
Tepat saat Matteo hendak menyalakan mesin mobil jeepnya, tiba-tiba tiba saja sosok Damiano sudah berdiri di depan garasi luas itu. Ia menatap heran kepada putra asuhnya. “Hendak ke mana kau, Nak?” serunya nyaring.
Matteo melongok keluar dari jendela samping dan memicingkan mata. “Aku akan menjemput Mia,” jawabnya.
“Malam-malam begini? Apakah kau tak bisa menunggu hingga besok pagi?” Damiano terlihat keheranan sembari berjalan mendekati putra asuhnya tersebut.
“Aku harus segera melihat keadaan Mia. Tadi Zucca mengabarkan padaku, katanya Mia sakit. Aku tidak bisa diam saja, meskipun Mia telah melarangku untuk mencarinya ke sana,” terang Matteo. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria bermata abu-abu itu segera menyalakan mesin mobil yang sempat terjeda.
“Bawa Mia pulang. Jangan biarkan ia sendirian di luar sana. Kau harus menyadari posisinya sebagai istrimu, Nak. Kau memang telah berada di puncak klan. Semua organisasi kecil tunduk di bawah kekuasaanmu. Namun, bukan berarti kau sudah aman. Ada berapa orang yang diam-diam ingin merebut posisimu. Tetaplah waspada, Nak!” Damiano menepuk pundak Matteo pelan. Ia lalu mundur beberapa langkah. Damiano memberi ruang bagi pria itu untuk melajukan kendaraannya sedemikian kencang, dan membelah keheningan di area perkebunan.
Matteo mengemudikan mobil jeep hitam kesayangannya dengan tidak mengurangi kecepatan sedikit pun. Ia tak peduli meskipun Mia akan menolak atau mungkin marah, karena Matteo telah mendatanginya ke sana. Pria itu hanya ingin memastikan keadaan sang istri yang teramat membuatnya khawatir.
Beberapa jam di perjalanan, Matteo akhirnya tiba di kota Roma. Saat itu malam telah benar-benar larut, bahkan hampir menuju dini hari. Di sana ia langsung bertemu dengan Zucca yang segera memberitahunya tentang semua yang dirinya amati selama seharian tadi.
“Nyonya tak keluar dari restoran selama seharian. Namun, saudari Nyonya de Luca menutup restorannya lebih cepat, setelah itu saya melihat nyonya keluar dengan wajah yang tampak sangat pucat,” tutur Zucca. “Akan tetapi, sepertinya nyonya tidak memeriksakan dirinya ke dokter. Semenjak kembali dari restoran, saya belum melihatnya keluar lagi dari gedung apartemen itu,” lanjut pria bertubuh tinggi besar tersebut.
Matteo mengangguk pelan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada bangunan tinggi tiga puluh lantai, di mana salah satu ruangannya telah ia beli untuk ditempati Daniella dan Francesca. Hal itu sengaja ia lakukan berhubung Matteo belum berhasil menemukan keberadaan Alex dan seorang rekannya. Akan terlalu berbahaya jika sampai ia membiarkan kedua gadis itu kembali ke apartemen lama mereka.
Matteo menghabiskan malam itu dengan berada di dalam mobilnya hingga pagi datang. Tanpa diperintahkan, Zucca membawakannya sarapan berupa satu cup espresso dengan sepotong roti sandwich. Matteo segera mengisi perutnya, berhubung ia juga tak sempat makan malam sebelum berangkat dari Brescia.
Sekitar pukul delapan pagi, Matteo melihat Daniella memapah Mia keluar dari gedung apartemennya. Betul sekali apa yang Zucca katakan. Istrinya itu tampak lemah dengan wajah yang teramat pucat. Dengan gerakan cepat, Matteo melompat dari mobil dan menghampiri kedua wanita muda itu. Sementara Zucca terus mengawasi dari kursi samping kemudi.
“Apa yang terjadi padamu, Mia? Apa kau sakit?” tanpa basa-basi, Matteo langsung bertanya sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah sang istri. Diamatinya wajah cantik Mia yang jelas terlihat bahwa ia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Mia dan Daniella seketika tersentak dan menoleh dengan bersamaan. “Theo? Sedang apa kau di sini?” Mia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
“Daniella, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? Aku ingin berbicara dengan istriku,” pinta Matteo dengan nada bicara sedikit mengiba.
__ADS_1
“Tetap di sini, Dani!” cegah Mia nyaring seraya mencengkeram pergelangan tangan kakak tirinya.
“Kumohon, Dani,” Matteo tak mau kalah.
Sementara Daniella terlihat kebingungan. Ia memandang ke arah Mia dan Matteo secara bergantian. Namun, pada akhirnya ia lebih memilih untuk menurut kepada Matteo. “Kalian bicaralah. Selesaikan semuanya sebelum kita berangkat ke dokter,” tuturnya hati-hati. Tanpa menunggu persetujuan Mia, Daniella segera berlalu dari sisi sang adik yang terdiam di trotoar. Daniella memilih untuk menyeberang jalan terlebih dulu.
“Kau pergi ke dokter? Jadi, kau benar-benar sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” cecar Matteo yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
“Untuk apa aku memberitahukannya pada orang yang sudah tak peduli lagi padaku?” balas Mia dengan bersungut-sungut.
