Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Sang Maestro


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian, Matteo kemudian memarkirkan mobil jeep kesayangannya di depan sebuah bangunan yang merupakan bengkel tempat perakitan senjata miliknya. Ia segera melepas sabuk pengaman dan turun. Adriano pun mengikutinya, begitu juga dengan Valerie. Mereka berdua berdiri sesaat dan memandangi bangunan yang terlihat unik tersebut, hingga Matteo muncul bersama Mia di atas kursi rodanya.


Matteo kemudian mendorong kursi roda itu ke dekat pintu masuk yang terbuat dari besi. Ia membuka gemboknya dan menggeser pintu tersebut. “Ah, Theo. Seharusnya aku tak perlu ikut. Lihatlah, aku sangat menyusahkanmu,” sesal Mia ketika Matteo membopong tubuhnya saat menuruni anak tangga untuk turun.


“Jangan banyak bicara atau aku aku menciummu tanpa berhenti,” bisik Matteo, membuat Mia seketika terdiam. Wanita itu tersenyum geli dengan ucapan sang suami. Matteo kemudian mendudukkan Mia di atas meja dengan lampu sorot yang sudah dinyalakan. Meja yang dulu pernah mereka gunakan untuk melepaskan hasrat bersama. “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan kursi rodamu,” ucap Matteo lagi. Ia berbalik dan tertegun. Adriano ternyata sudah membawakan kursi roda itu untuk Mia.


“Maafkan kelancanganku, Tuan de Luca. Aku hanya ingin membantu,” ucap pria itu sopan. Sedangkan Valerie hanya senyum-senyum seraya memainkan rambut kepangnya.


“Terima kasih, Tuan D’Angelo. Kau telah sangat membantu,” balas Matteo seraya mengambil kursi roda yang ada di tangan Adriano. Sementara pria bermata biru itu membalasnya dengan sebuah senyuman simpul seraya mengangguk sopan.


“Kau pintar mencari perhatian,” bisik Valerie kepada saudara angkatnya itu. Adriano membalas ledekan gadis bertato tersebut dengan menarik pelan salah satu kepangnya, sehingga membuat Valerie meringis kecil. Sementara Mia kini telah berpindah ke atas kursi rodanya.


“Bengkelmu sungguh nyaman, Tuan de Luca. Tata ruangnya juga sangat unik. Aku seperti sedang berada di dalam gua bawah tanah. Ini sangat keren,” ujar Valerie seraya duduk di atas meja. Sepasang bola matanya yang berwarna hitam, terus bergerak dan menyapu setiap sudut ruangan itu. Sementara Matteo tengah mengambil beberapa peralatannya di dalam brankas besi.


“Aku senang jika kau nyaman dengan tempat ini, Nona Nikolaev. Dengan begitu, kau bisa bekerja semaksimal mungkin dan jauh lebih fokus,” sahutnya. Ia kembali dengan komponen-komponen yang belum dirakit. Matteo lalu meletakkan berbagai komponen itu di atas meja.


Valerie segera turun dari meja itu dan berdiri di sebelah Matteo. Ia meletakan tangan kirinya pada pinggiran meja tersebut, sementara tangan kanannya berada di pinggang. Sikap gadis itu terlihat seperti seorang mandor yang tengah mengawasi kinerja anak buahnya. “Wow, dari mana Anda mendapatkan bahan-bahan sebagus ini?” gadis itu berdecak kagum. Ia mengambil salah satu komponen dan mengamatinya. Adriano pun mendekat dan ikut mengamati benda itu. Pria tersebut memicingkan mata birunya.


“Aku membuat sendiri semua komponen untuk senjataku. Kami memiliki peralatan yang canggih di Palermo. Namun, ada juga beberapa komponen yang dibuat manual. Aku hanya menugaskan hal itu kepada mereka yang sudah benar-benar ahli,” jawab Matteo tanpa menoleh. Ia tengah fokus pada pekerjaannya.


