Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Third Eye


__ADS_3

Matteo tidak banyak berpikir lagi. Ia beregas menuju lantai dua bengkel itu yang merupakan area pribadi Coco. Di sana ada sebuah kamar. Matteo segera mengeluarkan kunci yang Coco berikan kepadanya. Begitu ia memutar benda tersebut, ternyata pintu itu sudah dalam keadaan tidak terkunci. “Oh, sial!” umpat Matteo seraya membuka pintu kamar Coco. Apa yang ia perkirakan ternyata benar. Keadaan di dalam kamar itu sama berantakannya dengan di lantai bawah. Semua barang-barang milik Coco berhamburan di lantai. Begitu juga dengan tempat tidurnya yang yang acak-acakan.


Dengan segera Matteo keluar dari dalam kamar itu dan menuju ruangan lain tempat biasa ia bersantai dengan sahabatnya. Matteo tidak berpikir ruangan itu lolos dari penyusup, dan memang benar adanya. Pria berpostur 185 cm itu bergegas masuk ke kamar di mana ia biasa meletakan senjatanya.


Beberapa senjata laras panjang yang terpajang di rak yang menempel pada dinding, masih tersimpan dengan rapi. Namun, tidak dengan brankas besinya. Sepertinya, mereka berusaha untuk membuka paksa brankas besi tempat Matteo menyimpan senjata andalannya. Matteo tersenyum sinis. “Bodoh!” gumamnya. Ia menertawakan para penyusup yang telah membuat kekacauan di dalam bengkel sahabatnya itu.


Matteo kembali ke ruangan tadi dan duduk di atas sofa bed seraya melepas lelah. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Saat itu sudah hampir jam sebelas malam. Ia tahu jika Coco pasti belum tidur pada jam seperti itu. Matteo memutuskan untuk menghubungi pria berambut ikal tersebut. Akan tetapi, hingga dua kali dihubungi, ternyata Coco tak juga menjawab panggilan telepon darinya.


Matteo tidak melanjutkan hal itu. Ia meletakan ponselnya di atas meja dan berjalan menuju lemari es kecil yang terletak tidak jauh dari sofa bed tersebut. Ia mengambil sekaleng soft drink dan kembali duduk. Dikeluarkannya kotak rokok dari dalam saku mantel. Matteo mulai menyulut rokok tersebut. Asap tipis mengepul dari tembakau yang terbakar itu.


Untuk sesaat, pria bermata abu-abu itu berpikir. Ia mencoba menerka apa yang dicari para penyusup itu dari dalam bengkel sahabatnya. Matteo yakin jika mereka bukanlah sekawanan pencuri yang hendak mengambil barang-barang berharga milik Coco.


Ingatannya tiba-tiba tertuju kepada Vincenzo Moriarty. Mungkinkah jika anak buah pria itu yang telah mengobrak-abrik bengkel sahabatnya? Namun, pikiran Matteo teralihkan pada pria yang mayatnya ia buang ke dalam kanal. Pria itu merupakan anggota Klan de Luca.


Matteo mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asapnya dengan kesal. Belum juga ia diangkat menjadi ketua dalam organisasi, dirinya sudah dihadapkan pada sebuah misteri yang harus segera ia ungkap. Kalaupun memang ada pengkhianat di dalam organisasi yang dulu di pimpin oleh mendiang ayahnya, maka sudah menjadi tugasnya untuk menyelesaikan masalah itu. Matteo menjadi semakin terpacu untuk naik tahta. Ya, ia membutuhkan kekuasaan itu agar lebih leluasa dalam bertindak.


Setelah menghabiskan minumannya beserta sebatang rokok, Matteo lalu keluar dari ruangan itu. Ia kembali ke lantai bawah yang menjadi area bengkel. Matteo merapikan beberapa barang dan peralatan perbengkelan yang berserakan. Setelah dirasa cukup, ia keluar dari tempat itu. Matteo harus melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Casa de Luca. Rencananya, ia akan menghubungi Coco esok hari.


Kembali menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang dikendarai Matteo kini telah memasuki kawasan dengan perkebunan anggur yang luas. Setelah melewati dua gerbang yang masing-masing berjarak sekitar tiga puluh meter, Matteo segera menghentikan laju mobilnya di halaman samping bangunan megah bergaya Tuscany itu. Ia melihat beberapa pengawal yang masih setia berjaga di sekitar Casa de Luca. Mereka memberi hormat kepada Matteo yang saat itu berlalu begitu saja. Dengan sikap dingin dan datar yang menjadi ciri khasnya, Matteo memasuki bangunan megah tersebut.


