Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Fiore D'Amore


__ADS_3

Sementara Mia dan Matteo sibuk menyiapkan menu makan malam, lain halnya dengan Coco dan Francesca. Mereka mampir sebentar di kedai fastfood untuk memesan burger dan kentang goreng. Setelah itu, kedua sejoli tersebut kembali berboncengan untuk menuju ke apartemen milik Francesca.


Rasanya seperti tiga tahun yang lalu, ketika Coco membonceng gadis itu dengan motornya, meskipun bukan motor yang ia pakai saat ini. Coco telah menjual motornya yang lama, karena motor itu selalu mengingatkannya pada Francesca. Ia memutuskan untuk membeli motor yang baru. Coco sendiri tak pernah menyangka jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan gadis belia yang telah berhasil mengobrak-abrik prinsipnya tentang wanita.


“Ayo, masuklah,” ajak Francesca seraya membuka pintu ruang apartemennya. Tempat itu tidak terlalu luas, tetapi tampak sangat nyaman dan manis. Kesan girly begitu terasa di dalam sana, hal itu terlihat dari berbagai furniture dan juga warna yang menghiasi ruangan tersebut. Begitu juga dengan aroma buah-buahan yang tercium dari pewangi ruangan di sana.


"Apartemen yang manis," gumam Coco. Ia mengikuti gadis itu masuk, dan meletakan makanan yang tadi mereka beli di atas meja. Coco juga melepas jaket kulit kesayangannya.


“Sebentar, akan kuambilkan minuman,” ucap Francesca seraya meletakan tas kecil yang ia bawa. Gadis itu juga melepas jaket yang dikenakannya sehingga menyisakan crop top hitam yang dipadukan dengan highwaist loose jeans. Dari dulu hingga sekarang, penampilan Francesca memang selalu terlihat santai. Namun, kini ia tampak jauh lebih dewasa dan sudah mulai merias dirinya.


“Aku ingin ke belakang sebentar,” ucap Coco tanpa ada rasa canggung.


Francesca tersenyum seraya menggulung rambut panjangnya ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjang yang indah dan dihiasi kalung cantik. “Mari ku antar,” ucapnya. Ia berbalik dan berjalan di depan Coco. Sedangkan Coco mengikutinya dari belakang seraya memperhatikan pinggang kecil dengan pinggul indah milik gadis itu. Berkali-kali ia mengusap tengkuk kepalanya. Sesaat kemudian, Francesca berhenti di depan pintu kamar mandi. “Silakan, Tuan Ricci,” guraunya dengan diringi senyuman manis.


“Kau tidak ingin menemaniku ke dalam?” tanya Coco dengan kerlingan nakalnya.


Francesca tertawa pelan. “Aku rasa tidak,” tolak gadis bermata hazel tersebut masih dengan senyumannya. Ia bermaksud untuk ke dapur dan mengambil minuman. Akan tetapi, sebelum gadis itu sempat membalikan badan, dengan cepat Coco terlebih dahulu meraih pinggang ramping yang sejak tadi ia perhatikan. Coco menahan tubuh Francesca di dalam pelukannya.


“Aku sudah tidak tahan ingin menciummu sejak tadi,” ucap Coco dengan setengah berbisik. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia langsung saja mendaratkan ciumannya di bibir Francesca. Gadis itu tak sempat menghindar. Tak ada pilihan baginya, selain menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan.


Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Alasannya karena Coco sudah tidak tahan ingin segera ke toilet. Sikap konyolnya itu telah membuat Francesca tertawa geli. Gadis bertubuh semampai tersebut, melanjutkan niatnya untuk ke dapur dan mengambil minuman.

__ADS_1


Tidak berselang lama, mereka kini telah duduk berdua di sofa yang menghadap langsung ke televisi. Francesca tak ingin melewatkan pertandingan club sepak bola kesayangannya, meskipun saat itu pertandingan sudah berjalan setengah babak. Niatnya untuk menonton pertandingan secara langsung di stadion, harus ia urungkan karena pertemuannya dengan Coco. Sambil menyantap makanan yang mereka beli tadi, kedua sejoli itu asyik menyaksikan pertandingan yang berjalan dengan begitu menegangkan. Pertandingan yang seru antara dua club besar ibukota.


“Kapan-kapan, kita akan menonton di stadion secara langsung,” ucap Coco. Tangannya merogoh ke dalam wadah kentang goreng yang dipegang oleh Francesca. Mereka bergantian mengambil kentang tersebut. Sementara mata keduanya asyik menatap layar televisi.


Tanpa terasa, kentang goreng yang ada di tangan Francesca hanya tinggal sepotong. Coco dan Francesca mengambil kentang itu secara bersamaan, mereka kemudian tertawa. “Siapa yang lebih dulu memegangnya?” tanya Francesca.


“Tentu saja aku!” Coco segera merebut kentang kecil itu, lalu memasukkannya sebagian ke dalam mulut. Sebagian lagi masih berada di luar bibir. “Ambil ini jika kau mau, Francy,” goda Coco nakal.