“Luar biasa!” seru Valerie pelan. Lagi-lagi ia berdecak kagum. “Jadi, artinya semua produksi pembuatan komponen ini dilakukan di Palermo?” tanya gadis itu lagi.

__ADS_1


“Ya. Aku hanya tinggal merakitnya di sini,” jawab Matteo lagi singkat. Sedangkan Adriano masih fokus mengawasi setiap detail dari semua komponen senjata buatan Matteo.


“Apa Anda mendesain sendiri senjata ini, Tuan de Luca?” tanya pria bermata biru itu, setelah lama ia terdiam.


“Awalnya iya. Namun, aku sadar jika kami harus terus melakukan inovasi. Jadi, aku membutuhkan seseorang untuk membantuku. Ia merupakan ahli dalam mendesain senjata. Sekadar informasi, ia juga berasal dari Rusia," terang Matteo.


"Anda seorang pengusaha, Tuan D'Angelo. Jadi, aku yakin Anda pasti sangat memahami hal itu. Sebuah ide baru akan selalu dibutuhkan agar kita bisa terus dapat bertahan dalam persaingan yang sangat ketat, meskipun kita tetap harus mempertahankan ciri khas dari produk yang kita buat" lanjut Matteo. Kali ini ia menyempatkan menoleh kepada Adriano untuk sesaat.


“Seharusnya kau bisa menjadi lebih unggul, Nona Nikolaev. Kau orang Rusia, setahuku mereka sangat ahli dalam hal membuat senjata,” lanjut Matteo lagi.


“Dengan bimbingan darimu tentunya, Tuan de Luca,” sahut Valerie seraya tertawa pelan. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku kemari bukan untuk mengawasi pekerjaanmu saja, kan?”


“Dengan tidak banyak bicara pun kau sudah sangat membantuku, Nona Nikolaev. Perhatikan saja dulu, karena aku yakin cara kerja ayahmu berbeda dengan cara kerjaku. Kau harus beradaptasi dengan hal itu,” sahut Matteo dengan gaya bicaranya yang terdengar dingin dan datar, seperti biasanya dan sangat jauh berbeda dengan yang ia lakukan terhadap Mia.


“Kau harus terbiasa, Val. Namun, kau tak perlu takut. Pada dasarnya suamiku adalah pria yang manis,” Mia terkikik geli, terlebih saat Matteo mendelik padanya.


“Mia! Berhenti menyebutku manis,” protesnya pelan tapi terdengar sangat berbeda, terlebih di telinga Adriano. Sedangkan Matteo kembali melanjutkan pekerjaannya.


Semua mata kini tertuju pada tangan Matteo yang cekatan merangkai komponen-komponen kecil itu menjadi sebuah senapan laras panjang. Dengan wajah serius dan alis yang bertaut, Matteo meneliti kembali hasil pekerjaanya. Satu matanya tertutup, sementara satu mata lainnya yang terbuka ia gunakan untuk melihat lubang bidikan pada senapan. Setelah dirasa sempurna, Matteo menyerahkan senapan rakitan itu pada Adriano. Tak kurang dari lima belas menit waktu yang dibutuhkan Matteo untuk menyelesaikan satu unit senapan. Mata indah Mia terbelalak sempurna. Satu lagi sisi lain dari suaminya yang baru ia lihat dan temukan secara langsung.


“Ini adalah salah satu senapan jenis serbu. Aku membuatnya sedemikian rupa sehingga senjataku mirip dengan spesifikasi senapan serbu M16 milik militer Amerika. Namun, aku memodifikasinya. Senjata buatanku memiliki jangkauan jarak efektif yang lebih jauh dengan kekuatan yang lebih besar pula,” jelas Matteo bangga.

__ADS_1


“Senapanku juga memiliki ciri khas. Jika rata-rata laju tembakan senapan serbu bisa mencapai 700 hingga 950 putaran per menit, maka milikku jauh lebih cepat dari itu. Seribu putaran per menit secara siklikal,” seringainya bangga.


