Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Last Tribute to Luigi


__ADS_3

"Hentikan semua ini, Nak!” sergah Damiano sembari mensejajari langkah cepat Matteo. Pria tua itu sampai rela menyusul Matteo hingga ke pulau Sicilia, demi mencegahnya melakukan tindakan yang jauh lebih brutal lagi.


“Satu titik lagi, Damiano!" ujar Matteo dengan penuh ambisi "Satu titik lagi dan semuanya akan jatuh ke tangan kita!” lanjut pria dengan mata abu-abu tersebut. Kata-katanya terdengar begitu ringan dan seakan tanpa beban sama sekali. Ia tidak memikirkan berapa banyak darah yang sudah mengalir, akibat dari tindakannya yang membabi buta tersebut.


“Apa yang kau cari sebenarnya, Nak?” sentak Damiano yang sudah mulai kehilangan kesabarannya. Jarang sekali pria bermata hijau tersebut sampai hilang kontrol seperti itu. Namun, kali ini ia sudah benar-benar tidak tahan dengan semua tindak-tanduk putra asuhnya.


Matteo menghentikan langkahnya. Ia kemudian menoleh kepada pria yang telah membantu dalam menjaganya sejak kecil. “Kau ingin tahu apa yang mendasariku melakukan ini semua, Damiano?" Matteo balik bertanya dengan nada bicara yang sama tingginya. Akan tetapi, sesaat kemudian pria bertato itu mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya dengan kasar.  "Aku hanya ingin mengalihkan perhatianku dari hal-hal yang tidak penting!” ucap Matteo lagi pelan. Setelah itu, Matteo kembali memalingkan mukanya


“Apakah hal tidak penting itu, Nak?" tanya Damiano. Pria paruh baya tersebut pun mencoba untuk menenangkan diri, meskipun dalam hatinya masih terasa ada ganjalan yang begitu besar.


"Apakah yang kau maksud adalah cinta? Patah hati? Karena jika hanya itu alasannya, maka tidaklah seimbang dengan semua kerusakan yang telah kau timbulkan!” tegas Damiano membuat Matteo seketika terdiam. Kalimat yang dilontarkan sang pengasuh, ia rasakan seperti sebuah anak panah yang telah menghujam langsung menuju jantungnya.


“Kau telah bermain-bermain dengan banyak nyawa, Nak! Kau telah melakukan sebuah kebiadaban hanya untuk sekadar menjadi sebuah pelarian dari sikap pengecutmu! Itu sungguh tidak adil,” tandas Damiano sembari membalikkan badan dan pergi berlalu dari hadapan Matteo dan membiarkannya sendiri.


Matteo terpekur untuk beberapa saat, sampai terdengar panggilan dari Luigi yang seketika menyadarkannya. “Apa kita akan berangkat sekarang, Tuan?” tanya pemuda itu dengan sopan. Ia tampak selalu bersemangat dalam setiap perjalanannya mengelilingi seluruh penjuru Italia.


Pria bermata abu-abu tersebut mengangguk tanpa bersuara. Segera, ia menaiki kendaraannya untuk menuju sisi utara Palermo. Satu titik itu adalah tujuan terakhir yang harus ia tundukkan, untuk merebut seluruh kekuasaan Moriarty. Sebelumnya Matteo terlebih dahulu menyiapkan senapan laras panjang rakitannya, barulah ia memutuskan untuk turun dari kendaraan itu.


Jeep yang Matteo kendarai itu berhenti di sebuah lingkungan perumahan yang tak berpenghuni, dan telah lama terbengkalai. Hanya satu rumah yang seakan masih bernyawa. Matteo melompat begitu saja sambil menenteng senjatanya.


Suasana di sekitar tempat itupun tampak sepi. Area di sekeliling tempat tersebut seperti tidak mendapat penjagaan yang berarti. Hal itu sedikit mengusik insting Matteo. Akan tetapi, pria bermata abu-abu tersebut tak memedulikannya.