Francesca menyambut tantangan dari Coco. Ia segera melahap kentang itu, hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Coco. Mereka terdiam untuk sejenak dan saling pandang dengan sejuta arti. Tanpa menunggu lebih lama, Coco segera melu•mat bibir manis gadis itu. Sedangkan Francesca refleks memejamkan matanya.


Ingatan gadis itu berputar kembali pada kejadian tiga tahun lalu di kamar Coco. Kenangan yang tak akan pernah ia lupakan untuk selamanya. Hati dan tubuhnya kini telah bersiap menerima apapun perlakuan Coco padanya. Ia tak menolak ketika pria berambut ikal itu merebahkan tubuh rampingnya di atas sofa. Francesca juga bersikap pasrah, ketika tangan kekar Coco mulai menjelajahi setiap lekuk indah tubuhnya.


Sampai tibalah saat Coco berusaha untuk membuka pakaian yang Francesca kenakan, nurani gadis itu baru tersadar. Ada sebuah bisikan yang seakan mengingatkannya pada sesuatu yang tak dapat ia pungkiri. Bayangan seorang pria sekelebat hadir dalam ingatannya. “Tidak, Ricci. Tolong hentikan ....” pintanya dengan suara parau. Ia berusaha untuk menjauhkan wajah Coco dari tubuhnya.


“Kenapa, dolcezza mia (manisku)?” Coco mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Francesca yang ketakutan.


“Nanti kekasihku marah,” jawab Francesca lugu.


Seketika Coco tertawa terbahak-bahak. “Kau sedang mengerjaiku, ya?” tebaknya.


Francesca menggeleng kencang sembari mencengkeram lengan Coco. “Maafkan aku, Ricci. Kukira aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi,” ucapnya lirih.

__ADS_1


“Bercandamu sama sekali tidak lucu, Sayang,” Coco sudah bersiap menerjang bibir Francesca lagi saat ponselnya berdering kencang. “Ck,” ia berdecak kesal. Dengan malas-malasan, Coco menjawab pangilan telepon itu. “Ada apa, Lucia? Aku sedang sibuk,” ujarnya dengan nada datar.


Mendengar Coco menyebut nama seorang wanita, Francesca seketika bangkit dari sofa seraya merapikan pakaiannya. Ia memerhatikan cinta pertamanya yang sedang asyik mengobrol di telepon, membuat Francesca mondar-mandir dengan raut gelisah. Beberapa saat kemudian, Coco mengakhiri perbincangannya. Ia lalu berpaling kepada Francesca yang menatapnya tajam.


“Sedikit gangguan dari seorang teman,” Coco meringis sambil mengangkat teleponnya ke arah Francesca.


“Jadi, kau juga punya kekasih rupanya?” tanya gadis itu sinis.


Coco mengangkat bahunya sembari mencebikkan bibir. “Jika kau punya kekasih, kenapa aku tidak boleh?” jawabnya tak acuh.


Francesca mendengus kesal dan membuang muka, “Aku dan Fillipo berbeda!” sanggahnya.


“Apanya yang berbeda?” Coco berdiri di hadapan Francesca. Akan tetapi, gadis itu membisu. Ia tak punya jawaban yang tepat untuk Coco.


“Asal kau tahu, Francy. Sejak kau menghilang, aku tidak pernah punya keinginan untuk dekat dengan siapa pun. Setiap kali aku berdekatan dengan seorang gadis, mereka selalu mengingatkanku padamu, dan itu sangat menyakitkan,” tutur Coco dengan tatapan yang tajam menembus mata hazel Francesca.


“Aku berkelana dari satu club ke club lain, mabuk dan berteman dengan banyak gadis, tapi tak satupun dari mereka yang istimewa. Aku menunggu saat ini, saat di mana aku bisa menemukanmu lagi dan membawamu ke rumah sederhanaku,” lanjutnya.


Francesca menunduk dalam-dalam. Ia sama sekali tak berani menatap wajah Coco. Sejuta rasa sesal dan bersalah menggelayuti pikirannya. “Kupikir, kita tak akan pernah bisa bersama, mengingat Mia yang selalu histeris ketika aku menyebut namamu. Kukira tidak akan pernah mungkin …” isaknya.


“Oh, Francy. Kemarilah,” Coco merengkuh tubuh ramping Francesca dan memeluknya erat-erat. Berkali-kali ia mencium kening gadis itu dan mengelus rambutnya dengan lembut. Francesca begitu terhanyut atas perlakuan Coco, hingga ia tidak menyadari jika pintu apartemennya terbuka perlahan.

__ADS_1


Sesosok pemuda jangkung seumuran Francesca berhenti di depan ruang tamu dan terbelalak menyaksikan adegan di depannya. “Apa-apaan ini, Francy?” serunya dengan rona tidak percaya.


 


__ADS_2