Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Face in Photo


__ADS_3

“Maafkan aku yang telah mengganggu kemesraan kalian, Tuan-tuan. Lihatlah, kubawakan camilan panas untuk menemani obrolan santai anda berdua sore ini,” ucap Mia diiringi senyuman lembutnya. Ia meletakkan piring berisi arancini di atas meja kerja Matteo.


Sementara pria bermata abu-abu tersebut, memperhatikan Mia dengan tatapan nakal. Ia tersenyum dan merentangkan tangan kanan ke arah Mia yang berdiri tak jauh darinya. “Kemarilah, Sayangku,” ajaknya mesra.


Coco mendengus pelan seraya memalingkan wajah. Rupanya ia sudah muak harus menjadi penonton kemesraan antara Matteo dan Mia. “Ayolah, kumohon jangan lagi!” protesnya. Sedangkan Mia yang kini berdiri di sebelah Matteo bagaikan seorang dayang, saat itu hanya tertawa renyah. “Ada yang tak suka melihat kemesraan kita, Theo,” ujarnya geli.


“Biarkan saja. Anggap hanya ada kita berdua di sini,” timpal Matteo dengan seenaknya. “Cara mia, tolong simpan kotak cerutu ini ke dalam meja dekat jendela. Simpan di laci kedua dari atas,” suruh Matteo dengan gaya bicaranya yang terdengar begitu lembut. Dengan senang hati, Mia meraih kotak cerutu tersebut dan membawanya ke dekat meja yang ditunjukkan oleh sang suami.


j“Oh, inilah yang membuatku ingin segera menikah. Ayolah, Mia. Bantu aku membujuk adikmu agar ia bersedia untuk segera menjadi pengantinku,” pinta Coco dengan mata memelas.


Mia menoleh dan tersenyum. “Apakah Francy pernah mengatakannya padamu, Ricci?” tanyanya.


“Mengatakan tentang apa?” Coco menautkan alisnya.


“Dulu Francy bercerita padaku, jika setelah menikah nanti ingin memiliki setidaknya empat atau lima orang anak,” jawab Mia yang sontak membuat Coco terbelalak. “Jika kau sudah siap akan hal itu, maka aku akan membantumu dengan senang hati,” lanjut Mia tanpa melihat laci mana yang ia buka. Saat itu, tangannya menggeser laci paling atas.


Mia lalu mengembalikan pandangannya pada kotak cerutu yang akan ia simpan. Namun, alangkah terkejutnya wanita itu ketika melihat sesuatu yang berada di dalam laci pertama tadi. Segera diletakakannya kotak cerutu di atas meja. Mia merogoh ke dalam laci dan mengambil sebuah bingkai dengan gambar dua orang pria yang tengah saling merengkuh pundak masing-masing. Mereka terlihat begitu akrab.


Sesaat, Mia berpikir dan mengingat-ingat sambil terus memperhatikan wajah-wajah yang ada di dalam foto berhiaskan bingkai mahal tersebut. Ia lalu menoleh kepada Matteo yang saat itu tengah asyik menikmati arancini buatannya bersama Coco. “Theo, apa kau tahu ini foto siapa?” tanyanya.


Matteo menoleh dan segera menjawab sambil terus mengunyah. “Itu foto ayahku ketika masih muda,” ia menepiskan tangan Coco yang hampir menghabiskan sisa arancini di dalam piring, membuat Coco melotot dan protes padanya. Kelakuan mereka berdua, layaknya bocah yang tengah berebut makanan.


“Tidak, maksudku pria yang berdiri di sebelah ayah mertua,” Mia membalikan foto tersebut ke arah Matteo yang kembali menoleh padanya.


“Pria itu sahabat dekat ayahku. Namanya Alessandro Moriarty,” jawab Matteo yang kembali berebut arancini terakhir dengan Coco.


“Moriarty?” gumam Mia.

__ADS_1


“Ya. Ia adalah ayah dari Silvio Moriarty yang pernah kuceritakan padamu dulu. Memangnya kenapa, Sayang?” Matteo tersenyum puas kepada Coco karena berhasil mendapatkan arancini terakhir dan segera melahap dengan sikap pamer di depan sahabat kentalnya itu. Sedangkan Coco hanya mendengus kesal.


Mia tak segera menjawab pertanyaan sang suami. Ia berpikir untuk beberapa saat. Otaknya terus dipaksa untuk mengingat di mana ia melihat pria yang berfoto bersama Roberto de Luca. “Aku seperti pernah melihat pria ini,” pikir Mia setengah menggumam.


“Di mana? Di Venice?” Ingatanmu sangat baik karena bisa menyimpan wajah orang yang tak kau kenal. Apalagi, saat itu kau pasti masih kecil,” ujar Matteo. Ia mengelap mulut dan jemarinya dengan tisu.


“Maksudmu? Aku melihatnya baru-baru ini, tapi aku benar-benar lupa ....”