“Siapa yang tak mempedulikanmu, Cara Mia? Aku bahkan langsung meminta Zucca untuk mengikuti kau hingga kemari. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Lagi pula, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tak ingin diganggu,” kilah Matteo.
Mia mendengus kesal. “Entah kenapa aku sekarang sedang tak ingin melihat wajahmu, Theo. Pulanglah! Temui kekasihmu!” usirnya dengan wajah merajuk.
“Aku tidak akan pulang sampai kau mau ikut bersamaku!” tegas Matteo.
“Maka aku akan memaksa,” desis Matteo seraya mendekatkan wajahnya pada Mia. Hembusan napasnya menyapu permukaan wajah Mia hingga wanita cantik itu memejamkan mata. “Kau tidak berhak memaksaku,” sahut Mia dengan suara bergetar.
“Mengapa tidak? Sudah jelas aku sangat berhak untuk melakukannya, karena aku adalah suamimu!” Matteo mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi Mia yang sangat ia rindukan selama beberapa jam terakhir ini.
“Kau boleh menganggapku gila dan berlebihan, Mia. Sejak kau berpamitan untuk pergi, sejak saat itu pula aku sudah sangat tidak tahan karena berada jauh darimu. Lihat, aku bahkan sedang mempermalukan diriku sendiri di hadapanmu. Namun, aku sama sekali tak menyesal,” bisiknya.
Mia kembali memejamkan mata. Penuturan manis suaminya, sedikit banyak telah menghilangkan perih dan rasa kecewa yang ada di hati.
Akan tetapi, bayangan Camilla yang sedang tertawa lepas di hadapan Matteo sembari menyentuh punggung tangan suaminya, berkelebat dalam benak Mia. Rasa marah dan benci itu hadir lagi dan memaksa Mia untuk mendorong tubuh Matteo sekencang-kencangnya, sehingga laki-laki itu terhuyung sampai mundur beberapa langkah.
Mia memanfaatkan hal itu untuk menjauh dari Matteo. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan berbalik dan meninggalkan suaminya. Mia pun menyeberang jalan dengan terburu-buru. Tanpa melihat sisi kiri dan kanannya, kaki Mia melangkah begitu saja ke tempat penyeberangan. Wanita muda itu tidak menyadari jika ada seseorang yang berada tak jauh darinya, dan sedang mengawasi sejak tadi dari balik kemudi mobil SUV hitam. Ia melihat kesempatan besar sudah tersaji di depan matanya.
__ADS_1
Tanpa ragu, orang tersebut segera memutar kemudi, lalu menginjak gasnya.
Kendaraan yang sebelumnya terparkir di pinggir jalan itu segera bergerak kencang ke arah Mia yang sedang menyeberang. Ia menabrak tubuh ramping Mia, sehingga wanita malang itu terlempar hingga belasan meter. Setelah melihatnya terkapar tak berdaya, si penabrak itu kemudian memacu kendaraannya dengan kencang, meninggalkan Mia yang tergeletak begitu saja di tengah jalan raya.
Zucca yang sedari tadi berada di mobil Matteo, dapat melihat kejadian itu dengan jelas. Tanpa meminta izin kepada bosnya, ia segera menyalakan jeep tersebut dan mengejar mobil misterius yang telah mencelakai istri tuannya itu.
Sementara Matteo, saat itu hanya berjarak beberapa meter dari Mia ketika belahan jiwanya itu menjadi korban tabrak lari. Nyawanya seakan terbang ketika menyaksikan secara langsung tubuh Mia terpental dan berguling di atas aspal.
Seperti melayang, Matteo berlari sekuat tenaga menghampiri Mia. “Tidak! Jangan lagi! Jangan lagi, Cara Mia!” racaunya sembari duduk dan merengkuh tubuh Mia yang sudah tak sadarkan diri. Darah segar pun mengalir dari hidung dan kepala sang istri.
Matteo begitu panik dan sempat kehilangan akal untuk sesaat. Ia hanya memeluk erat tubuh lemah itu, sampai ada banyak orang yang menghampirinya dan menghubungi ambulans.
Daniella yang sudah berada di seberang jalan, berteriak-teriak layaknya orang gila seraya berlari menghampiri tubuh Mia. “Lakukan sesuatu, Theo! Jangan diam saja!” pekiknya cemas.
Segera Matteo mengangkat tubuh Mia dan membopongnya. Ia melihat ke sana kemari, sebelum tatapannya terpaku pada sebuah taksi yang sedang terparkir di pinggir jalan. Matteo segera berlari menghampiri taksi itu, bersamaan dengan masuknya seorang penumpang yang telah lebih dulu memesannya.
"Hey, ini taksiku!" protes pria yang merupakan calon penumpang taksi tersebut.
"Kau tidak lihat istriku harus segera dibawa ke rumah sakit? Carilah taksi lain!" sahut Matteo tegas, seraya membaringkan tubuh Mia di jok belakang. Setelah itu, ia bergegas masuk dan menyuruh pria tua yang merupakan sopir taksi itu untuk segera melajukan kendaraannya.
"Bertahanlah, Mia. Kau akan baik-baik saja," bergetar tangan Matteo saat mengelus lembut rambut Mia.
__ADS_1