
Coco segera mengajak Francesca untuk kembali ke Kastil Corradeo, karena hari sudah beranjak siang. Lagi pula, helikopter yang menjemput Damiano, Antonio, dan Marco telah mendarat di sana. Ketiga pria itu langsung dipersilakan menuju kamar mereka untuk beristirahat. Namun, Damiano lebih memilih untuk berkeliling kastil. Ia memang mengenal dekat sosok Corradeo de Luca dan tentu saja memiliki banyak kenangan bersama pria tua penuh kharisma tersebut. Sementara Antonio, tampak sibuk memantau jalannya persiapan pesta. Sebagai paman kandung dari Matteo, ia merasa bertanggung jawab atas kelancaran acara itu.
“Seandainya ayah dan ibumu bisa melihat semua ini, mereka pasti akan sangat bahagia karena kini kau telah memiliki pasangan,” ujar Antonio seraya melirik Matteo yang berdiri di sebelahnya.
“Ya. Tentu saja,” sahut Matteo datar. “Apa benar jika Paman mengundang Camilla untuk hadir ke acara nanti malam?” selidik Matteo.
“Ya, itu benar. Memangnya kenapa?” Antonio balik bertanya. “Camilla adalah putri dari kolega dekat Roberto. Emilio Rosetti tidak hadir di pernikahanmu, jadi aku rasa tidak ada salahnya jika mengundang Camilla dalam pesta kali ini. Namun, sayangnya Camilla menolak dan aku tidak dapat memaksanya,” Antonio kembali menoleh kepada Matteo dan menatapnya sesaat dengan sorot mata yang terlihat aneh. Setelah itu, ia lalu mengalihkan perhatiannya pada para pelayan yang tengah sibuk dengan segala macam persiapan.
“Ya, aku tahu itu. Akan tetapi, sebenarnya aku tidak berharap Camilla hadir,” ujar Matteo datar dan dingin.
Antonio tersenyum simpul. Ia lalu menoleh dan menepuk pundak Matteo. “Kau tenang saja. Aku rasa pesta kali ini akan berjalan dengan lancar dan tanpa ada insiden apapun. Kau bersiap-siaplah. Sebentar lagi para tamu yang berlokasi agak jauh dari pulau ini akan segera tiba. Jangan sampai kita sebagai tuan rumah mengecewakan mereka,” Antonio kembali menyunggingkan senyuman kecil meski tak terlihat jelas. Sementara Matteo hanya mengangguk pelan. Ia kemudian berlalu dari sana dan segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Hingga menjelang malam, seluruh acara persiapan telah rampung sepenuhnya. Tamu-tamu yang lokasi tempat tinggalnya berada jauh dari Pulau Elba, mulai berdatangan. Begitu juga dengan tamu undangan lainnya yang berada di sekitaran pulau tersebut. Mereka datang ke sana dengan mengendarai speedboat. Mereka tidak ingin melewatkan pesta yang diadakan oleh keluarga de Luca, secara nama besar dari keluarga itu sudah dikenal ke mana-mana dan begitu berpengaruh dalam organisasi dunia hitam.
Sebenarnya, pesta yang diadakan malam itu bukanlah pesta sembarangan. Mereka yang diundang untuk hadir di sana, tidak berasal dari khalayak umum, melainkan khusus bagi para pentolan mafia dari berbagai organisasi yang ada di seluruh daratan Italia. Matteo menyerahkan tanggung jawab kepada Damiano untuk menyeleksi dan menyusun semua tokoh-tokoh penting dalam dunia hitam yang akan diundangnya. Tak terkecuali seorang pentolan mafia kelas kakap yang merupakan kenalan dekat Damiano, yaitu Adriano D’Angelo. Pria tampan berkharisma yang selama ini menetap di Monaco. Kebetulan pria itu tengah berada di Italia, sehingga dengan senang hati ia langsung menerima undangan dari Damiano.
“Theo, Anakku. Perkenalkan ini Adriano D’Angelo. Ia adalah orang yang pernah kuceritakan dulu padamu,” Damiano memperkenalkan pria dengan postur yang tak jauh berbeda dari Matteo.
