
Matteo mengumpulkan informannya, termasuk tiga orang detektif yang ia sewa untuk mencari informasi tentang setiap anggota Organisasi de Luca. Mereka melakukan pertemuan di ruang bawah tanah, tempat paling tersembunyi di Casa de Luca, bahkan sang paman dan Damiano pun tidak ia sertakan.
“Luis Jimenez adalah pendatang dari Meksiko,” lapor salah seorang informan yang berhasil menyelidiki nama itu. “Ia tinggal di Sicilia dan tidak memiliki keluarga,” lanjutnya.
“Apa hubungannya dengan de Luca?” tanya Matteo datar.
“Sejauh ini, kami belum bisa menyimpulkan,” sahut Bianco. “Kami sudah menyelidiki seluruh nama yang tercatat di dalam buku organisasi, tapi tidak kami temukan satu pun yang menyimpang. Entah apa posisi Jimenez dalam kasus ini,” lanjutnya.
“Aku akan mencari Luis Jimenez dan mengungkap bagaimana ia bisa masuk ke Casa de Luca sebagai pekerja perkebunan,” putus Matteo.
“Anda akan berangkat ke Sicilia, Tuan?” seorang informan lain memberanikan diri untuk bertanya.
“Ya,” jawab Matteo tegas.
“Berhati-hatilah, Tuan,” saran informan itu.
“Kenapa? Apa kau mengetahui sesuatu?” selidik Matteo. Akan tetapi, pria itu tidak segera menjawab. Ia terlihat ragu.
“Bisakah kita bicara di tempat lain, Tuan? Hanya berdua,” sahut informan itu.
Matteo berpikir sejenak, sebelum mengiyakan permintaannya. “Kita bicara di sini setelah pertemuan selesai,” ujarnya. Ia pun melanjutkan rapat itu hingga dua jam lamanya. Tak banyak kesimpulan yang dapat diambil dari pertemuan tersebut. Pengkhianat dalam organisasi pun belum dapat dibuktikan dengan jelas.
“Memang jalan satu-satunya adalah bertemu dengan Luis Jimenez. Ia kunci dari semua kekisruhan ini,” putus Matteo seraya mengusap dagu. Tak ada yang berani menyangkal keputusannya.
Satu per satu para informan dan detektif sewaan meninggalkan Matteo di ruang rahasianya, sementara seorang yang tadi, menunggu dengan sabar. Akhirnya kini tinggal dirinya dan Matteo saja yang masih berada di sana.
“Luis Jimenez adalah anggota baru dari kelompok sempalan,” ujar informan itu setelah suasana benar-benar hening.
“Kelompok sempalan?” ulang Matteo.
“Ya, Tuan. Tuan Roberto, pernah mendirikan kelompok baru yang dia beri nama kelompok Albatroz. Struktur kelompok itu berada di bawah klan. Kelompok itu ditujukan untuk membantunya menyortir dan mengirim senjata ke wilayah Asia. Awalnya, semua baik-baik saja sampai dua tahun lalu, saat ayah Anda memutuskan untuk menghentikan kegiatan organisasi Albatroz".
“Biar kutebak. Mereka tidak menerima keputusan ayahku?”
Informan itu menggeleng tegas. “Tidak jelas apakah mereka menerima atau menolak. Akan tetapi, jika memang Luis Jimenez adalah suruhan mereka, maka bisa dipastikan bahwa kelompok Albatroz mulai bergerak untuk menyatakan ketidaksetujuannya,” jelas informan itu.
“Apakah Damiano atau pamanku tahu tentang hal ini?” tanya Matteo penuh curgia.
“Tuan Damiano jelas tidak tahu tentang kelompok ini, tapi saya tidak yakin jika Tuan Antonio juga tidak mengetahuinya," jawab informan itu.
“Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan pergi ke sana dan membuktikan semuanya,” tegas Matteo.
“Kapan Anda berencana akan berangkat?” tanya orang itu lagi.
“Secepatnya! Malam ini,” tandas Matteo yang tak pernah main-main dengan kalimatnya. Terbukti malam harinya, pria itu keluar dari Casa de Luca dengan membawa kendaraan kesayangannya. Ia menuju bandara di Milan, kemudian terbang ke Palermo.
Tak sampai dua jam, Matteo sudah tiba Palermo, salah satu kota paling terkenal di wilayah pulau Sicilia. Kota itu merupakan pusat kegiatan mafia dari berbagai klan. Begitu juga dengan Klan de Luca yang memiliki istananya di sana. Namun, Matteo tak hendak pulang ke mansion keluarga de Luca, yang biasa menjadi tempat operasional dan pergerakan organisasi. Matteo ingin bergerak diam-diam.
Berdasarkan alamat yang diberikan oleh si informan, Matteo bergegas menuju lokasi. Arlojinya menunjukkan pukul dua dini hari. Ia berdiri dengan gagahnya di depan gerbang markas Albatroz. Bangunan tiga lantai di depannya itu tampak lengang dan gelap. Ada dua penjaga yang tertidur di sisi gerbang. Mereka bahkan tak menyadari kehadiran Matteo.
Entah kenapa, Matteo begitu kesal melihat hal itu. Ditendangnya gerbang tinggi yang terbuat dari besi berbentuk anyaman itu. Suara benturan bootnya dengan pagar besi itu terdengar begitu nyaring, sehingga dua penjaga tadi terkejut dan terbangun.
“Siapa itu?” seru salah seorang penjaga.
“Matteo de Luca, putra Roberto!” jawabnya tegas.
Kedua penjaga itu terperangah seakan tak percaya. “Bagaimana kau tahu tentang kami?” tanya salah seorang penjaga.
“Tuan Roberto sudah berjanji menyembunyikan keberadaan kami,” sela penjaga lainnya.
“Itu semua tidak penting! Aku hanya ingin mencari Luis Jimenez,” potong Matteo. Akan tetapi, bukan jawaban yang ia terima, melainkan sebuah tembakan yang berasal dari atas gedung.
__ADS_1
Matteo segera melindungi dirinya dengan berlindung di balik tembok pembatas di sisi pagar.
Dua penjaga yang sempat berinteraksi dengannya juga sempat berlindung sebelum membalas tembakan ke atas gedung. “Siapa di atas sana?” teriak salah satu penjaga sambil menembakkan senapannya.
“Tuan Matteo? Apakah Anda tidak apa-apa?” tanya seorang lainnya.
“Siapa yang menembaki kita?” tanya Matteo dari balik pagar. Ia tak menyangka akan mendapat sambutan panas seperti itu, terlebih karena dirinya tak membawa senjata sama sekali.
“Kami juga tidak tahu, Tuan. Beberapa minggu terakhiri, kelompok kami kedatangan banyak orang dari Meksiko dan Peru,” jawab penjaga itu. Sesekali masih terdengar suara tembakan, sebelum akhirnya hening.
“Entah siapa yang mendatangkan mereka. Mengganggu sekali. Kami sering bertengkar dengan mereka,” sahut penjaga satunya. Tak terdengar lagi desing peluru, sehingga Matteo memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya dan menendang gembok pagar itu hingga patah. Dengan santai, Matteo mendorong pagar itu dan masuk menghampiri dua penjaga itu.
“Berikan aku senapan kalian! Aku ingin masuk dan mencari Luis Jimenez,” ujar Matteo datar.
Dua penjaga itu saling berpandangan beberapa saat, kemudian menyerahkan senapan mereka pada Matteo. “Di dalam sana bagaikan hutan, Tuan. Jika bukan karena janji kami pada Tuan Roberto untuk menjaga gedung ini, pasti kami sudah sejak awal pergi dari sini,” ujar salah satu dari mereka.
“Kalian sangat loyal. Aku pasti akan memberikan kalian hadiah,” Matteo menepuk lengan salah satu penjaga itu.
Pintu masuk gedung terbuka begitu saja, seakan menyambut kedatangannya. Matteo sama sekali tak gentar. Ia harus mempertajam penglihatan karena di sana minim sekali cahaya. Matteo pun menyiagakan senjatanya.
Terasa ada pergerakan di sisi kanan Matteo membuatnya menoleh dan membidikkan senapan.
Tampak sekelebat bayangan seseorang melintas di depannya. Matteo bergegas mengikuti bayangan itu dan mengejarnya. Bayangan itu menghilang tepat di tikungan. Perlahan, Matteo mengintip. Namun, ia tak melihat apapun selain anak tangga menuju ke bawah yang terlihat jauh lebih gelap.
Matteo tak mau mengambil risiko. Ia tak tahu apa yang akan dihadapinya di bawah sana. Berbeda dengan saat dirinya menyerang mansion Silvio yang sudah diperhitungkan dengan bantuan Coco.
Matteo memilih untuk berjalan menyusuri ruangan dan membuka pintu demi pintu. Ia lalu teringat akan seseorang yang berusaha menembaknya beberapa saat lalu.
Matteo kemudian memutuskan untuk menaiki tangga ke lantai berikutnya. Di lantai itu, ia mendengar suara orang berbisik. Matteo menajamkan pendengaran dan kembali menyapu seluruh sudut ruangan. Lagi-lagi, ia tak menemukan apapun. Matteo lalu menyandarkan dirinya pada dinding yang terletak di sudut ruangan dan berpikir sejenak.
Titik ini adalah tempat yang mendapat pencahayaan paling minim, sehingga membuat tubuhnya menjadi sulit terlihat. Itu menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya. Ia kembali berpikir. Adalah hal yang aneh, jika dua penjaga di luar sama sekali tak mengetahui apapun yang terjadi di dalam gedung, meskipun alasan mereka sedikit cukup akal.
“Mereka berdua menjebakku,” pikirnya. “Bodohnya aku yang terpedaya!” gumam Matteo kemudian. Ambisinya untuk menemukan Luis Jimenez telah membuatnya tidak hati-hati. Dari awal, tembakan itu memang ditujukan untuk memancingnya. “Ah, bodoh sekali!” ulang Matteo.
“Aku bersumpah telah berusaha memancingnya ke bawah,” bisik orang itu, tapi jelas tertangkap oleh indera pendengaran Matteo.
“Kita akan kesulitan untuk mengeksekusinya di sini. Semua alat kita terdapat di bawah,” ujar seorang lainnya.
“Ia pasti menuju ke atap, tempat di mana kita berusaha menembaknya,” timpal salah satu dari mereka.
Matteo segera keluar dari persembunyian secara tiba-tiba dan menembakkan beberapa peluru ke arah bawah, tepat mengenai kaki beberapa orang misterius itu. Mereka mengaduh dan berteriak kesakitan. Satu di antaranya berusaha membalas tembakan Matteo, tetapi pria itu jauh lebih gesit. Ia lebih dulu memuntahkan peluru ke dada orang itu, serta dada dua orang lainnya yang terlihat berusaha mengeluarkan pistolnya. Tiga orang roboh seketika, menyisakan satu orang yang terkapar dan meringis di depannya sambil memegangi kaki yang berdarah.
“Di mana Luis Jimenez?” tanya Matteo dengan nada dingin.
Orang itu menggeleng dan mengatupkan bibirnya, membuat Matteo kehilangan kesabaran. Ditempelkannya moncong senapan laras panjangnya ke dahi orang tersebut, sementara satu senapan lainnya tersampir begitu saja di pundaknya.
“Katakan atau aku akan mengantarkanmu ke neraka!” ancamnya.
“Luis Jimenez sudah mati. Ketua menembaknya ketika namanya terbongkar,” ucap pria itu pada akhirnya.
“Siapa ketuamu?” cecar Matteo.
“Salah satu dari dua orang yang Anda temui di depan gerbang,” jawab orang itu.
“Sialan!” umpat Matteo. Dia mengarahkan senapannya ke arah jendela besar yang terdapat di ruangan itu dan menembaknya sekali. Kacanya pecah berhamburan, membuat lubang menganga pada jendela. Tanpa membuang waktu, Matteo melompat dari jendela lantai dua dan mendarat di halaman depan gedung, bertepatan dengan dua penjaga gerbang tadi yang berniat melarikan diri menggunakan sebuah mini truck.
Matteo menembak roda belakang kendaraan itu berkali-kali hingga lajunya terhenti. Ia bergegas menghampiri pintu samping kemudi sambil menodongkan senapan. Dua orang itu terpaksa mengangkat tangannya dan memandang ketakutan pada Matteo.
“Kau ternyata jauh lebih cerdik dari yang kami duga,” celetuk salah satu dari dua orang yang duduk di depan kemudi.
“Apa alasan kalian menjebakku? Apa yang kalian takutkan? Padahal aku hanya mencari Luis Jimenez,” selidik Matteo.
__ADS_1
Salah seorang yang duduk di kursi penumpang, membuat gerakan tak terlihat. Ia hendak mengambil sesuatu dari pinggangnya, tetapi Matteo lebih dulu mengetahuinya. Ia membidikkan senjatanya pada orang itu. “Jangan bertindak bodoh atau senjata ini akan melubangi kepalamu! Sekarang buang senjatamu keluar!” titah Matteo.
Kembali orang itu mengangkat tangannya, setelah melakukan apa yang Matteo perintahkan.
“Sekarang cepat jawab pertanyaanku! Di mana Luis Jimenez!” bentak Matteo.
“Ia sudah mati! Kami membunuhnya beberapa saat setelah berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia hanyalah kurir yang mempermudah kami untuk memasuki Casa de Luca dan mencari informasi di sana,” tutur pria itu panjang lebar.
“Berita apa yang ingin kalian curi?” kejar Matteo.
“Semuanya! Termasuk keinginan Anda untuk melakukan penyidikan ke dalam internal organisasi,” jawab orang itu. “Keadaan kami sudah terancam ketika Tuan Roberto membubarkan Albatroz, ditambah dengan keinginan Anda yang hendak merombak organisasi ini secara besar-besaran. Dampaknya sangat terasa bagi kami yang bernaung di bawahmu,” sambungnya.
“Kami hanya ingin keberadaan kami diakui dan menjadi bagian dari Klan de Luca. Albatroz tak bisa hidup dan berkembang sejak ayah Anda membuang kami begitu saja, meskipun beliau mengirimkan uang dalam jumlah besar ke rekening kami dari kantong pribadinya. Namun, itu tidak cukup. Apalagi saat kami mendengar jika Tuan Roberto meninggal. Otomatis pendanaan untuk kami juga terhenti,” jelas pria itu.
“Lalu, apa tujuan kalian menerorku dan membunuh orang tuaku? Kalian juga membunuh keluarga kekasihku,” geram Matteo.
“Tidak, tidak! Kami tidak pernah membunuh Tuan Roberto! Lubangi kepalaku dan aku tetap akan mengatakan hal yang sama, karena memang itulah kenyataannya! Kami hanya meneror keluarga kekasih Anda untuk mengancam Anda, Tuan! Agar Anda menghentikan semuanya,” sangkal pria itu lagi.
“Aksi apa yang kalian maksud?” Matteo semakin erat mencengkeram pegangan senapannya demi menahan emosi yang semakin bergejolak. Terungkap sudah dalang di balik penyerangan keluarga Mia. Kesempatan ini tak akan ia lewatkan begitu saja. Matteo mengambil ponselnya dan mengaktifkan aplikasi merekam.
“Sekarang jelaskan dengan detil, alasan kalian membuat kekacauan di pernikahan kekasihku!” titah Matteo.
“Semua berawal dari keinginan Anda untuk melakukan penyelidikan terhadap keuangan organisasi! Sementara Tuan Roberto telah meninggal! Satu-satunya sumber keuangan kami sekarang hanyalah sistem keuangan Klan de Luca yang otomatis mentransfer lima persen keuntungan tiap bulannya untuk kelompok Albatroz. Jika Anda melakukan perombakan, maka aliran dana untuk kami akan terhenti,” beber orang itu.
“Jadi, itu alasan kalian untuk meneror kekasihku?” tanya Matteo. Mereka berdua mengangguk bersamaan.
“Brengsek!” umpat Matteo. Ia membakkan senapannya ke udara demi menghilangkan sesak di dada. Setelah sedikit tenang, Matteo kembali menginterogasi dua orang yang masih duduk dalam kendaraan itu. “Lalu, siapa yang membunuh kedua orang tuaku?”
“Sudah pasti orang-orang dari klan Moriarty,” jawab orang itu lugas.
“Bagaimana cara mereka sampai berhasil masuk ke dalam Casa de Luca?” tanya Matteo lagi.
“Banyak cara, Tuan. Itu adalah hal yang mudah untuk para Moriarty. Mereka berkembang jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya dengan persenjataan dan peralatan yang jauh lebih canggih pula,” terang orang itu.
Matteo meraup wajahnya kasar, kemudian berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, ia menurunkan senjatanya dan memandang dua orang itu dengan tatapan tajam. “Sekarang lakukan perintahku, maka aku akan tetap memberikan lima persen keuntungan organisasi untuk kalian!” ujar Matteo.
“Apa itu, Tuan?” tanya dua orang itu serempak.
“Buatlah video pengakuan bahwa kalianlah yang telah membunuh keluarga Mia! Lalu, serahkan pada polisi!” tegas Matteo.
“Apa?”
“Itu sama saja dengan Anda membunuh kami!”
Dua orang itu berbicara saling bersahutan.
“Pilih saja, patuh pada perintahku atau aku akan melakukan hal yang sama pada keluarga kalian!” ancam Matteo. Bukan hal yang sulit baginya untuk mencari tahu latar belakang kedua pria di depannya. Wajah-wajah itu mendadak berubah pusat pasi. Jelas, mereka sangat takut akan ancaman Matteo.
“Lakukan apa yang kuperintahkan, atau aku akan memburu orang-orang yang kalian cintai dan menghancurkan mereka! Sama seperti kalian menghancurkan keluarga Mia!” bentak Matteo dengan tegas.
🍒
🍒
🍒
hai, yang lagi tegang habis baca Matteo😁. Lemesin lagi yuk, dengan baca novel di bawah👇
__ADS_1