
Mia terus berada di sisi Matteo. Dengan setia ia menemani sang suami dan hanya beranjak sejenak ketika dirinya harus ke kamar mandi. Seperti halnya hari itu, dengan lembut dan penuh kasih, ia membelai mesra kening suaminya yang tengah tertidur lelap.
Matteo sendiri pun tampak begitu tenang dan nyaman saat itu. Sedangkan Damiano begitu terenyuh melihat kasih sayang dan kelembutan yang ditunjukkan olah Mia, hingga tanpa sadar ia mendekat dan mengusap punggung wanita muda itu seraya tersenyum. “Theo tidak salah dalam memilih pendamping hidupnya,” ucap pria paruh baya itu dengan penuh haru. Namun, masih ada seutas senyuman di wajah yang mulai dihiasi beberapa kerutan itu.
Setengah terkejut, Mia mendongak dan membalas senyuman Damiano. “Terima kasih, Paman. Theo juga sangat beruntung memiliki seseorang seperti Anda di sampingnya,” sanjung Mia yang membalas pujian dari Damiano.
Damiano terkekeh pelan. Ia lalu memalingkan mukanya. Damiano tak ingin Mia melihat setitik air keharuan yang muncul di sudut matanya. Bersamaan dengan itu, terdengar ketukan pelan di pintu ruang perawatan Matteo. Damiano segera beranjak ke arah pintu dan membukanya. Pria itu kembali tersenyum lebar. “Masuklah, Le Signore (nona-nona),” ujarnya.
Francesca dan Daniella mengangguk hormat. Mereka kemudian menghampiri Mia sembari menyerahkan travel bag besar berwarna hitam. “Kubawakan baju-bajumu, Mia. Gantilah pakaianmu sebentar,” suruh Daniella.
“Iya. Aku takut melihatnya. Gaunmu penuh noda darah dan juga berbau anyir, tercium sangat tajam,” keluh Francesca.
Mia hanya tersenyum menanggapi celotehan kedua saudarinya itu sambil menerima tas tersebut. “Aku akan berganti pakaian dulu,” pamitnya. "Tolong jaga suamiku sebentar," lanjutnya. Ia beranjak ke dalam kamar mandi.
“Ah, kubawakan sepatu juga untukmu!” seru Francesca sesaat setelah Mia menutup pintu kamar mandi.
“Terima kasih, Francy!” seru Mia dari dalam.
Mata tua Damiano memperhatikan dengan saksama keakraban tiga saudari itu. Ia hanya bisa berdecak kagum. “Apakah kalian selalu seperti ini? Saling menjaga satu sama lain?” tanyanya entah ditujukan untuk siapa.
“Kami tak punya siapa-siapa lagi, Tuan. Hanya Dani dan Mia yang kupunya. Begitu pula Dani. Beruntungnya Mia karena sudah menemukan tambatan hati yang sepertinya sangat mencintainya,” celoteh Francesca seraya melirik Matteo yang masih terlelap karena pengaruh obat.
“Sepertinya?” ulang Damiano sambil mengernyitkan dahi.
“Ya, aku sedikit tidak percaya tipe pria seperti Matteo de Luca bisa bertahan hanya dengan satu wanita,” jawab Francesca tanpa ragu. Sementara Daniella mengangkat kedua bahunya.
“Begitukah menurut kalian?” suara Damiano seakan tidak setuju dengan pernyataan gadis di depannya.
“Ya!” sela Daniella. “Apalagi insiden saat pesta itu membuat kami ragu, karena Matteo tidak tegas,” lanjutnya dengan berapi-api.
“Seandainya aku jadi Matteo, maka sudah pasti aku akan menjambak rambut Camilla,” geram Francesca seraya mendekatkan wajahnya pada Damiano yang seketika membuat pria paruh baya itu terbahak.
“Kusarankan agar kalian menghilangkan keraguan itu, karena anakku Theo sama sekali tidak seperti yang kalian pikirkan. Kalian tidak pernah tahu, tiga tahun yang lalu, ia seakan kehilangan arah, linglung dan tak bisa berpikir dengan jernih. Sedangkan Camilla, ia hanya berada pada waktu dan tempat yang salah,” tutur Damiano hati-hati.
