
"Ow ... aku hanya bercanda, Tuan-tuan," Valerie tersenyum lebar seraya menunjukkan dua jari pada ketiga pria yang saat itu menatapnya dengan aneh. Namun, belum sempat gadis bertato itu melanjutkan ucapannya, terdengar suara lembut yang seketika membuat Adriano terlihat gelisah dan juga salah tingkah.
"Theo, kenapa kau tak membangunkanku ...." Mia tertegun dan tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tak tahu jika Matteo tengah menerima tamu pagi itu. "Oh, maaf. Aku pikir ...." Mia menatap Adriano untuk sesaat. Pria itu pun balas menatapnya dengan penuh arti. Namun, bayangan pada malam ketika di Monaco kembali muncul dan membuat rasa takut Mia datang lagi. Segera, ia mengalihkan perhatiannya kepada Valerie yang saat itu berdiri dan menyapa dirinya dengan hangat.
"Selamat pagi, Nyonya de Luca. Bagaimana kabar Anda?" Valerie tersenyum akrab kepada Mia.
"Selamat pagi, Val," balas Mia dengan senyum manisnya. Melihat sikap bersahabat Valerie, membuat rasa takut Mia sedikit memudar. "Aku merasa sangat baik pagi ini. Kau terlihat semakin cantik saja," sanjung Mia tulus.
"Ah, seberapapun cantiknya diriku ... itu tak akan membuat Tuan de Luca berpaling dari Anda," balas Valerie seraya tergelak. Begitu juga dengan Mia. Ia tak merasa terganggu dengan ucapan ceplas-ceplos khas gadis itu. Mia justru merasa terhibur. Baginya sosok Valerie sangat lucu dan juga unik.
"Jadi, rupanya kau benar-benar ingin merebut suamiku. Kalau begitu aku harus mulai berhati-hati," balas Mia kembali memamerkan senyum indahnya. Sementara, ketiga pria di meja makan itu hanya terdiam menjadi penonton.
Namun, Matteo segera menghentikan obrolan Mia dan Valerie. "Cara mia, duduklah. Mari kita sarapan dulu," ucapnya lembut, membuat Mia segera menghentikan guyonannya dengan gadis bertato itu.
"Aku senang melihatmu sudah pulih, Nyonya. Kau juga terlihat sangat cantik dan segar dengan model rambut seperti itu. Pantas saja jika Tuan de Luca menjagamu dengan begitu baik," celoteh Valerie lagi sambil terus mengarahkan tatapannya kepada Mia yang saat itu sudah duduk di kursi dekat Matteo.
"Theo menjagaku dengan sangat baik," timpal Mia. Ia menyentuh punggung tangan Matteo yang pria itu letakan di atas meja.
"Tentu saja. Aku akan memenggal kepala pria manapun yang berani mengganggu Mia-ku," ucap Matteo yakin dan terlihat serius. Hal itu membuat Adriano segera mengempaskan napas dalam-dalam.
Tak berselang lama, terdengar suara Francesca yang tengah bersenda gurau dengan Marco. Sedangkan Coco sudah pulang ke bengkelnya. Di belakang Francesca, mengikuti Daniella yang pagi itu terlihat cantik dan seksi, seperti biasanya. Sesuai rencana, hari itu ia dan sang adik akan kembali ke kota Roma.
"Selamat pagi, semua," sapa Marco. "Ada tamu istimewa rupanya," ia menyapa Sergei dan Adriano dengan sebuah anggukan sopan dan berbalas hal yang sama. Tak berselang lama, Damiano pun hadir dan bergabung dengan mereka, setelah menyapa semua yang ada di sana.
