Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Bewitched


__ADS_3

Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Matteo. Ia segera mengambil kembali pistolnya, dan menyelipkan benda itu lagi di belakang pinggangnya. Tatapan Matteo pun masih ia layangkan kepada gadis bertato itu. "Dari mana kau menguasai keahlianmu ini?" tanya Matteo dengan nada bicara yang tak berubah sejak tadi.


"Ayahku," jawab Valerie yang saat itu tengah melanjutkan sarapannya. Gadis itu mengunyah makanan seperti seorang pria. Sesaat kemudian, ia menelan makanannya dan menatap Matteo. "Ayahku seorang perakit senjata yang sudah sangat profesional. Ia memiliki bengkel sendiri. Aku sering menemaninya di sana, dan ia mengajariku banyak hal," terang Valerie dengan gaya bicaranya yang terlihat begitu santai.


"Kau tahu, Tuan de Luca? Ayahku sering mendapatkan pesanan berbagai jenis senjata dari organisasi mafia besar. Namun, entah bagaimana karena pada akhirnya polisi dapat mengendus pekerjaan ilegal ayahku. Mereka menutup bengkel itu, menyita semua senjata dan berbagai hal yang ada di sana. Mereka juga menangkap ayahku. Sayangnya, saat itu aku belum bisa menembak, jadi aku hanya bisa bersembunyi dan menyaksikan ketika mereka memborgol tangan pria yang sangat kusayangi," Valerie kembali melahap makanannya.


"Katamu kau tak suka mengingat cerita itu, Val," Adriano menanggapi penuturan gadis bertato tersebut, membuat Valerie kembali menghentikan sarapannya untuk sesaat. Ia menatap Adriano dengan mata terbelalak.


"Ya, aku tak suka. Akan tetapi, aku harus membuat Tuan de Luca menjadi terkesan padaku," ujar gadis itu tak acuh.


"Oh, iya. Lanjutkan," ucap Adriano, membuat Valerie kembali tertawa renyah. Gadis itu pun kembali melahap makanannya. Sementara Adriano mengalihkan tatapannya kepada Matteo. Ia diam-diam memperhatikan Matteo yang tengah mengamati Valerie dengan begitu lekat. "Bagaimana, Tuan de Luca? Apa Anda berminat untuk mengajak Valerie bergabung?" pertanyaan Adriano seketika menyadarkan Matteo. Pria itu segera menoleh.


“Sepertinya karakter Nona Nikolaev cukup menarik. Ada ketegasan dan kejujuran di matanya,” terang Matteo. “Aku akan memberinya masa percobaan satu bulan. Jika kinerjanya bagus, maka aku akan menyewanya sampai proyek kita selesai," ujar Matteo yakin.


Matteo bermaksud untuk kembali berbicara. Akan tetapi, ia segera mengurungkan niat tersebut, karena pria itu mendengar ponselnya berbunyi. Adriano sempat melihat nama Mia tertera di layar ponsel yang Matteo letakan di atas meja. “Ada apa, Cara mia?” tanya Matteo was-was. Ia terdiam sejenak mendengar jawaban dari Mia. “Baiklah. Sebentar lagi aku akan ke kamar,” tuturnya lembut.


Valerie tampak begitu tertegun mendengar Matteo berbicara. Semenjak dirinya datang dan bertemu dengan Matteo, tak sekalipun ia mendengar pria rupawan itu bertutur kata selembut seperti di telepon barusan. “Apakah itu istrimu?” celetuknya dengan wajah tak percaya.


“Ya,” jawab Matteo singkat seraya menyunggingkan senyum kecil. “Jangan buru-buru menyelesaikan sarapanmu, Nona Nikolaev. Anggap saja ini rumah sendiri,” ucapnya seraya berdiri. “Oh, ya. Aku juga memiliki cerutu berkualitas untuk Anda, Tuan D’Angelo. Akan kusuruh anak buahku mengambilkannya. Nikmatilah waktu Anda di sini. Aku akan melihat istriku sebentar,” bersamaan dengan selesainya kalimat Matteo, datanglah beberapa anak buahnya yang berpakaian kasual. Mereka terlihat mengangguk-angguk ketika Matteo membisikkan sesuatu. Salah satu dari mereka berlalu dan kembali beberapa saat kemudian sambil membawa sekotak penuh cerutu berkualitas premium. Dengan penuh hormat, pengawal itu menyuguhkannya tepat di hadapan Adriano.