Matteo menyambut jabat tangan dari pria berwajah khas itu dengan sedikit mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat ucapan Damiano. Sementara pria paruh baya tersebut hanya tertawa pelan. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan putra asuhnya.
“Adriano adalah orang yang menawarkan kerja sama denganmu. Ia tertarik dengan Du Fontaine milik keluarga de Luca,” jelas Damiano seraya melirik pria yang ia maksud. Sedangkan Adriano membalasnya dengan sebuah anggukan pelan. Sikapnya terlihat begitu elegant.
__ADS_1
“Oh, iya. Aku ingat,” ucap Matteo. Ia kembali melayangkan tatapannya kepada pria bernama Adriano yang juga tengah menatapnya. “Tentu saja, aku selalu membuka kesempatan untuk menjalin kerja sama dengan siapa pun selama orang itu dapat dipercaya,” lanjut Matteo.
“Itu hal yang mutlak, Tuan de Luca,” sahut Adriano. “Kepercayaan memang modal utama dalam menjalin sebuah bisnis yang baik. Aku rasa kita dapat membangun hubungan kerja sama dengan jauh lebih akrab, terlebih aku sudah lama mengenal Damiano,” tutur Adriano seraya melirik pria paruh baya yang selalu terlihat ramah itu. Sementara Matteo fokus mengamati setiap bahasa tubuh dari pria yang ada di hadapannya.
“Ya. Aku harap kalian berdua bisa menjadi rekan bisnis yang baik,” ujar Damiano dengan entengnya.
“Aku sudah mendengar nama besar Tuan Roberto de Luca. Beliau pengusaha yang luar biasa prestasinya. Aku juga telah mendengar kabar tentang Tuan Muda de Luca yang berhasil menundukkan banyak oganisasi mafia, sehingga kini berhasil menjadikan mereka sebagai sekutu. Itu sesuatu yang sangat luar biasa untuk seseorang dengan usia semuda Anda,” sanjung Adriano dengan senyumnya yang menunjukkan jika ia adalah seorang pribadi yang ramah. Sedangkan Matteo hanya menyunggingkan sedikit senyuman. Ia bukanlah tipe orang yang gila akan pujian. Lagi pula, Matteo belum tahu apa makna yang tersirat dari sanjungan tersebut.
“Jika Anda memang serius ingin melakukan kerja sama dengan kami, maka kita bisa melanjutkan perbincangan nanti, atau Anda bisa datang langsung ke Casa de Luca dan melihat perkebunan anggur milik keluarga de Luca,” tawar Matteo datar.
“Ya, itu ide yang sangat bagus, Anakku,” sela Damiano setuju. Sedangkan Adriano tersenyum simpul. Ia tidak sempat melanjutkan perbincangan saat itu, karena kehadiran seorang wanita cantik bertubuh seksi dengan gaun malamnya yang terlihat begitu mewah dan mencolok.
“Inikah Nyonya de Luca? Aku mendengar kabar tentang betapa cantiknya istri Anda, Tuan de Luca,” ujar Adriano yang masih memperhatikan Matteo dengan wanita yang tiada lain adalah Camilla Rosetti.
Malam itu, Camilla datang sendiri. Ia yang tadinya tidak ingin menghadiri undangan dari Antonio, ternyata berubah pikiran. Gadis itu memutuskan untuk ikut serta dalam perhelatan acara penyambutan sekaligus perkenalan Mia sebagai ratu dari Casa de Luca.
Camilla tampil sangat cantik. Ia seakan ingin menunjukkan seluruh pesona yang dimilikinya kepada semua orang, terlebih kepada Matteo tentunya. Camilla terlihat begitu anggun dalam balutan gaun malam berwarna merah dengan taburan manik-manik kecil yang bercahaya, membuatnya terlihat menjadi sangat mewah. Seperti biasa, ia menggerai rambut panjangnya yang indah dengan tatanan yang disesuaikan. Gadis itu tersenyum manis ketika Adriano menganggapnya sebagai istri dari Matteo.
“Oh, tidak! Anda salah tebak, Tuan D’Angelo,” bantah Matteo membuat senyuman di wajah cantik Camilla seketika memudar. Gadis itu kini terlihat sedikit cemberut. “Istriku masih bersiap-siap di kamar, ia baru akan ....” Matteo tak sempat melanjutkan ucapannya, ketika tanpa sengaja sepasang mata abu-abu itu menangkap kehadiran Mia di sana. Tatapan matanya seketika berubah saat ia melihat sosok cantik nan anggun itu tengah menuruni deretan anak tangga, karena kebetulan acara pesta tersebut dilangsungkan di aula yang berada pada lantai dasar Castil Corradeo.
“Mia ....” gumam Matteo. Tanpa sadar ia menyebutkan nama sang istri dengan suaranya yang sangat dalam, membuat Adriano dan Damiano ikut menoleh ke arah tatapan Matteo tertuju. Rasa kagum dalam diri Adriano pun seketika muncul. Pria itu menatap Mia yang tengah berjalan ke arah mereka dengan begitu lekat. Ia tidak berpaling sedikitpun dan seakan ingin mengalahkan kekaguman yang sedang melanda perasaan Matteo.
__ADS_1
Mia terlihat begitu anggun dalam balutan gaun berwarna midnight grey yang sangat indah. Bagian atas gaun dengan model sleveelees beraksen v neck itu terlihat berkerlap-kerlip karena taburan kristal swalowski yang menghiasinya. Sementara, bagian bawah gaun tersebut menjuntai hingga ke lantai dan terbuat dari bahan semacam tile berlapis-lapis dengan belahan sebatas paha. Kecantikan Mia semakin terlihat dalam riasannya yang tidak terlalu mencolok, tapi tetap serasi dengan gaun dan tatanan rambutnya yang ia biarkan tergerai dengan leluasa.
“Inilah istriku,” ucap Matteo yang menyambut kehadiran Mia dengan sikapnya yang terlihat sangat berbeda. Sementara Adriano masih belum dapat melepaskan kekagumannya.
Wajah Camilla merah padam ketika menyadari bahwa semua perhatian di aula ini tersita untuk Mia yang tengah berjalan dengan anggunnya ke arah Matteo. Terlebih ketika Matteo menghampiri dan menyodorkan lengan yang segera Mia sambut dengan senang hati. Mia melingkarkan tangan rampingnya di sana.
“Selamat malam. Apa kabar semuanya?” Mia menatap satu persatu wajah di sekelilingnya seraya tersenyum ramah. Hanya Damiano dan Camilla yang ia tahu, sementara ia tak mengenal seorang pria gagah berpostur sangat mirip dengan suaminya yang berdiri di hadapannya. “Siapa pria itu, Theo? Aku tidak nyaman dengan tatapannya,” bisik Mia dengan agak resah.
Matteo yang mulai menyadari akan hal itu, segera berdehem. “Pria itu bernama Adriano D’Angelo. Ia adalah orang yang akan bekerja sama denganku untuk beberapa waktu ke depan,” ujarnya dengan sorot mata tajam ke arah Adriano.
“È un onore conoscerti (sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat berkenalan dengan Anda), Signora,” Adriano setengah membungkuk, meraih jemari dan mengecup punggung tangan Mia dengan lembut dan sopan.
“Tidak perlu berlebihan, Signore,” Mia merendah dan segera menarik tangannya, lalu merapat pada suaminya. Ia kembali melingkarkan tangannya di lengan Matteo, membuat Camilla semakin cemberut karenanya. Gadis itu berkali-kali memalingkan wajahnya.
Insting Matteo mulai bekerja. Ia mengamati pria di depannya itu dan juga Camilla. Matteo menilai bahwa ada sesuatu yang tersirat dalam tatapan yang ditujukan oleh Adriano kepada Mia, sedangkan Camilla dipenuhi rasa iri dan cemburu, membuat Matteo harus ekstra waspada.
Matteo ingin pestanya kali ini berjalan dengan lancar. Ia tidak ingin ada hal sekecil apapun yang merusak acara penting tersebut, karena malam itu adalah malam yang sangat istimewa bagi Mia.
__ADS_1