Sementara Daniella terlihat tak nyaman dengan tatapan aneh yang dilayangkan Sergei. Pria Rusia itu semakin terpesona akan sosok kakak ipar Matteo yang begitu seksi dan terlihat menantang baginya, membuat rasa penasaran yang dulu hadir kini semakin memuncak. "Selamat pagi, Nona Daniella. Senang bisa melihatmu di sini," sapanya sopan, tapi terdengar begitu aneh bagi Daniella, yang sudah dapat menebak karakter dari pria itu dari sikap dan kata-kata yang dilontarkannya, pada malam pesta ketika di Monaco.
__ADS_1
"Kabarku tidak terlalu baik, Tuan," jawab Daniella ketus. Ia langsung saja memalingkan wajahnya kepada Marco. Sedangkan Sergei kembali tersenyum. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada Matteo.
"Tuan de Luca, mengapa wanita-wanita yang berada di dalam Casa de Luca begitu cantik? Apa Anda tidak merasa seperti sedang berada di surga?" tanyanya dengan senyuman yang terlihat aneh.
Matteo yang baru akan memulai sarapannya, ssgera tertegun dan menatap Sergei. Sebuah ungkapan yang terdengar sangat aneh di telinganya. "Aku hanya menikmati kecantikan istriku, Tuan Redomir," jawab Matteo datar dan dingin. Ia kemudian menyantap menu sarapan yang telah Mia sajikan di atas piringnya.
"Seandainya aku meminta izin kepada Anda untuk meminang salah satu saudara ipar nyonya de Luca, apakah Anda akan memberikan izin padaku?" pertanyaan aneh yang kembali membuat Matteo dan yang lainnya seketika memandang ke arah pria Rusia tersebut. Sedangkan Daniella terlihat begitu kesal. Wajahnya sudah memerah karena menahan rasa marah yang ia tahan sejak melihat keberadaan Sergei di sana.
"Apa maksud Anda, Tuan Redomir?" tanya Matteo dingin.
"Aku tak akan bertele-tele, Tuan de Luca. Sejujurnya jika diriku sangat tertarik dengan Nona Daniella sejak pertama kali bertemu dengannya, dan aku ingin sekali meminang nona berambut pirang itu," jawab Sergei dengan tenang dan seakan tanpa beban sedikitpun. Lain halnya dengan Marco dan Daniella yang sontak berdiri saat mendengar pertanyaan konyol tersebut.
Matteo segera mengarahkan tatapannya kepada Marco dan Daniella. Ia memberi isyarat agar mereka berdua tetap bersikap tenang. Selain itu, Damiano pun segera menyentuh lengan Marco dan memintanya agar kembali duduk. Mau tak mau, Marco menuruti hal itu.
Namun, isyarat tersebut tak digubris oleh Daniella. Gadis itu sudah terlanjur kesal. "Kau gila dan tak punya otak sama sekali!" dengusnya seraya melemparkan serbet ke atas meja. Tentu saja kata-kata kasar itu ia tujukan kepada Sergei Redomir. Setelah berkata demikian, gadis berambut pirang tersebut segera berlalu meninggalkan meja makan.
"Aku ikut, Mia!" seru Francesca mengekor langkah sang kakak.
Sergei masih terlihat tenang meskipun telah membuat kegaduhan di meja makan. Sedangkan Adriano merasa tak enak hati kepada Matteo yang saat itu menatap sang kolega dengan tajam. "Tuan Redomir, Anda terlalu terburu-buru," ujar Adriano memecah kebisuan yang berlangsung selama beberapa saat setelah kepergian tiga bersaudara itu.
"Apa maksud Anda berkata demikian, Tuan Redomir? Aku bukanlah wali dari Daniella. Aku tak berhak memberikan izin atau tidak atas kehidupan pribadinya. Itu semua di luar wewenangku," Matteo masih dengan nada bicaranya yang dingin. Ia melanjutkan sarapannya karena harus bergegas ke bengkel perakitan.
"Aku hanya mengungkapkan niat baikku, Tuan de Luca. Bukankah nona Daniella adalah gadis lajang?" kilah Sergei. Namun penjelasan itu tak membuat amarah Marco mereda. Ia memilih untuk menyudahi sarapannya dan berlalu begitu saja. Matteo ataupun Damiano tak dapat mencegahnya lagi untuk tetap tenang.
