
“Apa masalahnya dengan Anda jika aku sudah memiliki kekasih atau belum?” Daniella mengalihkan tatapan kepada pria gagah di sebelahnya. Sepasang bola mata yang berwarna hazel, bergerak tak beraturan dan menandakan rasa heran yang tidak ia ungkapkan.
“Kenapa aku bertanya demikian? Jawabannya, karena aku memiliki penawaran yang sangat bagus untukmu,” jawab Sergei tanpa banyak basa-basi.
“Maksud Anda?” Daniella mengernyitkan kening dan merasa semakin tak mengerti. Sementara Sergei menanggapinya dengan sebuah tawa. Ia menatap lekat Daniella seraya menghadapkan tubuhnya kepada gadis itu.
“Kau sangat cantik dan juga memiliki mata yang indah. Aku menyukai rambut pirangmu, terlihat begitu seksi dan memesona. Bagaimana jika kau tinggal di Monaco saja? Di sini, di mansionku,” ujar pria bertubuh tegap itu dengan seringainya yang aneh. Sementara Daniella mulai merasakan gelagat tak baik dari pria itu. Ia sedikit menjauhkan dirinya dari Sergei.
“Aku adalah pengagum wanita-wanita sepertimu, Nona Daniella. Aku bisa menawarkan banyak kesenangan duniawi yang kau impikan, apapun yang kau inginkan, semuanya. Kau menyukai barang-barang mewah dan mahal? Keliling dunia? Bukan sesuatu yang sulit bagiku untuk dapat memenuhi semua itu. Dengan senang hati aku akan memanjakanmu, sampai kau merasa lupa bahwa dirimu masih berada di dunia,” tutur Sergei lagi dengan sejuta rayuan mautnya. Ia terus berusaha untuk membujuk Daniella dengan segala tawaran kemewahan.
“Kau pikir aku akan menerima tawaran itu, Tuan kaya raya?” Daniella menatap tajam kepada Sergei, nada bicara gadis itu pun terdengar lebih ketus dari biasanya.
“Wanita mana yang tak menginginkan semua kemewahan seperti yang kutawarkan tadi?” balas pria Rusia tersebut. Sementara Daniella tidak menjawab. Gadis itu merasa bingung bercampur heran dengan pria yang ada di hadapannya. “Aku tidak akan banyak berbasa-basi, Nona Daniella. Aku pikir kau akan menghargai kejujuran dan niat baikku ini,” ucap Sergei lagi.
“Kau sangat aneh. Kita bahkan baru bertemu beberapa menit yang lalu, dan kau sudah berani memintaku untuk ... astaga! Kau gila!” kesal, Daniellla berlalu begitu saja dari hadapan Sergei. Ia melangkah sambil menggerutu pelan. Sementara Sergei masih terlihat tenang. Pria itu menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya.
Dengan wajah yang penuh kekesalan, Daniella terus melangkah masuk. Ia baru berhenti ketika melihat Marco yang tengah berdiri sendirian di sudut aula sambil menikmati segelas anggur merah. Segera dihampirinya pria berwajah kelimis itu. Daniella merebut gelas kristal yang tengah dipegang pria tersebut dan meneguk habis isinya. Hal itu membuat Marco terlihat keheranan. “Kau kenapa, Dani?” tanyanya.
“Aku kesal! Aku ingin pulang saja!” dengus Daniella jengkel. Ia meletakkan gelas kosong itu di atas nampan pada telapak tangan seorang pelayan, yang kebetulan lewat di dekatnya. Daniella kemudian meraih tangan Marco dan menariknya keluar dari aula tempat pesta berlangsung.
“Kau yakin ingin pergi dari sini, Dani?” tanya Marco tanpa protes sedikitpun ketika Daniella terus menyeretnya keluar. Daniella kemudian menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh dan segera menangkup wajah Marco. Sebuah ciuman lembut pun ia berikan kepada pria itu untuk beberapa saat lamanya.
“Oh, ya. Sebaiknya kita pergi saja dari sini,” ujar Marco dengan wajah sumringah. Mereka bergegas keluar dari halaman mansion itu.
Sementara di dalam aula, Matteo telah kembali dari toilet. Ia mendapati Mia masih berdiri di tempatnya dan menjaga jarak dari Adriano yang berada tak jauh dari wanita itu. “Cara mia,” sapa Matteo.
