pengemis. Jika di pikir padahal kami duduk di pojokan dan tidak mengganggu mereka yang hendak ke toilet namun tetap saja di larang. Apa memang mall ini tidak menerima orang miskin seperti kami seperti yang Raihan katakan jika mall ini adalah mall elit dan pengunjungnya hanya orang orang kaya.


Setelah berdiri tegak, aku hendak menggendong Zain namun dia menolak malah minta jalan kaki saja seolah olah Zain mengerti jika kaki mamanya sedang sakit.


Aku pun berjalan perlahan sambil menuntun Zain. Namun ketika kami sedang berjalan di tengah hilir mudik orang orang, seseorang menabrak ku hingga aku terjatuh dan terjerembab di atas lantai.

__ADS_1


"Aww!" aku mengaduh kesakitan. Tapi bersyukur nya Zain tidak ikut jatuh bersamaku. Mungkin jika tadi aku menggendongnya sudah di pastikan dia pun akan ikut terjatuh.


"Mama..."Teriak Zain, dia langsung mendekap ku yang sedang terduduk di atas lantai. Mata beningnya sudah berkaca kaca.


Aku mendongak melihat pada wanita cantik berpenampilan cukup se xi sedang menatap geram pada ku. Aku juga melihat sebuah kopi cup tergeletak dan tumpah berserakan di atas lantai. Aku rasa kopi cup itu miliknya.


"Dasar wanita kampung dan miskin apa kamu jalan tidak pakai mata, hah?" Hardik wanita itu dengan suara lantang sehingga banyak pengunjung yang sedang lalu lalang melihat ke arah kami. Zain menangis sembari mendekap ku. Dia ketakutan mendengar hardikan dari wanita itu.


"Lihat kopi ku, kamu sudah menumpahkan nya." Tunjuk wanita itu pada kopi milik nya yang tumpah berserakan.


Aku mulai kesal, selain sudah menyalahkan dan mempermalukan aku, dia juga sudah membuat Zain menangis ketakutan.


"Bukan nya mba sendiri yang menabrak saya? kenapa malah mba yang marah sama saya? kalau saya yang menabrak mba mestinya mba yang jatuh bukan saya."


"Halah, jangan bohong kamu, dasar wanita miskin dan munafik." Bola matanya semakin membesar menatapku. Dia tidak ingin mengakui jika dirinya lah yang salah.


Aku melihat di atas ada cctv menyorot ke arah kami. Aku pikir ini kesempatan aku untuk membuktikan ke semua orang yang sedang melihat bahwa aku tidak bersalah.


"Itu cctv bukan?" Tunjuk ku ke atas." kita cek saja agar orang orang disini tau siapa yang sedang berbohong dan siapa wanita munafik di sini." Aku menantangnya. Wanita itu terdiam dengan mimik muka cemas.


"Benar sekali cek cctv saja agar orang orang tau siapa wanita yang sudah menuduh cucu ku pembohong dan munafik." Seseorang membela lalu aku menoleh ke samping ternyata Oma dan dokter Bayu sedang berdiri di sampingku.


Mataku membulat sempurna." Oma, dokter Bayu." Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mereka di sini dan dalam keadaan seperti ini.


Begitu pula dengan wanita yang sedang memaki ku tak kalah terkejut nya denganku.


"Ba...Bayu, O..Oma!"Ucap nya dan nampak gugup. Sementara dokter Bayu dan Oma menatap tajam ke arah wanita itu.


Aku menggeleng pelan.


"Sini anak pintar sama eyang." Oma meraih Zain yang sedang berada di pelukanku dan Zain pun menurut.


"Bay, kamu bantu Nuri bangun." Titah Oma pada dokter Bayu.


"Iya Oma." Dokter Bayu pun mendekat dan membantu aku berdiri.


"Apa ada yang terluka nak?" Tanya Oma sembari menelisik tubuhku ketika aku sudah berdiri dan di gandeng oleh dokter Bayu.


"Tidak Oma, hanya terkilir sedikit."


Oma menoleh serta menatap kesal pada wanita yang sudah memaki ku tadi."Jangan harap kamu bisa menjadi istri dari cucuku karena sampai kapan pun aku tidak sudi menerimamu." Ucap Oma dengan suara di naik kan tiga oktaf.


"Bay.."Panggil Oma tanpa melihat pada orang yang di panggilnya.


"Iya Oma."


"Keputusan mu tidak salah Bay, untung kamu memutuskan wanita ular ini. Oma hampir saja termakan omongan manis nya dan ternyata aslinya dia memiliki perangai yang buruk tak ubah ya seperti serigala berbulu domba."

__ADS_1


Wanita itu tercengang mendengar kalimat tajam yang diarahkan padanya."O..Oma, Ba..Bayu aku minta maaf. Aku..aku tidak tau kalau wanita kampungan ini adalah..."