"Anda sudah merusak kehangatan di meja makanku," keluh Matteo. "Sebaiknya kita segera ke bengkel saja. Damiano, tolong katakan kepada Mia bahwa aku pergi. Jangan sampai ia mencariku,," lanjutnya seraya beranjak dari duduk.
__ADS_1
"Iya, Anakku. Hati-hati," jawab Damiano yang saat itu masih duduk tenang, meskipun perasaannya tidak begitu nyaman.
"Aku juga permisi, Tuan Baresi," Adriano berpamitan kepada Damiano. Ia menyentuh pundak pria paruh baya tersebut dan berbalas sebuah anggukan pelan darinya. Sedangkan Matteo sudah berlalu menuju garasi.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai ke bengkel perakitan. Di sana, telah bersiap dua orang anak buah pilihan Matteo yang akan membantunya. Mereka juga yang telah membawa berbagai komponen dari Palermo. "Perkenalkan ini Lucas dan Christian. Mereka yang akan membantuku di sini, selain nona Nikolaev tentunya. Aku sengaja mendatangkan mereka agar dapat menyelesaikan pesanan dengan lebih cepat," terang Matteo. Lucas dan Christian pun mengangguk sopan.
"Tempat yang sangat menarik, Tuan de Luca," ucap Sergei dengan tenang. Tak tampak rasa bersalah pada wajahnya yang dihiasi mata berwarna hijau tersebut. Ia asyik melihat-lihat segala hal yang ada di dalam bengkel. "Jadi, Anda membuat sendiri semua komponen ini, Tuan de Luca?" tanyanya.
"Aku sudah menjelaskan semua itu kepada Tuan D'Angelo. Silakan tanyakan sendiri padanya," jawab Matteo dingin. "Siapkan peralatanku, Chris," titah Matteo kepada pria berambut gondrong sebahu yang sejak tadi berdiri menunggu perintah. Christian dan Lucas saling membantu menyiapkan segala hal, agar Matteo bisa langsung memulai pekerjaannya.
"Anda pasti akan terkesan melihat cara kerja Tuan de Luca," ucap Valerie kepada Sergei. Ia berbicara dalam bahasa Rusia terhadap pria itu.
"Ya, aku ingin sekali melihatnya dan juga membuat dokumentasi, untuk koleksi pribadi," balas Sergei seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya. Namun, saat pria itu hendak mengambil gambar, dengan segera Matteo meraih ponsel yang tengah diarahkan kepadanya. Ia kemudian meletakkan benda tersebut di atas meja.
"Aku tak mengizinkan siapa pun untuk mengambil gambar di sini!" tegas Matteo dengan sorot tajam.
"Tenang saja, Tuan de Luca. Itu hanya untuk koleksi pribadiku," kilah Sergei.
"Aku tak peduli!" tegas Matteo lagi. "Anda harusnya berterima kasih karena telah kuizinkan masuk kemari. Aku tak akan mentolerir lagi sikap tidak sopanmu, Tuan Redomir."
Melihat Matteo yang mulai terpancing emosi, Adriano segera bertindak untuk menjadi penengah. Ia berdiri di antara kedua pria itu. "Tenanglah, Tuan de Luca. Tuan Redomir belum mengerti dengan cara kerja Anda, sehingga ia bersikap seperti itu. Aku minta jangan menjadikan hal kecil tersebut sebagai sebuah masalah yang terlalu berarti," lerainya.
Matteo segera mengalihkan tatapannya kepada Adriano. "Tolong beritahu kolega Anda bahwa ini adalah Italia dan bukan Monaco," Matteo kembali duduk untuk memulai pekerjaannya.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Ingin penyegaran dengan bacaan yang berbeda? Cek novel di bawah👇