Baik Adriano maupun Valerie tak mampu berkata-kata. Mereka terlihat begitu takjub. “Kemampuanmu sungguh luar biasa,” puji Valerie sambil bertepuk tangan. “Aku mendapat kehormatan melihat secara langsung sang maestro bekerja,” gumamnya lagi.


“Bagiku ia adalah Mars, sang dewa perang yang berasal dari mitologi Romawi Kuno. Dulu, sebelum aku menemukan jati diri Theo yang sebenarnya, aku sempat membaca sosok Mars di sebuah perpustakaan pusat kota Venice. Ciri-cirinya sama persis dengan yang dimiliki oleh Theoku. Tak peduli hidupnya habis di medan perang dan bertualang, aku tetap akan setia mengikutinya meskipun langkahku tertatih,” sela Mia. Rasa bangga dan bahagia membuncah di dada Matteo. Semua itu terpancar melalui wajah tampannya yang kini memerah sempurna.


“Sayangnya, Mars bukan pria setia. Di saat ia memiliki istri, ia juga memiliki seorang kekasih. Mars bahkan memperkosa seorang gadis bernama Rhea Silvia,” celetuk Valerie dengan nada datar.


“Wah, wah, wah! Hebat sekali kau Nona Nikolaev. Kau telah menghancurkan kebahagiaanku hanya dalam beberapa detik saja,” sungut Matteo.


“Oh, aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Tuan,” Valerie membela diri.


Tak disangka, Mia malah terbahak. Sederetan giginya yang putih dan rapi, tampak begitu jelas. Membuat aura kecantikannya semakin bertambah. “Itulah kenapa aku berani mengatakan bahwa Theoku adalah sosok yang unik dan spesial. Kujamin, ia tak akan berani berpaling,” Mia mengangkat alisnya dan memandang tajam pada sang suami. Tatapan yang menyiratkan banyak makna, dan harus dicerna baik-baik oleh Matteo.


“Terima kasih banyak atas ilmu tambahan darimu, Nona Nikolaev. Aku yakin setelah ini, Mia akan menempelkan kamera pengawas dan alat pelacak di tubuhku," ujar Matteo. Ia tampak sedikit tak nyaman saat itu. Namun, pria bermata abu-abu tersebut segera dapat menguasai dirinya. "Sekarang mari kita kembali pada bisnis. Apakah kau sanggup mengimbangi kinerjaku atau kau hanya mampu mendongeng?” tantang Matteo yang ditujukan kepada gadis bertato itu.


“Tentu saja aku sanggup melakukan semuanya. Kau boleh mengujiku sekarang,” Valerie menantang balik. Tak terlihat rasa takut sama sekali dari gadis eksentrik itu.


“Aku rasa nanti saja ujianmu, Val. Aku harus pulang sekarang. Kolegaku sudah menunggu di Monaco,” tutur Adriano yang sedari tadi lebih banyak terdiam. Seperti ada sesuatu yang tengah ia pikirkan. “Jadi, bolehkah kubawa prototipe senjata ini, Tuan de Luca?” tanya Adriano penuh harap.


“Bawa saja,” jawab Matteo dingin. Matanya terus mengawasi Adriano yang mengamati senjata rakitannya. Tepat pada saat Adriano hendak menentukan arah bidikannya untuk menguji coba senapan itu, tangan Matteo kuat mencengkeram ujung senapannya. “Kau harus ingat satu hal, Tuan D’Angelo. Aku tidak mentolerir pengkhianat! Jadi, jangan bermain-main denganku jika kau masih ingin menikmati hari-harimu!” ancam Matteo tegas dan dingin.

__ADS_1


“Kau bisa percaya padaku, Tuan de Luca. Aku bukanlah Silvio Moriarty,” dengan tenang, Adriano menurunkan senapan rakitan itu dan membalas tatapan Matteo tak kalah tajam.


__ADS_2