“Tidak mungkin, Sayangku,” sanggah Matteo. “Tuan Moriarty meninggal dunia ketika usiaku dan Silvio masih sepuluh tahun. Jika kau melihatnya baru-baru ini, bisa saja itu hanya seseorang yang mirip dengannya. Kau tahu bukan jika setiap orang memiliki duplikat dari wajah mereka, dalam diri seseorang yang bahkan tidak saling mengenal sama sekali,” jelas Matteo tenang.


“Tidak sia-sia kau melanjutkan kuliah di Amerika,” ledek Coco.


“Kau ini bodoh sekali, bahkan untuk hal seperti itu pun tak tahu,” balas Matteo. Sementara Mia masih terdiam dan terus berpikir. Sesaat kemudian, ia kembali memasukan foto itu ke dalam laci pertama. Setelahnya, Mia memasukan kotak cerutu ke dalam laci kedua.


“Theo, jangan mandi terlalu sore. Aku akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam,” Mia lalu beranjak ke dekat pintu. Sebelum keluar, ia kembali menoleh pada kedua pria itu. “Ricci, apa kau akan makan malam di sini?” tanyanya.


Resah, terlihat di dalam sorot mata teduh Mia. Ia melangkah pelan menyusuri lorong rumah bergaya Tuscany tersebut untuk menuju dapur. Pikirannya tiba-tiba tak karuan dan terasa aneh, bahkan hingga dirinya di dapur pun Mia masih belum dapat berkonsentrasi pada masakannya.


Semua itu terus berlangsung hingga malam tiba. Seusai makan dan merapikan meja, istri dari Matteo de Luca tersebut segera menuju kamarnya. Hal itu membuat Matteo merasa aneh, karena Mia tampak jauh lebih pendiam jika dibandingkan dengan tadi sore.


“Apakah ada sesuatu yang mengganggumu, Sayangku?” tanya Matteo seraya memeluk Mia yang baru selesai membersihkan riasannya.


“Tidak ada, Theo. Aku hanya sedikit lelah,” jawab Mia mencoba untuk tersenyum manis.


“Kalau begitu, sebaiknya kau beristirahat. Aku sangat menyukai arancini yang buat tadi sore. Hal itu mengingatkanku pada kota Venice beberapa tahun yang lalu,” ucap Matteo. Lembut, ia mengecup pundak Mia.


“Sudah lama kita tidak ke sana dan mengunjungi makam orang tuaku,” ujar Mia pelan. Ada setitik rasa sedih ketika ia teringat pada sosok mr. Gio yang begitu melekat di hatinya.

__ADS_1


“Kita bisa ke sana kapanpun kau mau, Cara mia,” balas Matteo. Ia bermaksud untuk menghibur sang istri yang terlihat muram malam itu.


“Kau tahu, Theo?” Mia melepaskan dirinya dari dekapan Matteo. Ia lalu duduk di ujung ranjang. Sedangkan Matteo memilih untuk naik dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Mia, dengan posisi wajah menghadap perut sang istri.


“Aku memiliki cita-cita untuk membawa anak-anak kita kelak pergi ke kota Venice. Meskipun kota itu bukanlah tempat kelahiranku, tapi Venice sudah menjadi kampung halaman bagi seorang Mia. Aku menghabiskan sebagian besar kisah hidupku di sana, dan meninggalkan banyak sekali kenangan. Di sana pula kita bertemu untuk pertama kalinya. Kau membuatku sangat takut waktu itu,” Mia tersenyum nanar seraya mengelus lembut rambut Matteo.


“Kau mungkin belum tahu jika dulu mendiang kakekku kerap mengajak untuk berlibur ke sana. Saat musim panas tiba, ia selalu membawaku menyusuri kanal dengan menaiki gondola. Ada banyak tempat yang biasa kami kunjungi. Aku juga mempunyai ikatan kuat dengan kota itu, Cara mia,” tutur Matteo pelan.


Mia kembali tersenyum. "Mari ke sana lagi dengan membawa buah hati kita berdua, dan mengajaknya untuk naik gondola. Aku sudah merindukan saat-saat seperti itu, Theo," ucap Mia dengan penuh harap.


"Segera, Sayangku. Setelah urusanku dengan D'Angelo selesai, maka aku akan fokus untuk memenuhi semua harapanmu yang belum sempat kukabulkan. Semoga ini akan menjadi awal yang baik bagi kita," sahut Matteo yakin.


Malam semakin larut. Matteo sudah tertidur lelap saat itu. Sementara Mia masih terjaga. Sesaat kemudian, ia menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Mia berjalan ke dekat meja kecil di sebelah Matteo dan mengambil ponsel milik sang suami. Ia lalu keluar kamar dan menuju ruang kerja. Sebelumnya, Mia menyalakan lampu terlebih dahulu.


Ia tampak menghubungi seseorang saat itu. "Ini aku, Mia," ucapnya datar.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2