Di dalam sana suasana sudah sepi. Semua penghuni rumah telah tertidur lelap. Matteo memutuskan untuk segera menuju ke kamarnya. Ia merasa begitu lelah dan juga ingin segera berganti pakaian. Akan tetapi, Matteo segera menghentikan langkahnya, ketika ia melewati kamar Marco. Sayup-sayup, pria dua puluh enam tahun itu mendengar sebuah percakapan antara Marco yang entah ia lakukan dengan siapa. Sepertinya, Marco tengah berbincang dengan seseorang di telepon. Pemuda dua puluh empat tahun itu tertawa sesekali.


“Kerja bagus!” hanya kata itu yang dapat Matteo dengar dengan jelas. Ia merasa penasaran, tapi tentu saja pantang bagi Matteo untuk menguping. Tanpa peduli, Matteo kemudian melanjutkan langkah menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, pria itu segera melepas mantel yang kotor dan segera merebahkan tubuhnya. Ia mencoba untuk memejamkan mata, hingga tanpa terasa akhirnya Matteo pun tertidur.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Matteo sudah bangun. Ia menyempatkan untuk melakukan lari pagi dengan menyusuri jalan setapak perkebunan. Sepasang earphone pun menempel di telinganya. Matteo tak terlihat lelah saat itu, padahal semalam ia hanya tidur selama beberapa jam saja. Namun, ia tidak ingin melewatkan udara segar di sekitar perkebunan, di antara buah-buah anggur yang tampak sangat ranum.


Matteo berlari dengan tatapan yang fokus ke depan. Sorot matanya begitu tajam dan sangat dingin. Ia seakan tidak peduli dengan sekitarnya, hingga saat dirinya melihat beberapa pekerja asal Peru yang pernah diceritakan oleh Damiano.


Matteo tertegun dan memerhatikan mereka untuk sejenak. Setelah insiden kemarin malam, ia menjadi harus selalu waspada. Matteo juga dituntut untuk lebih jeli dalam melihat semua pergerakan yang mencurigakan di Casa de Luca.


Tiba-tiba, ia teringat akan sesuatu. Matteo pernah meminta Coco untuk memasang kamera pengawas di sekitar area Casa de Luca. Akan tetapi, Coco belum sempat melakukan hal itu karena ia harus pergi ke Venice. Untuk sesaat, Matteo berdiri di tempatnya. Ia lalu memeriksa ponsel yang diletakkan di dalam saku celana panjang yang ia kenakan. Nama Coco tertera di layar ponsel. Pria itu mungkin baru bangun dan langsung menghubungi Matteo. Dengan segera, Matteo menjawab panggilan darinya.


“Ada apa, Amico? Apa semua baik-baik saja?” tanya Coco dari seberang sana.


Matteo mencari tempat yang ia anggap aman untuk berbincang dengan Coco. Barulah setelah itu ia menjawab pertanyaan dari sahabatnya. “Aku rasa kau harus kembali ke Brescia. Semalam aku melihat bengkelmu dalam keadaan berantakan. Sepertinya ada penyusup yang telah memaksa masuk ke sana,” tutur Matteo.

__ADS_1


“Apa yang mereka cari? Aku tak punya barang berharga apapun di sana, kecuali …”


“Kecuali brankas senjataku. Mereka sepertinya berusaha membuka brankas, tapi gagal. Sudah jelas itu ulah Vincenzo. Siapa lagi menurutmu?” ujar Matteo memotong kalimat Coco.


“Bisa jadi. Lalu, bagaimana dengan mayat pria tak dikenal yang memiliki tato Klan de Luca? Kau tahu sendiri proses mendapatkan tato itu harus melalui seleksi dari Damiano, Tuan Antonio dan berakhir pada Tuan Roberto de Luca sendiri, yaitu ayahmu,” terang Coco.


“Jelas tidak mungkin tiga orang tersebut yang memerintahkan pria misterius itu untuk membuntuti Mia. Aku rasa tidak ada untungnya bagi mereka, bahkan Damiano tidak pernah tahu tentang Mia,” sanggah Matteo.


“Jika kau menutup kemungkinan atas pengkhianatan Damiano atau Tuan Antonio, maka tinggal satu kemungkinan lagi,” terang Coco.


