Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Thinking About You


__ADS_3

Mia menyuruh Nico untuk kembali ke Brescia setelah ia tiba di restoran. Sambutan hangat pun ia terima dari Daniella yang merasa terkejut dengan kedatangan adik tirinya di sana. Terlebih karena saat itu Mia datang ke Roma tanpa ditemani oleh Matteo. "Kau terlihat sangat pucat, Mia. Apa kau belum sarapan?" tanya Daniella cemas.


"Aku hanya sedang tidak enak badan. Sepertinya masuk angin, kepalaku sedikit pusing," keluh Mia dengan lesu. Ia lalu duduk di atas sofa dan menyandarkan kepalanya.


"Kenapa Theo membiarkanmu pergi sendiri, sementara tubuhmu sedang tidak fit. Keterlaluan sekali pria itu!" gerutu Daniella dengan raut kesal. Sedangkan Mia tak menanggapi ucapan gadis berambut pirang tersebut. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Mia merasakan badannya begitu lemas. Ia juga malas untuk melakukan apapun.


"Kau istirahat saja dulu," ucap Daniella yang saat itu melihat Mia mulai memejamkan matanya. Sebelum keluar dari ruangan itu, Daniella kembali berkata, "Aku belum mengucapkan terima kasih kepada suamimu, Mia. Apartemen baru yang ia belikan untukku dan Francy benar-benar nyaman. Selain itu, ukurannya pun jauh lebih luas jika dibandingkan dengan apartemenmu yang lama," gadis bermata hazel tersebut tampak begitu ceria.


Mia kembali membuka matanya. Ia kemudian tersenyum simpul. "Akan kusampaikan nanti jika aku pulang ke Brescia," sahutnya pelan. Ia kembali memejamkan mata. Tak berselang lama, Mia yang memang hampir semalam suntuk tak tidur, akhirnya terlelap di atas sofa itu. Daniella pun memilih untuk keluar dan membiarkan Mia beristirahat.


Lain halnya dengan Matteo. Ia berdiri di dekat jendela ruang kerja dengan ditemani segelas anggur. Tatapannya menerawang jauh pada perkebunan luas Casa de Luca. "Apa yang sedang kau lakukan saat ini Mia?" gumam Matteo pelan. Belum genap satu hari ia tidak melihat wanita cantik itu, rasa rindunya sudah begitu menggunung.


Matteo kemudian meraih ponsel yang ia letakan begitu saja di atas meja kerjanya. Baru saja ia bermaksud untuk mengirimkan pesan kepada Mia, Matteo harus mengurungkan niatnya karena suara ketukan di pintu. Tak lama, wajah Damiano muncul dari balik pintu tersebut. "Boleh aku masuk, Nak?" tanyanya meminta izin.


"Kau tidak harus meminta izin, Damiano," sahut Matteo datar.


Damiano tersenyum lembut. Pria itu kemudian masuk dan menghampiri putra asuhnya. "Bagaimana jika kita pergi berkuda sore ini. Sudah lama kita tidak melakukannya. Aku rasa Jasper sangat merindukanmu," ajak Damiano. Ia tahu jika putra asuhnya itu tengah berada dalam kegalauan. Karenanya, Damiano ingin mencoba untuk menghibur Matteo.


"Ya, kau benarm. Sudah lama sekali aku tidak berkuda," sahut Matteo pelan. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ayo. Aku tidak suka melihatmu mengurung diri sepanjang hari. Kau terlihat sangat menyedihkan saat ini," ujar Damiano seraya berjalan menuju pintu yang segera diikuti oleh Matteo. Ia pun menutup dan mengunci pintu ruang kerjanya, sementara ponsel itu ia tinggalkan di dalam sana.


Kedua pria itu terus berjalan menyusuri lorong hingga keluar dan tiba di perkebunan. Mereka kemudian berbelok ke arah kanan dan menuju sebuah kandang yang menjadi rumah bagi tiga ekor kuda di sana. Salah satunya adalah kuda jenis Morgan milik Matteo. Kuda berwarna hitam dengan tampilan yang sangat gagah dan terlihat misterius, sama seperti pemiliknya. Kuda itu merupakan hadiah dari mendiang Roberto beberapa tahun yang lalu.


