Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Stay With Me


__ADS_3


Semua yang menunggu di sana, pada akhirnya dapat sedikit bernapas ketika dokter yang menangani Matteo telah keluar dari ruang operasi. Pria berperawakan jangkung dan agak kurus itu tampak melepas masker bedah yang menutupi sebagian wajahnya, ketika Mia beranjak ke arahnya dengan wajah penuh harap-harap cemas. “Bagaimana keadaan suamiku?” tanya Mia dengan nada bicaranya yang diliputi keresahan.


“Operasinya berjalan dengan lancar. Setelah ini, suami Anda akan diobservasi terlebih dahulu. Barulah nanti kita pindahkan ke ruang rawat inap. Permisi,” setelah memberi kabar baik tentang operasi yang telah dijalani oleh Matteo, dokter itu pun berlalu meninggalkan Mia beserta semuanya, yang kini dapat bernapas dengan lega. Tanpa ragu, Mia segera memeluk Damiano dengan penuh haru.


“Sudah kukatakan, Mia. Theo pasti akan baik-baik saja. Ia pria yang kuat,” ujar Damiano seraya mengelus rambut Mia dengan lembut. “Kau tahu? Dulu saat usianya tujuh tahun, Matteo pernah terjatuh dari kuda hingga kakinya patah. Namun, ia tidak mengeluh sedikitpun. Ia juga tidak merasa kapok dan takut untuk kembali berkuda bahkan hingga saat ini,” tutur pria itu lagi dengan senyumnya.


“Sekarang, Theo sudah jauh lebih dewasa. Ia semakin kuat, terlebih karena ada kau di sampingnya, Mia,” hibur Damiano lagi dengan tutur katanya yang terdengar begitu meneduhkan. Ia merupakan sosok yang sangat bijaksana. Namun, sayangnya hingga saat ini Damiano belum mampu meredam watak keras Matteo, yang tak jarang kesulitan untuk mengendalikan amarahnya.


Francesca dan Daniella pun tersenyum penuh kebahagiaan setelah mendengar kabar dari dokter tadi. Sementara Coco berdiri di dekat kedua gadis tersebut. Ia ingin memeluk Francesca, tapi gadis itu lebih memilih memeluk Daniella. Akhirnya Coco pun memeluk Adriano yang saat itu tengah berdiri tanpa melepas tatapannya dari wajah cantik Mia.


Adriano sedikit terkejut. Ia juga tidak mengenal Coco sama sekali, tapi pria rupawan itu pada akhirnya membalas pelukan Coco dengan hangat, seraya menepuk punggung pria berambut coklat tersebut sebagai tanda keakraban.


................


Setelah keluar dari ruang observasi, Matteo kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sebuah kamar yang terletak di paviliun rumah sakit, dengan fasilitasnya yang lengkap dan mewah. Pria bermata abu-abu itu baru membuka matanya beberapa saat yang lalu, setelah ia tertidur cukup lama.


Matteo tampak menyunggingkan sebuah senyuman kecil, ketika ia merasakan ada tangan halus yang menggenggam erat jemarinya. “Mia ....” desahnya pelan. Hanya nama itu yang ada di pikirannya saat ia sudah benar-benar sadar.


“Aku di sini, Theo,” balas Mia dengan setengah berbisik. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Matteo dan mengecup pelipis sang suami dengan lembut. “Bagaimana keadaanmu, Sayang?” bisik Mia lagi. Tatapannya dipenuhi dengan cinta kasih terhadap pria tersebut.


Matteo menggerakkan bola matanya ke samping, di mana wajah Mia berada. Ia belum dapat menggerakan badan dan lehernya dengan normal, pasca operasi yang telah dijalaninya beberapa jam yang lalu. Pria itu kembali menyunggingkan senyuman kecilnya. “Tadi aku bermimpi tentang dirimu,” ucap Matteo pelan dan dalam. Ia terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Hanya sepasang mata abu-abunya yang masih dapat bergerak dan seakan menjadi isyarat bagi Mia.

__ADS_1


“Oh, ya? Aku harap itu bukan sebuah mimpi buruk,” sahut Mia lembut. Ia mengelus lembut rambut Matteo yang tampak sedikit acak-acakan, merapikan rambut itu sesaat menggunakan jemari lentiknya seraya mencium kening sang suami dengan penuh kasih. “Kau masih terlihat sangat tampan meskipun sedang terbaring tak berdaya seperti ini,” goda Mia membuat senyuman Matteo tampak sedikit lebih lebar dari sebelumnya.


“Kata siapa aku tak berdaya? Tak lama lagi, aku akan kembali menggangkat tubuhmu di atas pundakku,” balas Matteo, meskipun dengan nada bicaranya yang terdengar begitu lesu, dan tidak seperti Matteo yang biasanya.


