
Sementara malam kian larut, Adriano tak dapat memejamkan matanya. Ia begitu gelisah di dalam kamar, hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk keluar dan mengambil minuman dingin. Dalam suasana temaram, Adriano dapat melihat siluet indah yang tengah berdiri di dekat mini bar miliknya. Adriano pun mempercepat langkah ke arah tubuh ramping itu berada. "Nyonya de Luca? Kau belum tidur?" ia berdiri tak jauh dari Mia yang saat itu terdiam di dekat tiga buah bangku bulat yang cukup tinggi.
Mia menoleh dan tersenyum. Ia lalu membalikan badannya dan menatap lekat kepada pria bertubuh tegap yang kini tengah melangkah ke arahnya. Mia kemudian duduk di atas bangku bulat tadi, sebelum Adriano benar-benar mendekat padanya. "Aku tidak bisa tidur," ucap Mia pelan seraya terus menatap Adriano yang kini telah berdiri tepat di hadapannya.
"Aku juga sama," balas Adriano. Tatapannya kini beradu dengan tatapan Mia, yang dirasakannya memiliki makna berbeda dari biasanya. Adriano pun kian mendekat. Ia memberanikan diri untuk menyentuh paras cantik yang selama ini membuatnya begitu penasaran. Sementara Mia tak menolaknya sama sekali. Ia justru tampak menikmati sentuhan lembut itu seraya memejamkan matanya.
"Apa kau tahu? Kau telah membuatku gila," bisik Adriano. Ia menyusuri wajah Mia dengan helaan napas beratnya. Mia tidak menjawab. Wanita muda itu masih memejamkan mata. Sepertinya, ia sangat menikmati apa yang Adriano lakukan saat itu, termasuk ketika pria bermata abu-abu tersebut menjalarkan sentuhan bibirnya pada leher jenjang dengan aroma parfume yang membuatnya semakin kehilangan kontrol.
Adriano mengangkat wajahnya dan kembali menatap Mia untuk sesaat. Tanpa banyak bicara, ia segera mendaratkan ciumannya pada permukaan red cherry milik Mia. Perlahan, lidah pria bermata biru itu mulai menerobos masuk dan bersentuhan langsung dengan lidah Mia, yang seketika menghadirkan sensasi luar biasa bagi dirinya. Terlebih, saat itu Mia memberikan respon yang di luar dugaan.
Mia membalas semua luma•tan yang diberikan Adriano padanya. Ia mere•mas tengkuk kepala pria itu, kemudian menurunkan tangannya hingga menyentuh ujung T Shirt putih yang dikenakan oleh Adriano. Mia menaikan ujung T Shirt tersebut, membuat Adriano menghentikan ciumannya untuk sesaat, dan membiarkan Mia melepas bajunya.
Tampaklah tato dengan gambar seekor black panther yang menutupi hampir seluruh punggung pria bertubuh tegap itu. Mia tersenyum seraya menarik Adriano agar kembali menciumnya. Dengan senang hati Adriano melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Ia kembali melu•mat bibir Mia dengan jauh lebih bergairah. Ia bahkan kini mengangkat tubuh Mia dan membawanya duduk di atas sofa. Mereka pun terus berciuman tanpa henti, saling memagut dan mengisap lembut bibir masing-masing.
Sementara, tangan Adriano pun tak tinggal diam. Perlahan tangan yang dipenuhi bulu-bulu halus itu bergerak nakal, dan terus menyusuri setiap lekukan indah dari tubuh Mia. Tangan itu begitu lincah dan seakan tahu harus bergerak ke mana.
"Mia ...." bisik Adriano di sela-sela ciuman panasnya, seraya menurunkan resleting dress yang wanita muda itu kenakan. Adriano begitu cekatan melepas tiga pengait yang membelit di punggung Mia, sehingga tangannya kini dapat bergerak dengan leluasa pada permukaan punggung mulus itu. Pria bermata biru itu pun segera menurunkan dress yang Mia kenakan hingga terkumpul di pinggang wanita itu. Tak lupa, ia juga menyingkirkan cup berenda yang membuatnya merasa terganggu.
__ADS_1
Seperti sebuah keajaiban bagi Adriano, ketika ia dapat menyusuri lekukan indah yang selama ini hanya dapat ia bayangkan. Kini ia tahu dan dapat merasakan dengan jelas, betapa lembutnya kulit tubuh seorang Mia. Pembungkus raga yang indah itu terasa benar-benar halus dan lembab. Adriano tak melewatkan satu bagian pun dari keindahan ragawi wanita yang selalu hadir di dalam angan-angannya tersebut.
Tanpa membuang waktu, ia segera merebahkan tubuh Mia di atas sofa. Disingkirkannya pakaian yang terkumpul pada pinggang ramping Mia, sehingga wanita itu kini sudah hampir polos. Adriano kemudian menurunkan tubuhnya. Ia menggeser kain berbentuk segitiga yang menutupi bagian depan Mia ke samping, sehingga menampakkan sesuatu yang bisa menjadi candu bagi semua kaum pria. Adriano pun segera mendekatkan wajahnya ke sana dan mulai memanjakan Mia dengan sapuan-sapuan lembutnya, membuat tubuh wanita itu seketika menggelinjang tak karuan di atas sofa itu.
Adalah suatu kebanggaan bagi Adriano, ketika dirinya dapat membuat Mia sampai melenguh dan mengeluarkan suara-suara menggodanya, yang membuat gairah dalam diri Adriano kian memberontak dan ingin segera ia tuntaskan. "Berikan padaku," pinta Mia di sela-sela erangannya.
