
"Apakah kau akan pergi, Ricci?" tanya Mia yang melihat Coco sudah tampil rapi. Pria itu juga terus memainkan kunci motornya. Sesekali Coco bersiul riang. Entah apa yang membuatnya tampak begitu ceria.
"Ya, Mia. Aku sudah terlalu lama meninggalkan bengkel. Akhir-akhir ini, bengkelku sering terbengkalai. Untung saja para pelanggan setiaku tidak berpaling ke mana-mana," terang Coco. Ia masih terlihat tenang.
"Oh, sayang sekali. Padahal rencananya kami akan pergi ke Roma hari ini," ucap Mia. Ia tersenyum geli saat melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan Coco.
"Kenapa kau memberitahunya, Sayang?" protes Matteo. "Ia hanya akan mengganggu perjalanan kita," lanjut pria bermata abu-abu itu seraya menautkan alisnya. Sementara Mia terus saja tertawa geli, saat melihat sikap kedua sahabat itu. "Kalian sangat lucu," ujar Mia seraya memutup mulut dengan punggung tangannya.
Seketika, Matteo dan Coco saling pandang dengan wajah tidak percaya. "Lucu?" ucap kedua sahabat itu dengan bersamaan. Matteo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mia. Pria itu sepertinya ingin kembali protes.
Akan tetapi, hal itu Matteo urungkan, karena Coco terdengar kembali mengatakan sesuatu. "Ayolah, Theo. Aku janji akan tidur selama di perjalanan, dan tidak akan banyak berkomentar. Terserah kalian mau melakukan apapun," pinta Coco dengan raut memohon. "Mia, ajak aku bersama kalian," pintanya lagi seraya mengalihkan pandangannya kepada Mia yang masih tertawa.
"Ajukan permohonanmu pada suamiku," ujar Mia seraya menggandeng lengan kiri Matteo. Mereka pun melanjutkan langkah menuju kamar. Sementara Coco hanya menggaruk-garuk kepalanya.
Di dalam kamar, Mia segera mendudukkan Matteo di tepian tempat tidur. Ia lalu mengambil sisir dan mulai merapikan rambut sang suami yang saat itu terihat sedikit acak-acakan. Sedangkan Matteo hanya diam dan menurut saja, layaknya seorang anak terhadap ibunya. Namun, pria itu sesekali tersenyum kecil seraya mendongakkan wajahnya ke arah Mia.
Selesai merapikan rambut Matteo, Mia kemudian meraih mantel hitam milik sang suami. Pria rupawan tersebut segera berdiri ketika Mia menyelimuti tubuh tegapnya dengan mantel tadi. "Tenangkan dirimu. Jangan sampai kau terbawa emosi," pesan Mia pelan. Ditangkupnya rahang tegas itu dengan lembut.
"Kemarahanku tidak akan pernah sirna meskipun aku sudah menghabisi nyawa pria tua itu. Rasanya benar-benar tidak memuaskan," ujar Matteo pelan dan datar. "Semua kejahatan yang sudah dilakukannya, berakibat sangat fatal bagi hidupku, Mia. Entah bagaimana jadinya jika aku tidak bertemu lagi denganmu," tatap mata abu-abu Matteo lurus tertuju dan langsung menembus ke jantung Mia, membuatnya berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Mia kemudian mengecup bibir Matteo dengan mesra, hingga ia merasa puas. Sesaat kemudian ia lalu melepaskannya. Mia juga mengusap bibir sang suami dengan lembut, akibat lipstik merahnya yang tertinggal di sana. "Apa semuanya sudah siap? Kau sudah mempelajari file-file yang diberikan orang suruhanmu itu?" tanya Mia. Ada setitik rasa khawatir pada kedua bola matanya.
Matteo mengangguk pelan. “Tenang saja, Mia bella (cantikku). Aku sudah bergerak cepat dan mempersiapkan semuanya sejak detektif itu mendatangi rumah kita,” ia mengelus rambut panjang Mia, menyibakkannya dari kening hingga tersingkap ke belakang. Matteo pun mencium kening Mia dengan lembut. "Jangan terlalu khawatir, Sayang. Aku akan menangani masalah ini dengan baik. Aku harap kau juga bisa bekerja sama."
__ADS_1
Mia tersenyum manis seraya mengangguk. "Kau tidak perlu memintaku untuk melakukan hal itu," balas Mia. "Kita berangkat sekarang?"
Matteo mengangguk saat menaggapi pertanyaan Mia. Sepasang suami-istri itu pun bergegas keluar kamar dan menuju ke halaman depan, di mana Nico sudah menunggu mereka. Hari ini, rencananya mereka akan pergi ke kantor polisi dengan diantar olehnya, dan tentu saja tidak memakai mobil jeep kesayangan Matteo.
Matteo tak mengizinkan siapa pun untuk mengendarai mobil itu, terlebih setelah kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Lagi pula, Matteo sangat protektif untuk sesuatu yang menjadi privasinya.
Nico adalah pemuda yang sangat sopan. Ia selalu tersenyum ramah dan tampak tulus. Tak terlihat ada sesuatu yang dibuat-buat dari segala gerak-gerik dan juga bahasa tubuhnya. Gaya mengemudinya pun sangat tenang.
Sekitar tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju, yaitu kantor kepolisian setempat. Keduanya segera turun dari mobil, setelah Nico membukakan pintu untuk mereka. Matteo menggenggam pergelangan tangan Mia dan menuntunnya masuk. Seperti biasanya, pria itu selalu terlihat gagah dan juga menawan. Matteo adalah pria dengan sejuta pesona yang tak akan pernah ada habisnya.