Francesca sudah hampir menyanggah kalimat Damiano karena merasa tak terima. Akan tetapi, segera ia tahan karena Mia sudah selesai berganti pakaian dan berjalan menghampiri mereka. “Kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali,” guraunya.
“Ah, tidak ada, Mia! Kami hendak berpamitan,” sahut Daniella segera. “Kulihat kau sudah mendapat banyak bantuan di sini. Lagi pula, aku sudah meninggalkan restoran terlalu lama,” lanjutnya.
“Aku juga sudah terlalu lama izin kuliah dan pekerjaanku mulai menumpuk,” timpal Francesca.
__ADS_1
Sebenarnya, Mia merasa berat berada jauh dari kedua saudarinya itu. Akan tetapi, ia sadar bahwa kakak dan adiknya juga mempunyai kesibukan masing-masing. Akan sangat egois jika Mia memaksa Daniella dan Francesca agar terus menemaninya di sana. Pada akhirnya, Mia memaksakan senyumnya seraya berucap, “Kalian berhati-hatilah. Maaf aku tidak bisa mengantar.
Kira-kira, apakah mungkin salah satu pilot paman Damiano bisa mengantarkan Francy dan Dani menuju Roma?” Mia segera mengalihkan perhatiannya pada Damiano dan memandang dengan penuh harap.
“Tentu saja, Nak. Kau bisa menyuruh mereka untuk melakukan apapun. Kau adalah istri dari sang ketua,” jawab Damiano dengan lembutnya.
“Grazie, Paman. Aku belum terbiasa dengan hal itu,” ucap Mia malu-malu. Tanpa ragu, ia mengecup pipi Damiano. Setelah itu, Mia kemudian memeluk Francesca dan Daniella secara bergantian. “Kabari aku setelah kalian tiba di Roma. Dani, tolong kelola restoran itu dengan baik. Kau tahu bukan, aku sudah sangat bekerja keras untuk membangunnya," pesan Mia kepada Daniella.
"Kau tenang saja, Mia. Aku akan belajar untuk membiasakan diri berdiam di satu tempat. Ah, mungkin kapan-kapan aku akan mengunjungimu di Casa de Luca, saat aku merasa bosan," ujar Daniella. Ia mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Ya, tentu saja. Kau punya akses masuk dengan leluasa ke sana. Begitu kan, paman?" Mia melirik Damiano yang saat itu segera mengangguk setuju.
"Baiklah, Mia. Aku tunggu di luar saja. Aku takut menangis jika terlalu lama di sini," celoteh Daniella lagi. Ia sempat memeluk dan mencium kening Mia sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
Perhatian Mia kini beralih kepada Francesca. "Francy, kau masih ingat semua yang kita bicarakan beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Pulau Elba?"
Francesca terdiam dan berpikir. "Yang mana, Mia?" tanyanya seraya berusaha untuk mengingat-ingat.
"Tentang hubunganmu dengan Fillipo," bisik Mia. Ia tak ingin Damiano mendengar percakapannya dengan sang adik.
Seketika raut wajah Francesca tampak berubah. Namun, tak berselang lama gadis itu pun tersenyum. "Aku sudah membahasnya dengan Ricci. Bisakah kau mengawasinya selama aku tidak ada? Terus terang saja, aku merasa sedikit takut," Francesca balas berbisik.
“Hei, kalian sudah terlalu banyak bicara. Francy, kita harus segera pergi. Semakin lama kalian berpamitan, maka akan semakin sulit untuk berpisah," ujar Daniella. "Lagi pula, kita meninggalkan Mia berada di dekat orang-orang yang menyayanginya. Aku rasa, selama Matteo berada di sampingnya, tidak ada satu hal pun yang perlu kita khawatirkan, Francy."
Mia sangat terharu mendengar penuturan Daniella. Tak pernah terbayangkan jika sikap Daniella yang dulu selalu ketus dan memusuhinya, kini bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Daniella terlihat sangat menyayanginya.
