
Mr. Gio mengernyitkan keningnya. Ia juga menajamkan tatapannya terhadap Daniella sebagai tanda protes. Sudah jelas jika ia tidak akan mengizinkan seorang pria asing untuk menginap di rumahnya.
Pandangannya kini beralih pada sosok Matteo. Saat di kedai, Mr. Gio memang tidak terlalu memerhatikan pria jangkung dengan jaket kulit itu, karena perhatiannya tertuju kepada Mia. Namun, kini ia bisa lebih leluasa memberikan penilaiannya terhadap Matteo.
Tatapan tajam Mr. Gio terus terpusat pada sosok tampan tapi terlihat urakan itu. Perhatiannya terpaku pada sesuatu di leher Matteo yang meskipun tidak terlihat jelas, tapi sudah dapat dipastikan jika itu merupakan sebuah tato.
Pandangan Mr. Gio juga beralih pada rambut gondrong Matteo yang malam itu diikat ala man bun. Meskipun diikat rapi, tetapi tetap saja karena penampilan Matteo sangat jauh berbeda dengan penampilan apik seorang Valentino Diori.
Matteo, sudah dapat memerkirakan hal itu. Ia juga tidak berharap Mr. Gio akan mengizinkannya menginap di sana, meski hanya untuk beberapa hari. Lagi pula, Matteo ingin segera kembali ke Brescia. Ia akan menemui seorang temannya yang bernama Coco. Setelah itu, barulah ia akan benar-benar pulang kepada kedua orang tuanya.
“Ayah, kenapa hanya diam? Katakan sesuatu!” rengek Daniella dengan manjanya.
Mr. Gio tidak menjawab. Pria itu menatap putri sulungnya untuk sesaat. “Bisa kita bicara berdua saja, Dani?”
Daniella mengeluh pelan. Jika ayahnya sudah bersikap seperti itu, maka sudah dapat dipastikan dirinya tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun, mau tidak mau Daniella akhirnya menuruti sang ayah. Ia mengikuti pria paruh baya itu ke ruangan lain. Sementara Matteo masih terpaku di tempatnya.
Sekilas ia melihat wajah Mia yang tengah memerhatikannya dari balik tembok pembatas. Meskipun gadis itu segera menarik wajahnya hingga tersembunyi di balik dinding, tetapi Matteo dapat melihat tatapan lembut dari mata berwarna coklat yang telah kembali mengusik hatinya.
“Apakah kedua orang tuamu masih ada, Nak?” tanya Magdalena. Ia mencoba untuk berbasa-basi, agar suasana di sana tidak terlalu kaku.
Matteo tidak menjawab. Pria itu hanya mengangguk pelan. Raut wajah datar dan dingin masih tampak dalam paras rupawannya.
Matteo tidak memahami mengapa dirinya dapat bersikap sangat manis kepada Mia, padahal ia tidak pernah bersikap seperti itu kepada orang asing. Meskipun orang asing tersebut adalah gadis yang teramat cantik sekalipun. Matteo hanya menunjukkan sisi lembutnya kepada sang ibu, Gabriella.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa sampai dirampok, Nak?” tanya Magdalena lagi. Ia juga merasa bingung harus bicara apa, karena Matteo dinilai terlalu kaku menurutnya.
Matteo sangat jauh berbeda dengan pria-pria lain yang pernah Daniella bawa ke rumah itu. Kebanyakan dari mereka selalu banyak bicara dan seakan ingin menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Namun, berbeda dengan Matteo. Pria itu justru seakan menyembunyikan banyak rahasia dalam sikap diamya.
Sementara itu di dalam kamar Daniella, perdebatan yang cukup sengit telah terjadi antara Mr. Gio dan gadis berambut coklat kemerahan itu. Daniella terus memaksa agar Mr. Gio dapat memberikan izin bagi Matteo untuk menginap di sana. Namun, Mr. Gio tidak semudah itu mengucapkan kata “iya”.
“Sudah berapa lama kau mengenal pria itu, sampai-sampai kau berani mengajaknya kemari dan memintaku untuk mengizinkannya menginap di sini?” protes Mr. Gio dengan tegas.
“Ayolah, Ayah! Tidak penting berapa lama aku mengenal Theo, yang pasti ia adalah pria yang baik!” bantah Daniella. Ia tetap memaksakan keinginannya kepada Mr. Gio.
