
Waktu terus berjalan. Tanpa disadari, dua minggu telah berlalu dan Matteo jarang sekali datang ke bengkel. Semua pekerjaan di sana, ia serahkan kepada sang asisten yaitu Valerie. Siang itu, gadis berpenampilan eksentrik tersebut datang ke Casa de Luca dengan mengendarai sepeda motornya yang baru, dan merupakan hadiah ulang tahun dari Adriano. Setelah melepas helm, gadis bertato itu segera masuk. Sebelumnya, Valerie telah mengabari Matteo bahwa dirinya akan datang ke Casa de Luca. Karena itu, ia langsung saja menuju ke ruang kerja pria tersebut.
"Selamat siang, Tuan de Luca. Apa kabar?" sapa gadis bertindik itu dengan gayanya yang khas.
"Selamat siang, Nona Nikolaev. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," balas Matteo seraya mempersilakan Valerie untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari meja kerjanya. "Sebentar. Aku harus membalas email yang masuk terlebih dahulu," ujar Matteo lagi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer.
"Oh, tenang saja. Aku tidak sedang terburu-buru," jawab gadis itu sambil sesekali memainkan ujung rambut kepangnya. Tak bosan-bosan matanya memperhatikan setiap gerak-gerik dari pria yang terlihat begitu serius dengan komputernya. Valerie sempat berpikiran nakal saat itu. Ia akan membuat tato dengan gambar wajah Matteo pada salah satu anggota tubuhnya yang tersembunyi. Ya, Valerie akan melakukannya. Gadis itu kemudian merogoh ponsel dari dalam saku jaket yang ia kenakan. Dengan diam-diam gadis itu mengambil gambar Matteo. Sangat hati-hati hingga Matteo tidak menyadarinya sama sekali.
Beberapa saat berlalu. Matteo telah selesai dengan semua email yang berisi tentang pemesanan Du Fontaine. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Valerie yang saat itu tengah menatapnya seraya tersenyum. "Jadi, bagaimana?" tanya Matteo. Ia tetap berada di meja kerjanya saat itu.
"Semua pesanan sudah selesai, Tuan. Kita tinggal melakukan pengiriman," jawab Valerie dengan gaya bicaranya yang terdengar begitu santai.
"Bagus. Aku akan segera menghubungi Sergei Redomir dan menyelesaikan semua urusan dengannya. Lagi pula, dalam minggu ini aku akan sangat sibuk," ujar Matteo datar.
"Kenapa? Apakah nyonya de Luca akan segera melahirkan? Aku pikir belum waktunya," celoteh Valerie seraya menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan.
"Tentu saja tidak," bantah Matteo dengan segera. "Marco akan menikah, jadi aku harus membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Ah, sekalian saja kutitipkan undangan untuk tuan D'Angelo padamu," ucap Matteo lagi.
"Oh, iya tentu. Kakak angkatku kebetulan sedang berada di Moscow saat ini, tapi aku rasa ia pasti akan meluangkan waktunya untuk menghadiri undanganmu, Tuan," Valerie tersenyum penuh arti kepada Matteo.
"Ya, dan katakan sesuatu pada kami berdua tentang kakak angkatmu itu," Coco yang tiba-tiba masuk segera saja menimpali obrolan Matteo dan Valerie, membuat keduanya serentak menoleh. "Maafkan karena aku masuk tanpa izin. Aku pikir kau tidak sedang menerima tamu, Amico," ujar pria berambut ikal tersebut kepada Matteo.
"Ah, tak apa, Tuan Ricci," sahut Valerie. "Lagi pula aku bukan tamu istimewa," sahut Valerie lagi diiringi tawa pelan dan santai. Namun, tidak dengan Coco. Raut wajah pria itu justru tampak begitu serius. Tatap matanya tajam ia layangkan kepada gadis dengan penampilan eksentrik tersebut.
"Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu tentang Adriano D'Angelo," ucap Coco cukup tegas. Ia tidak sedang bercanda saat itu. Sikapnya membuat Matteo tersenyum simpul, sementara Valerie tampak membetulkan posisi duduknya. Gadis itu mulai terlihat salah tingkah.
