Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Vista Nascosta


__ADS_3

Malam itu, tampak beberapa anak buah Vincenzo mendatangi night club milik Fabio Flanelli. Mereka menanyakan segala hal tentang gadis-gadis yang dikirimkannya untuk Silvio. Fabio merasa terkejut ketika mendengar kabar bahwa Silvio telah mati terbunuh. Dengan begitu mudahnya, anak buah Vincenzo mendapatkan semua informasi yang mereka inginkan.


Keesokan harinya, Genaro kembali menghadap kepada Vincenzo. Ia telah mengantongi beberapa informasi dari tim yang ditugaskannya untuk menemui Fabio semalam. Vincenzo menerima semua informasi yang diinginkannya.


“Wanita itu bernama Valecia Mendez. Ia seorang imigran dari Spanyol. Seorang teman Fabio yang bernama Coco, yang telah membawanya. Ini adalah orangnya,” pria itu menyodorkan foto Lenatta dan juga Coco.


Vincenzo memerhatikan foto itu untuk sesaat. Setelah itu, ia mere•masnya dengan kasar dan menggenggam foto itu dengan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan. “Sialan! Mereka pasti sudah merencanakan semuanya dengan matang!” geram Vincenzo.


Ia masih mengingat wajah Coco dengan baik. Wajah yang sama persis dengan yang ia lihat dalam rekaman kamera pengawas kemarin. Wajah itu kini ia lihat lagi dalam foto yang baru ia terima dari Genaro. Vincenzo yang biasa terlihat datar dan dingin, kini tampak begitu emosi.


“Pria itu berasal dari Brescia. Namun, Fabio mengatakan jika setahu dirinya, pria bernama Coco itu tidak masuk dalam organisasi mafia manapun. Ia hanya seorang pemilik bengkel reparasi mobil di sana. Saya rasa, pasti ada orang lain di balik ini semua. Seseorang yang jauh lebih berpengaruh,” jelas pria itu. Ia mulai memaparkan hasil dari pengamatannya.


“Seperti yang Anda ketahui, tuan Silvio telah mencuri contoh senjata hasil rakitan dari putra Klan de Luca. Saat ini, senjata itu telah raib dari tempat penyimpanannya,” imbuh Genaro lagi.


“Selama ini, hubungan antara Klan Moriarty dan Klan de Luca baik-baik saja, hingga tuan Silvio memutuskan untuk melakukan kecurangan dalam transaksi yang ternyata dilakukan secara diam-diam oleh putra dari Roberto de Luca. Informasi ini saya dapatkan dari  Antonio de Luca. Mereka tidak pernah mengirim putra dari Roberto untuk bertransaksi dengan tuan Silvio. Saya rasa, ini merupakan dendam pribadi antara mereka berdua dan tidak ada hubungannya dengan organisasi. Bagaimanapun juga, Anda harus memikirkan hal ini matang-matang, karena ini pasti akan memicu bentrokan antara dua klan."


"Kita sudah mengetahui jika Klan de Luca bukanlah organisasi yang sembarangan. Mereka memiliki persenjataan yang jauh lebih baik dari kita meskipun jumlah mereka tidak jauh lebih banyak. Mereka bahkan yang memasok anggur untuk klub-klub milik Moriarty. Kerja sama di antara kita pun terjalin dengan sangat baik dan tidak pernah bermasalah,” papar pria itu dengan panjang lebar.


Vincenzo menatap tajam pria yang telah memberikan informasi kepada dirinya. Sesaat kemudian, ia beranjak duduknya. “Aku tidak peduli dengan hal itu! Nyawa adikku harus dibayar dengan nyawa putra dari de Luca. Aku ingin Silvio bisa beristirahat dengan tenang!” tandas Vincenzo.

__ADS_1


“Cari mereka hingga ke seluruh penjuru Palermo! Aku ingin kalian membawa putra dari Klan de Luca ke hadapanku dalam keadaan hidup! Aku yang akan mengulitinya dengan tanganku sendiri! Jika kalian tidak menemukan mereka di Palermo, maka cari mereka hingga ke Brescia!” titah pria itu lagi dengan amarahnya yang sudah tidak dapat ia bendung. Ia sudah tidak sabar untuk segera membalaskan dendam atas kematian Silvio.


Sementara di tempat lain. Matteo dan Coco telah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Venice. Matteo tidak ingin membahayakan keselamatan sahabatnya yang masih belum pulih benar. Ia yakin jika anak buah dari Klan Moriarty pasti saat ini sedang mencari mereka berdua.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat sampai ke bandara kota Venice. Setibanya di sana, Matteo segera mengambil mobil yang ia titipkan di tempat parkir inap. Ia memutuskan untuk secepatnya kembali ke Brescia.


