
Pria itu tetap membidik Matteo. Telunjuknya sudah menempel pada pelatuk pistol yang ia pegang. Sedikit lagi, senjata itu akan memuntahkan pelurunya ke arah pria yang tengah berdiri tenang di seberang jalan. Akan tetapi, perhatian pria di dalam mobil tersebut kemudian terpusat pada wanita yang baru keluar dan menghampiri Matteo. Wanita yang tengah hamil tua itu bersikap sangat manja pada sang suami. Ia menyentuh wajah suaminya dengan mesra, dan menggandeng tangan serta merebahkan kepalanya di bahu lebar Matteo. Sementara Matteo membalasnya dengan mengusap perut sang istri yang sudah membesar.
Pria tadi tercenung sesaat. Ada kehidupan baru dalam perut wanita itu. Ia membayangkan betapa sedihnya wanita cantik tersebut jika sampai sang suami tiada, dan tak dapat mendampingi detik-detik di saat dirinya akan melahirkan bayi mereka.
Pada akhirnya, pria itu menurunkan senjata yang telah siap ia letuskan ke arah sasaran. Kembali dibongkarnya alat peredam, lalu dirinya pun mengeluarkan peluru dari dalam pistol tersebut. Setelah itu, si pria segera memasukkan semua barang-barang tadi ke dalam dashboard mobilnya. Untuk sesaat, pria tadi terdiam sambil mengamati pasangan itu menuju tempat di mana mereka memarkirkan kendaraan.
Si pria yang tadi bermaksud untuk menembak, kemudian memutuskan untuk keluar dari mobil dan menyeberang jalan. Ia melangkah tenang, menghampiri Matteo dan juga Mia.
“Apa kabar, Tuan de Luca? Sedang apa Anda di sini?” sapa pria yang tak lain adalah Adriano D'Angelo.
Matteo yang hendak membukakan pintu untuk sang istri, segera menoleh. Begitu juga dengan Mia. “Tuan D’Angelo?” mata abu-abu pria itu menatap keheranan. “Anda juga sedang apa di sini?” Matteo balik bertanya.
“Tidak ada. Aku hanya kebetulan lewat. Rencananya aku ingin menghabiskan waktu saja dengan berjalan-jalan memutari kota Brescia sebelum kembali ke Monaco,” jawab Adriano dengan tatapan mata mengarah kepada Mia yang saat itu memakai scraf bermotif dengan brand ternama. Scraf itu merupakan hadiah dari dirinya ketika awal kehamilan Mia dulu.
“Anda terlihat sangat cocok memakai scarf itu, Nyonya,” puji Adriano dengan seutas senyuman dan tatapan lembut kepada istri dari Matteo.
“Istriku memang cocok memakai apapun,” sahut Matteo sambil memeluk pinggang Mia dan mengecup pucuk kepalanya dengan hangat.
“Anda lihat? Menurut perkiraan dokter, kurang dari satu bulan lagi istriku akan melahirkan,” ujarnya sembari mengusap-usap perut besar Mia. Sedangkan Mia sendiri hanya tersenyum manis. Ia tak habis pikir karena Matteo masih saja terlihat cemburu kepada Adriano.
“Wah, aku turut berbahagia untuk kalian berdua. Jika ada apapun yang kalian butuhkan, maka aku siap membantu,” ujar Adriano menanggapi ucapan Matteo dengan nada bicara yang teramat ramah.
“Terima kasih sebelumnya atas perhatian Anda, Tuan D’Angelo. Akan tetapi, saat ini aku sedang tidak membutuhkan apapun. Lagi pula, aku dan Theo sedang terburu-buru untuk membeli perlengkapan bayi. Kami harus segera kembali ke Casa de Luca agar bisa segera beristirahat di kamar dan aku ingin meluruskan kakiku tentunya,” balas Mia dengan telunjuk mengarah pada kedua betis yang terlihat membengkak.
Adriano tak dapat menahan tawanya saat melihat ekspresi Mia yang baginya terlihat begitu lucu. Senyumnya mengembang lebar dengan sorot mata berbinar. Jauh berbeda dengan saat ia membidik Matteo beberapa saat yang lalu.