“Theo, akhirnya kau kembali juga. Aku pikir kau tidur di dalam toilet,” ujar Mia, menyambut Matteo dengan sikap lembutnya. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang tadi ia tunjukkan kepada Adriano. Pria bermata biru itu dapat merasakan perbedaan tersebut dengan sangat jelas. Namun, Adriano berusaha untuk menepiskan segala kegundahan dalam hatinya. Ia tetap memperlihatkan sikap yang biasa saja, terlebih ketika Sergei kembali menghampiri mereka.
__ADS_1
“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan-tuan,” ucap pria keturunan Rusia itu ramah. “Bagaimana jika kita bicara di ruanganku saja, agar suasananya jauh lebih tenang,” tawarnya lagi. Ia menatap Matteo dan Adriano secara bergantian.
“Ya, itu ide yang bagus, Tuan Redomir,” sambut Adriano setuju.
“Aku tidak bisa meninggalkan istriku sendirian di sini,” tolak Matteo pelan.
“Tak apa, Theo. Aku akan mencari Francy dan Dani,” sahut Mia dengan senyuman lembutnya. Ia memberi isyarat kepada sang suami agar tak perlu terlalu mencemaskan dirinya. Namun, Matteo seakan begitu berat untuk meninggalkan Mia sendirian di aula pesta itu.
“Tenang saja, Tuan de Luca. Aku jamin istri Anda akan aman di sini. Apa perlu kuperintahkan beberapa pengawal untuk menjaga Nyonya de Luca secara khusus?” tawar Sergei seraya melirik Mia.
“Tidak perlu terlalu berlebihan, Tuan Redomir. Silakan lanjutkan urusan kalian. Aku akan baik-baik saja, dan tentunya sangat menikmati pesta ini,” ujar Mia lembut yang berbalas senyuman menawan dari Sergei Redomir.
“Pengawal pribadiku ada sana. Jika ada apa-apa, segera minta bantuan saja kepada mereka,” tunjuk Adriano kepada beberapa pria berjas hitam yang berdiri di sisi aula. Adriano tetap menunjukkan perhatian lebihnya kepada Mia, yang saat itu hanya menanggapi ucapan pria itu dengan sebuah senyuman.
Melihat sikap Adriano, tentu saja Matteo tak akan menyukainya. Ia merangkul pinggang sang istri dari samping dan tampak membisikan sesuatu, yang membuat wanita berambut pendek tersebut kembali menyunggingkan senyuman manisnya. Setelah itu, Matteo kemudian mengecup mesra bibir Mia hingga sang istri tersipu. Pria itu sepertinya memang sengaja melakukan hal tersebut di depan Adriano yang saat itu segera membuang mukanya ke samping.
Ruangan itu berukuran terbilang luas. Di sana terdapat meja yang cukup besar dengan beberapa kursi yang menjadi pelengkap. Sepertinya, meja itu dikhususkan untuk menggelar rapat atau pertemuan penting lainnya. Namun, Sergei ternyata tak membawa Matteo dan Adriano untuk duduk di meja tersebut. Ia lebih memilih mengajak kedua tamunya duduk di sofa yang berada di sisi lain ruangan itu, di mana terdapat lemari dengan puluhan atau mungkin ratusan buku yang memenuhinya.
“Anda suka membaca, Tuan Redomir?” tanya Matteo berbasa-basi setelah ia mengalihkan perhatiannya dari lemari besar di sana.
“Aku mengisi akhir pekan dengan membaca. Itu juga jika Tuan D’Angelo tidak mengajakku bermain billiard. Anda pasti belum tahu kehebatan beliau dalam mengarahkan tongkat billiardnya,” sanjung pria Rusia itu seraya melirik Adriano yang sudah duduk dengan tenang.
“Jangan terlalu berlebihan, Tuan Redomir. Aku malu, karena Tuan de Luca adalah ahli dalam segala hal,” ujar Adriano merendah. Ia sempat menoleh kepada Matteo yang juga sudah mulai duduk.
“Billiard bukan keahlianku, Tuan D’Angelo,” bantah Matteo datar. “Semasa remaja aku sering bermain skateboard, tapi untuk saat ini aku lebih senang berkuda,” terangnya lagi.
“Sangat menarik, Tuan de Luca. Bagaimana jika kapan-kapan kita menonton pacuan kuda. Aku memiliki satu kuda andalan yang sering ikut serta dalam perlombaan,” cetus Sergei. Tak berselang lama, beberapa pelayan wanita masuk dengan membawakan minuman untuk mereka.
__ADS_1
“Tentu,” jawab Matteo singkat. “Bisakah kita langsung pada inti pertemuan ini?” Matteo merasa tidak nyaman berada di sana, terlebih ia teringat pada Mia yang berada di aula pesta sendirian.
