
Matteo terdiam ketika melihat sikap yang ditunjukan Mia, yang kecewa atas keputusannya. Sementara Daniella tersenyum puas. Ia merasa menang kali ini. Daniella sebenarnya merasa iri atas segala sanjungan yang biasa dialamatkan untuk Mia, entah itu dari orang tua ataupun dari para tetangga dekat mereka.
Mia dinilai sebagai gadis yang sangat baik dan rajin. Hal itu kerap menjadi bahan perbandingan bagi dirinya yang memang seorang pemalas.
“Biarkan saja! Gadis itu memang selalu berlebihan dalam menanggapi segala sesuatu dalam hidupnya,” cibir Daniella. “Kuberitahu satu hal padamu, adik tiriku itu adalah gadis yang sangat lemah. Aku rasa pria sepertimu tidak membutuhkan gadis seperti itu. Gadis sepertiku jauh lebih cocok untukmu,” ujar Daniella lagi dengan penuh percaya diri.
Matteo tidak menanggapi semua ocehan Daniella. Ia lalu meraih kaos miliknya dan segera memakainya. Matteo tidak ingin Daniella terus menikmati tubuh atletisnya dengan tatapan nakal yang penuh godaan. Bagaimanapun juga, Matteo adalah seorang pria normal. Ia harus dapat mengendalikan dirinya dengan sebaik mungkin.
Diletakannya kotak bekal yang dibawakan Mia untuknya. Matteo kembali duduk di lantai seraya menekuk kaki kanan dan meluruskan kaki kirinya. Ia kemudian meletakan tangannya di atas lutut yang ia tekuk.
Perasaan Matteo sedikit tidak enak terhadap Mia, tapi ia harus melakukan hal itu. Sesaat kemudian, Matteo kembali mengalihkan tatapannya kepada Daniella. Gadis itu masih berdiri dengan angkuhnya. “Apa yang kau inginkan, Nona? Kau ingin menyakiti saudarimu sendiri?” tukas Matteo dengan tatapan tajamnya kepada Daniella.
Daniella tersenyum sinis. Masih dengan sikap angkuhnya, gadis itu menjawab, “Menurutmu seperti itu? Apa aku terlihat sangat jahat?”
“Ya,” jawab Matteo dengan dingin, tetapi berhasil membuat Daniella tergelak. Gadis itu sepertinya merasa begitu puas.
“Kapan lagi aku bisa membuat Mia memohon kepadaku. Aku sangat bahagia karena hal itu. Tentu saja, selain karena aku bisa bertemu denganmu,” ujar Daniella. Ia kembali melayangkan godaannya kepada Matteo.
“Namaku Daniella Ranallo. Siapa namamu, Tampan?” Daniella tersenyum manis kepada Matteo. Senyuman yang hanya berbalas sebuah sikap tak acuh dari Matteo.
Sesaat kemudian, Matteo kemudian menatap Daniella dengan tajamnya. Ia sebenarnya merasa tidak nyaman dengan kehadiran gadis itu, tetapi lagi-lagi Matteo harus mengesampingkan rasa tidak nyamannya. “Panggil saja Theo,” jawab Matteo dengan datar dan dingin. Ia kemudian memalingkan wajahnya dari Daniella. Pikirannya kini tertuju kepada Mia. Bagaimanapun juga, ia sangat mengkhawatirkan gadis itu.
Sementara Mia melanjutkan langkahnya menuju kampus. Pikirannya tidak karuan, perasaannya pun begitu kacau.
Pantaskah jika ia merasa kecewa dengan keputusan Matteo? Tentu saja tidak. Adalah hak Matteo untuk melakukan apapun yang ia inginkan. Terlebih karena Matteo sudah mengatakan jika dirinya hanya seorang teman bagi pria bertato itu. Namun, meskipun ia sudah mendengar pernyataan yang pasti dari seorang Matteo, nyatanya Mia masih tetap tidak dapat berhenti untuk memikirkannya.
“Mia!” panggilan seseorang membuat gadis itu menghentikan lamunannya tentang Matteo.
__ADS_1
Seorang pemuda berambut coklat yang terlihat rapi dan tampan, setengah berlari menghampirinya.
“Selamat pagi,” sapa pemuda itu seraya tersenyum manis.
“Vale. Selamat pagi,” balas Mia dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
“Kuharap kau sudah siap dengan presentasi kali ini,” ujar pemuda itu lagi seraya mengiringi langkah Mia dari sampingnya.
Seketika Mia tertegun. Akhir-akhir ini pikirannya selalu tertuju kepada Matteo, sampai-sampai dia melupakan hal yang benar-benar penting dalam hidupnya. Salah satunya yaitu menyelesaikan tugas kuliah.
Sebegitu berpengaruhnya kah sosok Matteo bagi Mia?
“Valentino, aku ....” mata gadis itu membulat.