"Ada apa dengan kakak angkatku?" tanya Valerie penasaran. Ia mengikuti langkah Coco hingga pria itu duduk di kursi yang berada tak jauh dari dirinya.
"Katakan padaku, ada hubungan apa antara Adriano D'Angelo dengan Vincenzo Moriarty!" pinta Coco. Nada bicaranya masih terdengar biasa meskipun ia mengisyaratkan bahwa dirinya tengah benar-benar serius. Sedangkan Matteo saat itu hanya diam dan menyimak.
"Siapa? Vincenzo Moriarty?" tanya Valerie. Gadis itu menautkan alisnya dan terdiam sesaat. Ia lalu menggeleng dengan segera. "Tidak. Aku tidak tahu. Aku juga sama sekali tak mengenal nama pria yang kau sebutkan tadi," jawabnya yakin.
__ADS_1
Namun, Coco tak akan percaya begitu saja. Pria itu menyunggingkan senyuman sinis kepada Valerie. "Kau adalah adik angkatnya. Aku tidak yakin jika sampai kau tak mengetahui tentang hal itu," balas Coco ragu. Sorot matanya kini penuh selidik kepada Valerie.
"Oh, aku memang adik angkat dari Adriano D'Angelo, tapi itu tidak berarti ia akan membagi segala hal denganku. Terserah kau percaya atau tidak, tapi aku tekankan sekali lagi bahwa aku tak mengenal nama yang kau sebutkan tadi," jelas Valerie dengan cukup tegas.
"Ah, kau dan Adriano sama saja. Kalian berdua pandai bersandiwara," ujar Coco lagi. Kata-katanya kian memancing rasa jengkel di hati Valerie.
"Hey, Bung! Jaga bicaramu!" sergah Valerie tegas.
"Tenanglah, Nona Nikolaev," Matteo mencoba untuk menengahi. "Kedengarannya memang agak janggal jika kau tak mengetahui hal itu," timpal Matteo membuat Valerie menatapnya dengan raut tak percaya. Gadis itu menyunggingkan senyuman getir.
"Anda juga ingin menginterogsiku, Tuan de Luca?" seringai Valerie tak percaya. "Oh, luar biasa sekali. Kalian dua orang pria bertubuh tegap mengintimidasi seorang gadis," sindirnya.
Bukannya iba, ucapan Valerie justru membuat Coco tertawa lebar. Ia merasa lucu dengan kata mengintimidasi yang Valerie gunakan. “Katakan saja apa yang kau tahu, Valerie. Tak perlu berbelit-belit,” desaknya.
“Jika kukatakan bahwa aku benar-benar tidak tahu, memangnya kau mau apa?” Valerie berkacak pinggang, seakan tengah menantang dua pria yang berdiri di depannya tersebut.
“Keras kepala juga kau, rupanya,” Coco berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan mendekati Valerie. Akan tetapi, gadis itu tak gentar. Ia tetap berdiri di tempatnya.
“Amico, sudahlah,” sergah Matteo seraya beranjak dari duduknya. Ia menarik lengan sahabatnya itu pelan seraya berbisik, “Kita cari cara lain saja.”
“Akan kukabari nanti. Untuk saat ini, aku akan fokus pada acara pernikahan Marco,” jawab Matteo. Sekilas ia melirik ke arah Coco yang tampak tidak puas dengan sikapnya. Bersamaan dengan Matteo mengakhiri kalimatnya itu, Marco muncul di ambang pintu.
“Apakah kalian masih sibuk? Aku ingin membicarakan sesuatu,” ujar pria itu.
“Ah, baiklah. Lanjutkan, Tuan-tuan. Aku pergi dulu,” pamit Valerie sambil mengangkat tangan dan mengambil sikap hormat. Ia menempelkan telapak tangannya di dahi, lalu berbalik begitu saja sambil bersiul.
“Apa perlu aku mengikutinya?” bisik Coco sesaat setelah sosok Valerie menghilang dari pandangan.