"Hai, Jasper. Bagaimana kabarmu?" Matteo menyapa kuda kesayangnnya seraya mengelus lembut tubuh tegap hewan itu. Jasper adalah kuda yang ramah, bahkan terhadap orang asing sekalipun.


Damiano pun terlihat menyiapkan kuda kesayangannya. Setelah semua peralatan terpasang dengan lengkap, kedua pria itu mulai berkeliling perkebunan dengan menunggangi kuda masing-masing.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan kepada D'Angelo bahwa kita akan melakukan pengiriman akhir bulan ini," ucap Matteo. Ia terus mengendalikan laju kudanya yang saat itu bergerak lambat.


"Ya. Semalam Adriano menghubungiku. Tadinya ia ingin bicara denganmu, tapi ... aku harap tidak ada masalah di antara kalian berdua," sahut Damiano seraya menoleh kepada Matteo.


"Ada atau tidak ada masalah, itu bukanlah sesuatu yang penting dan harus dijadikan alasan. Ayah selalu mengajariku untuk bersikap profesional. Aku tidak boleh mencampuradukan antara hal pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku memang tidak menyukai D'Angelo untuk satu hal, tapi tidak dalam berbisnis. Begitu juga antara kerja sama yang akan kulakukan dengan Camilla," tutur Matteo seraya terus mengedarkan pandangannya ke sekitar perkebunan anggur yang mereka lewati.


"Jadi, karena itu Mia pergi dari Casa de Luca?" pancing Damiano, membuat Matteo menghentikan laju kudanya untuk sejenak. Ia lalu menoleh kepada Damiano.


"Dari mana kau tahu bahwa Mia pergi?" selidik Matteo.


Damiano tersenyum. Pria paruh baya itu mengela napas dalam-dalam. "Aku bertemu dengannya pagi-pagi sekali di dekat gerbang. Mia bahkan tadinya akan pergi tanpa diantar sopir," tutur Damiano dengan nada penuh sesal.


"Aku masih tidur saat itu. Ia hanya meninggalkan pesan dalam secarik kertas," Matteo membela dirinya. "Mia marah besar karena aku bertemu dengan Camilla. Seperti yang kukatakan tadi, Damiano. Aku hanya mencoba untuk bersikap profesional, tapi Mia tidak memahami hal itu. Perasaannya terlalu halus," Matteo terdiam untuk sejenak.


"Jadi, Nona Rosetti mengajakmu untuk bekerja sama?"


"Ya, kau benar. Akan tetapi, jangan sampai kau mengorbankan rumah tanggamu, Nak. Ingat, susah payah kau membawa Mia dalam hidupmu. Jangan sampai kau membiarkannya terlepas lagi," saran Damiano.


Matteo menoleh dan tersenyum simpul. "Aku bahkan rela menghabisi nyawa Silvio demi mengambil kembali senjata milikku. Kau pikir aku akan diam saja dan membiarkan Mia pergi dengan begitu mudahnya? Katakan itu pada D'Angelo, agar ia berpikir ulang sebelum tebar pesona di depan istriku," ujar Matteo seraya mempercepat laju kudanya.


Damiano tertawa pelan. "Oh, kau cemburu padanya?" seru pria paruh baya itu. Akan tetapi, Matteo tak menggubrisnya. Kuda yang ia tunggangi sudah berlari cukup jauh meninggalkan Damiano. Namun, Damiano merasa senang. Ia masih dapat melihat semangat yang besar dalam diri putra asuhnya.


Sementara ponsel yang Matteo tinggalkan di ruang kerjanya sejak tadi terus bergetar. Ada beberapa panggilan masuk dari nomor Mia yang terabaikan. Daniella sengaja menghubungi Matteo karena ia cemas melihat keadaan Mia yang sejak tadi bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah.


"Tidak dijawab," ucap Daniella dengan rona tidak percaya.


