
“Sudahlah, Marco,” ucap Mia pelan. Ia yang berhati lembut, merasa tak tega melihat Marco dalam keadaan seperti itu. Sementara Matteo tampaknya tidak suka dengan sikap Mia yang terlalu lembek terhadap sepupunya. Pria itu melirik sang istri dengan tatapan tajam. Namun, dengan segera Mia menyentuh lembut lengan bertato suaminya. Ia pun tersenyum manis.
Sesaat kemudian, Mia mengalihkan pandangannya kepada Marco yang masih bersimpuh di dekat ranjang Matteo. “Kita semua sudah kehilangan orang-orang yang kita cintai. Aku kehilangan ayahku. Theo kehilangan kedua orang tuanya, begitu juga dengan dirimu. Aku tahu jika mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku berharap tidak ada lagi intrik-intrik yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah,” Mia kemudian menoleh kepada Matteo yang saat itu masih menatapnya.
“Aku sangat khawatir saat melihatmu roboh dan bersimbah darah, Theo,” ucapnya lagi.
“Itu adalah risiko yang harus kutanggung, Mia,” bantah Matteo dengan dingin. Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya kepada Marco yang masih terdiam dan menunduk. “Seandainya aku tidak sedang dalam keadaan terluka, maka aku pasti sudah menghajarmu sejak tadi,” ujar Matteo datar dan dingin. Kebencian dan kemarahannya terhadap Antonio, seakan datang kembali saat ia melihat Marco.
“Sudahlah, Theo,” cegah Mia masih dengab nada bicaranya yg lembut. Ia terus berusaha meredam amarah Matteo. “Marco adalah sepupumu. Apapun yang dilakukan oleh paman Antonio, biarlah itu menjadi tanggung jawabnya. Jangan limpahkan kesalahan terhadap putranya,” cegah Mia lagi.
“Untuk saat ini, aku hanya ingin kau segera pulih dan kita secepatnya kembali ke Casa de Luca. Aku harap kau juga mengajak Max untuk pulang bersama kita ke sana,” Mia mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman manis untuk Matteo. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Marco. “Perintahkan Marco untuk bangun,” bisik Mia lembut di telinga Matteo.
Matteo mengeluh pelan. Ia tak mampu menolak permintaan Mia. Entah mengapa, seluruh amarah dalam dirinya seketika luruh saat mendengar suara lembut, dan disertai dengan nada bicaranya yang santun serta penuh kasih. “Bangunlah, Marco! Bersyukurlah karena ayahmu tidak berhasil membunuh Miaku. Lihatlah, seseorang yang ingin ayahmu habisi, ternyata menjadi penyelamat bagimu. Jangan pikir karena aku terbaring di rumah sakit, lantas aku tidak dapat melakukan apapun. Sekarang pergilah, aku ingin istirahat!” titah Matteo dengan gaya bicaranya yang terdegar tegas dan juga dingin.
Mendengar perintah dari sang ketua, Marco segera menurut. Ia bangkit dan berdiri untuk sejenak dengan tatapan yang ia tujukan terhadap Matteo. Sesaat kemudian, tatapan itu beralih kepada Mia. “Terima kasih, Mia. Kau memang layak menjadi seorang ratu di Casa de Luca. Aku sangat menghargainya. Permisi,” tanpa berkata apa-apa lagi, Marco memutuskan untuk beranjak dari ruangan itu. Ia juga menutup pintunya rapat-rapat.
Tak berselang lama, suara ketukan di pintu kembali terdengar. Mia mende•sah pelan, lalu memandang suaminya dengan sorot iba. “Kau jadi tidak bisa beristirahat,” keluhnya.
“Tidak apa-apa, Mia. Jangan meremehkanku, meskipun aku sekarang masih tampak lemah,” gurau Matteo sembari tertawa pelan. Mia pun akhirnya membuka pintu ruang perawatan itu. Sesosok pria jangkung kini berdiri dengan gagah di depannya. Ia tertegun ketika berhadapan dengan wanita cantik itu.
“Tuan D’Angelo?" Mia tampak mengernyitkan keningnya. "Anda masih di sini?” tanya Mia keheranan.
Pria itu berdehem pelan, lalu berpaling sejenak ke samping sebelum kembali mengarahkan pandangannya kepada Mia. “Ah, aku baru saja kembali dari hotel. Aku ingin menjenguk Tuan de Luca, sekalian berpamitan untuk pulang,” jelasnya.
