
Tak ada yang mendengar gumaman lirih Adriano saat itu, karena semua orang di sana panik melihat keadaan Mia. Wanita itu kembali mengalami serangan kecemasan, membuat Matteo bertanya-tanya, apakah yang menyebabkan penyakit mental itu datang kembali.
“Apakah Mia tak membawa obatnya?” tanya Francesca was-was.
“Kurasa tidak,” jawab Matteo pelan. “Bodohnya aku! Kukira ia telah sembuh,” pria bermata abu-abu itu merutuki dirinya sembari mengangkat Mia dalam gendongannya. “Bawa kami ke rumah sakit terdekat, Tuan D’Angelo!” pintanya kemudian kepada Adriano yang masih tertegun memperhatikan keadaan Mia.
“Tentu saja!” Adriano yang saat itu segera tersadar, segera bergerak dengan cepat. Ia memerintahkan beberapa anak buah yang selalu siaga di sekelilingnya untuk menyiapkan kendaraan untuk membawa Mia ke rumah sakit.
“Bagaimana denyut nadinya?” tanya Daniella yang berjalan mensejajari Matteo. Coco sigap meraih pergelangan tangan Mia dan sedikit menekannya.
“Sepertinya normal,” jawab Coco tanpa menghentikan langkahnya, karena kini Matteo berjalan semakin cepat memasuki mobil SUV hitam yang sudah disiapkan oleh anak buah Adriano.
“Kalian berkemaslah! Setelah ini kita akan segera kembali ke Italia,” ujar Matteo yang segera dituruti oleh Marco dan yang lainnya.
Sementara Adriano hanya bisa bergeming di pintu mansion sambil memandangi kendaraan yang membawa Mia sampai hilang dari pandangannya. Terlihat rona penyesalan dengan sangat jelas pada paras rupawannya yang tampak kacau. Ia begitu mencemaskan keadaan Mia, dan tentu saja menyesali kebodohannya yang tak mampu mengendalikan diri.
Mata Coco awas memperhatikan pria rupawan itu. Raut wajah Adriano yang aneh dan tak dapat ditebak, membuatnya sedikit curiga. Oleh karena itu, ia tidak mengikuti kakak beradik Daniella dan Francesca serta Marco menuju kamar masing-masing. Coco lebih memilih mendekati Adriano.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi dan mungkin berhubungan dengan serangan panik yang dialami oleh Mia?” selidik Coco seraya menatap Adriano tajam.
“Apakah Mia sering mengalami hal yang demikian?” Adriano malah balik bertanya.
Coco terdiam sejenak sambil mengamati wajah tampan itu. “Mia memiliki riwayat gangguan kecemasan yang timbul akibat trauma masa lalu,” jelasnya. “Sebelum menikah dengan Matteo, Mia pernah menikah dengan seorang pria bernama Valentino. Namun, nahas karena di pesta pernikahan mereka, Valentino dan ayah kandung Mia harus tewas di tangan anak buah Antonio. Mereka berdua meninggal tepat di hadapannya,” lanjut Coco, "hingga kini, Mia selalu seperti itu jika ia merasakan suatu ketakutan yang berlebih dan ia anggap sebagai sebuah ancaman."
“Jadi, itu yang melatarbelakangi penyakitnya?” nada suara Adriano terdengar bergetar. Ia sama sekali tak menyangka jika Mia memiliki masa lalu yang kelam. Penyesalan dan rasa bersalahnya kian menumpuk, membuat Adriano merasa begitu lemah dan tak berdaya.
“Aku permisi sebentar, Tuan Ricci,” pamitnya beberapa saat kemudian.
__ADS_1
“Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya? Pada Mia?” tanya Coco sebelum pria itu melangkah semakin jauh darinya. Sementara Adriano yang sudah berjalan membelakangi Coco hanya membeku tanpa membalikkan badan. Pada akhirnya, pria itu tak menjawab dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Gawat!” gumam Coco pelan. Untuk beberapa saat ia memilih duduk di sofa ruang tamu sembari berpikir. Penyakit Mia itu tak pernah datang tiba-tiba. Selalu ada alasan kuat yang menyebabkan kepanikan itu muncul dan insting Coco mengatakan bahwa Adriano ada hubungannya dengan itu semua.
Akan tetapi, Coco tak bisa menuduh Adriano tanpa adanya bukti. Ia juga tak bisa menceritakan hal yang masih samar itu kepada Matteo. Coco takut jika tebakannya keliru, sehingga ia memutuskan untuk menyelidiki Adriano diam-diam dan perlahan, tanpa membuat siapapun curiga. Ia akan kembali menjadi seorang pengintai seperti dulu, tanpa diketahui termasuk oleh si pemilik mansion mewah itu.
