
Setelah selesai membicarakan tentang gelang pemberian bapak dan setelah aku mengetahui tentang fakta bahwa gelang itu merupakan bukan gelang biasa melainkan gelang berharga yang bernilai cukup fantastis membuat benak ku bertanya tanya. Dari mana bapak memiliki uang sebanyak itu? Apa sebenarnya bapak itu orang kaya lalu pura-pura miskin seperti yang ada di cerita film atau novel? tapi rasanya tidak mungkin dan untuk apa bapak pura-pura miskin pada istri dan anak anaknya.
Ketika tengah termenung di atas balkon apartemen, tiba tiba dua buah tangan melingkar di pinggang ku dan deru nafas hangat terasa di sebelah telinga kiriku lalu sebuah daku bertengger di pundak ku. Siapa lagi kalau bukan calon suamiku yang sedang memeluk ku saat ini.
"Bengong terus dari tadi. Di panggilin tidak menyahut," ucap Raihan.
Saking terhanyut oleh lamunan sampai aku tidak mendengar jika Raihan memanggil ku.
"Maaf."
Cup
Tiba tiba Raihan mengecup pipiku. Sudah menjadi kebiasaan nya dan aku tidak dapat menolak.
"Jangan mulai deh, Rai. Di lihat para tetangga nanti."
"Ha ha. Siapa yang akan melihat."
"Ya orang-orang penghuni apartemen ini lah. Siapa tau mereka ngintip kita di balkon apartemen mereka."
Raihan melirik kiri dan kanan." Tidak ada. Lagi pula biarkan saja, sebentar lagi kan kita akan menikah."
Aku tersenyum samar.
"Sebenarnya kamu lagi memikirkan apa sih?"
Aku menghela nafas." Rai.."
"He'em."
"Apa bapak ku itu sebenarnya orang kaya yang pura pura miskin?"
Raihan tersenyum lebar." Kenapa bisa berpikir seperti itu?" Dia balik bertanya.
"Ya, aku merasa aneh saja. Bapak ku itu hanya kerja serabutan tapi kenapa dia bisa memberikan kalung yang hanya bisa di beli sama orang kaya."
Raihan mengangkat daku nya dan berdiri tegak lalu dia membalik kan tubuhku hingga posisi kami saling berhadapan.
"Jadi itu yang membuat mu melamun sepanjang hari?"
__ADS_1
"Rai, aku...."
"Iya sayang aku mengerti. Aku juga berpikir demikian."
Aku menatap nya lekat." Jadi....kamu juga merasa aneh sama hal nya denganku?"
"Tentu saja."
"Terus menurutmu bagaimana, Rai? apa menurutmu bapak ku itu orang kaya?"
Raihan menggeleng.
Aku menyipitkan mataku."Lantas....."
"Aku rasa...gelang itu sudah ada sejak kamu masih bayi, bukan sejak usia lima tahun."
"Hah." Aku bengong menatap nya.
"Ya, seperti yang kamu tahu kalau ukuran gelang itu kecil sekali. Rasanya mustahil kalau bapak membuatkan gelang yang hanya muat di kaki bayi atau lengan se usia Zain padahal dia tau kalau kamu sudah berusia lima tahun."
Aku terdiam. Apa yang di katakan Raihan masuk akal. Tapi kenapa selama ini aku tidak pernah berpikir sampai ke arah sana.
Aku semakin menatap lekat Raihan dan mulut yang sedikit terbuka mendengar apa yang sedang dia ucap kan.
"Jadi..."
"Yah, dan aku yakin bapak sengaja berbohong sama kamu tentang gelang itu."
Aku menelan saliva ku." Kenapa bapak harus berbohong, Rai?"
"Mungkin bapak memiliki alasan sendiri yang hanya dia dan tuhan saja yang tau."
Seingat ku bapak itu memiliki sikap yang baik, ramah, lembut, penyayang dan jujur. Jika bapak berbohong tentang kalung itu kemungkinan memang benar apa yang di katakan Raihan bahwa bapak memiliki alasan yang hanya dia dan tuhan saja yang tau.
"Kalau kalung itu sudah ada di kamu sejak saat di temukan, berarti orang tua kandung mu itu tidak membuang kamu, sayang. Bisa saja kamu terlepas dari mereka tanpa sengaja atau mungkin ada sebab lain yang kita tidak tau."