“Karena itulah, kau harus lekas sembuh. Aku ingin kau segera pulih dan kita bisa secepatnya kembali ke Brescia. Akan kubuatkan arancini untukmu,” ucap Mia dengan setitik keharuan di sudut matanya. Sedangkan Matteo terus menggenggam erat jemari lentik itu. Ia seakan takut untuk melepaskannya.


"Aku menyukai makanan itu, Mia," ucap Matteo pelan. Ia pun kemudian terdiam.


“Jangan pergi dariku,” ucap Matteo lagi. “Jangan tinggalkan aku, Mia. Aku sangat membutuhkanmu,” lanjutnya pelan. Namun, Matteo tetap memaksakan dirinya untuk bicara.


“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Theo?” Mia mencium tangan Matteo yang tengah menggenggamnya dengan erat. Sementara Matteo tidak segera menjawab. Pria itu menatap lekat sang istri dengan sorot matanya yang tampak sayu.


Beberapa saat kemudian, Matteo kembali berkata, ”Kau telah melihat sisi gelapku, Mia. Seperti itulah Matteo de Luca ketika sedang dikuasai amarah. Aku sanggup melibas satu gembong mafia seorang diri. Sama seperti yang pernah kulakukan dulu di Palermo. Aku telah menghabisi nyawa sahabatku sendiri yang telah berkhianat ....” Matteo tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Mia menciumnya dengan lembut. Matteo tak berdaya saat itu. Ia hanya terdiam dan memejamkan matanya, mencoba untuk meresapi sentuhan manis penuh cinta yang diberikan sang istri kepadanya.


“Lalu, tentang Camilla ....”


“Kita bahas itu nanti!” sela Mia seraya berlalu untuk membuka pintu. Nada bicaranya yang lembut seketika berubah saat mendengar nama itu.


Tampaklah Coco dengan senyuman khasnya. Ia berdiri di balik pintu, dengan hanya memakai kemeja putihnya. Tanpa banyak bicara, Mia segera mempersilakan sahabat kental sang suami untuk masuk. “Aku akan membeli makanan sebentar,” pamitnya. Tanpa menunggu jawaban dari Matteo, Mia segera keluar dan menutup pintu rapat-rapat.


Sementara Daniella dan Francesca kembali ke kastil untuk membawakan pakaian ganti bagi Mia, karena hingga saat itu, Mia masih memakai gaunnya yang telah lusuh dengan beberapa bercak darah di sana.


Mia sebenarnya merasa risih untuk keluar, tetapi perutnya terasa lapar. Namun, baru saja ia hendak beranjak dari luar kamar rawat Matteo, tiba-tiba Adriano datang menghampirinya. Pria itu menyodorkan roti dan makanan lainnya kepada Mia. “Kau pasti belum sempat sarapan kan, Nyonya de Luca?”

__ADS_1


Mia tertegun. Ragu, ia menerima makanan yang Adriano sodorkan kepadanya. Namun, daripada ia harus keluar dengan penampilannya yang pasti akan terlihat janggal bagi semua orang, akhirnya Mia menerima kebaikan dan perhatian dari pria rupawan tersebut. Ia pun duduk di kursi, sementara Adriano berdiri sambil bersandar ke dinding.


Sesaat kemudian, pria itu memutuskan untuk duduk di sebelah Mia dengan memberi jarak antara keduanya. Adriano duduk sambil bersandar. Ia meletakan kaki kanannya di atas paha sebelah kiri. Sikapnya terlihat begitu gagah saat itu.


“Terima kasih rotinya,” ucap Mia pelan seraya melirik pria di sebelahnya.


“Tidak perlu sungkan, Nyonya de Luca. Katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu. Aku akan membantumu dengan senang hati,” sahut Adriano dengan gaya bicaranya yang tak jauh berbeda dari Matteo. Akan tetapi, pria itu terlihat sedikit lebih ramah karena ia memiliki sorot mata yang cukup teduh. Adriano terus memperhatikan Mia yang tengah menyantap roti pemberiannya.


“Kenapa kau tidak beristirahat, Nyonya de Luca? Kau terlihat sangat lelah. Apa kau tidak tidur semalaman?”


Mia tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Adriano. Ia memang merasakan perhatian lebih dari pria asing tersebut, dan hal itu membuatnya sangat tidak nyaman. Namun, Mia adalah orang yang ramah meskipun agak pemalu. Ratu dari Klan de Luca tersebut hanya tersenyum kecil. Ia tidak berani menatap pria itu secara langsung dan lebih memilih untuk menghabiskan makanannya.


🍒🍒🍒


Hai, kali ini selain ceuceu kasih bonus visual abang keren di atas, ceuceu juga mau kasih rekomendasi novel keren. Ini 👇👇👇


 


 



 

__ADS_1


__ADS_2