
“Theo!” terdengar suara seorang pria yang menyebut nama Matteo dengan sangat antusias. “Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang, Anakku.” lanjutnya.
Matteo menoleh. Seorang pria paruh baya dengan newboys cap di kepalanya, datang menghampiri dan memeluk Matteo. Pria itu terlihat sangat bahagia. “Ke mana saja kau, Theo?” tanyanya seraya menepuk-nepuk lengan Matteo. Dari caranya memperlakukan Matteo, tampak dengan sangat jelas jika pria itu begitu menyayanginya.
“Aku tersesat, Damiano?” jawab Matteo dengan enteng. Ia menyunggingkan sedikit senyuman untuk pria dengan mata berwarna hijau itu. “Aku membawa sahabatku, Coco. Kau masih mengingatnya?” tanya Matteo seraya mengalihkan pandangannya kepada Coco yang saat itu tengah duduk dengan tenang di atas sofa.
Damiano ikut menatap ke arah Coco. Pria dengan kemeja berwarna kuning gading itu tersenyum. “Tentu saja, Nak! Meskipun usiaku sudah hampir lima puluh tahun, tapi aku belum pikun,” jawabnya seraya menghampiri Coco yang baru saja berdiri. Mereka pun bersalaman dan saling merengkuh.
“Apa kabar, Tuan Baresi?” sapa Coco dengan sopan.
“Baik, sangat baik. Jangan terlalu formal, Nak. Panggil saja Damiano. Aku masih memiliki jiwa muda yang kuat, sama seperti kalian,” candanya seraya tergelak. Coco pun menanggapinya dengan sebuah tawa lebar. Sementara Matteo hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis, seperti biasanya.
“Apa kau tahu ke mana Tuan dan Nyonya de Luca, Damiano?” tanya Matteo seraya berjalan menghampiri Coco dan Damiano yang saat itu telah duduk di atas sofa. Matteo juga ikut duduk di sofa yang berada tidak juah dari keduanya.
“Ayah dan ibumu baru akan pulang besok. Mereka sedang pergi ke Milan. Akhir-akhir ini ayahmu sangat sibuk. Namun, kau malah menghilang tanpa kabar selama berhari-hari. Selain itu kau juga tidak bisa dihubungi. Ayahmu bertanya hampir setiap hari padaku,” tutur Damiano dengan gaya bicaranya yang tampak sangat bersahabat.
“Ponselku hilang. Aku bisa apa?” jawab Matteo dengan tak acuh. Ia tidak ada niat untuk bercerita kepada pria itu tentang semua hal yang telah terjadi pada dirinya dalam beberapa hari ke belakang. Akan tetapi, Damiano seakan dapat menangkap hal lain dari raut wajah Matteo, yang meskipun untuk sebagian orang tidak ada bedanya karena ekspresi Matteo yang selalu datar. Sangat berbeda dengan apa yang dilihat oleh pria berambut putih tersebut. Ia sudah sangat mengenal anak asuhnya dengan baik.
__ADS_1
"Aku harap itu benar, Nak," ucap Damiano dengan ekspresi yang tidak begitu yakin.
Damiano adalah pengasuh Matteo sejak ia berusia sekitar lima tahun. Ikatan batinnya dengan Matteo sudah tak dapat diragukan lagi. Ia bahkan telah menganggap Matteo seperti putra kandungnya sendiri. Damiano pernah menikah sebanyak dua kali. Istri pertamanya meninggal karena sakit. Itu terjadi sebelum mereka sempat memiliki keturunan. Setelah itu, ia menikahi seorang janda. Namun, hubungan yang kurang harmonis membuat pernikahannya harus kandas hanya dalam kurun waktu dua tahun. Sejak saat itulah, Damiano memutuskan untuk tidak menikah lagi. Ia lalu bergabung menjadi anggota Klan de Luca dan mengabdi dengan setia pada organisasi itu.
Dahulu, ia sering mengajari Matteo untuk berkuda. Sejak saat itulah mereka menjadi dekat, terlebih karena Matteo merupakan anak yang berkarakter tertutup dan penyendiri. Hal itu membuat Roberto memutuskan untuk menjadikan Damiano sebagai pengasuh dari putra semata wayangnya. Ia merasa jika Damiano sangat berbeda, karena dapat menyatu dengan Matteo yang cenderung pemilih.
“Ingat Theo! Tuan dan Nyonya de Luca akan pulang besok. Jika kau ingin bertemu dengan mereka, maka sebaiknya jangan pergi ke mana-mana! Lagi pula, beberapa hari lagi putri dari Tuan Bellardino akan melangsungkan pernikahannya. Mereka akan mengadakan pesta yang meriah,” tutur Damiano.
“Aku tidak peduli. Lagi pula aku tidak terlalu mengenal mereka,” sahut Matteo dengan tak acuh.