“Hey, kau memanggilku Valentino?" sela Valentino. "Jelas itu pasti suatu pertanda bahaya. Jangan katakan jika kau belum menyiapkan materi sama sekali, Mia!” Valentino tampak khawatir.
“Hmm, baiklah. Kita lihat apa yang bisa kulakukan untukmu. Masih ada waktu satu jam lagi. Ayo, ikuti aku!” pemuda itu segera menarik lengan Mia dan mengajaknya ke perpustakaan.
Selalu seperti itu. Di saat Mia mengalami kesulitan, Valentino Diori selalu hadir mendampinginya. Bukannya Mia tidak tahu perasaan Valentino yang selalu tergila-gila kepadanya. Akan tetapi, Mia selalu menganggapnya hanya sebagai seorang sahabat.
Mia pertama kali bertemu dengan pemuda sopan itu, ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atau Scuola Media. Mereka terus berada di sekolah yang sama hingga Mia melanjutkan pendidikannya di Universita. Entah karena kebetulan, atau memang Valentino sengaja mengikutinya.
Sebenarnya, Mia sungguh malas menjalani perkuliahan hari ini. Ia bahkan tidak dapat berkonsentrasi dengan mata kuliah yang harus ia hadapi. Namun, Valentino telah bersusah payah menyusunkan materi presentasi untuknya. Tentu saja Mia tidak akan membuat Valentino kecewa.
Setelah kegiatan perkuliahan selesai hingga siang hari, barulah Mia dapat bernapas lega. Rasanya ia ingin segera pulang dan mengurung dirinya di dalam kamar, tapi itu tidak mungkin. Mia harus ke kedai dan membantu sang ayah di sana.
Dengan langkah lunglai, Mia melintasi tempat parkir yang terletak di depan gedung kampusnya. Seperti biasa, ia akan pulang dengan berjalan kaki, walaupun hampir setiap hari Valentino memaksanya untuk pulang bersama. Seperti kali ini.
“Mia, sekali ini saja! Pulanglah bersamaku!" pinta Valentino. "Sedari tadi kulihat wajahmu begitu pucat. Aku tahu kau lelah. Belajar dan bekerja di kedai jelas-jelas sangat menguras energi,” bujuknya lagi.
__ADS_1
“Grazie Vale, tapi aku ....”
“Untuk saat ini, aku tidak menerima penolakan! Kau terlihat lemas sejak pagi. Aku tidak mau melihatmu pingsan di trotoar!” sela Valentino sembari memaksa Mia untuk masuk ke mobilnya.
Dengan terpaksa, Mia menuruti keinginan sahabatnya itu. Ia membiarkan Valentino mengantarkannya hingga tiba di depan kedai Mr. Gio.
“Selamat siang, Ayah,” sapa Mia dengan lembut.
Mr. Gio yang saat itu tengah sibuk dengan pekerjaannya, menyempatkan dirinya untuk menoleh kepada Mia. Pria bertubuh agak gemuk itu tersenyum. “Sudah pulang, Mia? Tumben kau terlambat datang kemari,” sahutnya.
“Banyak tugas di kampus yang harus kuselesaikan, Ayah,” dalih Mia. Ia kemudian menoleh ke arah Valentino yang baru saja turun dan mengunci pintu mobilnya.
“Selamat siang, Mr. Gio. Hari ini aku berhasil mengantarkan Mia pulang,” ucap Valentino dengan riang.
Mr. Gio tergelak. “Kau butuh kekuatan ekstra untuk meluluhkan hatinya, Vale,” candanya sebelum ia kembali pada pekerjaannya.
“Biar kubantu!” tawar Valentino ketika ia melihat Mr. Gio kesulitan memindahkan meja.
“Terima kasih,” jawab Mr. Gio. Dua pria berbeda generasi itu akhirnya saling bahu membahu menata ulang kedai dan menyiapkan berbagai macam keperluan.
Sementara Mia melakukan tugasnya dengan tidak bersemangat hari itu. Akan tetapi, dia masih memaksakan dirinya untuk tetap terlihat biasa saja. Ia juga segera melakukan tugasnya dengan baik, tanpa mengeluh apalagi menggerutu. Namun, kedatangan Daniella siang itu, telah menambah kekalutan suasana di hati Mia.
“Selamat siang, Ayah!” seperti biasanya Daniella tampil dengan penuh make up dan pakaian yang seksi. Ia menghampiri Mr. Gio, mengecup pipi kanan dan kiri pria paruh baya itu.
“Hai, Vale! Bello come al solito (tampan seperti biasanya),” ucap Daniella seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Buon pomeriggio (selamat siang), Dani,” balas Valentino sopan.
Mia memutar kedua bola matanya melihat tingkah laku kakak tirinya itu. Gadis itu memilih menjauh, mendekati gudang dan merapikan meja-meja yang ada di depannya.
__ADS_1