Air mataku tiba tiba mengalir. Ada rasa sedikit haru dan harapan semoga apa yang Raihan katakan adalah benar bahwa orang tua ku tidak membuang aku melainkan kami terpisah karena hal tertentu.
"Hei, jangan menangis." Raihan mengusap air mataku dengan kedua jempolnya.
__ADS_1
Aku aku memegang tangan Raihan."Rai, apa menurutmu orang tua ku masih hidup?"
"Allahu alam sayang. Tapi semoga saja mereka masih hidup."
"Apa, apa menurut mu aku masih bisa bertemu dengan mereka, Rai?"
"Inshaallah. Nanti kita cari mereka, ya!'
Aku memeluk Raihan, dan ku tumpahkan air mataku di dadanya. Begitu besar keinginan dan harapan ku untuk bisa bertemu dengan orang tua kandungku. Dan aku harap mereka dalam keadaan sehat dimana pun mereka berada.
Setelah melaksanakan ibadah jamaah maghrib bersama, Raihan memintaku untuk menemani Zain di ruang TV sementara dirinya akan mempersiapkan makan malam kami. Aku tersenyum menatap punggung nya yang sedang berjalan ke arah dapur. Mungkin setelah kami menikah nanti bukan aku yang melayaninya melainkan dia yang lebih banyak melayani ku.
Satu jam kemudian Raihan menghampiriku dan memberitahu bahwa makanannya sudah siap. Aku tersenyum lalu menuntun Zain untuk ikut bersama kami ke meja makan. Sampai di meja makan, aku menatap kagum pada beberapa menu hidangan dan merasa tidak sabar untuk segera menikmatinya. Calon suamiku memang pria multitalenta. Pandai berbisnis, pandai merayu ku, dan juga pandai memasak.
Aku menyuapi Zain lebih dulu. Nanti setelah dia kenyang baru aku makan. Namun ternyata, Raihan pria yang cepat tanggap. Dia tau kalau sebenarnya aku ingin segera menyantap hidangan lalu dia pun menyuapiku sembari menikmati makanannya.
Rasa kantuk mulai menghinggapi mataku ketika aku sedang menemani Raihan nonton acara bola di layar TV. Berulang kali menguap dan hal itu mengusik Raihan yang sedang fokus menatap layar.
"Kamu sudah ngantuk?"
Aku mengangguk pelan dengan mata sedikit menyipit.
"Ya sudah sana bobo gih."
Aku mengangguk lalu berdiri dan melangkah sempoyongan menuju kamar ku dan Zain.
"Awas jatuh," ledek Raihan. Namun aku tidak menanggapinya karena rasa kantuk yang tidak bisa di ajak kompromi.
Sampai di kamar aku langsung merebah kan tubuhku dan menutup mata lalu dalam hitungan menit pikiranku sudah berada di alam bawah sadar.
Aku berjalan di sebuah koridor yang nampak sepi, sunyi dan suram. Tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang di sana hanya aku seorang diri. Aku terus melangkah kan kaki ku hingga samar-samar mendengar suara seorang wanita yang sedang merintih kesakitan.
Aku mencari sumber suara itu hingga menemukan nya. Ku tatap pintu yang ku yakini di sana lah sumber suara itu berasal. Aku melangkah pelan mendekati pintu itu. Dengan rasa penasaran aku pun membukanya perlahan.
Mata ku tertuju pada seorang wanita yang tengah kesakitan di atas ranjang dengan perut buncit. Satu orang laki laki berjas putih dan dua orang wanita berseragam putih.
Aku terus memperhatikan kegiatan mereka hingga terdengar suara tangisan bayi menggema di ruangan itu. Aku baru mengerti ternyata wanita itu sedang melahirkan.
Aku melihat pria berjas putih itu mencuci tangannya di wastafel yang ada di ruangan itu. Aku melihat seorang wanita berseragam putih dan nampak masih muda menggendong bayi yang penuh dengan darah lalu di bersihkan. Aku melihat wanita yang baru saja melahirkan memejamkan matanya. Aku juga melihat seorang wanita berseragam yang nampak dewasa sedang menyuntik lengan wanita yang baru saja melahirkan hingga wanita itu nampak tersengal sengal lalu memiringkan wajahnya ke arah ku dengan mata yang membelalak hingga aku dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa wajah wanita itu.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaa."