
Seketika raut wajah Mia menjadi serius saat mendengar ucapan Coco tentang Adriano. Ia yang telah mengetahui siapa pria itu sebenarnya, tentu saja merasa khawatir dengan temuan yang Coco kemukakan di hadapan Matteo. Sementara Matteo sendiri tampak berpikir dengan dalam. Pria itu memicingkan kedua matanya, seperti tengah menelaah sesuatu.
“Bukankan Vincenzo telah tiada? Aku rasa itu bukan sesuatu yang aneh. Bisa saja ‘kan Adriano membeli atau mungkin ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya ketika Matteo dan Coco serempak menoleh kepadanya. “Aku tidak akan berkomentar lagi,” rajuk Mia menanggapi arti tatapan kedua pria tersebut pada dirinya. Wanita itu merasa tersinggung dengan sikap yang ditunjukan Coco dan Matteo. Padahal itu hanya merupakan sebuah respon yang biasa saja.
“Aku harap kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami, Mia,” ucap Coco curiga, berhubung ia pernah menemani Mia untuk bertemu secara pribadi dengan Adriano D’Angelo.
“Apa maksudmu, Ricci? Kau menuduhku mengkhianati Theo? Keterlaluan!” Mia melipat kedua tangannya di dada kemudian memalingkan wajah dari para pria itu. Hal tersebut lagi-lagi membuat Coco dan Matteo saling pandang. Mia menjadi semakin kesal karena pembahasan tadi.
“Apa aku salah bicara, Amico?” tanya Coco sstengah berbisik.
“Bersabarlah, Mia sedang sensitif,” jawab Matteo pelan.
“Aku mendengar ucapan kalian berdua, Tuan-tuan!” protes Mia dengan wajah cemberut.
“Astaga, Cara mia. Aku benar-benar tidak dapat berpikir dengan jernih karena melihat sikap anehmu ini,” keluh Matteo seraya berdecak tak mengerti.
“Kau tidak harus berpikir, karena saat ini aku hanya ingin makan buah lemon,” jawab Mia seenaknya. “Mulutku seperti kehilangan semua semua cita rasanya. Lidahku mungkin sudah tidak bisa berfungsi dengan baik dalam mengecap makanan atau apapun itu. Rasanya sungguh tidak nyaman, Theo,” ujar Mia setengah merengek manja, membuat Matteo dan Coco kembali terheran-heran.
“Oh, Amico. Sayangnya niatku untuk menikah sudah bulat. Aku rasa, aku juga harus mempersiapkan mental untuk menghadapi hal seperti ini. Doakan agar aku kuat dan tak memukul kepalaku dengan kunci inggris,” celoteh Coco yang tak digubris sama sekali oleh Mia. Wanita yang tengah mengidam itu sedang sibuk merajuk, karena alasan yang tidak jelas sama sekali.
“Ya, sudah. Kita lanjutkan saja perbincangan ini nanti. Kepalaku rasanya sudah mengeluarkan asap tebal. Aku harus mengantar Mia untuk periksa ke dokter kandungan,” ucap Matteo seraya mengenakan kaca mata hitamnya dan mulai menghidupkan mesin mobil.
“Jangan lupa, tanyakan pada dokter kenapa istrimu bisa menjadi aneh seperti ini, Theo,” celoteh Coco lagi, yang kali ini membuat Mia mendelik padanya. Akan tetapi, wanita itu tak menanggapi celotehan Coco sama sekali, karena pria berambut ikal tersebut segera menunjukkan salam dua jari kepada istri dari sahabatnya itu. Coco kemudian sedikit menjauh dari mobil jeep yang tak lama kemudian mulai melaju dengan tenang meninggalkan area garasi luas Casa de Luca.
Hari itu, Matteo membawa Mia memeriksakan kandungannya pada dokter spesialis di sebuah klinik khusus ibu dan anak. Setelah sabar mengantri selama hampir satu jam, akhirnya giliran mereka pun tiba. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Matteo memperhatikan ketika dokter yang merupakan seorang pria seumuran dengan Damiano, memeriksa Mia. Sesekali, Matteo melihat pada layar komputer yang menampakkan sebuah gambaran di dalam perut Mia. Namun, Matteo sama sekali tak dapat memahami maksud dari gambar tersebut. Ia hanya manggut-manggut ketika dokter berambut pirang itu menjelaskan sesuatu tentang kehamilan sang istri.
__ADS_1
“Jadi begini, Tuan dan Nyonya de Luca. Berhubung usia kehamilan ini masih muda, baru sekitar enam minggu, maka sebaiknya Anda ektsra hati-hati. Usia kehamilan seperti ini masih terlalu riskan. Namun, itu bukan berarti membuat Anda merasa terbatasi dalam melakukan sesuatu, hanya saja lebih dikontrol dan jangan terlalu diforsir. Ingat untuk selalu beristirahat dengan baik dan jangan terlalu lelah,” jelas dokter tersebut.
“Apakah kami masih bisa melakukan hubungan suami-istri ... maksudku ....” Matteo kebingungan menata kata-katanya sendiri. Sedangkan Mia hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya. Akan tetapi, dokter itu sudah dapat memahami maksud dari pertanyaan Matteo. Ia pun tersenyum simpul.
“Tidak ada larangan untuk berhubungan, selama itu dilakukan dengan hati-hati dan istri Anda tidak merasa keberatan tentunya, karena biasanya dalam kehamilan muda seperti ini akan terjadi perubahan hormon yang mungkin bisa mempengaruhi kondisi badan istri Anda. Satu hal lagi, gunakan pengaman saat berhubungan selama kehamilan,” jelas dokter itu lagi membuat Matteo cukup dapat memahaminya. Dengan begitu, ia tak merasa heran lagi jika kini Mia bertingkah aneh dan tak biasa. Itu semua disebabkan karena rasa tidak nyaman akibat perubahan hormon dalam tubuhnya.
Setelah menuliskan resep untuk Mia, dokter itu mempersilakan sepasang suami-istri tersebut untuk keluar karena pemeriksaan hari itu telah selesai. Matteo menggenggam pergelangan tangan Mia dan menuntunnya menuju apotik yang masih berada dalam klinik tersebut. Matteo kemudian menyerahkan resep vitamin beserta obat lainnya dari dokter kepada seorang petugas apotik. Mereka kembali menunggu untuk beberapa saat lamanya.
Seperti biasa, Mia duduk sambil meletakkan kepalanya di pundak Matteo. Ia memainkan jemari sang suami, dan sesekali mengusap-usap perlahan punggung tangan pria itu yang berhiaskan tato namanya. Mia kemudian tersenyum sendiri.
“Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang lucu?” tanya Matteon pelan.
“Kau yang lucu, Theo. Kau teramat lucu hingga aku merasa begitu gemas padamu,” jawab Mia seraya mencubit dagu berhiaskan janggut tipis sang suami.
“Oh, tidak. Jangan menggodaku di tempat umum seperti ini, Sayang,” Matteo menanggapi sikap manja Mia dengan begitu sabar. Ini adalah pengalaman pertama untuk keduanya, meskipun merupakan kehamilan kedua bagi Mia. Namun, saat itu Matteo belum sempat menyaksiksan seberapa manjanya sang istri.
“Ya. Aku ingin menyantap makanan dengan cita rasa yang kuat, Theo, aku tidak nyaman dengan keadaan seperti ini,” keluh Mia dengan sedikit merengek. Sikap dewasanya tak terlihat sama sekali saat itu. Mia menjadi begitu mudah tersentuh dan menangis.
“Aku akan mengantarkan ke manapun kau mau, Cara mia. Restoran Jepang, Cina, atau kau ingin seafood?” tawar Matteo.