“Anda tak perlu repot-repot begini, Tuan de Luca,” ujar Adriano merasa tak enak.


“Tidak masalah, karena mungkin aku agak lama menemui istriku. Kuharap kalian bisa memakluminya,” jelas Matteo.


“Tentu saja, kami mengerti. Betul kan, Val?” Adriano mengalihkan tatapannya pada gadis bertato itu. Sementara Valerie saat itu tengah mengunyah. Mulutnya penuh sehingga ia tak bisa menjawab. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Matteo tersenyum samar melihat hal itu lalu membalikkan badan dan berlalu.

__ADS_1


“Apakah istri Tuan de Luca itu adalah sosok yang kau bicarakan berkali-kali itu?” bisik Valerie sesaat setelah ia menelan makanannya.


Adriano mendengus pelan. Pria itu kemudian mengangguk. “Ia adalah wanita korban tabrak lari yang dilakukan oleh Alex,” geramnya.


“Jika mendengar ceritamu, aku tak mengira bahwa istri Tuan de Luca bisa bertahan hidup setelah mengalami kecelakaan separah itu,” ujarnya.


“Mia adalah sosok yang lemah lembut. Namun, ia juga merupakan wanita yang sangat kuat,” ujar Adriano. Pria itu sempat terhenyak dengan kata-katanya sendiri. Tak disangka, dirinya bisa menyebut nama wanita itu tanpa embel-embel ‘Nyonya’ di depannya.


Valerie menenyeringai setelah mengamati sosok saudara angkatnya itu. “Gawat! Kau jatuh cinta padanya. Kenapa kau selalu jatuh cinta pada milik orang lain, Moy Brat? Kau ini aneh sekali,” ledeknya.


“Jangan menertawakanku, karena bisa saja kau mengalaminya juga!” sentak Adriano jengkel.


Valerie terdiam untuk sejenak. Ia menyudahi sarapannya. Sesaat kemudian, gadis itu tampak menopang dagu seraya menatap Adriano. Pria rupawan itu mulai menyulut cerutu yang Matteo suguhkan untuknya. “Jujur saja, aku benar-benar tertarik dengannya. Kesan pertamaku saat melihat Matteo de Luca benar-benar luar biasa. Aku belum pernah bertemu dengan pria keren seperti tuan bermata abu-abu itu," Valerie senyum-senyum sendiri.


"Oh, itu dulu. Matteo de Luca jauh lebih keren darimu, Moy brat. Aku minta maaf, tapi aku berbicara apa adanya," ujar Valerie lagi seraya tergelak. Ia lalu mengambil sebuah cerutu dan mulai menyulutnya.


Sekarang aku sudah membuktikannya sendiri. Semua desas-desus tentang Matteo de Luca yang seorang ahli perakit senjata nomor satu di Italia, memang benar adanya. Rasanya itu semakin menambah kekagumanku kepada pria itu," Valerie mengepulkan asap cerutu yang diisapnya.


"Jaga sikapmu, Val," Adriano mengingatkan gadis itu.


"Tenang saja, Moy brat. Rasa kagumku padanya, tidak serta merta akan membuatku langsung jatuh cinta hingga kehilangan akal sehat. Aku masih bisa berpikir dengan jernih, tidak sepertimu ” Valerie terkekeh. Ia menertawakan kekonyolan Adriano.


“Kau boleh bersikap jumawa sekarang. Akan tetapi, lihat saja nanti jika kau sudah jatuh dalam pesonanya. Matteo de Luca adalah paket sempurna. Ia memiliki semua kriteria untuk menjadi seorang ketua organisasi yang berpengaruh di daratan Italia. Aku rasa, jika Tuan de Luca merupakan orang yang tamak, maka ia pasti akan dengan mudah melebarkan sayap organisasinya hingga ke luar negeri” tutur Adriano.