Damiano hanya tersenyum simpul. "Tidak bisa begitu itu, Nak! Undangan itu untuk semua anggota keluarga de Luca, termasuk dirimu dan Marco," bantah Damiano. "Kau tahu bukan, jika Tuan Roberto menjalin kerja sama yang baik dengan keluarga Bellardino?" Damiano kemudian melirik ke arah Coco. “Apa kau menyukai anggur, Nak?” tanyanya.
“Ya, tentu,” jawab Coco.
“Memang seharusnya seperti itu, kan?” sahut Matteo. Ia kemudian terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia tiba-tiba membunyikan lonceng. Seorang pelayan wanita segera datang menghadap dengan sikapnya yang terlihat sangat hormat. “Buatkan aku arancini!” titah Matteo.
Wanita itu segera mengangguk. Ia pun bergegas kembali ke bagian belakang rumah megah itu.
Coco dan Damiano menatap Matteo dengan bersamaan. Mereka tahu jika Matteo biasanya tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng. “Sejak kapan kau memakan arancini?” tanya Coco dengan heran. Hal sama pula yang ingin ditanyakan oleh Damiano.
__ADS_1
“Sejak aku tinggal di Venice. Seseorang selalu membawakan makanan itu untukku setiap pagi. Aku baru tahu ternyata rasanya sangat enak dan ....” Matteo terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Ia baru sadar jika dirinya terlalu banyak bicara. Pria dua puluh enam tahun itu pun mengela napas panjang seraya menggaruk keningnya. “Ini tidak bagus,” gumamnya.
“Sudah kuduga,” sahut Coco dengan yakin. Pria itu tersenyum nakal kepada Matteo. Sama halnya dengan yang dilakukan Damiano. Ia juga terlihat tidak percaya. Pria paruh baya itu tersenyum seraya terus memperhatikan putra asuhnya.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Matteo seraya beranjak dari duduknya. Ia merasa malu. Matteo lebih memilih untuk menghindar.
“Aku akan memberimu informasi nanti,” bisik Coco kepada Damiano yang masih terlihat penasaran. Ia pun beranjak dari duduknya dan segera mengejar Matteo yang telah berlalu ke bagian lain dari rumah itu.
Matteo tengah berjalan menyusuri lorong yang cukup lebar. Sementara Coco mengikutinya dari belakang, meski dengan langkah yang tidak secepat biasanya. Ia juga tampak sedikit terengah-engah. “Hey, Theo! Tunggulah sebentar!” seru Coco pelan.
Matteo tertegun. Ia pun menoleh. Ia seakan sudah tahu jika sahabatnya pasti akan bertanya macam-macam lagi padanya. Matteo tampak sedikit malas-malasan. “Mari kuantar kau ke kamarmu,” ajak Matteo. Ia mengarahkan Coco menuju kamar yang telah disiapkan untuknya. Coco mengikutinya hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang terasa begitu hangat dan nyaman.
Kamar itu memang tidak terlalu luas. Namun, fasilitas di dalamnya terbilang lengkap. Coco segera menuju ke dekat ranjang berlapis kain putih dengan empat buah bantal yang tertata rapi. Pria itu pun kemudian merebahkan dirinya di sana. “Ah, nyaman sekali,” ucapnya seraya memejamkan mata.
“Istirahatlah!” Matteo bermaksud untuk keluar dari sana. Namun, dengan segera Coco mencegahnya. Matteo tertegun dan berbalik. Mau tidak mau, ia harus sedikit bercerita kepada sahabat dekatnya itu. Matteo kemudian menghampiri Coco dan merebahkan tubuhnya di sebelah pria itu. Ia menekuk tangan kanan dan menjadikannya sebagai penyangga kepala. Pandangannya kini menyapu langit-langit kamar dengan kayu berwarna coklat tua yang dibiarkan terekspos.
“Siapa gadis itu, Kawan?” tanya Coco. Ia melakukan hal yang sama dengan Matteo.
Matteo terdiam untuk sejenak. Ia mencoba untuk menghadirkan wajah manis Mia dalam ingatannya. Matteo dapat melihat bayangan gadis itu dengan sangat jelas. Ia bahkan merasa jika Mia benar-benar ada di hadapannya. “Namanya Mia. Ia pemilik senyum terindah yang pernah kulihat. Matanya sangat bersinar. Sikapnya begitu lembut dan juga manis,” Matteo tersenyum simpul. Ia terdiam untuk sejenak dan terus membayangkan sosok Mia sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Coco melirik sahabatnya. Ia mengela napas panjang. Belum pernah ia melihat Matteo bersikap seperti itu. Sahabatnya tampak sangat berbeda. “Kau jatuh cinta padanya, Kawan?” pancing Coco.
Mendengar pertanyaan dari Coco, Matteo segera membuka matanya, Ia melirik pria yang saat itu tersenyum aneh kepada dirinya. “Jatuh cinta?” tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Matteo. Ia pun menggeleng dengan yakin.