Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Ti Amo


__ADS_3

Matteo berdiri seraya memerhatikan foto kedua orang tuanya dengan ukuran yang sangat besar. Foto dengan bingkai berwarna gold dan memiliki ukiran yang sangat indah. Sesaat kemudian, Matteo meneguk minuman dalam gelas yang ia genggam dengan tangan kanannya.


Sedih dan terpukul itulah yang Matteo rasakan kini. Ia baru kembali dan berkumpul lagi dengan orang tuanya. Namun, kini ia harus terpisah lagi dengan mereka, bahkan untuk selamanya. Untuk sesaat, Matteo menundukan wajahnya. Ia sadar jika sebenarnya serangan itu pasti ditujukan untuk dirinya, bukan untuk kedua orang tuanya. Kali ini, ia harus kembali bekerja keras untuk dapat menemukan pelaku yang telah memasang bom di dalam mobilnya.


Ingatan Matteo kembali pada orang-orang mencurigakan, yang ia lihat beberapa hari sebelum orang tuanya berangkat ke pesta itu. Hatinya semakin merasa yakin jika orang-orang itu bukan merupakan bagian dari pegawai di perkebunan. “Aku akan segera menemukan para pelakunya. Aku bersumpah!” ucap Matteo pada dirinya sendiri.


Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu dari luar ruang kerja itu. “Masuk!” seru Matteo dari dalam. Ia masih berdiri di depan foto kedua orang tuanya sambil sesekali meneguk minumannya yang hampir habis.


Seorang pria datang menghadap. Ia merupakan penjaga pintu gerbang kedua. Tidak biasnya ia datang menemui Matteo. “Tuan Muda, ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Anda,” lapor pria itu tanpa berani mengangkat wajahnya di hadapan Matteo.


“Siapa?” tanya Matteo dengan dingin dan datar.


“Seorang pemuda dan seorang gadis bernama Mia, Tuan. Mereka menunggu di gerbang pertama. Apakah Anda bersedia menemui mereka atau ....”


“Biarkan mereka menunggu di gerbang kedua!” sela Matteo. Ia meneguk habis minumannya setelah penjaga pintu gerbang itu kembali ke luar. Matteo cukup terkejut karena Mia mencari dirinya hingga ke Casa de Luca.


Dengan langkah tegap dan terlihat begitu gagah, Matteo keluar dari ruang kerja sang ayah dan menuju ke halaman Casa de Luca. Pria itu berdiri dengan angkuhnya, menatap seorang pemuda yang tidak ia kenal, tapi tak asing lagi bagi dirinya. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada gadis manis berambut panjang yang saat itu tengah menatap dirinya, dengan raut tidak percaya. Gadis itu tampak sangat kecewa.


“Biarkan mereka masuk!” seru Matteo pada kedua penjaga pintu gerbang tersebut. Dari sikap dan gaya bicaranya terhadap para penjaga itu, sudah terlihat jelas jika Matteo bukanlah orang sembarangan di sana. Tanpa harus diperintah dua kali, para penjaga pintu gerbang itu membukakan pintu untuk Mia dan Valentino.


Ragu, Mia melangkahkan kakinya saat pintu gerbang yang tinggi itu mulai terbuka. Akan tetapi, Valentino segera meraih tangan gadis itu dan menuntunnya untuk memasuki halaman Casa de Luca. Untuk sesaat, Mia begitu takjub dengan suasana di sana.


Sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan hijau pohon anggur. Mereka tampak begitu menyegarkan. Begitu juga dengan bangunan megah yang berdiri kokoh di sana. Rumah itu begitu besar dan terlihat sangat indah bagaikan sebuah istana.


Di bagian bawah halaman itu, terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai area parkir. Di sana, tampak ada beberapa mobil mewah yang semuanya berwarna hitam. Mobil-mobil itu berderet dengan rapi.


