Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Responsibility


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan tadi sore, seusai makan malam Matteo mengajak Marco dan Damiano untuk berunding di ruang kerja. Sementara Mia yang tadinya setuju untuk ikut serta, tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika Matteo menyuruh wanita yang tengah hamil muda itu untuk mandi dan berdandan. Mia lebih memilih menggulung dirinya di dalam selimut, daripada harus menyentuh air dan semua peralatan make up.


"Bagaimana keadaan Mia?" tanya Damiano setelah mereka bertiga duduk di meja yang sama.


"Istriku menjadi malas ke kamar mandi. Seharian tadi ia tidak membersihkan dirinya, bahkan tidak pula menyisir rambut. Mia mengeluh jika kepalanya pusing. Ah, aku baru tahu jika wanita hamil seperti itu," tutur Matteo dengan raut aneh. Sedangkan Marco tergelak mendengar penuturan dari sepupunya tersebut. Akan tetapi, Matteo sedang tak ingin menanggapi tawa bernada ledekan dari Marco.


"Jadi, hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Marco. "Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting pada kalian berdua," lanjut putra dari Antonio tersebut.


"Baiklah, kau bicara saja duluan," balas Matteo seraya menyulut cerutunya. Damiano pun melakukan hal yang sama, hanya Marco yang tidak mengambil cerutu itu, karena ia lebih menyukai rokok biasa.


"Begini. Aku sudah memutuskan untuk menikahi Daniella. Ia juga telah menyetujuinya. Kami ingin melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat," terang Marco dengan yakin.


"Oh, itu berita bagus. Aku senang mendengarnya, Nak," Damiano menanggpai ucapan Marco.

__ADS_1


"Ya, aku juga ikut berbahagia. Sejujurnya aku tidak tahu jika kau dan Dani ...." Matteo tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. "Kapan kalian akan melangsungkan penikahan? MKita harus segera mempersiapkannya sebelum kau dilantik," lanjut pria itu yang seketika membuat Marco terkejut. Matanya terbelalak tajam kepada Matteo yang masih terlihat tenang.


"Dilantik apa maksudmu?" pria berwajah kelimis itu tampak begitu penasaran.


"Pelantikanmu sebagai ketua klan yang baru," jawab Matteo tegas, tapi masih terkesan santai. Ia mengisap cerutu dan mengepulkan asapnya dengan perlahan.


"Ah, tidak! Aku tidak mau!" tolak Marco dengan segera. "Kenapa kau ingin memberikan jabatanmu padaku? Jangan katakan jika kau ingin berhenti, Theo!"


"Aku juga sama terkejutnya denganmu, Nak. Namun, kita harus menghormati keputusan Matteo," Damiano ikut bersuara.


"Tidak ada yang mendadak, Marc. Aku sudah mengambil keputusan ini sejak jauh-jauh hari. Aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat. Lagi pula, aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Mia. Rasanya sudah cukup bagiku merasakan kursi kepemimpinan organisasi de Luca, dan mungkin ini saatnya kau mewujudkan impian dari kedua orang tuamu. Bukankah mendiang ibumu ingin agar kau bisa menjadi pemimpin di organisasi ini?"


Marco hanya mengela napas dan mengempaskannya perlahan. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda sebuah penolakan tehadap keputusan Matteo. "Kau tahu bukan jika aku tidak tertarik untuk berkecimpung terlalu jauh dalam organisasi ini. Aku lebih menyukai balapan daripada harus mengurusi ribuan orang yang bahkan tak kuketahui apakah benar-benar mendukungku atau tidak," ujarnya. Ia tetap bersikeras menolak.

__ADS_1


"Jika memang seperti itu, maka sebaiknya aku membubarkan organisasi ini, daripada harus menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada seseorang yang tidak memiliki darah de Luca sama sekali," ucap Matteo seraya mematikan cerutu yang sejak tadi ia isap. Pria itu kemudian membetulkan posisi duduknya.


"Dengarkan aku, Marc. Ini bukan hanya tentang sebuah kekuasaan, tapi juga tentang menjaga warisan dari leluhur kita. Organisasi de Luca telah berdiri sejak lama, dan harus kau akui bahwa ada banyak nyawa yang menggantungkan hidup mereka di sini. Kita harus menghargai mereka yang telah rela mengabdi dengan loyalitas tinggi. Abaikan saja satu atau dua orang yang kau anggap tak menyukaimu, karena yang kau cari di sini bukan hanya popularitas, melainkan sebuah tanggung jawab dan pembuktian diri tentang seberapa mampu kau mengendalikan ribuan orang hingga mereka bisa menurut padamu. Seberapa cerdik dirimu dalam mengambil sebuah keputusan penting dalam waktu yang mendesak. Anggap saja jika ini sebagai sebuah tantangan balapan liar, karena risikonya sama saja. Aku rasa ... bahkan jauh lebih menantang dari yang kau kira," jelas Matteo panjang lebar. Niatnya untuk memaksa Marco dengan menggunakan kekerasan, tentu saja tidak ia laksanakan.


"Entahlah, Theo. Aku tidak memikirkan apapun tentang sebuah kursi kepemimpinan, meskipun pada kenyataannya itu adalah harapan terbesar kedua orang tuaku bahkan hingga memaksa ayah untuk melakukan sebuah pengkhianatan ...."


"Itu artinya mereka mengetahui bahwa kau pun memiliki potensi besar dalam dirimu. Kau tidak perlu khawatir, karena aku pasti akan selalu membantumu dari balik layar. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, sebab pada awalnya kau pasti akan merasakan sebuah kecanggungan yang besar. Aku juga seperti itu dulu," ujar Matteo lagi terus membujuk dan meyakinkan Marco.


"Sebenarnya aku juga kurang setuju dengan usulan Theo, karena aku sangat mencintai organisasi ini. Tentu saja aku tidak akan rela, jika organisasi yang telah memberiku sebuah tempat untuk bernaung, dipimpin oleh seseorang yang bahkan tak memiliki rasa cinta terhadap sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, aku akan jauh lebih menyayangkan jika sampai kursi kepemimpinan harus diduduki oleh orang luar. Maka, aku lebih setuju agar organisasi ini dibubarkan saja. Kalian tak usah memedulikan siapa pun juga. Dengarkan aku, Theo. Segeralah membuat pidato berisikan alasan yang benar-benar masuk akal untuk hal itu," ucap Damiano pada akhirnya.


Mendengar ucapan Damiano, Matteo hanya terdiam dengan tenangnya, sedangkan Marco tampak merasa gelisah. "Baiklah! Baiklah, tapi aku harus bicara dulu dengan Daniella sebelum benar-benar menyetujui hal tersebut," pada akhirnya Marco setuju, meskipun raut wajah pria itu terlihat sedikit tegang. "Aku tidak terlalu yakin bisa mengemban tugas sebesar itu, Theo. Lagi pula, apakah para tetua akan setuju dengan pengajuan diriku sebagai penggantimu?"


"Kau tak perlu memikirkan hal itu. Aku hanya ingin mendengar jawaban iya darimu, selebihnya biarkan aku yang mengurus," jawab Matteo tenang dan datar. Sementara Marco hanya manggut-manggut, meskipun dalam hatinya ia masih merasa berat untuk menerima tanggung jawab tersebut.

__ADS_1


"Kau harus belajar untuk dapat lebih bertanggung jawab, Nak," ucap Damiano.


__ADS_2