Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Una Minaccia


__ADS_3

Matteo menyeruput kopinya sambil menatap ke luar jendela. Ini adalah pagi pertama bagi dirinya setelah menjabat sebagai ketua Organisasi de Luca. Matteo masih ingat betul, di ruang kantor itulah sang ayah sering menghabiskan waktunya seharian. Banyak hal yang bisa dilakukan di ruangan yang terlihat biasa saja tersebut. Contohnya adalah komputer di atas meja kerja yang terhubung ke seluruh sistem, dan jaringan piranti lunak anggota klan yang tersebar di seluruh daratan Italia. Klan de Luca sendiri, menguasai beberapa kota besar di negara itu.


Sistem keamanan berlapis juga diterapkan untuk melindungi semua data rahasia milik organisasi, termasuk data pembukuan dan keuangan yang sebentar lagi akan diperiksa oleh tim akuntan yang dibentuk secara mandiri oleh Klan de Luca.


Matteo yakin ia akan menemukan berbagai informasi penting, termasuk berbagai penyimpangan dana yang selama ini telah luput dari pantauan sang ayah. Ia berharap agar tim akuntan itu dapat bekerja dengan baik.


Selain itu, Matteo juga telah menyewa beberapa detektif swasta untuk menyelidiki latar belakang setiap anggota, baik yang paling muda, paling bawah, hingga yang paling tua dan paling berkuasa. Intinya, Matteo akan memeriksa semua anggota dari berbagai golongan.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pada pintu ruang kerja itu telah berhasil membuyarkan lamunan Matteo. Pria rupawan tersebut mengalihkan pandangannya dari jendela untuk kemudian duduk di kursi kebesaran yang pernah menjadi milik sang ayah. “Masuk!” seru Matteo nyaring dan penuh wibawa.


Tampak Damiano membuka pintu dengan hati-hati. Ia membawa serta tiga orang yang belum pernah dilihat oleh Matteo sebelumnya. “Aku sudah menemukan orang-orang yang tepat untuk penyelidikan ini, Nak,” ujar Damiano. Pria bermata hijau itu segera mengenalkan satu per satu dari orang-orang yang ia bawa kepada Matteo.


Seorang pria paruh baya, berkepala botak dan bertubuh kurus. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Lorenzo. Seorang lainnya yang bertubuh tambun dan berwajah ramah. Pria itu segera menjabat tangan Matteo dan menyebut dirinya sebagai Bianco, sebuah kata dalam bahasa Italia yang berarti putih. Sementara orang terakhir, terlihat paling muda dan paling tampan di antara ketiganya, memperkenalkan dirinya sebagai Mancini.


“Kenapa nama-nama kalian terdengar mencurigakan?” tanya Matteo dengan sorot mata tajam dan penuh selidik. “Pria pertama hanya mengenalkan nama depannya, pria kedua memakai nama samaran, sedangkan pria ketiga menyebut nama belakang saja. Apakah ini semacam lelucon? Jika iya, maka kalian akan menyesal,” gertaknya.


Wajah Lorenzo dan Bianco mendadak pucat pasi. Hanya Mancini yang terlihat biasa-biasa saja. “Kami hanya berusaha menyembunyikan identitas kami yang paling berharga, yaitu nama. Profesi seperti kami membutuhkan keberanian untuk menabrak aturan-aturan dalam dunia kepolisian, sehingga kami harus melakukan segala sesuatunya secara rahasia,” dalih Mancini.


Matteo tampak berpikir sebentar. “Baiklah,” balasnya. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju rak buku setinggi ruangan yang terbuat dari kayu oak merah. Matyeo lalu mengambil beberapa buah buku besar. Matteo membawa buku-buku itu dan meletakkannya begitu saja di atas meja kerja, sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


“Di dalam buku ini tertera semua nama-nama anggota Klan de Luca, sejak dua belas tahun yang lalu. Aku ingin kalian menyelidiki latar belakang semua orang yang ada di sana, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Laporkan hasilnya secara langsung padaku. Ingat, kalian hanya menerima perintahku saja! Jika ada yang berusaha menghalangi pekerjaan kalian, jangan segan untuk segera memberitahuku!” titah Matteo dengan tegas.


“Apakah bisa dimengerti, Tuan-tuan?” tanya Damiano, yang segera disambut dengan anggukan oleh ketiga pria itu.


“Oh, ya, ada satu hal lagi. Aku juga ingin agar kalian ikut terlibat dalam kasus pemboman yang menewaskan kedua orang tuaku. Alasannya, karena polisi kini telah menghentikan penyelidikan yang mereka lakukan. Aku sangat berharap kalian bisa memecahkan kasus ini,” titah Matteo lagi.


Ketiga orang itu kembali mengangguk secara serempak.


“Kalau begitu, kalian bisa mulai bekerja sekarang,” ucap Matteo datar. Setelah para detektif swasta itu meninggalkan ruang kerja tersebut, Matteo segera meraih ponselnya dan menelepon seseorang. Ia tampak berbincang serius dan sesekali menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian, Matteo mengakhiri panggilannya.


“Tim audit sudah mulai bekerja. Kita tinggal menunggu hasilnya,” ujar Matteo seraya tersenyum simpul kepada Damiano.


“Hmm, tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus kau ketahui, Nak,” Damiano berkata dengan hati-hati. Ia lalu mengambil tempat duduk. Posisinya kini berhadapan dengan Matteo.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Matteo sambil memicingkan matanya.


“Luna, kucing kesayangan mendiang ibumu telah mati di dalam kandangnya,” jawab Damiano dengan raut yang sangat serius.


Matteo terdiam sebentar dan menunduk. “Sepertinya kucing itu juga ingin menyusul ibu, tapi bukankah usianya memang sudah tua?” gumam Matteo.


Damiano menggeleng pelan. “Bukan kematian seperti itu, Nak. Menurutku, itu adalah kematian yang tidak wajar," terang Damiano lagi dengan raut datar.


"Maksudmu?" tanya Matteo tidak mengerti.


"Perut kucing itu terkoyak. Aku menemukan beberapa butir peluru yang bersarang di dalam tubuhnya,” terang Damiano dengan setengah berbisik.


“Apa maksudmu?” Matteo mencondongkan badan dan mendekatkan wajahnya kepada Damiano.


“Ada yang sengaja membunuh kucing malang itu,” lagi-lagi Damiano berbisik. Ia seakan takut jika dinding di sana mendengar apa yang diucapkannya kepada Matteo.


“Apa tujuannya?” Matteo mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti.


“Ini adalah salah satu kamar tamu yang tak pernah ditempati. Kamar itu sudah kosong sejak bertahun-tahun yang lalu dan selalu dalam keadaan terkunci. Akan tetapi, kau bisa lihat kondisinya sekarang. Daun pintunya rusak, seperti bekas dicongkel paksa oleh seseorang. Salah seorang pelayan yang menemukannya merasa curiga. Ia masuk ke kamar tersebut dan menemukan tulisan itu,” telunjuk Damiano  menempel pada layar ponsel dan memperbesar gambar, sehingga kini terbaca dengan jelas tulisan yang terpampang di sana.


“Hentikan semuanya, atau kau akan menerima yang lebih berat dari ini?” gumam Matteo. Ia membaca tulisan yang tertera di dalam foto itu.


“Apakah ini kalimat ancaman?” geram Matteo seraya mengepalkan tangannya


Damiano mengangguk setuju. “Ya. Sudah jelas itu merupakan sebuah ancaman. Sepertinya, ada yang tidak suka dengan apa yang sedang kau kerjakan sekarang, Nak,” jelasnya.


“Hmm,” Matteo tersenyum sinis. Ia seakan meremehkan ancaman itu. “Aku bisa melibas satu gembong Silvio sendirian. Sekarang mereka mengancamku menggunakan cara-cara murahan seperti itu?” cibirnya dengan bangga.