 


Bersama Luigi dan beberapa anak buah lainnya, Matteo memasuki bangunan dua lantai bercat putih itu. Keadaan di sekitar sana terasa benar-benar lengang. Tak ada seorang pun yang terlihat. “Apa menurut Anda kita telah masuk ke dalam jebakan, Tuan?” tanya Luigi penuh kekhawatiran. Ia masih setia berada di sisi kanan belakang Matteo.

__ADS_1


“Entahlah," jawab Matteo pelan. "Tetap berhati-hati dan fokus!” lanjut pria itu lagi. Ia terus meningkatkan kewaspadaannya.


Matteo mulai mengarahkan senapannya ke setiap sudut bangunan yang ia lewati. Ia juga membidikkan senapannya ke bagian atas ketika dirinya melihat pergerakan di sana. Tiba-tiba saja, dari segala arah muncul puluhan pria bersenjata, lengkap lengkap dengan rompi dan helm anti peluru yang seketika mengepung mereka.


Tak terlihat ada raut gentar sedikitpun dari wajah Matteo. Pria berambut gondrong itu masih bisa bersikap tenang, bahkan ketika Vincenzo muncul dan menuruni tangga secara perlahan. Langkah kaki pria tersebut tampak sangat berwibawa dan begitu elegant. Pantaslah jika dirinya menjadi seseorang yang sangat disegani dalam dunia mafia. Vincenzo memang terlihat begitu luar biasa. Auranya sangat kuat. Matteo seperti melihat sang ayah dalam bahasa tubuh pria itu.


“Apa kabar, Fratellino (adikku)?” sapanya dengan gaya bicaranya yang sangat khas. Sorot mata yang begitu tajam dengan garis muka yang sangat tegas. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu secara langsung dengan seseorang yang telah menghabisi adiknya dengan brutal.


“Kabarku tidak baik-baik saja dari semenjak kau meledakkan kedua orang tuaku,” balas Matteo dengan penekanan suara yang begitu dalam.


“Kau tahu jika aku tidak bermaksud melakukan hal itu. Aku hanya ingin membalas kematian adikku dengan membunuhmu. Aku tidak tahu jika ternyata malah salah sasaran," terang Vincenzo. Untuk sesaat,  tampak ada sedikit rasa sesal di wajahnya. Namun, tak berselang lama raut mukanya kembali seperti semula.


"Paman Roberto adalah salah satu sahabat terbaikku, dan tentu saja aku juga merasa sangat kehilangan,” ucap Vincenzo lagi.


“Jangan gegabah! Itulah kelemahanmu, Theo. Kau belum bisa mengendalikan emosimu dengan baik,” ujar Vincenzo. "Sesekali, belajarlah untuk bersikap lebih tenang dan terkendali. Aku sering mengatakan hal seperti itu kepada mendiang adikku. Orang yang telah kau jerat lehernya hingga hampir putus," ucap Vincenzo lagi dengan senyuman nanar. Posisinya kini berada di tengah-tengah anak tangga. Ia memandang lurus kepada Matteo.


“Aku ingin kita berdamai. Lagi pula, kita sekarang sudah impas,” bujuk pria itu. "Aku kehilangan adikku satu-satunya, dan kau kehilangan orang tuamu," lanjutnya.


“Impas katamu?" protes Matteo. "Cuih! Satu nyawa diganti dengan dua nyawa orang tuaku.! Begitu kau sebut impas?  Brengsek kau!” umpat Matteo.


“Ayolah, Fratellino! Lagi pula, seharusnya kau juga marah kepada pengkhianat itu,” ucap Vincenzo dengan senyum yang terlihat aneh. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, dengan satu tangan di dalam saku celananya.


“Pengkhianat siapa yang kau maksud?” geram Matteo dengan tatapan membunuh ke arah kakak kandung dari mantan sahabatnya itu. Vincenzo tidak segera menjawab. Ia terus melangkah ke arah Matteo. Namun, belum sempat pria itu menjawab pertanyaan yang Matteo ajukan, sebuah titik laser berwarna merah menembus jendela gedung dan bergerak memutari kening Vincenzo. Akan tetapi, pria itu tak menyadarinya sama sekali.


