Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Schiacciare


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Mia telah mengantongi uang dari hasil penjualan kedai milik mendiang sang ayah. Berat rasanya harus melepaskan kedai tersebut ke tangan orang lain. Ada terlalu banyak kenangan di tempat itu. Kenangan antara dirinya bersama Mr. Gio dan juga tentu saja kenangannya dengan Matteo. Kedai itu, menjadi tempat awal pertemuannya dengan pria yang kini menjadi seseorang yang sangat ia benci.


Mia membereskan beberapa barang yang penting-penting saja. Salah satunya adalah mesin kasir peninggalan sang ayah. Rencananya, Mia akan membawa serta mesin kasir itu ke kota yang menjadi tujuannya nanti. Dengan berurai air mata, ia membereskan barang-barang yang lain. Dari dalam laci meja kasir tersebut, ia menemukan pembukuan bulanan milik mendiang ayahnya. Tulisan tangan pria paruh baya itu memang tidak terlalu rapi. Mia ingat, ia seringkali kesulitan jika harus berbelanja dengan membawa catatan yang dibuat sang ayah.


Ada beberapa buku di dalam laci tersebut yang tidak Mia butuhkan lagi. Ia kemudian mengumpulkan buku-buku itu dan menumpuknya, kemudian ia masukan ke dalam kardus. Namun, tiba-tiba Mia tertegun. Di bawah tumpukan buku yang ia bereskan tadi, ada selembar foto yang membuat air matanya mengalir dengan semakin deras. Mia menatap foto itu. Di sana tergambar wajah masa kecilnya dalam rangkulan sang ayah. Mia ingat, foto itu diambil ketika usianya sekitar delapan tahun, beberapa tahun setelah ibunya meninggal dunia.


Diusapnya wajah muda Mr. Gio yang terlihat begitu gagah. Pria itu akan selalu menjadi pria yang paling tampan bagi dirinya. Mr. Gio adalah panutannya. Mia akan selalu membawa semua petuah-petuah penuh makna yang sering Mr. Gio ucapkan kepadanya, dari semenjak ia kecil hingga saat menjadi dewasa dan menjadi seorang janda.


Ya, Mia kini telah berstatus sebagai janda. “Vale ....” desah Mia perlahan. Ingatannya kini teralihkan pada sosok sahabat yang selalu setia menemani dan membantunya dalam segala situasi. Satu hal yang Mia sesalkan ialah, karena dirinya belum sempat membalas perasaan cinta dari pria tersebut.


Mia segera menyeka air matanya ketika ia melihat seorang wanita tua masuk ke kedai. “Bagaimana, Mia? Apa kau sudah selesai, atau mungkin kau membutuhkan bantuan?” Nyonya Rosario yang membeli kedai itu datang menghampiri Mia.


Mia segera tersenyum lembut. “Sudah, Nyonya. Ini barang terakhir,” jawabnya. Ia mencoba untuk bersikap wajar. Mia kemudian melanjutkan pekerjaannya, sementara Nyonya Rosario melihat-lihat ke bagian belakang kedai, yaitu dapur dan gudang.


“Hei, Mia!” seru wanita paruh baya itu. “Pakaian dalam siapa ini? Apa mungkin milik mendiang ayahmu?” serunya lagi membuat Mia tersentak. Ia segera menuju ke gudang itu. Dilihatnya Nyonya Rosario tengah memeriksa paper bag berisi pakaian dalam pria. Dengan segera Mia merebut paper bag tersebut.


“Maaf, Nyonya! Ini milik ... um ... tadinya aku akan memberikan ini untuk Vale ....” Mia mengulum bibirnya. Ia merasa serba salah harus menjawab apa terhadap wanita tua itu. “Oh ... Tuhan,” desahnya pelan. Bahasa tubuhnya telah membuat Nyonya Rosario mengernyitkan kening karena merasa heran.


Sementara Mia membereskan kedai, lain halnya dengan Francesca. Gadis itu terlihat sedang bersiap-siap. Sepertinya ia akan pergi siang itu, karena Francesca sudah tampil cantik dan terlihat berbeda. Setelah selesai bersiap, Francesca kemudian menulis sebuah pesan yang ia tempelkan pada pintu lemari es. Francesca menuliskan jika ia akan pergi menemui seorang temannya untuķ berpamitan. Setelah itu, Francesca lalu berangkat.