"Sudah kukatakan jangan menghubunginya," protes Mia dengan wajah gusar.

__ADS_1


“Apakah kalian bertengkar lagi?” selidik Daniella dengan sorot menyelidiki.


Mia mengembuskan napas pelan. “Aku tidak ingin membicarakannya, Dani. Aku hanya ingin melihat-lihat apartemen baru kalian dan beristirahat di dalamnya,” sahut Mia dengan nada malas-malasan. Sedikit banyak, ia merasa kecewa dengan sikap Matteo yang sama sekali tak berusaha menghubungi apalagi menanyakan keadaannya. Hal itu kembali menghadirkan rasa galau dan cemas yang tak biasa. Sedangkan pria bermata abu-abu yang terus bergelayut dalam benak Mia itu kini sedang tersenyum lebar sembari menuntun kuda gagahnya kembali ke istal.


Malam mulai menjelang sehingga Damiano memutuskan untuk menghentikan kegiatan mereka.


“Sepertinya perasaanmu mulai membaik, Nak,” Damiano tertawa lepas melihat perubahan jelas di raut wajah Matteo.


“Berkatmu. Terima kasih, Damiano. Kau selalu menjadi penyelamat bagiku,” ucap Matteo tulus.


“Tak masalah bagiku. Kau tetap putra kecilku meskipun kau sudah sebesar ini,” canda pria paruh baya itu seraya menepuk pundak Matteo pelan.


Seutas senyuman kecil kembali terbit di wajah rupawan Matteo. “Aku akan kembali ke kamar. Tubuhku terasa lengket. Rasanya aku ingin segera mandi,” pamitnya. Ia lalu berbalik meninggalkan Damiano. Matteo pun menyerahkan kuda hitam itu pada seorang penjaga istal.


Dengan langkah cepat, Matteo berjalan menuju kamar dan menyalakan lampunya. Kamar itu terlihat sepi, tak ada napas kehidupan di sana. Biasanya, di saat seperti itu Mia akan langsung menyambutnya dengan senyuman lembut dan melayaninya bak seorang raja.


“Mia,” tanpa sadar, nama itu lolos dari bibir Matteo. Rasa kehilangan dan tak nyaman begitu memenuhi dada pria itu. Akan tetapi, semuanya segera ia tepiskan dengan memasuki kamar mandi dan menyalakan shower. Matteo berdiri di bawah guyuran air yang deras membasahi seluruh tubuhnya.


Beberapa saat Matteo habiskan untuk membersihkan diri. Satu T Shirt putih polos telah ia pilih untuk menutupi tubuh atletisnya. Saat itulah, Matteo baru teringat pada ponselnya yang ia tinggalkan begitu saja di ruang kerja.


Dengan segera, Matteo menuju ruang kerja dan mendapati ponselnya masih berada di tempat terakhir kali ia tinggalkan. Matteo memeriksa ponselnya. Ada puluhan panggilan, kebanyakan berasal dari nomor Mia dan beberapa dari Zucca. Segera ia memencet nomor Mia dan menghubunginya. Namun, tak peduli berapa kali pun Matteo menelepon, panggilannya tak juga diangkat oleh Mia.


Kekalutan itu kembali hadir. Dengan gelisah, Matteo memencet nomor Zucca. Hanya dua kali nada sambung dan ajudan kepercayaan Matteo itu langsung menjawabnya. “Bos,” sapanya dari seberang sana.


“Apa yang terjadi? Aku tidak bisa menghubungi Mia. Jangan katakan kalau kau lalai dalam menjaganya,” tegur Matteo.


“Tidak, Bos. Tadi saya sudah mencoba menghubungi anda beberapa kali. Sepertinya istri anda sedang sakit. Saya melihat Nona Daniella memapah Nyonya de Luca dan membawanya ke apartemen baru yang terletak di pusat kota. Wajah nyonya terlihat sangat pucat,” tutur Zucca.

__ADS_1


“Mia sakit?” Matteo menelan ludah. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menuju garasi dan mempersiapkan jeep kesayangannya untuk membawa dirinya bertemu sang istri.


__ADS_2