Dalam hitungan detik, laser merah yang berhenti tepat di tengah-tengah kening Vincenzo segera menghilang dan berganti dengan sebuah timah panas yang menerjang masuk ke dalam kepalanya. Vincenzo roboh tepat dihadapan Matteo yang berusaha menahan tubuh pria itu. Darah segar mengucur deras dan membasahi wajah Vincenzo.

__ADS_1


Suasana menjadi kacau ketika Vincenzo roboh tak bernyawa. Satu kompi pasukan itu mulai kehilangan kendali dan menembak ke arah Matteo. Beruntung sebuah bom molotov terlontar dari luar jendela dan mengarah tepat kepada gerombolan pria bersenjata tersebut. Bom itu meledak dan menghancurkan barisan pertahanan mereka. Semua orang terlempar ke segala arah.


Demikian halnya dengan Matteo yang refleks melindungi kepalanya sambil tengkurap di atas lantai. Asap pekat pun menyelimuti tempat itu untuk beberapa saat dan membuat Matteo terbatuk-batuk.


Untuk sesaat, Matteo mencoba mengendalikan pernapasannya yang sedikit sesak karena asap tadi. Ketika dirasa aman, Matteo bangkit dan kembali meraih senjatanya. Saat asap mulai terurai dan suasana kembali terang, barulah ia dapat melihat pemandangan mengerikan di sekitarnya. Hanya dirinyalah yang selamat di tempat itu. Sementara Luigi dan beberapa anak buah yang ia bawa, telah terkapar tak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah di dekat kakinya.


Lemas, tubuh Matteo terduduk di lantai. Diraihnya tubuh Luigi dengan wajah yang hampir tak terlihat, karena telah dipenuhi bercak darah. Anak muda itu merupakan kesayangannya. Usia Luigi masih terbilang muda, tapi loyalitasnya patut untuk diacungi jempol. Matteo memerhatikan jasad yang telah tak bernyawa itu. Untuk kesekian kalinya, ia harus kehilangan orang-orang yang ia sayangi.


"Luigi ... adikku ...." desis Matteo pelan. Pikirannya sempat kosong untuk beberapa saat. Pria itu hanya duduk bersimpuh di samping jasad Luigi dan tiga orang lainnya. Sesaat kemudian, ketika logikanya mulai kembali, Matteo berdiri dan membopong empat jenazah itu satu persatu dan memasukkannya ke dalam jeep miliknya.


Matteo mengemudikan sendiri kendaraannya menuju mansion de Luca di Palermo. Di sana, Damiano sudah menunggu dengan gelisah. Pria paruh baya tersebut bergegas menyambut mobil Jeep yang memasuki halaman mansion. “Aku khawatir padamu, Nak,” ujar Damiano dengan wajah was-was. Ia terus memerhatikan Matteo.


Sementara Matteo hanya terdiam. Ia tak segera turun dari mobilnya. Beberapa saat kemudian, matanya tampak berkaca-kaca. “Ma’afkan aku, Damiano,” ucapnya.


Awalnya, Damiano tak mengerti untuk apa kata ma’af tersebut. Akan tetapi ketika Matteo turun dan menunjukkan empat jenazah yang saling bertumpuk di jok penumpang, barulah Damiano mengerti.


Kali ini, bukan raut was-was yang ia tampakkan kepada Matteo, melainkan sorot kekecewaan yang teramat dalam. Ada kemarahan yang tertahan dalam setiap helaan napas pria paruh baya itu.


Matteo pun tak akan mengelak seandainya Damiano marah kepadanya. Hal itu memang sudah sepantasnya ia dapatkan.


......................


Karakternya yang datar, menjadi semakin dingin saat upacara pemakaman Luigi dan tiga orang lain keesokan harinya. Matteo berdiri paling dekat dengan liang lahat, mengikuti dengan khidmat sampai empat peti mati itu tak terlihat lagi karena sudah tertimbun tanah. Ia menunduk dalam, sampai tepukan pelan memaksanya mendongak. Damiano tersenyum kepada Matteo, “Kau memotong rambutmu, Nak?”


Matteo membalas senyuman itu sambil menyugar rambutnya yang kini hanya sepanjang daun telinga dan tersisir rapi ke belakang. “Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghormati Luigi,” jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2