Menempuh perjalanan dengan bus, Francesca akhirnya tiba di tempat yang ia tuju. Gadis belia itu tertegun untuk sejenak. Ia melihat sekeliling tempat yang terlihat asing baginya. Segera, ia membuka ransel kecilnya dan merogoh ponsel dari dalam tas itu. Francesca pun menghubungi seseorang. "Aku sudah tiba di terminal. Bisakah kau menjemputku?" setelah mengirimkan pesan tersebut, Francesca memilih untuk berdiri sambil menunggu seseorang menjemputnya. Kebetulan, saat itu ia menunggu di luar terminal.

__ADS_1


Tidak berselang lama, sebuah motor sport berwarna merah berhenti tepat di depannya. Pengendara dengan helm full face itu, menaikan kaca helm-nya, sehingga tampaklah sepasang mata berwarna coklat terang dengan tatapannya yang teduh. Francesca tersenyum kecil ketika pria yang tiada lain adalah Coco menyodorkan helm kepadanya.


Francesca menerima helm tersebut dan segera memakainya. Tanpa harus diperintahkan, gadis berpostur 175 cm itu segera naik dan duduk di belakang Coco. Motor sport itupun melaju kencang membelah jalanan kota Brescia. Tidak berselang lama, Coco menghentikan motornya di depan bengkel. Ia tak tahu harus mengajak Francesca ke mana, karena kedatangan gadis itu ke Brescia begitu mendadak.


"Inikah bengkel yang kau ceritakan?" tanya Francesca ketika Coco mengajaknya masuk. Ia juga membawa masuk motornya.


"Ya," jawab Coco. Ia memersilakan gadis bertubuh semampai itu untuk naik ke lantai dua. Di sana suasananya jauh lebih nyaman jika dibandingkan dengan lantai pertama yang merupakan area khusus bengkel. "Apa kau ingin minum sesuatu?" tawar Coco.


Francesca tersenyum. "Minuman apa yang kau punya? Aku tidak minum ...." gadis itu tak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menggigit bibirnya perlahan.


Coco paham dengan maksud dari ucapan Francesca. Pria itu tersenyum dan berlalu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan sekaleng soft drink. "Apa kau minum yang seperti ini?" tanya Coco seraya menyodorkan minuman kaleng itu kepada Francesca.


"Ya, boleh," sahut gadis itu seraya menerima minuman yang Coco sodorkan kepadanya. Francesca membuka penutup kaleng tersebut dan mulai meneguknya. "Kau tinggal sendiri di sini?" tanyanya. Ia mengikuti Coco dengan tatapannya. Pria itu kini duduk di sebelah Francesca dan balas menatap gadis tersebut. Coco lalu mengangguk.


"Kami sudah mulai membiasakan diri tanpa kehadiran ayah dan ibu. Rasanya memang aneh dan sangat berbeda. Namun, kami harus terbiasa dengan hal itu," tutur Francesca seraya kembali meneguk minumannya.


"Pada awalnya pasti sulit, tetapi lama-kelamaan juga pasti terbiasa," ujar Coco tenang. "Aku juga dulu seperti itu ketika orang tuaku tiada. Rasanya begitu berat, tapi aku adalah anak laki-laki. Aku harus selalu terlihat kuat," lanjutnya.


Francesca menoleh dan tersenyum. "Kau memang terlihat sangat kuat," gumamnya tanpa sadar. Namun, sesaat kemudian Francesca tersadar. "Um ... maksudku ... ya, kau memang ...." gadis itu kebingungan memilih kata-kata yang tepat. Ia kini hanya mengulum bibirnya dan tertunduk. Sementara Coco tersenyum simpul menanggapi hal itu.


"Kenapa kau tidak mengatakan terlebih dahulu jika kau akan ke Brescia?"

__ADS_1


"Maaf, ini semua mendadak. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ingin menemuimu. Aku harap kau tidak terganggu."