“Jangan merasa sombong dulu, Nak. Sombong adalah kerikil kecil yang tak jarang justru membuat kita terkilir,” ucap Damiano dengan sangat bijaksana. Ia berusaha untuk mengingatkan pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung.


“Aku tahu itu, Aku hanya ingin menegaskan bahwa kita tidak akan berhenti hanya karena hal-hal kecil seperti itu!” tegas Matteo.


“Aku sepenuhnya paham akan hal itu, Anakku. Namun, ada baiknya kita harus lebih berhati-hati,” ujar Damiano lagi. Ia terus mengingatkan Matteo.

__ADS_1


“Apakah kau mengkhawatirkanku, Damiano?” Matteo tertawa lirih. Sebuah lesung pipi tercipta di sisi bibirnya. “Aku akan baik-baik saja. Seandainya aku terbunuh sekalipun, tidak masalah bagiku. Lagi pula aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Untuk kau dan Coco, aku akan terus memastikan agar kalian selalu aman,” tutur Matteo dengan entengnya.


“Bukan itu, Nak!” sanggah Damiano. “Aku sudah tua. Aku sama sekali tidak peduli akan kematianku. Kau lah yang kukhawatirkan. Jalanmu masih sangat panjang. Masa depan dan kejayaan keluarga de Luca, berada di bawah tanggunganmu!” tegasnya. Pria itu tiada henti menunjukkan betapa bijaksana dirinya.


“Bukankah sudah kukatakan jika aku cukup tangguh dan tak mudah dikalahkan, Damiano?” tampik Matteo.


Damiano menggaruk pelipisnya sebelum kembali berbicara. “Ya, ya, aku tahu kau kuat. Namun, yang kukhawatirkan adalah mereka tidak langsung menyerang dirimu,” resah Damiano.


“Lalu siapa?” Matteo memundurkan badannya dan menyilangkan tangan di depan dada. Ia berdiri dengan setengah bersandar pada meja kerjanya.


“Seseorang yang sangat berarti bagimu, mungkin?” terka Damiano. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu terhadap Matteo. Akan tetapi, Matteo hanya menanggapi rasa khawatir yang ditunjukan Damiano dengan sebuah senyuman kecut.


“Semua orang yang berarti bagiku sudah pergi. Tak ada lagi yang tersisa,” desah Matteo pelan. Ia seakan tengah melawan gejolak dalam hatinya.


“Apa kau yakin, Nak?” tanya Damiano dengan nada penuh keraguan.


Matteo tak segera menjawab. Angannya malah kembali terbang kepada Mia. Ia sama sekali tak membayangkan bahwa Mia adalah sasaran para pengancam itu, meskipun dirinya pernah memergoki orang-orang yang menguntit Mia. Matteo merasa jika dirinya kini sudah tak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu, meskipun di dalam batinnya terus memberontak.


Selain itu, Matteo juga tak pernah menunjukkan kedekatan yang berarti dengan Mia, kecuali jika ada seseorang yang memang pernah melihat dirinya melompat masuk ke dalam balkon kamar Mia dan bercinta dengan gadis itu semalam suntuk.


Matteo menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia berusaha untuk terus melawan dan menghilangkan pikirannya yang mulai bergerak liar. Rasa cemas dan khawatir mulai muncul di sudut hatinya. Segera ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Matteo lalu menghubungi Coco.


"Ada apa, Amico?" tanya Coco di ujung telepon.


“Kembalilah ke Venice dan berjaga-jagalah di sana, Amico! Terima kasih,” tutupnya.


Damiano terus memerhatikan Matteo. Tatapan mata tuanya bisa menangkap semua yang terpancar dari mata abu-abu pria muda itu. “Jadi dia kah yang akan kau beri bros mawar ibumu?” seutas senyuman mengembang dari bibir Damiano.


Matteo mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya begitu saja. Raut wajahnya yang tadi terlihat tenang, kini berubah resah. "Aku mencemaskannya, Damiano," ucapnya pelan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2