“Tidak perlu. Kita tunggu saja sambil terus meningkatkan kewaspadaan,” putus Matteo pada akhirnya kepada Coco. Setelah itu, ia kemudian beralih kepada Marco. "Masuklah, Marc," suruhnya.
Sementara itu, Valeria berjalan santai menuju tempat di mana ia memarkirkan motor barunya. Namun, langkahnya harus terhenti saat ia melihat sosok Mia yang termenung sendiri di tepian kolam renang. “Nyonya de Luca,” sapanya ramah.
__ADS_1
Mia segera menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Valerie menghampiri dirinya. “Val? Kapan kau datang?” tanyanya.
“Baru saja. Sedang apa Anda di sini?” tanpa canggung, Valerie melepas sepatu, lalu melipat celananya hingga ke atas lutut. Ia kemudian duduk di samping Mia dan mengikuti apa yang Mia lakukan, yaitu mencelupkan kakinya ke dalam kolam renang.
“Entahlah, perasaanku tidak menentu. Hari ini, Theo memaksaku untuk mandi dan menyisir rambut. Ia mengatakan dengan mandi, maka perasaanku akan menjadi lebih baik. Akan tetapi, kenyataannya tetap saja,” keluh Mia.
“Apakah Anda sedang memendam sesuatu Nyonya?” tanya Valerie hati-hati.
Mia sempat tertegun sesaat atas pertanyaan Valerie, untuk kemudian tersenyum lembut. “Tidak ada. Aku rasa mungkin semua ini hanya pengaruh dari perubahan hormon karena kehamilanku saja,” jawabnya lirih.
“Apa kakakku pernah mengganggumu, Nyonya?” tanya Valerie lagi.
Untuk kali ini, Mia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanyanya heran.
Valerie mengangkat kedua bahunya seraya tertawa. “Tidak apa-apa, aku hanya asal tebak. Adriano sepertinya sangat tergila-gila kepada Anda. Aku takut ia berbuat bodoh padamu,” jawabnya polos.
“Uhm, dua minggu yang lalu ia memang datang menjengukku. Tuan D'Angelo juga membawakan banyak hadiah sebagai ucapan selamat atas kehamilanku,” tutur Mia sembari menunduk mengamati bayangan wajahnya sendiri di permukaan air kolam.
“Sebenarnya, aku kasihan terhadap Adriano,” ujar Valerie.
“Apa maksudmu?” sahut Mia.
“Anda tahu, kan? Aku sudah bersamanya sejak kecil. Adriano selalu menjadi sosok yang ceria sejak kecil. Ia begitu ramah dan murah senyum. Namun, belakangan aku tahu. Senyumnya hanya untuk menyembunyikan kepedihan,” ungkap Valerie.
“Aku tidak ingin mendengarnya!” potong Mia. Seketika kekesalannya memuncak saat teringat kembali sikap Adriano yang pernah menciumnya secara paksa.
“Kenapa Anda sepertinya tidak menyukai kakakku?” selidik Valerie.
“I-itu, biasa saja!” sahut Mia terbata. Ia segera memalingkan wajahnya dari Valerie.
“Hmm, pasti kau merasa terganggu, ya?” Valerie terkekeh pelan. “Maklumi saja, Nyonya. Ia tidak pernah jatuh cinta. Jadi, ketika dirinya jatuh cinta, ia akan bertingkah konyol. Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir. Adriano adalah pria yang baik. Rasa kemanusiaannya juga sangat tinggi. Dulu, ia selalu membawa pulang kucing dan hewan liar di jalan, lalu merawatnya. Rumah kami berubah menjadi penangkaran hewan gara-gara ulahnya,” beber Valerie seraya terbahak. Tawanya terhenti kala terdengar seseorang memanggil nama Mia. Mereka berdua menoleh secara bersamaan ke arah suara.
__ADS_1
“Astaga, aku mencarimu ke mana-mana,” ujar Francesca yang tengah berjalan ke arahnya.
“Baiklah, waktunya mengangkat kaki Anda dari kolam renang. Jangan sampai bayi di dalam perut Anda merasa kedinginan, Nyonya” kelakar Valerie. Ia kemudian mengeluarkan kaki dari kolam renang, lalu merapikan celananya.