Adriano segera mengangkat wajahnya. Ia kemudian merangkak perlahan di atas tubuh Mia. De•sah napasnya terdengar begitu memburu, tatapan matanya pun terlihat sangat aneh. Sementara mulut dan janggutnya tampak basah oleh cairan berwarna bening. "Kau menginginkannya sekarang, Nyonya de Luca?" bisiknya dengan napas yang mulai terengah-engah.
Mia mengangguk. Ia menarik tubuh Adriano sehingga menempel di atas tubuhnya. Nakal, tangannya menurunkan celana tidur Adriano hingga mengekspos bagian belakang pria itu. Mia bahkan yang mengarahkan Adriano ke dalam dirinya, hingga penyatuan itu pun terjadi. Setelah itu, ia memeluk erat punggung berhiaskan tato black panther dan sesekali mere•masnya ketika Adriano mulai bergerak dan membawanya meniti satu per satu anak tangga menuju nirwana. De•sahan dan helaan napas berat keduanya kini berbaur menjadi satu.
Adriano kemudian melihat jam di ponselnya. Ternyata saat itu sudah pagi. Ia pun memutuskan pergi ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi.
Adriano berjalan menuju dapur apartemennya. Namun, sebelum ia benar-benar tiba di sana, pria bermata biru itu dibuat tertegun karena melihat pemandangan indah yang baru kali ini ia saksikan pada paginya yang cerah. Ia melihat si pemilik tubuh ramping itu tengah menyiapkan sarapan untuknya.
Tersungging sebuah senyuman di wajah rupawan itu. Adriano segera menuju dapur dan berdiri dengan setengah membungkuk. Ia meletakan kedua tangannya di atas meja makan berlapis marmer. Ini memang sebuah keajaiban baginya. Setelah semalam ia bermimpi indah meskipun harus berakhir tragis, tapi itu tak masalah baginya. Ia begitu senang melihat Mia pagi ini. Setidaknya, ia tahu apa yang dirasakan Matteo ketika di pagi hari saat pertama kali membuka mata.
Adriano kemudian memilih untuk duduk. Namun, tatapannya tak jua lepas dari sosok Mia yang terlihat begitu indah, meskipun dari belakang. Pria itu kembali tersenyum seraya mengusap-usap dagunya. Anehnya, Mia tak menyadari sama sekali kehadiran Adriano di sana. Ia masih asyik menyiapkan makanan hingga selesai. Setelah itu, Mia menoleh. Seketika ia tak mampu menyembunyikan ekspresi terkejutnya yang begitu lucu, sehingga membuat Adriano tertawa geli. "Maaf, Nyonya de Luca," ucapnya seraya mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Tuan D'Angelo," Mia mencoba menetralisir rasa terkejutnya. Ia pun tersenyum malu-malu. "Maaf, karena aku telah lancang. Aku hanya ingin berterima kasih karena Anda sudah mengizinkanku menginap tadi malam, jadi aku berinisiatif membuatkan Anda sarapan. Um ... meskipun aku tidak tahu, apakah Anda akan menyukainya atau tidak," jelas Mia. Ia meletakan menu sarapan simpel di atas meja, tepat di hadapan Adriano. Secangkir espresso macchiatto dan panino.
"Kenapa harus repot-repot, Nyonya de Luca. Aku menawarkan tempat menginap dengan gratis, tapi terima kasih," Adriano mengangkat cangkir berisi espresso macchiatto buatan Mia dan mencicipinya. Cita rasanya memang sedikit berbeda dari yang biasa ia buat sendiri. "Luar biasa," sanjung Adriano seraya kembali meneguk espressonya.
"Aku dulu sering membuat itu, saat masih membantu ayahku di kedai," kenang Mia.
Adriano tersenyum kalem. "Begitu rupanya," ia menanggapi ucapan Mia. Adriano kembali meneguk espresso buatan Mia sekali lagi. Setelah itu, ia lalu meletakan cangkir tersebut dan kembali menatap wanita cantik di hadapannya. "Sekarang aku mengerti. Pantas saja Tuan de Luca begitu takut kehilangan Anda, Nyonya de Luca" gumam Adriano membuat Mia tertawa pelan. Hal yang membuat Adriano lagi-lagi dibuat begitu terpesona karenanya, terlebih karena pria itu kembali terbayang dengan mimpinya semalam.
"Ya. Suamiku memang pria yang sangat unik. Ia memiki karakter yang begitu khas," balas Mia. Ingatannya tiba-tiba tertuju kepada Matteo. Mia pun terdiam.
"Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih dari itu," ucap Adriano seraya berdiri dan menghampiri Mia. Ia berjalan mendekat, sementara Mia terus mundur hingga tubuhnya menyentuh pinggiran meja. Mia tahu apa yang akan Adriano lakukan padanya, karena pria itu kini semakin mendekatkan wajah hingga bibirnya hampir menyentuh bibir Mia. Namun, sebelum itu terjadi, dengan cepat Mia meletakan kedua telapak tangannya di dada Adriano. Ia menahan pria itu untuk berbuat lebih kepadanya.
"Hentikan, Tuan D'Angelo! Jaga sikap Anda! Aku adalah wanita yang telah bersuami!" pelan tapi tegas kata-kata yang Mia ucapkan saat itu membuat Adriano tersadar. Ia lalu mendorong tubuh Adriano sehingga menjauh darinya. Mia segera meraih tas yang ia letakan di atas meja. "Aku harus segera pulang," ucapnya seraya membalikan badan. Ia berjalan menuju lift.
"Biar kuantar," Adriano tampak merasa bersalah.
"Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri!" tolak Mia dengan tegas. Ia segera menekan tombol lift hingga pintunya terbuka. Mia kemudian masuk. Sementara Adriano yang saat itu mengejarnya hanya dapat terpaku, karena pintu lift lebih dulu tertutup.
__ADS_1