"Tentu saja tidak. Akan tetapi, aku belum ada ide untuk mengajakmu ke mana-mana. Lain kali, pasti aku akan mengajakmu keliling kota Brescia," tersungging sebuah senyuman lembut di wajah rupawan Coco. Senyuman yang jauh berbeda, dengan yang ditunjukkan oleh Francesca. Ada kegetiran dalam senyuman gadis itu.


Francesca hanya ingin melihat wajah Coco sebelum ia ikut pindah ke luar kota bersama Mia. Ia tak tahu, apakah dirinya masih dapat bertemu lagi dengan pria itu atau tidak. Karena itulah, Francesca ingin berpamitan kepadanya. Namun, tiba-tiba gadis itu tersadar akan satu hal. Ia baru ingat jika Coco adalah sahabat baik Matteo. Mia tidak akan menyukainya jika ia sampai banyak bicara kepada pria yang ada di hadapannya.


"Apa ada masalah?" tanya Coco yang tampak khawatir saat melihat raut wajah Francesca yang tiba-tiba gelisah. "Apa terjadi sesuatu dengan Mia?" tanyanya lagi. Francesca segera menggeleng pelan. "Kalau begitu, ada apa?" desak Coco.


Francesca menoleh. Mata hazel miliknya terlihat begitu indah dan membuat Coco betah untuk menatapnya berlama-lama. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Francesca pelan.


"Katakanlah," balas Coco.


Pada awalnya, Francesca terlihat bingung. Namun, beberapa saat kemudian gadis itu tampak sudah mulai dapat menguasai dirinya. "Ricci, aku tahu jika aku hanya seorang gadis kecil untukmu. Sejujurnya aku belum pernah mengenal dekat seorang pria dewasa selain ayahku. Aku baru mengetahuinya, ternyata rasanya memang berbeda," Francesca terdiam untuk sejenak. Sementara Coco masih menatapnya dengan lekat.


"Kau telah membuatku merasa begitu nyaman. Aku senang ketika berada di dekatmu, tapi ... tapi aku sangat menyagangi Mia. Aku pikir, mungkin aku harus mulai menjaga jarak denganmu ...." ungkap Francesca seraya tersenyum getir. "Tentu bukan masalah besar untukmu. Aku tahu itu. Aku hanya ...." ucapan gadis itu kembali terjeda. Ia kembali terlihat resah. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan.


"Hanya apa?" pancing Coco.


Francesca kembali menoleh kepada pria bermata coklat itu. Ia terlihat ragu, tapi pada akhirnya Francesca kembali melawan yang dirasakannya. Ia memberanikan diri. "Maukah kau menjadi ciuman pertamaku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir merah muda Francesca. Hal tersebut, membuat Coco mengernyitkan keningnya.


Melihat ekspresi yang Coco perlihatkan, Francesca menjadi sangat malu. Ia segera beranjak dari duduknya. "Sebaiknya aku pulang saja!" ia pun berlalu. Akan tetapi, dengan segera Coco menahannya. Ia membuat Francesca terpaku tanpa berani menunjukan wajah manisnya. Tanpa diduga, Coco tiba-tiba mendaratkan ciumannya pada bibir merah muda tersebut.

__ADS_1


Pada awalnya, Francesca terkejut dan membuatnya terbelalak. Namun, beberapa saat kemudian gadis itu segera memejamkan matanya. Ia tampak sangat menikmati ketika lidah Coco mulai menari-nari di dalam mulutnya. Francesca sudah mengetahui hal seperti itu, meskipun ia belum pernah melakukan hal tersebut, tetapi ia telah mendengar banyak cerita dari para sahabatnya.


Perlahan, Coco melepaskan bibir merah muda itu. Akan tetapi, sesaat kemudian ia kembali melu•mat, menggigit, dan mengisapnya dengan lembut. Coco juga merangkul pinggang Francesca, sehingga membuat gadis itu semakin merapatkan tubuhnya. Wangi aroma parfume khas seorang gadis kian menusuk di hidungnya, membuat pria itu ingin melakukan hal yang lebih dari sekadar berciuman. "Kau ternyata jauh lebih manis dari yang kuperkirakan," bisik Coco.


__ADS_2