“Permisi. Apa yang sedang kalian bicarakan?” suara berat dan sedikit serak milik Damiano menyela percakapan kedua orang itu, dan seketika membuat Adriano menjadi terkejut.

__ADS_1


"Ah, selamat pagi Tuan Baresi. Terima kasih sudah memperkenankan aku dan adik angkatku untuk datang kemari," ucap Adriano sopan. Ia mengangguk hormat kepada Damiano, kemudian menyalami pria berkharisma itu.


Damiano membalas keramahan yang Adriano tunjukkan padanya. Sesaat kemudian, ia mengalihkan perhatiannya kepada gadis muda bertato yang segera mematikan cerutu di tangannya. Gadis itu mengelap mulutnya dengan punggung tangan lalu menyodorkan tangan itu untuk berjabatan dengan Damiano. "Apa kabar, Tuan? Namaku Valerie," ujarnya dengan sikap yanh tak ada bedanya dengan yang ia tunjukkan kepada Matteo dan Adriano.


Damiano mengangguk dan tersenyum melihat keunikan tingkah gadis itu. "Apakah kalian sudah bertemu Matteo?" pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang makan tersebut. Namun, ia tak menemukan sosok putra asuhnya itu. "Dimana Matteo?"


“Ah, Nyonya de Luca sedang memanggilnya ke kamar, jadi kami disuruh untuk menunggu di sini," sahut Adriano sopan.


Damiano menganggukan kepalanya mendengar jawaban Adriano. Dengan senang hati, akhirnya ia memutuskan untuk menemani tamu-tamu Matteo sampai anak asuhnya itu kembali ke sana.


Sementara itu, di dalam kamar Matteo baru saja membantu Mia ke kamar mandi. Ia kemudian mendudukan sang istri di atas kursi rodanya. Mia menolak ketika Matteo akan menurunkannya di atas tempat tidur. "Kau harus makan banyak, Sayang. Tubuhmu rasanya semakin ringan saja," ucap Matteo setelah menurunkan Mia. Ia lalu menutupi bagian bawah tubuh Mia dengan sebuah selimut tipis, hingga kaki wanita itu tertutup sempurna.


Mia tertawa pelan menanggapi ucapan Matteo. Ia memandangi wajah sang suami yang saat itu berlutut di hadapannya. Disentuhnya wajah dengan janggut yang tampak sudah mulai tak beraturan itu. Mia kemudian mengalihkan sentuhannya pada rambut yang juga tidak tersisir rapi. Hatinya merasa sedih melihat penampilan sang suami. "Padahal aku ada di sini, tapi lihat penampilanmu sekarang, Theo. Kau sangat berantakan," ucap Mia dengan lembut.


Matteo tersenyum menanggapi ucapan Mia. Ia membalas tatapan lembut sang istri dengan melakukan hal yang sama. "Bayangkan seandainya kau benar-benar menghilang dari sisiku. Bukan hanya penampilanku yang akan berantakan, melainkan hidupku juga," sahutnya dengan diiringi sebuah kecupan lembut di kening Mia. "Aku bisa menjadi gila jika sampai kehilanganmu lagi, Mia," lanjutnya.


"Kau terlalu berlebihan, Theo," bantah Mia pelan.


"Tak ada sesuatu yang terlalu berlebihan untukmu, Cara mia. Apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau membuatku menjadi seperti ini. Aku begitu takluk di hadapanmu. Aku rasa, mungkin seharusnya kau yang menjadi pemimpin dari Klan de Luca, bukanlah aku," canda Matteo dan diakhiri dengan sebuah tawa. Sedangkan Mia membalasnya dengan mata yang melotot sempurna.


"Apakah calon rekanmu sudah datang, Theo?" tanya Mia dengan penasaran.


 


 

__ADS_1


__ADS_2