Berada di kota Venice, tentu saja membuat Matteo ingin melihat keadaan Mia. Gejolak dalam hatinya tidak dapat ia lawan begitu saja. Matteo memilih untuk mengalah. Ia mengalihkan tujuannya menuju ke kedai Mr. Gio.


“Tunggulah sebentar. Aku punya sedikit urusan,” ujar Matteo seraya melepas sabuk pengamannya. Tanpa menunggu jawaban dari Coco, ia bergegas turun dari mobilnya. Sementara Coco hanya mengangguk dan memilih untuk beristirahat sejenak di dalam mobil.


Mateo berjalan kaki menuju kedai milik Mr. Gio. Dari kejauhan, ia melihat Mia yang tengah sibuk melayani para pengunjung seorang diri. Matteo memerhatikannya dari balik dinding sebuah bangunan tinggi. Mia terlihat begitu cantik hari itu. Ia menggerai rambutnya. Gadis itu juga masih memakai gelang yang Matteo pasangkan di pergelangan tangan kirinya.


Ya, itulah yang terbaik. Matteo tidak ingin membawa Mia terjerembab ke dalam bahaya karena berdekatan dengan dirinya. Ia lebih baik menjauh dan benar-benar melupakan gadis itu. Namun, entah bisa atau tidak, Matteo sendiri pun tidak dapat memastikannya. Satu hal yang pasti, Matteo tidak akan pernah melupakan kenangan indah pada malam itu, sebelum ia berangkat ke Palermo.


Mia yang saat itu tengah membereskan piring di atas meja, tiba-tiba tertegun. Ia merasakan hal itu. Ia dapat mencium kehadiran Matteo di sana, meskipun hatinya merasa tidak yakin. Namun, getaran itu dapat ia rasakan dengan jelas.


"Theo ...." de•sah Mia dalam hati. Kenapa begitu sulit untuk menyingkirkan wajah misterius itu dari ingatannya? Bayangan Matteo terpatri dengan sangat kuat di dalam debaran jantungnya. Hal itu terkadang membuat Mia seakan tak dapat bernapas dengan leluasa.


Mia tertegun untuk sejenak. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar kedai, bersamaan dengan semilir angin yang menerpa wajah dan rambut panjangnya. Tatapan lembut itu berusaha untuk menemukan seseorang yang telah membawa sebagian dari hatinya.

__ADS_1


Sementara Matteo segera menyembunyikan dirinya di balik dinding bangunan tinggi itu. Ia tidak ingin Mia melihat keberadaannya di sana.


Mia mengela napas pelan. Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir merah mudanya. Rasa kecewa, lagi-lagi harus ia terima. Ia pun kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan yang belum ia selesaikan.


Selang beberapa saat, Mia berlalu ke dalam kedai dengan membawa tumpukan piring dan gelas kotor. Sedangkan Matteo hanya dapat mengela napas panjang. Untuk sejenak ia menyandarkan tubuhnya pada dinding tempatnya bersembunyi. Tidak berselang lama, Matteo pun memutuskan untuk kembali ke mobil.


Matteo merasa tenang. Setidaknya ia melihat Mia ada dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun dapat melanjutkan perjalanannya menuju Brescia. Kali ini, ia akan benar-benar pulang ke Casa de Luca dan menemui kedua orang tuanya.


“Cepat sekali,” ucap Coco dengan bernada setengah menyindir.


“Aku tidak mau membuatmu menunggu terlalu lama,” balas Matteo seraya kembali memasang sabuk pengamannya. Perlahan, mobil berwarna hitam itupun melaju dan meninggalkan jalanan kota Venice untuk menuju ke kota Brescia.


Selama di dalam perjalanan, Matteo tidak banyak bicara. Ia lebih memilih untuk larut dalam pikirannya sendiri. Sementara Coco yang tadi sempat tertidur lelap, kini sudah kembali terbangun. Pria itu merasa tidak nyaman dengan bekas luka operasi yang telah ia jalani beberapa hari yang lalu.


“Kau tidak berniat mengenalkannya kepadaku?” tanya Coco. Ia sepertinya sudah dapat menebak siapa yang Matteo temui di Venice.


Matteo tidak segera menjawab. Ia masih fokus pada kemudinya. Kurang dari satu jam lagi, mereka akan tiba di bengkel milik Coco. “Siapa yang kau maksud?” Matteo berpura-pura tidak memahami pertanyaan dari Coco. Sementara Coco hanya tersenyum simpul.


 

__ADS_1


__ADS_2