“Oh, tentu. Baiklah, sudah cukup basa-basinya,” sahut Sergei tergelak. Pria tersebut terus memperlihatkan sikap ramahnya sejak awal bertemu dengan Matteo. “Begini, Tuan de Luca,” pria bermata hijau itu mulai terlihat serius. “Aku sangat menyukai senjata yang Anda produksi. Itu benar-benar luar biasa. Belum pernah aku mendapatkan senjata semutakhir buatan Anda,” tuturnya.
“Lalu?” Matteo masih terlihat datar dan biasa saja menanggapi sanjungan Sergei Redomir, yang bagi sebagian orang pasti akan langsung membuat mereka melambung tinggi. Akan tetapi, tidak bagi Matteo. Ia tak menyukai sebuah sanjungan yang berlebihan.
“Aku sudah memutuskan untuk kembali memesan senjata dari Anda,” jawab Sergei dengan nada serius. “Sebenarnya, aku sudah memiliki langganan. Akan tetapi, ketika melihat dan memegang langsung buah karya Tuan de Luca, maka aku seketika berpaling dan lebih menyukai buatan Anda. Aku bisa menjualnya kembali dengan harga yang sangat tinggi, karena mereka berani membayar lebih untuk itu. Sungguh bisnis yang sangat menggiurkan,” jelasnya. "Tentu saja, aku juga akan membeli semua senjata dari Anda dengan harga yang sangat pantas."
“Sudah kukatakan berkali-kali kepada Tuan de Luca, sebagai produsen ia pasti akan ikut diuntungkan dengan kerja sama ini. Terlebih sekarang Tuan Redomir sudah bertemu dengan Tuan de Luca, maka Anda berdua bisa bernegosiasi secara langsung dan tak memerlukanku lagi sebagai penyambung lidah,” Adriano ikut menimpali.
“Anda ingin keluar dari lingkaran ini, Tuan D’Angelo? Luar biasa sekali. Itu artinya, Anda tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa,” ujar Matteo menatap heran kepada Adriano. Sedangkan pria bermata biru itu hanya menyunggingkan senyuman kalem seraya menggaruk pelipisnya.
“Dari awal, meraih keuntungan memang bukanlah tujuan utamaku, Tuan de Luca. Sebenarnya, bisnis senjata bukanlah bidangku. Akan tetapi, nama besarmulah yang sangat menggiurkan dan membuatku ingin menarikmu dalam jaringan Tuan Sergei Redomir. Memang tak ada keuntungan secara materi bagiku, tetapi aku sekarang sudah dikenal sebagai teman akrab Matteo de Luca,” Adriano mengangkat tangan dan mengaitkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai simbol kedekatan dirinya dan Matteo.
“Lagi pula, aku sudah merasa puas dengan mengelola beberapa club dan casino. Kita juga sudah berbisnis bersama. Aku sangat menyukai Du Fontaine hasil racikan keluarga de Luca. Sudah terlalu banyak keuntungan yang kuraih,” lanjut Adriano dengan senyuman yang tak juga sirna dari wajah rupawannya.
“Lalu, berapa banyak senjata yang ingin Anda pesan, Tuan Redomir?” tanya Matteo. Ia mengalihkan pandangannya kepada Sergei yang saat itu tengah meyuruh seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di sempingnya, untuk menuangkan minuman. Ketiga gelas itu pun mulai terisi.
“Aku ingin memesan seribu lima ratus pucuk senjata, dalam jangka waktu satu bulan saja. Bagaimana, Tuan de Luca? Aku rasa, itu bukan jumlah yang terlalu banyak untuk Anda.”
Matteo tak segera menyanggupi pesanan tersebut. Ia kembali terdiam dan tampak berpikir. “Sepertinya aku akan membutuhkan bantuan Valerie lagi, Tuan D’Angelo,” ujarnya beberapa sesaat kemudian, seraya menatap lekat kepada Adriano.
“Tentu saja. Aku akan menyuruhnya pulang, karena kebetulan saat ini ia sedang pulang kampung ke kota asalnya, Saint Petersburg,” senyum Adriano semakin mengembang, diikuti oleh tawa pelan Sergei Redomir.
Sementara itu di aula pesta, Mia tampak kebingungan mencari sosok Daniella dan Francesca. Tepat di saat ia hendak menggunakan ponsel untuk menghubungi saudari-saudarinya, sebuah tepukan pelan mendarat di bahu Mia dan membuatnya seketika menoleh. “Francy, Ricci? Dari mana saja? Aku mencari kalian ke mana-mana,” serunya kegirangan.
__ADS_1