"Diam kamu Jenni." Bentak Oma, Oma nampak marah sekali."Kau menghina cucu ku? Apa kamu lupa darimana asal mu? dasar wanita tidak tau diri."


"Oma, tahan emosi Oma. Lebih baik kita pergi saja dari sini. Lagi pula ada Zain, tidak baik bertengkar di depan anak kecil." Dokter Bayu mengingatkan Oma lalu mendekatinya dan memegang lengannya." Ayok Oma!" ajaknya dan siap menuntun. Namun Oma menoleh ke arah ku."Bay, kamu tuntun saja Nuri, Oma bisa jalan sendiri dan biar Oma yang membawa anak tampan ini." Ucap Oma kemudian mencium pipi Zain."Maafin eyang ya sayang sudah marah marah di depan cucu eyang yang tampan ini." Kata Oma dan Zain tersenyum.


Dokter Bayu melepaskan tangannya dari tangan Oma kemudian dia mendekati ku." Bisa jalan tidak, apa mau aku gendong?"Dia menawarkan diri dengan suka rela namun aku menggeleng cepat."Aku bisa jalan kok."Ucap ku meskipun sebenarnya aku tidak yakin bisa jalan apa tidak.


Namun nampaknya dokter Bayu mengerti keraguan ku dia pun berdiri di depanku dan sedikit membungkuk." Ayok naik ke atas punggungku." Aku sedikit membulatkan bola mataku melihat dokter bayu dengan suka rela menawarkan dirinya untuk menggendongku.


"Ayok Nuri, naik saja ke punggung Bayu tidak apa apa." Di tengah keraguanku Oma menyuruhku untuk naik ke punggung dokter Bayu yang masih dalam posisi sedikit berjongkok.


"Ayok Nuri, cepetan naik."Titah dokter Bayu lagi.


"Iya Nuri, ayok naik." Oma pun menyuruh aku untuk segera naik.


Setelah mereka mendesak ku, akhirnya dengan rasa ragu dan tidak enak hati aku pun mengikuti keinginan mereka. Aku naik ke atas punggung dokter bayu lalu dia mulai berdiri menggendongku. Bersamaan dengan itu tak sengaja pandanganku mengarah pada wanita bernama Jenni dan baru ku ketahui ternyata dia adalah mantan kekasih dokter Bayu. Dia nampak melebarkan pupil matanya melihat kami namun sayangnya aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan.


Dokter Bayu mulai melangkah kan kakinya begitu pula dengan Oma hendak meninggalkan wanita yang sudah menghardik ku.


"Bay...Bayu tunggu!"Jenni memanggil dokter Bayu namun tidak di hiraukan olehnya. Begitu pula dengan Oma yang juga tidak menghiraukannya. Lagi pula aneh sekali tadi saat dekat dia diam saja dan setelah mau pergi dia baru memanggilnya.


Sepanjang melangkah kami menyita perhatian para pengunjung. Sebenarnya aku malu sekali di tonton oleh banyak orang dalam keadaan di gendong oleh pria tampan.


"Dok, tolong turunkan. Aku beneran bisa jalan kok." Ucap ku di tengah tengah melangkah.


"Apa kamu yakin?"


"Iya, aku yakin."


Kemudian dokter Bayu pun menurunkan aku di tengah perjalanan.


"Beneran kamu bisa jalan nak?"Oma memastikan.


Aku mengangguk.


"Apa kalian sudah makan?Tanya Oma.


Aku menggeleng." Belum Oma."


"Kebetulan sudah jam waktu makan siang kita makan dulu saja." Kata Oma.


Kemudian dokter Bayu menuntunku menuju sebuah restauran. Setelah berada di dalam sebuah restauran yang cukup mewah menurutku, waiters pun menghampiri kami dan memberikan buku menu. Oma menyuruh ku untuk memilih makanan apa saja yang aku mau. Aku melihat daftar menu di sertai gambar, dari namanya saja terlihat aneh apalagi gambarnya. Aku yang sedang mikir dan membuka bolak balik buku menu itu ternyata di perhatikan oleh Oma dan dokter Bayu.


"Apa tidak ada makanan yang kamu suka nak?"tanya Oma.


Aku mengangkat wajahku dan menatap Oma. Ingin rasanya aku berterus terang bahwa makanan disini tidak sesuai dengan selera lidah ku karena aku yang sudah biasa makan makanan kampung.

__ADS_1


"Apa, apa tidak ada nasi di sini Oma?" tanyaku dan menyampingkan rasa malu. Nasi itu makanan wajib bagiku jika tidak makan nasi namanya belum makan. Nampak Oma serta dokter Bayu tersenyum. Entah senyuman meledek atau apa yang jelas aku cukup malu.


"Kalau nak Nuri mau ada kok, mereka menyediakan nya juga hanya saja tidak dicantumkan di buku menu karena ini restauran Itali jadi menu yang di cantumkan ya makanan ala Itali saja." Oma menjelaskan.


__ADS_2