
Matteo menatap Adriano dengan semakin tajam. Tak lama, pria itu tampak memicingkan matanya seperti tengah menelisik sesuatu. Matteo seakan tengah mencari makna di balik kata-kata Adriano. “Rupanya Anda juga mengetahui kisah kelam itu,” tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir pria bermata abu-abu tersebut.
“Semua mengetahui tentang tewasnya Silvio Moriarty, meskipun pada awalnya hal itu terkesan sengaja dirahasiakan. Namun, pada akhirnya berita itu menyeruak ke permukaan,” jelas Adriano datar tanpa mengalihkan tatapannya.
“Itu sudah lama berlalu, dan aku telah melupakannya. Satu hal yang tidak akan pernah kulupakan adalah pertemuanku dengan Mia setelah itu. Selebihnya, tak ingin kuingat-ingat lagi,” bantah Matteo.
“Ya. Akan tetapi, dunia mafia sudah mencatat hal tersebut. Terlebih ketika muncul kabar terbunuhnya Vincenzo Moriarty, bersamaan dengan sepak terjangmu yang telah merebut semua daerah kekuasaannya. Luar biasa. Anda memang sebuah mesin pembunuh yang sangat berbahaya, Tuan de Luca,” Adriano tampak begitu serius. Sorot matanya tajam dan terlihat tak biasa. Ia seperti bukanlah Adriano yang biasanya.
“Anda telah sangka sangka, Tuan D’Angelo. Bukan aku yang menghabisi Vincenzo Moriarty, melainkan Antonio. Salah satu asisten kesayanganku bahkan tewas di sana,” sanggah Matteo tegas.
Adriano terlihat semakin serius. Wajah rupawannya tampak sangat datar dan dingin. “Siapa yang akan mempercayai hal itu, jika kini kekuasaan Moriarty telah jatuh ke tangan de Luca? Lagi pula, Antonio adalah paman Anda, sudah pasti kalian telah bersekongkol dalam merencanakan semua penyerangan itu,” Adriano tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Hal itu membuat Matteo terdiam untuk sesaat.
"Anda tahu betul kejadian di Pulau Elba. Aku telah membunuh Antonio dengan tanganku sendiri. Ia mencoba untuk menghabisi Mia dan merongrong kestabilan serta keamanan organisasi yang kupimpin. Sementara aku tak akan pernah berkompromi dengan seorang pengkhianat, siapa pun itu! Aku pasti akan menghabisinya tanpa ampun!" tegas dan dingin, nada bicara Matteo saat itu terdengar sangat menakutkan. Sementara Adriano masih menatapnya dengan tajam.
Entah apa yang terjadi pada kedua pria rupawan itu. Mereka seakan tengah menunjukkan sisi gelap masing-masing. Akan tetapi, sesaat kemudian Matteo tersadar. Ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Mia dan Valerie yang hanya bisa terpaku menyaksikan sikap kedua pria tersebut.
“Haruskah kita membahas masalah itu di hadapan para wanita, Tuan D'Angelo?” tegur Matteo, membuat Adriano pun seketika ikut tersadar. Raut wajahnya berangsur kembali berubah normal. Ia lalu mengela napas dalam-dalam.
“Maafkan aku, Tuan de Luca. Aku hanya terbawa suasana. Anda harus tahu bahwa banyak sekali yang membicarakan tentang diri Anda, dan hal itu membuatku begitu penasaran. Sekarang, aku telah membuktikan sendiri jika Anda memang layak untuk menjadi seorang pemimpin besar,” Adriano kemudian mengalihkan tatapannya kepada Mia. “Aku benar-benar minta maaf, Nyonya de Luca. Aku sama sekali tidak bermaksud menghakimi suami Anda. Aku hanya terlalu emosional dan ....” Adriano tampak kebingungan.
“Tak masalah, Tuan D’Angelo. Aku rasa Matteo tidak memerlukan pembelaan dariku, sehingga Anda tak perlu meminta maaf,” ujar Mia. Ia kemudian tersenyum lembut. “Santai saja, Tuan D’Angelo,” ucap Mia lagi. Ia mencoba untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
“Sudahlah, Moy brat. Sebaiknya kau segera berangkat ke Monaco. Jangan sampai kolegamu menjadi uring-uringan karena kau terlambat datang,” Valerie yang menyadari sikap kikuk Adriano dan ikut mencoba untuk mencairkan suasana. Ia menepuk pundak pria itu dua kali.
Sedangkan Adriano seakan sudah paham dengan isyarat dari saudari angkatnya itu. Pria bermata biru tersebut mengangguk setuju. “Apa kita sudah selesai di sini?” tanyanya yang entah ia tujukan untuk siapa.
Mia yang saat itu melihat raut wajah dan sorot tajam Matteo, segera memajukan kursi rodanya dan mendekat kepada sang suami. Disentuhnya lengan bertato pria itu dengan lembut. Seketika Matteo menoleh dan melihat Mia tersenyum lembut padanya. Perlahan, raut wajah menakutkan itu berangsur menghilang dan sirna seketika. “Kita pulang sekarang, Theo? Tuan D’Angelo harus segera kembali ke Monaco,” ucap Mia lembut dan segera berbalas sebuah anggukan dari Matteo.