Dari kejauhan terlihat para pekerja yang tengah sibuk dengan tugas mereka. Terkadang, ada beberapa pria berpakaian serba hitam yang berlalu lalang di bagian bawah bangunan itu. Entah apa yang tengah mereka lakukan, yang pasti Mia sedikit merasa takut saat berada di sana. Ia tidak percaya kini dirinya tengah berada di tempat salah satu klan mafia yang terkenal. Namun, yang lebih tidak dapat Mia percaya ialah keberadaan Matteo di Casa de Luca.

__ADS_1


Tak ubahnya dengan Mia, Valentino merasa tidak percaya karena akhirnya ia dapat melihat suasana asli dari Casa de Luca, yang selama ini hanya ia baca lewat sebuah artikel. Valentino dapat merasakan aura yang berbeda saat berada di sana. Pemuda itu terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat tersebut, termasuk kepada Matteo.


“Ada yang bisa kubantu, Nona?” tanya Matteo dengan dingin dan datar. Sepasang mata abu-abunya menatap tajam kepada Mia yang masih terlihat tidak percaya. Gadis itu tampak kebingungan. Ia tidak tahu herus memulainya dari mana.


Ditatapnya pria yang selama ini selalu mengusik pikirannya. Mia seakan tengah memastikan jika pria itu benar-benar Matteo yang ia rindukan, dan ingin ia temui. Namun, saat ia bertemu langsung dengan pria itu, entah mengapa lidahnya terasa begitu kelu.


“Theo ....” hanya kata itu yang terucap dari bibir Mia. Namun, tatapannya tak teralihkan dari wajah rupawan di hadapannya.


“Ya, ini aku. Matteo de Luca. Kenapa kau kemari?” tanya Matteo dengan raut datar dengan nada bicaranya yang sangat dingin.


Mia tidak segera menjawab. Sesaat ia melirik kepada Valentino. “Vale, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?”


Valentino menoleh. Meskipun berat rasa hatinya menuruti permintaan Mia, tetapi pemuda itu akhirnya setuju. Ia berbalik dan melangkah ke arah pintu gerbang. Namun, sesaat kemudian ia kembali berbalik. Valentino pun berkata, “Jangan sampai kau melewati pintu gerbang ini dengan sebuah tangisan, Mia! Karena aku tidak akan pernah tinggal diam jika hal itu sampai terjadi!” ancamnya. Setelah itu, Valentino menunggu di luar pintu gerbang kedua.


Matteo masih menatap tajam kepada Mia. Hatinya berkecamuk dengan begitu kuat. Rasa rindu, bahagia, dan takut. Ya, semenjak kematian orang tuanya yang tewas dengan cara mengenaskan, Matteo telah berjanji jika kali ini ia akan benar-benar menghapus seorang Mia dari hidupnya.


Matteo masih melayangkan tatapan tajam pada gadis manis di hadapannya. “Kau kecewa, Mia? Jika memang seperti itu, maka pergilah dan jangan pernah menemuiku lagi!” balas Matteo dengan sinisnya.


Mendengar ucapan dengan nada bicara yang sangat tidak bersahabat, Mia seketika membelalakkan matanya sebagai bentuk protes kepada pria itu. “Kenapa kau sangat keterlaluan? Kau datang padaku dan memberiku sebuah harapan. Lalu, ketika aku mulai mengharapkanmu ... kau ingin mencampakanku begitu saja? Apakah semua yang telah kita lakukan tidak berarti apa-apa bagimu?” Mia menahan rasa marah dan sedih di dalam hatinya. Gadis itu terus mencoba untuk tidak meneteskan air matanya di hadapan Matteo.


Matteo tertawa dengan sinis. Ia bahkan terlihat mencibir atas kata-kata yang Mia ucapkan padanya. “Kau pikir apa? Aku sudah biasa melakukan hal seperti itu dengan semua gadis yang kukehendaki. Kau pikir kau spesial? Tidak, Mia! Kau sama saja dengan mereka, tak ada bedanya sama sekali bagiku. Jadi, lupakan anganmu yang terlalu berlebihan itu dan kembalilah ke kedai kecilmu! Pria itu jauh lebih pantas untukmu. Aku adalah Matteo de Luca, tidak sepadan denganmu, Nona!”