“Aku akan menghubungi pilot agar bersiap,” ucap Damiano sembari beringsut ke sisi ruangan untuk menelepon. Sementara Damiano menelepon, Mia kembali ke sisi Matteo saat ia mendengar suaminya itu mengerang pelan. “Ada apa, Theo? Apa kau merasakan sakit?” Mia yang khawatir segera memeriksa perban yang melilit bahu kanan dan dada suaminya itu. Namun, ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
“Aku haus,” ucap Matteo lirih.
Dengan telaten, Mia mengambil air minum di atas meja kecil yang telah disediakan oleh perawat, beberapa jam yang lalu. Pelan-pelan ia meminumkannya kepada Matteo.
Matteo meneguknya perlahan, kemudian berhenti. “Apakah ini di kedaimu, Mia?” tanyanya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
“Kau sudah bisa bercanda rupanya,” Mia tertawa pelan. Ia mengecup pipi suaminya berkali-kali hingga pria itu meringis kesakitan.
“Ah, maafkan aku. Apakah gerakanku terlalu keras?” tanya Mia panik.
Matteo menggeleng lemah. Ia berusaha meraih tangan Mia. “Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana,” ucapnya pelan.
__ADS_1
Francesca dan Daniella yang kembali masuk, hanya mampu terpana melihat keintiman sepasang suami-istri itu. Akan tetapi, semuanya harus terhenti tatkala terdengar kembali suara ketukan.
“Mungkin itu Zucca yang mengabarkan bahwa transportasi sudah siap,” Damiano bergegas membuka pintu dan tertegun, karena sosok yang dilihatnya bukanlah seseorang yang ia perkirakan. “Marco?” desisnya. Sontak semua mata tertuju pada pemuda jangkung yang berdiri di ambang pintu, tak terkecuali Matteo.
“Bolehkah aku masuk?” tanya Marco.
Damiano yang sempat terkejut, segera mengontrol ekspresi wajahnya dan mempersilahkan pemuda itu untuk masuk. Marco sempat berterima kasih sebelum tatapannya bersirobok dengan Daniella. Pandangannya kemudian beralih kepada Francesca dan Mia. “Aku kemari untuk meminta maaf,” jelasnya.
“Um, Mia sebaiknya kami pergi sekarang,” potong Daniella sembari memberi isyarat pada Francesca.
“Ah, kebetulan. Zucca juga sudah datang. Ia yang akan mengantar kalian ke landasan helikopter terdekat,” Damiano mengayunkan tangannya sebagai tanda agar dua kakak beradik itu mengikutinya keluar.
Kini, tinggal mereka bertiga yang saling berpandangan dalam diam. Ragu-ragu, Marco mendekati ranjang dan memegang lengan Matteo, “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
“Aku masih hidup dan sudah lebih baik,” jawab Matteo datar.
Marco terdiam sejenak. Raut wajahnya memancarkan kesedihan dan beban yang teramat berat. Cukup lama mereka kembali membisu, sampai akhirnya Marco berlutut di samping ranjang. Kepalanya sejajar dengan tubuh Matteo yang terbaring. Marco mulai menangis kencang hingga bahunya berguncang. “Maafkan aku, Theo. Aku tahu aku pengecut. Seharusnya aku mengatakan semua kejahatan ayahku sejak awal, tapi aku terlalu takut,” ujarnya.
“Aku tidak pernah berani melawan Padre, karena ia akan selalu menodongkan pistolnya padaku. Sedari aku kecil hingga dewasa, Padre tak pernah berubah. Oleh karena itu, aku … aku .…” Marco tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia malah menunduk dan menempelkan keningnya di tangan Matteo seraya terisak.
Matteo hanya bergeming melihat hal itu. Ia melirik Mia sekilas yang tampak iba kepada Marco. Pandangannya lalu kembali memperhatikan Marco yang masih menyembunyikan wajahnya. “Aku juga minta maaf karena telah membunuh satu-satunya orang tuamu yang tersisa, tapi Antonio memang pantas mendapatkan itu semua,” Matteo tak menyebut ‘paman’ sebelum nama Antonio.
Marco mengangguk dan mengusap air matanya. Ia juga tak akan menyalahkan Matteo karena memang semua kesalahan, berada pada sang ayah.
__ADS_1