“Ayo, Sayang,” Matteo membungkukkan badan dan meraih tubuh Mia, kemudian membopongnya.
“Biar kubawakan kursi rodamu, Nyonya,” ucap Adriano seraya melipat kursi roda Mia. Ia melirik Valerie untuk sejenak sebelum berlalu dan menaiki tangga menuju ke luar bengkel. Sementara Valeria hanya memainkan rambut kepangnya seraya menggelengkan kepala perlahan. Ia tak mengerti, karena biasanya Adriano tak pernah hilang kontrol seperti itu.
Di dalam perjalanan kembali ke Casa de Luca, tak ada satu pun dari keempat orang itu yang mengeluarkan suara. Semuanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Suasana di dalam Jeep Wrangler kesayangan Matteo, begitu hening sampai Mia mulai membuka percakapan. Ia menyentuh tangan kiri Valerie, lalu tersenyum. “Nama panggilanmu mengingatkanku pada seseorang, Val,” ucapnya.
“Namanya Valentino. Ia biasa dipanggil Vale. Pria itu adalah malaikat pelindungku. Jika tak ada dirinya, mungkin aku sudah tidak hidup di dunia ini,” tutur Mia pelan.
“Astaga! Apa yang terjadi?” Valerie menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Mia.
“Aku tak bisa menceritakannya secara detail, karena aku takut jika gangguan kecemasanku akan kambuh. Satu hal yang pasti, Vale telah menjadi tameng hidup saat beberapa orang jahat berusaha merenggut nyawaku. Aku sangat berterima kasih padanya atas nyawa kedua yang sudah ia berikan untukku,” Mia mengakhiri ceritanya, lalu menunduk. Wanita itu memejamkan mata erat-erat. Bayangan masa lalu yang kelam itu kembali hadir dan menyesakkan dadanya, sehingga ia harus menghirup udara dalam-dalam agar tak kesusahan dalam bernapas.
“Cara mia, kau tak apa-apa? Apakah kau perlu obat anti depresanmu?” tawar Matteo. Sorot matanya yang terpantul dari spion tengah memperlihatkan kekhawatiran yang teramat dalam. "Sebaiknya kau jangan mengingat hal itu lagi, Sayang," saran Matteo kembali mengarahkan fokusnya pada kemudi.
“Aku tidak apa-apa, Theo” jawab Mia sembari tersenyum lembut. Setelah itu, keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga kendaraan yang Matteo kemudikan memasuki gerbang pertama. Setelah melewatinya, barulah mobil jeep hitam itu berhenti di halaman depan bangunan Casa de Luca.
__ADS_1
Sebelum mematikan mesin mobilnya, Matteo sempat tertegun untuk sesaat ketika melihat beberapa orang yang tengah berdiri di dekat teras depan rumahnya. Matteo tak menyangka jika kedatangan mereka disambut oleh detektif Fabrizio dan beberapa petugas berseragam dari kepolisian. Raut tegang mulai menyelimuti keempat orang yang berada dalam mobil tersebut.
“Kenapa ada polisi di sini, Tuan de Luca? Apakah Anda hendak menjebakku?” tukas Adriano.
“Percayalah, polisi-polisi itu sedang mencariku. Mereka sama sekali tak ada hubungannya denganmu,” selesai berkata demikian, Matteo segera mematikan mesin mobil lalu turun dengan tenang. Rasa tegang yang sempat menguasai dirinya, ia sembunyikan dalam seutas senyuman samar khas seorang Matteo de Luca.
“Apa kabar, Tuan Detektif?” Matteo menyalami Fabrizio dan beberapa orang polisi yang berdiri berjajar di anak tangga menuju teras rumah.
“Tidak terlalu baik, Tuan de Luca. Anda telah membuat saya kecewa,” ucap Fabrizio dengan raut tidak suka.
“Mari kita berbicara di dalam saja. Silakan masuk terlebih dahulu,” Matteo membuka pintu ruang tamu lebar-lebar dan mempersilakan para polisi itu duduk. Setelah itu, ia lalu kembali ke mobil dan berbisik kepada Adriano. “Sembunyikan senjata rakitanku. Segeralah simpan di mobilmu.”
“Baiklah,” Adriano melompat turun dari mobil dengan setengah berlari ke garasi. Di sana, ia langsung menuju mobilnya yang masih terparkir dan segera menyimpan senapan laras panjang itu.
Adriano memasuki mobil dan menyalakan mesinnya. Ia kemudian melajukan mobil itu sampai berhenti di dekat Matteo.
Adriano menghentikan laju mobilnya. Pria itu lalu keluar tanpa melepas kaca mata hitam yang ia kenakan. “Aku harap tidak ada masalah yang serius, Tuan de Luca," ucapnya pelan, sedangkan Matteo tampak berpikir keras.
__ADS_1