“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu. Semoga hari kalian menyenangkan,” sebelum pamit, Adriano sempat menyalami Matteo dan mencium punggung tangan Mia. Setelah itu, ia membalikkan badan dan kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan.
“Aduh ... bagaimana ini, Theo? Aku harus ke toilet lagi,” terdengar sayup-sayup suara Mia di telinga Adriano yang membuatnya tertegun untuk sejenak. Namun, Adriano kembali melanjutkan langkah dan masuk ke mobilnya. Dari sana, ia kembali memperhatikan Mia yang masuk lagi ke dalam kedai, sementara Matteo tampak menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Adriano. Entah mengapa, desir-desir kebahagiaan itu turut ia rasakan dengan begitu tulus, saat melihat rona bahagia yang Matteo tunjukkan. Adriano pun tak segera melajukan mobilnya. Pria itu termenung untuk beberapa saat. "Mia, aku bisa menghabisi nyawa siapa pun tanpa rasa takut, tapi kenapa aku tidak bisa membunuh perasaanku padamu?" gumam Adriano lirih dalam renungannya. Sesaat kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar.
Tampak Mia telah kembali. Wajah cantik wanita itu menyiratkan sebuah keresahan, membuat Adriano mencoba untuk menelisiknya dengan dalam.
Mia memang merasa khawatir saat itu. Ia memegangi lengan Matteo dengan erat. "Ada apa, Cara mia?" tanya Matteo heran bercampur penasaran.
"Theo, ada bercak darah di celanaku," Mia terlihat begitu resah.
"Apa? Sebaiknya kita segera ke rumah sakit saja," Matteo bergegas merengkuh pundak Mia dan membawanya masuk ke mobil. Tanpa berlama-lama, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Dari laju mobil yang ia kendarai, terlihat jelas bahwa Matteo tengah terburu-buru. Adriano pun menjadi sangat penasaran. Ia segera mengikuti ke mana arah mobil yang Matteo kendarai.
Selang beberapa saat, mobil milik Matteo tampak memasuki halaman sebuah rumah sakit. Adriano pun ikut masuk. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Matteo yang saat itu kembali merengkuh pundak Mia dan membawanya ke dalam rumah sakit tersebut.
Untuk sesaat, Adriano tampak berpikir. Ia hanya berharap tak terjadi apa-apa kepada Mia. Akan tetapi, rasa penasaran itu sangat besar dan terus memaksa hatinya untuk meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi. Pria tampan bermata biru tersebut, akhirnya mengikuti bisikan kecil yang sejak tadi mengganggunya. Ia melangkah dengan gagah menuju pintu masuk rumah sakit itu.
Di dalam sana, Adriano sudah tak menemukan keberadaan Matteo dan juga Mia. Dirinya terlalu lama berpikir. Ia pun memutuskan untuk kembali ke mobilnya.
Sementara itu, Mia sudah ditangani oleh beberapa orang perawat. "Dokter kandungan Anda sudah kami hubungi, Nyonya de Luca. Sebentar lagi, beliau akan tiba," terang perawat itu kepada Mia yang saat itu tampak gelisah. "Tetaplah tenang," ucap perawat itu lagi dengan senyuman ramahnya.
"Dokter hanya bisa memperkirakan waktu kelahiran, Tuan. Namun, ada beberapa faktor yang membuat waktu melahirkan bisa lebih cepat atau lambat. Sebaiknya kita tunggu, karena bisa saja pembukaannya berlangsung lebih cepat dari tanggal perkiraan," jelas perawat itu lagi. Tangannya tak berhenti memeriksa tanda-tanda vital di tubuh Mia, seperti tekanan darah dan detak jantung ibu dan bayi dalam kandungan. Tampak perawat yang lain mencatat hasil pemeriksaan itu kemudian saling mengangguk.