“Baiklah, Tuan,” Mia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Adriano untuk masuk.
“Lihat siapa yang datang, Theo. Tuan D’Angelo turut menjagamu di sini sejak kau masuk ke ruang operasi,” terang Mia, membuat Matteo mengernyitkan keningnya.
“Untuk apa?” tanya Matteo curiga.
“Eh, bukankah kalian berteman?” bisik Mia setelah ia mendekatkan bibirnya di telinga Matteo. Ia takut jika Adriano akan mendengar pertanyaannya.
“Aku baru saja mengenalnya saat pesta. Damiano yang mengenalkan kami!” tegas Matteo dengan suara lantang. Ia sama sekali tak peduli jika Adriano mendengarnya, karena insting Matteo yang tajam kini tengah merasakan sesuatu yang ganjil pada pria itu. Sesaat kemudian, Matteo meringis karena otot lehernya tertarik ketika ia berbicara dengan terlalu kencang.
__ADS_1
“Lihatlah, Sayang. Kau terlalu bersemangat sampai lupa kalau bahumu baru saja dibedah,” ujar Mia sambil mengusap lembut puncak kepala Matteo. Sedangkan Adriano melihat itu semua dengan senyuman getir.
“Sebenarnya, aku tidak selalu berada di sini,” selanya. “Aku menginap di hotel, tak jauh dari rumah sakit. Kemarin itu entah bagaimana tiba-tiba aku ikut masuk ke dalam helikopter dan terbawa sampai kemari,” candanya sembari memamerkan senyuman yang menawan.
“Alasan,” gumam Matteo pelan. Seketika Mia menoleh pada suaminya dengan tatapan bertanya-tanya. “Kau tidak sedang mendoakan agar aku cepat mati bukan, Tuan D’Angelo?” sindir Matteo.
“Pertanyaan macam apa itu, Theo?” sergah Mia pelan. Ia merasa tidak nyaman atas sikap sinis Matteo terhadap Adriano, mengingat pria itu telah berbuat baik padanya dengan memberikan sepotong roti.
Matteo tak menjawab pertanyaan Mia. Ia hanya tersenyum sinis, kemudian memejamkan matanya. “Aku ingin beristirahat, Mia. Aku sangatlelah. Tolong jangan menerima tamu lagi,” pintanya dengan nada suara yang dingin.
“Ah, ya. Tentu saja, Tuan de Luca harus banyak beristirahat. Maafkan aku karena telah mengganggu waktu kalian,” ucap Adriano tulus.
“Tidak apa-apa, Tuan D'Angelo. Akulah yang seharusnya berterima kasih atas bantuan dan kebaikan Anda,” balas Mia. Ia juga sempat mengulurkan tangannya kepada Adriano.
Tentu saja, Adriano tak akan menyia-nyiakannya. Ia segera menjabat tangan Mia dan hendak mencium punggung tangannya. Namun, Mia segera menariknya sembari melirik kepada Matteo. Mia hanya bisa meringis kecil, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Adriano dapat memahami bahasa tubuh yang Mia perlihatkan.
“Kalau begitu aku permisi dulu, Tuan dan Nyonya de Luca,” ujar Adriano sedikit keras. Pasalnya, Matteo terus memejamkan mata tanpa mau memandang ke arahnya. Mau tak mau, Mia mengantarkan Adriano sampai ke depan pintu, sebagai tanda kesopanan dan terima kasihnya terhadap pria itu. Ketika Adriano sudah berada di luar ruangan, ia kembali berbalik menghadap Mia seraya berucap, “Spero di poterti rivedere (semoga kita bisa bertemu lagi).”
Mia tak tahu harus menjawab apa, sehingga ia hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara Matteo membuka sedikit matanya meskipun ia masih berpura-pura tidur.
“Suamiku baik-baik saja dan sedang tak ingin diganggu!” jawab Mia tak kalah ketus seraya bersedekap.
“Kau pikir aku percaya?” tanpa ragu Camilla maju dan berusaha menerobos. Akan tetapi, Mia lebih sigap. Ia menghalangi wanita itu sambil sedikit membusungkan dadanya.
