
Coco menghentikan motornya di depan bangunan tempat tinggal Francesca. Saat itu sudah sekitar pukul sebelas malam. Coco melepas helm-nya, sementara Francesca segera turun dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. Untuk sesaat, Coco kembali memerhatikan gadis belia itu dengan senyuman kalemnya. Ia meletakan tangannya pada helm yang disimpannya di atas tanki motor.
“Apa kau membawa kunci cadangan?” tanya Coco, berhubung saat itu sudah terlalu malam.
“Aku pernah pulang sangat larut, ketika perayaan malam tahun baru. Semua orang di rumah sudah tertidur nyenyak. Namun, Mia menungguku. Ia juga yang membukakan pintu untukku. Ia tidak mengadukanku kepada ayah,” tutur Francesca dengan lugunya.
“Mia begitu baik, ya? Seharusnya kau menjaganya,” ujar Coco. Ia kini melihat sisi lain dari seorang Francesca. Di balik semua sikap ketusnya, ternyata Francesca tetap saja merupakan seorang gadis belia yang masih lugu. “Berapa usiamu, Francy?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Coco. Pria itu juga tak melepaskan pandangannya dari wajah manis gadis belia di hadapannya.
Francesca terdiam sejenak. Namun, tidak ada alasan bagi diriya untuk menyembunyikan usianya dari Coco. “Delapan belas tahun,” jawab gadis itu dengan agak ragu. “Aku tahu, bagimu aku pasti hanyalah seorang bocah. Iya, kan?” terdengar ada nada penuh sesal dari kata-kata gadis itu.
Coco tersenyum simpul. Sebelum menanggapi ucapan dari Francesca, ia sempat menoleh ke arah lain, di mana ia melihat pria misterius itu baru kembali ke bangunan tempat tinggal yang ia sewa. “Masuklah, Francy! Ini sudah terlalu malam,” suruh Coco. Rasa penasaran untuk menyelidiki pria misterius itu sudah sangat menggelitik hatinya. Coco sudah tidak tahan untuk melakukan aksinya lagi.
“Baiklah,” ucap Francesca pelan. “Terima kasih karena sudah mengantarku pulang, dan terima kasih juga untuk traktirannya,” lanjut gadis itu.
Coco mengangguk pelan seraya tersenyum. “Lain kali kutraktir lagi jika kau mau,” balasnya. Pikirannya mulai tidak fokus. Coco ingin segera pulang dan menyelidiki pria itu. “Cepatlah masuk! Kasihan jika Mia harus menunggumu terlalu lama,” suruh Coco lagi.
Francesca tersenyum kecil. Ia pun mengangguk pelan. Setelah itu, Francesca kemudian membalikan badannya dan mulai melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh kembali kepada Coco dan melambaikan tangannya. Coco membalasnya dengan sebuah anggukan pelan. Setelah Francesca menghilang di balik pintu bangunan itu, Coco segera memutar motornya dan masuk ke bangunan tempat tinggal yang ia sewa.
Pria berambut ikal itu segera memarkirkan motornya. Coco melihat motor yang digunakan pria itu juga ada di sana. Dengan segera, pria bermata coklat itu menaiki deretan anak tangga menuju ke lantai dua.
Di lantai dua itu terdapat empat buah kamar yang saling berhadapan. Pada masing-masing sisi terdapat dua kamar, yang salah satunya merupakan kamar yang Coco sewa. Untuk sejenak, pria dua puluh enam tahun itu memerhatikan satu per satu pintu kamar yang ada di sana.
Pandangannya tertuju pada pintu kamar paling pojok di sisi sebelah kanan. Coco melangkah ke arah kamar tersebut. Entah mengapa, ia merasakan jika itulah kamar yang dicurigainya sebagai tempat tinggal pria misterius tadi. Akan tetapi, saat itu sudah terlalu malam, sehingga Coco tidak mungkin memastikannya secara langsung. Ia tidak ingin menimbulkan kegaduhan, yang akan mengusik ketenangan para penghuni lain di tempat itu.
__ADS_1
Coco memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebelum ia mendengar sebuah percakapan menggunakan bahasa Spanyol. Suara yang Coco dengar memang tidak terlalu jelas. Selain itu, ia juga tidak mengerti apa yang tengah diperbincangkan pria di dalam sana. Namun, satu hal yang pasti jika instingnya tidaklah meleset.
Tak ada yang bisa Coco lakukan saat itu, selain kembali ke kamarnya dan menunggu hingga besok pagi. Setelah membuka pintu dan menyalakan lampu ruangan, Coco tak segera menuju kamar, ia memilih untuk berdiri di dekat jendela. Seperti biasanya, pria itu mengamati bangunan rumah berlantai dua di depan gedung yang ia tinggali.
Dilihatnya lampu kamar Mia masih menyala. Tak berapa lama, gadis itu keluar sembari membawa secangkir mug, entah apa isinya. Gadis itu terlihat begitu sedih, matanya menerawang ke arah jalan raya di bawahnya. Sikunya bertumpu pada pagar balkon sambil memegangi mug dengan kedua tangan. Sekilas sorot mata gadis itu tertuju pada jendela kamar Coco. Segera saja Coco bersembunyi di sisi jendela dan mengendap-endap berjalan mematikan saklar.