"Nyonya harus terus bersikap tenang, Tuan. Untuk sementara, istri Anda bisa beristirahat. Kami akan memeriksa lagi nanti. Permisi," pamit perawat itu kemudian berlalu dari hadapan Matteo. Sepeninggal para perawat itu, Mia semakin terlihat tidak nyaman. Matteo pun segera menghampirinya.
"Apa yang kau rasakan, Sayang?" tanya pria bermata abu-abu itu cemas. Ia merengkuh tubuh Mia. Wanita itu mulai meringis kecil, merasakan hal yang membuatnya gelisah.
"Perutku, Theo. Rasanya aneh," keluh Mia pelan.
Dengan segera, Matteo mengusap-usap perut Mia penuh perasaan. Ia juga tak henti-hentinya mengecup kening istrinya yang mulai dipenuhi bulir-bulir keringat.
“Pandang wajahku, Cara mia. Jangan terlalu cemas, bernapaslah perlahan dan teratur,,” tutur Matteo saat menyadari bahwa Mia bernapas cepat dan terengah-engah.
__ADS_1
“Sakit, Theo,” jemari Mia mencengkeram telapak tangan Matteo sangat erat seraya meringis. Wanita itu belum pernah merasakan kesakitan yang demikian intens dan menyiksa.
“Apa perlu kupanggilkan dokter, atau perawat? Tunggulah sebentar, Cara mia,” ucap Matteo pelan seraya hendak beranjak dari dekat Mia.
“Jangan, Theo! Jangan tinggalkan aku!” cegah Mia setengah merengek. Air mata mulai membasahi pipi wanita yang tengah kesakitan itu. “Rasanya sakit sekali, aku takut," ujar Mia sesekali meringis pelan.
“Tarik napas panjang, Sayangku,” Matteo memperlihatkan sikap tenang, meskipun dalam hati ia juga merasakan kekalutan yang luar biasa.
“Dadaku sesak, aku tidak bisa bernapas,” Mia mendongakkan wajah, menatap langit-langit ruangan. Perlahan pandangan matanya mengabur, pegangan tangannya di telapak tangan Matteo pun mulai melemah.
“Cara mia!” seru Matteo. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres. Dengan terburu-buru ia menekan tombol darurat di atas ranjang rumah sakit. Sekilas, pandangannya mengarah ke bagian bawah tubuh Mia yang ternyata telah basah oleh cairan bercampur darah. "Oh, astaga," gumamnya dengan wajah tegang.
Untungnya, dalam waktu sepersekian detik saja, para perawat yang tadi memeriksanya datang kembali bersama dokter kandungan langganan Mia. Dengan cekatan, mereka memasang selang kecil ke dalam hidung Mia untuk membantu pernapasan.
“Anda harus tetap sadar, Nyonya. Lihatlah wajah suami Anda,” dokter itu menepuk-nepuk pipi Mia.
Perlahan, napas Mia mulai kembali normal. Ia menuruti saran dari sang dokter dan memandang sayu ke arah Matteo.
“Aku di sini, Cara mia. Aku akan selalu di dekatmu,” bisik Matteo yang mendekatkan wajahnya pada telinga Mia.
“Sedikit lagi, Tuan dan Nyonya. Kepala bayi sudah terlihat. Mengejanlah ketika kuperintahkan dan berhenti sesuai aba-abaku,” titah dokter itu.
Perawat-perawat yang lain, menegakkan posisi ranjang, sehingga Mia setengah terduduk dengan kaki terbuka.
“Dalam hitungan ketiga, Anda kuperintahkan untuk mengejan,” ujar sang dokter yang segera dibalas anggukan pelan oleh Mia.
Tak berapa lama, Mia mulai mengejan dan berhenti sesuai aba-aba dokter tersebut. Dalam tiga kali tarikan napas, sesosok bayi mungil keluar dan menangis kencang. Dokter itu sigap menangkap dan para perawat menutupinya dengan handuk.
“Bayi yang sangat cantik,” ucap salah seorang perawat sembari meletakkannya dalam posisi tengkurap di atas dada Mia. Mereka yang ikut membantu jalannya persalinan terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
“Selamat, Tuan dan Nyonya de Luca,” dokter itu berucap dengan raut wajah lega.