Sementara di rumah sakit, Mia telah mendapatkan suntikan obat penenang dan kondisinya mulai berangsur normal. Ia juga sudah siuman saat itu. “Theo?” de•sahnya lirih.
“Aku di sini, Cara mia,” Matteo yang sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya pada jemari lentik Mia, segera mencondongkan wajah sehingga mendekat ke arah sang istri.
“Aku ingin pulang,” ucap Mia lemah.
“Baiklah, kita pulang sekarang,” sahut Matteo cepat. “Apakah tubuhmu sudah cukup kuat untuk melakukan perjalanan, Sayangku?” Matteo masih terlihat ragu karena melihat kondisi Mia.
“Aku ingin pulang, Theo,” ulang Mia lagi dengan sedikit memaksa.
“Terima kasih,” satu tangan Mia yang bergerak bebas, menyentuh punggung tangan Matteo serta membelainya. Sekilas, ia melihat sebuah tato baru di atas punggung tangan kiri suaminya itu. “Aku menyukai tato barumu. Kapan kau menggambar ini?” tunjuk Mia pada tato bergambar nama Mia dengan sebuah belati.
“Aku menggambarnya sendiri di bengkel, sebelum kita berangkat ke Monaco,” Matteo mengulum senyumnya.
“Kenapa namaku dengan belati?"
“Karena kau sangat mematikan untukku, Cara mia," jawab Matteo sambil mengecup lembut punggung tangan Mia.
"Begitukah?"
"Ya. Kau telah mematikan Matteo yang lama, sekaligus menghidupkan Matteo yang baru," jelas pria bermata abu-abu itu.
__ADS_1
"Apa boleh jika aku juga membuat tato?"
Bukannya menjawab, Matteo malah tergelak. “Kenapa kau tiba-tiba ingin ditato, Sayang? Itu tidak sesuai dengan imagemu yang lemah lembut,” jawabnya.
“Aku tidak ingin terlihat lemah lembut, Theo. Aku ingin terlihat garang, seperti dirimu sehingga tak akan ada seorang pun yang berani melecehkanku,” kilah Mia membuat Matteo seketika tersentak. Pria itu sepertinya akan segera tersulut emosi.
“Katakan padaku, memangnya siapa yang berani melecehkanmu, Cara mia? Jika itu terjadi, maka akan kupastikan bahwa orang tersebut tidak akan bernapas lebih lama di dunia ini,” ujar Matteo berapi-api.
Namun, dengan segera Mia mengelus lembut punggung tangan sang suami. "Tidak akan ada yang berani melecehkan istri dari Matteo de Luca," jawab Mia lembut.
“Lalu, kenapa tiba-tiba kau ingin ditato? Apakah kau sedang mengidam?” Matteo mengangkat alisnya dan tersenyum lebar.
“Entahlah, tapi kita baru beberapa kali bercinta, setelah ....” Mia tiba-tiba kehabisan kata-kata.
“Sekali saja sudah cukup untuk membuat Matteo atau Mia kecil di dalam sini,” ujarnya sambil mengusap lembut perut rata Mia.
“Aku tetap ingin dibuatkan tato,” paksa Mia yang ternyata masih tak lupa dengan keinginannya.
"Baiklah, katakan kau ingin tato seperti apa, Sayangku?"
"Aku juga ingin mengukir namamu di tanganku, Theo. Aku harap, dengan begitu maka semua orang akan mengetahui bahwa Mia memiliki Matteo dalam hidupnya, dan tak mungkin terhapus. Jika kuhilangkan tato itu, maka kulitku tak akan terlihat cantik lagi. Sama seperti hidupku yang akan kehilangan keindahannya jika kehilanganmu," jelas Mia.
Seketika Matteo terdiam mendengar hal itu. Rasa haru menyeruak dan memenuhi rongga dadanya. Didekatkannya bibirnya pada bibir ranum Mia. Ia mencium wanita itu dengan lembut dan penuh perasaan, sampai-sampai mereka berdua tak menyadari ketika pintu ruang perawatan diketuk dan terbuka.
“Maaf mengganggu Anda, Bos. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa helikopter telah siap. Semuanya sudah menunggu Anda,” lapor Zucca yang berdiri tegak di depan pintu.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan memberitahu dokter terlebih dahulu,” sahut Matteo sambil menekan tombol yang terletak di atas kepala ranjang. Senyuman lembut terlukis di wajah Mia.
__ADS_1