Dirasa aman dengan keadaan gelap, Coco kembali mengamati Mia yang masih termenung, sambil sesekali meneguk minuman dari dalam mug. Ponselnya selalu siaga di tangan, untuk merekam wajah pilu Mia. “Lihatlah, Amico. Padahal ia baru saja menerima lamaran seorang pria, tapi tak sedikit pun wajahnya terlihat bahagia. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” gumam Coco. Ia kemudian mengirimkan video itu kepada Matteo.
Beberapa saat lamanya, Coco menunggu balasan dari Matteo. Namun, ia tak juga mendapatkannya. Hingga tanpa sadar Coco menunggu sampai tertidur di dekat jendela.
Lain halnya dengan Coco, Matteo masih terjaga di atas ranjang kamarnya. Rasa kantuknya menguap kala melihat video yang baru saja dikirimkan oleh Coco. Ditambah rekaman suara sahabatnya itu yang semakin menambah kalut pikirannya. “Apa yang harus kulakukan?” gumamnya.
“Aku hanya tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya, Mia. Aku tidak mau kau berakhir seperti kedua orang tuaku,” Matteo masih terus berbicara sendiri, seraya beringsut ke tepian ranjang. Ia masih terus berada pada posisi itu hingga tak terasa jarum jam terus berjalan menuju pagi.
Coco bangkit sambil memegangi punggung bawah, lalu memutar badannya ke samping kiri dan kanan. Tertidur di kursi ternyata membuat badannya tak nyaman. Akan tetapi, ia tidak peduli dengan hal itu. Tujuannya sekarang adalah meminum segelas air, lalu bergegas ke kamar itu lagi untuk membuktikan kecurigaannya.
Coco keluar dari kamarnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Sesampainya di kamar yang dituju, ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari balik lengan kemejanya. Coco memasukkan ujung pisau itu ke dalam lubang kunci.
Dibutuhkan beberapa menit baginya untuk berhasil membuka kunci. Setelah berhasil, Coco membuka pintunya dengan hati-hati.
Pisau lipatnya sudah berada pada posisi siap digunakan. Waspada, Coco melangkah masuk dan memeriksa ruang demi ruang. Sayangnya, sudah tak ada apa-apa di sana. Orang-orang yang dicurigainya sudah tak ada. Barang-barang di dalam apartemen itu tampak bersih dan rapi, seperti tak pernah digunakan.
Tak putus asa, Coco mencari benda-benda yang mungkin bisa dijadikan petunjuk baginya, untuk mencari tahu identitas pria-pria misterius itu. Akan tetapi, Coco tak berhasil menemukan apapun. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan apartemen itu, tetapi matanya tertuju pada sebuah kartu yang tergeletak begitu saja di bawah meja.
__ADS_1
Coco memungut benda itu dari atas lantai dan membacanya. Sebuah kartu akses yang dibutuhkan untuk memasuki kawasan kampus tempat Mia kuliah. “Hmm, mereka tidak terlihat seperti mahasiswa. Apakah mereka bekerja menjadi petugas kebersihan ataukah memang berniat untuk mengikuti gadis itu?” gumamnya pada diri sendiri. Otaknya berpikir begitu keras sehingga ia tak menyadari ada seseorang yang membuka pintu apartemen itu dan menatapnya curiga.
“Siapa kau?” suara itu berseru demikian nyaringnya.
Coco terperanjat dan mendongak. Hampir saja ia melempar sosok itu menggunakan pisau lipatnya, tetapi berhasil ia tahan ketika tahu bahwa seseorang itu adalah wanita paruh baya bertubuh tambun pemilik apartemen itu. “Ah, selamat pagi, Signora. Maafkan aku yang telah memasuki tempat ini tanpa izin. Aku hanya bermaksud untuk menegur mereka, karena telah mengganggu tidurku tadi malam,” kilahnya.
“Mereka sudah tidak ada di sini sejak dini hari tadi! Mereka berpamitan padaku sambil menyerahkan kunci! Jadi, bagaimana caramu masuk kemari?” tanya wanita itu ketus.
“Ah, pintunya sudah terbuka saat aku masuk. Mungkin mereka tidak menguncinya dengan benar,” dalih Coco seraya meringis dan mengusap kepalanya.
“Keluarlah sekarang juga!” suruh wanita itu.
“Tenanglah, Signora. Baiklah, aku akan keluar sekarang juga,” Coco mengangkat tangan dan mengedipkan sebelah matanya. Ia berjalan meninggalkan wanita itu yang masih terus mengawasinya, hingga Coco masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Coco berhenti dan mengeluarkan ponsel. Ia mengetik pesan kepada Matteo dan mengabarkan bahwa mungkin ia tidak akan kembali ke Brescia dalam waktu dekat. Coco mengatakan jika ia masih harus mengurusi sesuatu yang penting di kota Venice. Namun, Coco tidak menjabarkan secara terang-terangan. Ia merasa jika hal itu harus ia katakan secara langsung.
Entah mengapa, karena perasaannya terasa lain. Coco seakan mendapatkan sebuah firasat tidak baik yang menyuruhnya untuk tetap berada di sana. Kembali ditatapnya bangunan tempat tinggal Mia. Ia sesekali meneguk minuman dari dalam botol, seraya menjawab panggilan masuk yang berasal dari Matteo.
"Aku bangun kesiangan. Semalam aku tidak bisa tidur," terdengar suara berat Matteo dari seberang sana.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Amico?" tanya Coco seraya meneguk minumannya
__ADS_1