Setibanya di dalam, mereka disambut baik oleh seorang petugas. Petugas itulah yang juga mengantar mereka ke dalam ruangan detektif Fabrizio Ranieri. Sang detektif terlihat begitu bersemangat saat melihat kedatangan Matteo dan juga Mia. Ia segera bangkit dari kursi dan menyalaminya. “Akhirnya, setelah beberapa kali saya menghubungi Anda, Tuan. Saya sampai hendak memproses surat penggeledahan untuk Anda dan Tuan Antonio karena sama sekali tidak merespons pesan dari kami,” tutur detektif Fabrizio. Ia masih terlihat ramah meskipun Matteo sempat membuatnya sedikit kesal, karena tak merespon semua pesan yang ia kirimkan.
“Ah, maafkan kami, Tuan Detektif. Kami tak bermaksud untuk tidak memedulikan panggilan Anda. Hanya saja, saya masih dalam masa pemulihan,” dalih Matteo.
Sesaat setelah duduk, Mia menyerahkan map berwarna coklat pada Matteo. Matteo pun memberikannya kepada Detektif Fabrizio. Detektif itu segera membuka map tersebut. Sebelum membacanya, ia meraih kacamatanya terlebih dahulu, barulah setelah itu, ia memeriksanya dengan saksama semua berkas yang ada di dalam map tersebut.
Butuh beberapa menit bagi Fabrizio untuk mempelajari setiap lembar dari berkas itu, sebelum akhirnya ia meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja kerjanya. “Jadi, Tuan Antonio sedang mengalami masalah kesehatan?” tanyanya seraya manggut-manggut pelan.
“Ya. Paman saya usianya sudah tidak muda lagi. Sejak lama beliau memang memiliki masalah pada jantungnya. Itulah kenapa ia sekarang tinggal di Amerika untuk melakukan pemeriksaan dan juga beristirahat,” jelas Matteo dengan tenangnya.
"Iya, Matteo benar. Paman Antonio adalah pria yang sangat aktif, terutama jika menyangkut masalah perkebunan. Karena itu, kami menyarankan agar beliau pergi ke Amerika," timpal Mia dengan senyum manisnya yang terlihat sangat meyakinkan, membuat Matteo meliriknya dengan rona tak percaya.
__ADS_1
Detektif Fabrizio mengela napas panjang. Pria itu mengusap-usap janggutnya sembari berpikir. Sesaat ia menatap pada setumpukan berkas-berkas di atas meja. Setelah itu, ia mengalihkan tatapannya kepada Matteo. “Begini, Tuan de Luca. Tiga tahun telah berlalu, tetapi kami selalu mengalami jalan buntu. Dalam tiga tahun tersebut, kasus ini berjalan di tempat. Padahal Ernesto Homar telah bersumpah bahwa dialah pelakunya. Akan tetapi, tetap saja saya merasa ada sesuatu yang janggal. Itulah mengapa, hakim belum memberikan putusannya hingga saat ini, karena memang kamilah yang meminta untuk tetap membuka kasus tersebut dan melanjutkan penyidikan,” paparnya.
“Saya mengerti, Tuan Detektif. Saya juga merasa sangat berterima kasih atas kepedulian Anda terhadap keadilan untuk kedua orang tua saya,” sahut Matteo dengan gaya bicaranya yang sangat khas. Perlahan, tangannya meraih jemari lentik Mia demi menyembunyikan rasa gugup yang mulai muncul di dalam hatinya.
“Tentu saja. Tuan Roberto dan Nyonya Gabriela adalah orang-orang panutan di komunitas kita. Tak terkira banyaknya yang telah mereka sumbangkan untuk kemajuan kota ini. Mereka adalah orang-orang paling baik dan ramah yang pernah saya kenal. Oleh karena itulah, saya tidak akan berhenti menyelidiki kasus ini sampai berhasil,” terang Detektif Fabrizio. “Jadi, sedikit saja bantuan dari Anda akan sangat berarti bagi kami. Anda juga pastinya ingin segera mengungkap siapa pelaku di balik semua ini, bukan?” lanjutnya lagi.
“Keinginan saya sama persis dengan Anda, Tuan Detektif,” ketegangan mulai merayap dalam diri Matteo.
Mia dapat merasakan hal itu dengan jelas, sehingga ia menggeser kursinya, ke dekat kursi yang diduduki Matteo. Ia kemudian mengusap lengan suaminya. Matteo menoleh untuk sesaat seraya menyentuh punggung tangan sang istri.
“Jadi, adakah jalan keluar bagi pihak kepolisian mengingat tidak mungkin untuk berbicara dengan Tuan Antonio secara langsung. Terlebih, karena keadaannya yang lemah dan sering tak sadarkan diri. Itu berdasarkan laporan dan keterangan dokter yang disebutkan di dalam berkas yang Anda berikan,” Detektif Fabrizio mengangkat map coklat itu dari atas meja kemudian meletakkannya kembali.
“Selama paman Antonio sakit, ia menyerahkan segala kuasa kepada putranya, yaitu Marco de Luca, Tuan Detektif. Jika berkenan, Anda bisa segera menghubungi sepupu saya,” ujar Matteo pelan.
🍒
🍒
🍒
Hai, sambil menunggu kelanjutan cerita Matteo dan Mia, ada baiknya mampir sebentar yuk ke novel keren di bawah ini. Grazie😘
__ADS_1