“Apa itu?” tanya Matteo.


“Pria misterius itu membelot pada klan Moriarty setelah ia masuk menjadi anggota Klan de Luca,” jawab Coco.


“Itu juga tidak mungkin,” balas Matteo dengan nada sedikit ragu.


“Apanya yang tidak mungkin? Alasan apa lagi yang mungkin?” Coco mulai kehilangan kesabarannya.


“Ada yang aneh, Sobat. Aku selalu mengenali setiap anggota klan, bahkan sampai di keluarganya sekali pun. Aku mengenal mereka. Akan tetapi, aku tidak pernah melihat pria itu sama sekali,” tegas Matteo.


Matteo menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Masuk akal,” gumamnya, "jadi, Vincenzo selama ini sudah mengetahui jika Silvio berniat mengkhianatiku. Mungkin klan itu memiliki rencana besar untuk keluarga de Luca melalui Silvio,” tutur Matteo.


“Pertama, Silvio menargetkan untuk membunuhku, meskipun gagal. Setelah itu, mereka membunuh orang tuaku, kemudian Mia,” nada suara Matteo bergetar ketika menyebut nama itu.


“Aku mulai paham ke mana tujuannya,” geramnya.


“Apa itu?”


“Mereka ingin menghabisi seluruh anggota keluarga de Luca atau siapapun yang memiliki kedekatan dan hubungan dengan keluarga inti, supaya tidak akan ada keturunan yang lahir dari sana yang bisa meneruskan kekuasaan organisasi,” papar Matteo.


Suasana menjadi hening sejenak. Baik Coco maupun Matteo, sama sekali tak memiliki keinginan untuk mengucapkan apapun.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Coco kemudian memecah kebisuan.


Matteo tak segera menjawab. Ia memutar pandangannya ke arah lahan perkebunan yang terhampar sejauh mata memandang. “Nanti siang akan dilaksanakan upacara pemakaman Padre dan Madre,” ucap Matteo pelan. “Aku akan mengikuti acara seremonial hingga nanti malam. Besok, aku baru bisa menyuruh anak buahku untuk merapikan dan membersihkan tempatmu,” sambungnya.

__ADS_1


“Jangan kau pikirkan hal itu, Amico. Itu hal terakhir yang dapat kau pikirkan,” sergah Coco.


“Tidak, tidak bisa! Aku tidak bisa menjalankan prosesi penobatan jika sekitarku masih bermasalah, Coco,” tolak Matteo. “Aku akan membereskan bengkelmu dan juga membereskan masalah Mia .…”


“Bagaimana caramu membereskan masalah Mia?” sela Coco.


“Besok setelah pemakaman, akan diadakan rapat anggota. Di sana, aku akan menegaskan bahwa aku tidak memiliki hubungan dan tidak ingin berhubungan dengan siapapun, sehingga aku dapat memastikan bahwa diriku tidak akan bisa mempunyai keturunan. Mungkin dengan begitu, orang-orang itu akan melepaskan Mia,” tegasnya.


“Apa kau yakin?” Coco mulai terbahak-bahak di seberang sana.


“Hei, dasar brengsek! Ini bukan saatnya bercanda!” umpat Matteo.


"Melihat sepak terjangmu terhadap wanita, aku tidak yakin jika kau tidak akan memiliki keturunan," sahut Coco sambil menahan tawa.


“Kau tak mempunyai keturunan dengan Mia, tapi kau mempunyai keturunan dengan wanita lain,” imbuhnya.


“Itu tidak mungkin! Aku selalu bermain aman!” elak Matteo.


“Ah, Amico, menurutku, jalan keluarnya bukan itu,” pikir Coco.


“Lalu apa?”


“Kau memiliki dua pilihan. Pertama, kau mundur dari organisasi de Luca dan memulai hidup normal. Dengan begitu, tak akan ada lagi yang mengancam nyawamu demi merebut tampuk kepemimpinan. Selain itu, kau juga memiliki kesempatan untuk hidup berbahagia bersama Mia,” jelas Coco.


Matteo hanya tertawa sinis menanggapi hal itu.


“Lanjutkan dengan pilihan kedua,” suruhnya.


“Kau segera nobatkan dirimu menjadi ketua. Kuasai semua sektor. Perbesar wilayahmu dan taklukkan Moriarty. Dengan begitu, tak akan ada yang berani macam-macam padamu!” tegas Coco dengan senyum puas.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2