“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mengenal pria dengan penampilan ala berandalan pasar seperti itu? Penarik gondola bahkan jauh lebih sedap dipandang jika dibandingkan dengan pria itu!” protes Mr. Gio lagi.
“Ayolah, Dani! Meskipun kita bukan keturunan bangsawan, tapi aku tetap harus menilai siapa saja yang mendekati dan berusaha masuk ke dalam keluargaku! Tidak terkecuali pria yang kau sebut sebagai kekasihmu itu!” tegas Mr. Gio dengan telunjuk lurus ke depan Daniella.
“Apa Ayah akan semarah itu seandainya kukatakan jika aku menemukan Theo di dalam gudang di kedai?” Daniella dengan seringai jahatnya. Ia hanya ingin mengetahui seperti apa respon Mr. Gio seandainya dirinya mengatakan hal yang sebenarnya.
“Apa maksudmu, Dani?” tanya Mr. Gio masih dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegas dan penuh wibawa.
Daniella tersenyum sinis. Ia tidak ingin menikmati kemarahan Mr. Gio hanya sendirian. “Ayah tahu kenapa Mia sering pulang terlambat dari kedai? Jawabannya karena Mia telah menyembunyikan Theo di dalam gudang di sana,” terang Daniella dengan senyum penuh kepuasan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Mr. Gio terhadap putri kesayangannya itu.
“Jangan mengada-ada kau, Dani!” sergah Mr. Gio dengan cukup keras.
“Sayangnya, itu adalah kenyataannya. Betapa pintarnya Mia menyembunyikan seorang pria selama beberapa hari di dalam gudang, tanpa diketahui oleh Ayah. Mia memang sangat luar biasa. Iya, kan?” cibir Daniella.
__ADS_1
Mr. Gio tidak menjawab. Ia segera keluar dari dalam kamar Daniella. Mr. Gio kembali ke ruang tamu dan menatap tajam ke arah Matteo hingga membuat pria itu berdiri.
“Mia!” panggil Mr. Gio dengan suaranya yang lantang. Pria itu kini tengah berusaha menahan amarah pada putri kesayangannya yang telah membuatnya merasa kecewa. Mr. Gio masih berharap jika semua yang dikatakan Daniella tidaklah benar. Ia masih berharap jika Mia akan memberikan sebuah penjelasan yang sesuai dengan keinginannya.
“Mia!” panggil Mr. Gio lagi membuat Mia yang tengah menemani Franceska belajar menjadi terkejut karenanya.
“Mia, kenapa ayah memanggilmu dengan nada seperti itu?” tanya Franceska dengan heran. Mia terdiam dan berpikir. Sesaat kemudian, Mia beranjak dari duduknya.
“Aku harus menemui ayah dulu. Kau lanjutkan saja, seperti yang tadi sudah kujelaskan!” Setelah itu, Mia keluar dari kamar Franceska dan menemui Mr. Gio di ruang tamu.
Tampak Daniella menyenderkan lengannya di pintu kamar. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada. Sebuah senyuman sinis terlukis di sudut bibirnya yang berwarna merah muda.
Mia kemudian menatap Mr. Gio yang saat itu tengah menatapnya dengan tajam. Ia mulai merasakan firasat yang tidak baik. Gadis manis berkuncir kuda itu kembali menoleh kepada Daniella. Mia sudah dapat menebak jika Daniella pasti telah mengadukan dirinya kepada sang ayah.
“Ayah,” terdengar suara lembut Mia dalam suasana penuh ketegangan itu. “Ada apa?” tanyanya. Sedangkan tatapan Mr. Gio terlihat semakin tajam ia layangkan terhadap Mia. Hal itu membuat Mia semakin merasa khawatir.
“Katakan padaku bagaimana bisa kau menyembunyikan seorang pria di dalam kedai-ku selama berhari-hari!” Mr. Gio langsung menembak Mia tanpa basa-basi terlebih dahulu, membuat gadis itu terdiam dan tampak pucat. Mia kemudian menatap Matteo yang sejak tadi hanya terdiam. Pria itu masih terlihat dengan ekspresi dan sorot mata yang sama.
“Jelaskan sesuatu, Mia!” nada bicara Mr. Gio terdengar semakin meninggi membuat Mia harus menundukan wajahnya.
__ADS_1