Seperti tersambar petir tubuh Mia kala mendengar semua ucapan yang dilontarkan Matteo kepada dirinya. Semua kata-kata yang pria itu ucapkan lebih menakutkan dari seekor singa yang sedang kelaparan. Mia tidak menyangka jika Matteo ternyata setega itu. Bagi Mia, itu adalah sebuah hinaan yang sangat menyakitkan. Seluruh harga dirinya telah hancur dan terinjak di bawah telapak kaki seorang Matteo de Luca.


“Kau sangat keterlaluan, Theo!” sergah Mia. “Aku menyesal karena telah menjadikanmu sebagai seseorang yang istimewa! Kau tidak pantas mendapatkan cinta dariku ataupun dari gadis manapun, Tuan de Luca yang terhormat! Tidak seharusnya aku menemuimu kemari!” Mia mengakhiri semua unek-uneknya terhadap Matteo. Setelah itu, ia membalikan badannya dan berlalu menuju gerbang kedua.


Matteo terpaku menatap kepergian gadis itu. Ia sempat melihat Mia menyeka sudut matanya. Matteo pun ikut membalikan badannya. Namun, baru saja ia berbalik, terdengar sebuah seruan yang ditujukan untuknya. Matteo menoleh, tanpa diduga pukulan keras mendarat di wajah tampannya.

__ADS_1


Valentino memukul Matteo berkali-kali. Namun, Matteo tak membalasnya sama sekali, meskipun bibirnya kini sobek dan mengeluarkan darah. Ia bahkan melarang anak buahnya yang sudah siap mengeluarkan senjata dan mendekat.


“Hentikan, Vale!” tubuh mungil nan rapuh Mia sekuat tenaga menghalau Valentino yang kesetanan.


“Aku tidak percaya ini, Mia! Kau masih juga membelanya?” sentak Valentino.


“Aku bilang hentikan! Kita pulang sekarang!” tegas Mia seraya menarik lengan Valentino hingga menjauh dari Matteo.


“Aku akan memastikan kalian berdua tidak akan kembali lagi kemari!” ancam Matteo.


Lagi-lagi, Mia terluka oleh kalimat pria rupawan yang sudah berhasil singgah di hatinya itu. Mia berbalik dan melotot tajam kepada Matteo. Namun, entah kenapa sorot mata abu-abunya terlihat memilukan. 


“Baiklah, Theo jika itu yang kau inginkan!” Mia menarik gelang paracord hitam putih yang selama ini terpasang di pergelangan tangannya. Gelang pemberian Matteo yang selama ini selalu ia jaga sepenuh hati, kini ia lemparkan tepat ke wajah pria itu. “Seandainya malam itu tidak pernah terjadi,” ucap Mia pelan sebelum ia benar-benar meninggalkan Casa de Luca bersama Valentino.


Matteo hanya bisa menatap punggung Mia menjauh, dan menghilang di balik gerbang.


Setitik kesedihan muncul di sudut matanya. Ia merasakan seseorang menepuk pundaknya dengan pelan. Adalah Coco yang kini berdiri di sampingnya. Ia merengkuh pundak Matteo.


“Apa yang kau lakukan tadi sudah benar, Amico. Jangan lagi menyeret orang-orang tak bersalah masuk ke dalam hidupmu yang penuh bahaya. Gadismu akan lebih aman saat ia berada jauh darimu,” ucapan Coco terasa menusuk sanubari Matteo.


“Kau benar,” sahut Matteo lirih. Inilah jalan hidup yang ia pilih. Hidup yang tak memungkinkannya untuk mencintai ataupun dicintai.


“Coco, bolehkah aku meminta satu hal padamu?” Matteo memandang penuh harap pada sahabatnya itu.


“Katakan. Sebisa mungkin aku akan membantu,” jawab Coco.


“Bisakah kau mengikuti Mia dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja?” tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2