“Sepertinya kau harus menerima kenyataan bahwa aku memiliki kuasa di sini. Aku bisa saja memanggil pengawal Theo dan mengusirmu, tapi aku tak akan melakukan itu. Aku paham bagaimana rasanya dicampakkan. Wajar jika kau marah dan tak terima pada keadaan,” wajah Mia yang awalnya tegang, kini mendadak berubah menjadi lembut, membuat Camilla tak mampu bicara. Mata birunya terbelalak dan berkaca-kaca. Tanpa kata, ia segera pergi dari hadapan Mia.
Sementara itu, Coco yang baru kembali dari kantin rumah sakit, tertegun ketika melihat Francesca dan Daniella berjalan keluar dari lorong kamar rawat Matteo. Mereka diikuti oleh Zucca yang akan mendampingi hingga ke landasan helikopter di atap gedung rumah sakit tersebut.
Kedua gadis itu, kini berjalan menuju lift.
Dengan segera, Coco berlari ke arah mereka. Ia menahan pintu lift yang akan tertutup, dan membuat Francesca melotot padanya. Sementara Daniella hanya tersenyum dengan lirikan nakalnya. Sedangkan Zucca berdiri tegak dan seakan tak melihat apapun.
Coco bergegas masuk dan berdiri di sebelah Francesca. Sedangkan Francesca segera bergeser ke dekat Daniella. Namun, Coco mengikuti gadis itu. Ia terus mendekat hingga Francesca tidak bisa bergeser lagi, lengannya bergesekan dengan lengan Daniella. Hal itu membuat Daniella mendelik ke arahnya. “Kenapa kau ini?” protesnya dengan ketus. Sementara Francesca hanya terdiam.
__ADS_1
“Sebaiknya kau berdiri di dekatku,” ujar Coco seraya menarik tangan Francesca sehingga mendekat padanya. Ia juga merengkuh pundak gadis itu. Apa yang dilakukannya telah membuat Daniella membelalakan mata dengan sempurna. Namun, Coco masih terlihat tenang dan tak acuh dengan ekspresi yang dutunjukkan Daniella.
“Kalian?” Daniella mengernyitkan keningnya. Selama ini, ia tidak mengetahui kedekatan antara Francesca dan Coco. Sebelum kedua sejoli itu sempat menjawab, pintu lift lebih dulu terbuka. Mereka telah tiba di lantai teratas rumah sakit.
Coco segera keluar seraya menggenggam erat pergelangan tangan Francesca. Daniella dan Zucca mengikuti mereka dari belakang dengan ekspresi yang terlihat aneh. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di landasan. Di sana telah menunggu sebuah helikopter dengan tulisan “de Luca” pada badan alat transportasi tersebut.
Daniella bergegas naik, ketika Zucca sudah membukakan pintu helikopter itu untuknya. Sementara sang adik masih berada di luar bersama Coco. Pria itu terus menggenggam erat tangan gadis bertubuh semampai tersebut.
“Aku harus segera pergi, Ricci,” protes Francesca kepada Coco yang seakan tak mengizinkannya ke manapun.
“Aku akan mengunjungimu di Roma, tapi nanti setelah Matteo kembali dari rumah sakit,” ujar Coco. Akan tetapi, Francesca terlihat tidak setuju dengan hal itu.
“Aku yang akan mengunjungimu di Brescia,” ucap Francesca pelan.
Coco tidak menjawab. Ia menangkup wajah cantik Francesca dan menciumnya untuk beberapa saat, membuat Daniella semakin terbelalak tak percaya. Sementara helikopter telah siap untuk berangkat. “Kabari aku jika kau telah tiba di Roma,” pesan Coco.
Francesca tersenyum seraya mengangguk pelan. Sstelah itu, ia bergegas menuju ke helikopter dan masuk. Sedangkan Coco berdiri menatapnya, hingga helikopter itu lepas landas dan menjauh, lenyap dari pandangan mata cokelatnya. Coco menyugar rambutnya seraya membalikan badan. Ia memutuskan untuk kembali ke lantai bawah rumah sakit, di mana Matteo dirawat.
“Apa-apaan itu, Francy? Kau dan Ricci? Ya, Tuhan! Aku seperti tidak mengenalimu dan Mia saat ini,” keluh Daniella.
__ADS_1
“Apanya yang aneh? Bukankah itu hal yang sudah biasa bagimu, Dani?” sahut Francesca tak acuh. Pandangannya tertuju ke luar jendela. Ia menatap awan putih di mana wajah Coco terlukis dengan jelas di sana. Francesca pun tersenyum kecil.