Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Arrivederci


__ADS_3

Coco kembali menemui pemuda yang bekerja sebagai kurir makanan, di sebuah tempat yang cukup sepi. Ia mengembalikan pakaian dan juga skuter matic yang tadi dipinjamnya. Tidak lupa, Coco juga memberikan sejumlah uang kepada pemuda itu, sebagai tanda terima kasih karena pemuda itu telah bersedia untuk bekerja sama dengannya. Setelah pemuda itu pergi, barulah Coco kembali ke dalam mobil van sewaan yang ia parkir tidak jauh dari tempatnya bertemu dengan pemuda tadi.


Di dalam van itu, Coco mulai membuka catatan kecil dari Lenatta. Di sana Lenatta menuliskan jadwal Silvio keluar dari mansion untuk mandi uap di sebuah sauna yang belum Lenatta ketahui. Meskipun hanya sedikit informasi yang diberikan oleh Lenatta, tetapi catatan kecil itu sangat berarti bagi Coco.


Coco kemudian menghubungi Matteo yang saat itu tengah memeriksa sebuah mobil yang telah lama tidak ia gunakan. Sebuah mobil sejenis jeep berwarna hitam, dengan logo dari sebuah pabrikan yang sudah sangat terkenal di dunia.


Matteo membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum ia menjawab telepon dari Coco. Setelah itu, barulah ia berbicara dengan sahabatnya. “Bagaimana, apa ada perkembangan baru?” tanya Matteo tanpa berbasa-basi. Ia berdiri sambil bersandar pada bagian depan mobilnya. Sesekali pria bertato itu mengusap rambutnya yang sedikit acak-acakan.


“Hey, kawan. Tenanglah!” jawab Coco seraya meneguk minuman kalenganya. “Kau ini benar-benar teman yang tidak punya perasaan. Setidaknya kau tanyakan dulu bagaimana kabarku saat ini!” protes Coco. Ia kembali duduk di depan layar komputer dan mengawasi setiap pergerakan yang terjadi di dalam kamar Silvio.


Terdengar Matteo tertawa pendek. Entah mengapa, tawa dan senyum ramah seakan menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi pria dua puluh enam tahun itu. “Jika kau tidak baik-baik saja, kau tidak mungkin menghubungiku dengan nada bicara seperti itu. Dasar bodoh!” umpat Matteo dengan jengkel.


“Ayolah Theo, bersikap manislah sedikit! Sekarang aku mengerti, mungkin karena itulah hingga saat ini kau tidak punya kekasih,” ledek Coco dengan diselingi tawa puas, terlebih saat itu ia mendengar Matteo mendengus kesal karena mendengar celotehannya yang tidak penting.


Sesaat kemudian, Coco kembali meneguk minumannya sambil terus memerhatikan layar monitor. Ia juga kembali berbicara kepada Matteo. “Aku sudah berhasil mengirimkan pesan kepada Lenatta. Aku menyuruhnya agar menyelidiki ruang rahasia yang berada di dalam kamar Silvio,” lapor Coco. “Semoga saja wanita itu memiliki tingkat kepintaran yang tidak kalah besar dari dadanya,” celotehnya kemudian.

__ADS_1


“Kau yang jauh lebih mengenalnya,” sahut Matteo dari seberang sana.


Coco tergelak. “Ya, tentu saja. Aku mengenalnya luar dalam,” jawabnya lagi. “Kapan kau akan ke Palermo? Aku dan Lenatta bekerja keras di sini, sementara entah apa yang kau lakukan di dalam bengkelku. Semoga kau tidak memakai pakaian dalamku,” celetuk Coco membuat Matteo hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu mengusap-usap keningnya perlahan. Ia tidak mengerti bagaimana dirinya dapat bersahabat dengan orang sekonyol itu.


“Aku akan segera berangkat, tapi setelah menyelesaikan sedikit urusanku di sini. Aku harus menemui seseorang terlebih dahulu,” jawab Matteo. Ingatannya kembali tertuju kepada Mia. Ia telah berjanji untuk menemui gadis itu. Namun, hingga saat ini ia belum dapat memenuhi janjinya.


Sebenarnya, Matteo tidak ingin memberikan harapan yang jauh lebih besar kepada Mia. Namun, entah kenapa karena hati kecilnya terus memaksa agar dirinya kembali menemui gadis itu.


Matteo merasa bimbang. Belum pernah ia dibuat galau oleh seorang gadis. Terus terang saja, hal itu sangat mengganggu konsentrasinya.


“Intinya kau harus segera kemari! Aku sudah mendapatkan cara untuk dapat masuk ke mansion Moriarty tanpa harus bersusah payah. Kali ini kau harus membayar untuk semua kepintaranku!” ujar Coco lagi. Ia menajamkan pandangannya ke arah layar, karena saat itu dirinya melihat Silvio masuk ke kamar. Pria itu bahkan tampak kembali membuka ruangan rahasia yang berada di balik dinding kamarnya. Namun, sayang sekali karena kamera pengintai tidak dapat menjangkau ke dalam ruangan itu. Hal itu membuat Coco mengeluh pelan.


Mendengar hal itu, rasa penasaran Matteo semakin besar. Niatnya untuk segera berangkat ke Palermo harus segera ia laksanakan. Lagi pula, ia tidak ingin membuang-buang waktu terlalu lama. Ia harus segera pulang ke Casa de Luca dan menemui kedua orang tuanya.


“Terus awasi, jangan sampai kau lengah! Aku akan segera berangkat,” balas Matteo. Ia pun mengakhiri perbincangannya dengan Coco. Setelah itu, Matteo segera beranjak ke ruangan lain dari bengkel itu. Ia menyiapkan segala perbekalan yang akan dibawanya menuju Palermo. Ini akan menjadi sebuah perjalanan yang panjang bagi dirinya.

__ADS_1


Sementara Coco terus mengawasi layar monitornya. Ia melihat Silvio keluar dengan sebuah map berwarna coklat. Tidak lama setelah itu, Silvio keluar dari kamarnya.


Menjelang sore, Matteo keluar dari bengkel dengan mobilnya. Penampilannya sudah rapi dengan jaket kulit hitam dan celana jeans. Matteo mengendarai mobil hitam itu menuju ke kota Venice. Ada hal yang harus ia selesaikan di sana.


Hingga menjelang malam, Matteo baru tiba di kota Venice. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sebuah bangunan yang menjadi pusat perhatiannya kini. Untuk sesaat, Matteo terdiam di dalam mobilnya. Ia menyaksikan pemandangan yang tersaji tidak jauh darinya.


Matteo mengela napas berat. Ia melihat Mia yang saat itu baru turun dari mobil milik Valentino. Mia tersenyum kepada pemuda itu, sementara Valentino terlihat begitu bahagia. Ia bahkan mencium pipi Mia ketika dirinya akan berpamitan.


Matteo terdiam seraya menyandarkan kepalanya. Seharusnya malam ini, ia berpamitan kepada Mia dan menuntaskan segala keresahan hatinya. Namun, entah kenapa karena rasa penasaran di dalam hatinya justru malah semakin besar.


Padahal ia ingin mengakhiri segala kagalauan yang telah sangat mengganggu konsentrasinya. Matteo tidak ingin hal itu terjadi kepada dirinya, karena ia akan segera berangkat ke Palermo.


Matteo terus memerhatikan Mia dari dalam mobilnya. Sepeninggal Valentino, gadis itu segera masuk ke rumahnya. Pandangan Matteo kini tertuju pada kamar di lantai dua bangunan itu. Ia melihat lampu kamar Mia yang mulai menyala. Setelah itu, Mia tampak membuka jendela yang menuju balkon, gadis itupun berdiri di sana untuk sesaat.


Mia termenung sendirian. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Namun, tidak lama kemudian ia segera masuk. Sementara Matteo masih duduk di dalam mobilnya. Ia masih terus memikirkan apa yang akan ia lakukan. Kebimbangan mulai menyapanya kembali. Haruskah ia meminta Mia untuk turun dan langsung berpamitan kepada gadis itu, atau ....

__ADS_1


Matteo melihat arloji di pergelangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Suasana di sekitar sana pun sudah sangat sepi. Akhirnya, Matteo memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Ia berdiri tepat di bawah balkon kamar Mia dan menatap ke sana untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia mendengar suara Mr. Gio yang berbicara kepada Mia. Matteo pun segera menepi dan menyandarkan tubuhnya pada dinding bangunan itu.


Ia merasa sangat konyol. Kenapa dirinya harus melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan? Pria itu seperti kehilangan jati dirinya sebagai Matteo.


__ADS_2