“Seafood sepertinya lezat,” balas Mia lirih. Kepalanya masih tetap bersandar di bahu Matteo. Tak berapa lama, seorang suster berseru memanggil nama belakang Matteo melalui pengeras suara.
“Tunggu sebentar, Sayang,” Matteo menegakkan kepala Mia dan mengecup keningnya lalu bergegas mengambil obat. Setelah itu ia kembali menghampiri Mia. Dengan lembut, pria itu mengajaknya berdiri, “Apakah kau ingin digendong lagi?” tawar Matteo dengan senyum geli.
“Astaga, tidak, Theo! Memalukan sekali!” sungut Mia seraya menepuk lengan suaminya pelan.
__ADS_1
Matteo terkekeh sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Mia. “Mulai saat ini kau harus makan banyak. Ada dua nyawa yang harus kau beri makan,” tuturnya dengan nada seperti seorang ibu yang tengah menasihati putrinya.
Langkah mereka pelan tapi pasti menuju tempat parkir.
“Aku tidak mau menjadi gemuk dan jelek. Nanti kau akan berpaling dariku,” tolak Mia kembali merengek manja.
“Astaga, kau masih juga tak mempercayaiku, Cara mia. Aku tak peduli bagaimanapun bentuk tubuhmu, asalkan kau tetap menjadi Florecita Mia yang telah mengobati luka-lukaku dan mengisi hati serta hidupku yang kosong,” tegas Matteo. Diangkatnya dagu sang istri hingga menatap lurus padanya. Diciumnya bibir ranum itu dengan lembut dan penuh perasaan. Tak peduli mereka kini ada di parkiran dan menjadi perhatian beberapa orang yang lewat. Adegan romantis itu berakhir kala perut Mia berbunyi nyaring.
“Astaga,” Mia menutupi mulutnya karena malu, membuat Matteo terbahak dan memutuskan untuk mengajak Mia memasuki mobil. Akan tetapi, ketika Matteo hendak menyalakan jeep kesayangannya itu, ia merasakan ada sesuatu yang janggal.
“Turunlah dulu dari kendaraan, Cara mia,” suruh Matteo datar.
“Kenapa?” Mia memandang suaminya tak mengerti.
“Turunlah,” ulang Matteo sekali lagi dengan raut yang penuh arti.
Mia pun menuruti perintah sang suami. Ia keluar dari kendaraan dan menjauh beberapa langkah. Sementara Matteo ikut keluar dan berjongkok di samping mobil dan memeriksa dengan saksama di bagian bawah mobil. Matteo akhirnya bernapas lega ketika tak menemukan apapun yang mencurigakan di sana.
“Kenapa, Theo? Kau membuatku takut,” Mia yang sedari tadi menjauh, kini memberanikan diri untuk mendekat.
“Tidak apa-apa, Cara mia. Aku hanya terlalu berpikiran buruk. Kau tahu bukan, jika kejadian meledaknya mobil yang ditumpangi oleh orang tuaku dulu, sedikit banyak mempengaruhi pikiran dan membuatku trauma,” terangnya sembari tersenyum samar.
“Ah, Sayangku. Kau terlalu berpikir berlebihan,” hibur Mia. Dipeluknya tubuh tegap Matteo erat-erat sambil mengusap punggungnya.
......................
__ADS_1
Di tempat lain, di suatu sudut distrik di Ostria, Adriano juga tengah berjongkok memeriksa sesosok mayat yang tergeletak begitu saja di depannya. Benigno berdiri waspada di belakang Adriano. “Bagaimana, Tuan? Harus saya apakan mayat ini?” tanyanya.
“Bawa mayat ini ke hadapan Sergei Redomir! Jadikan peringatan untuk pria itu agar ia tidak bertindak gegabah! Ingatkan padanya bahwa akulah yang tetap memegang kendali atas semuanya!” titah Adriano tegas sambil berlalu dari sana. Pria itu melangkah dengan begitu gagah sambil memakai kaca mata hitamnya. Ia menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya tadi.