
Malam semakin larut. Jam dinding telah menunjukan pukul sepuluh. Sementara Mia masih asyik dengan buku yang tengah ia baca. Sebuah buku sastra yang dipinjamnya dari Valentino beberapa hari yang lalu.
Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Wajah Mr. Gio muncul dari balik pintu. Pria itu masuk dengan membawa senyuman hangat. “Kenapa kau belum tidur, Mia?” tanya Mr. Gio. Ia berdiri di dekat ujung ranjang putrinya.
Mia segera menutup buku yang tengah ia baca, dan meletakannya di atas meja sebelah ranjang. Gadis manis itupun tersenyum. “Aku akan segera tidur, Ayah. Aku baru selesai membaca buku itu, karena aku sudah berjanji akan mengembalikannya lusa,” jawab Mia dengan jujur.
Mr. Gio menganggukan kepalanya perlahan. “Jangan tidur terlalu larut. Ingat kau harus menjaga kesehatanmu!” pesannya. Setelah itu ia menghampiri Mia dan mencium kening putri kesayangannya. “Selamat malam, Nak,” Mr. Gio berlalu menuju pintu keluar. Sebelum ia benar-benar berlalu dari sana, ia kembali berkata, “Sebelum tidur, pastikan jika jendela kamarmu sudah terkunci dengan rapat! Akhir-akhir ini ada banyak kejadian mengerikan di sekitar sini.”
Mia tersenyum seraya mengangguk. Ia segera turun dari tempat tidur dan mematikan lampu, ketika sang ayah sudah keluar dari kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ke arah jendela kamar dan bermaksud untuk menguncinya. Akan tetapi, sebelum ia sempat menutup jendela itu, tiba-tiba ada seseorang yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan cukup kencang. Mia terkejut dan hampir menjerit andai saja mulutnya tidak segera dibekap.
Terkejut dengan mata yang melotot sempurna, Mia menatap sosok tinggi tegap di hadapanya. Meskipun dalam suasana temaram, tapi Mia masih dapat mengenali sosok yang masih membekam mulutnya.
“Theo ....” Mia menyebutkan sebuah nama dengan pelan dan setengah mend•esah, ketika pria itu telah menyingkirkan tangannya dari mulut Mia.
“Ya, ini aku. Apa kabar, Mia?” jawab pria yang memang tiada lain adalah Matteo. Entah sejak kapan pria dengan jaket kulit hitam itu berada di balkon kamar Mia.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mia. Ia segera membalikan badannya dan membelakangi Matteo. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menghampirinya. Namun, rasa bahagia juga datang dan membuat wajahnya jadi merona.
Tanpa dipersilakan, Matteo segera masuk ke kamar Mia. Ia berjalan ke arah pintu lalu menguncinya. Hal itu membuat Mia kembali melotot tajam kepadanya. Mia tidak mengerti kenapa Matteo harus melakukan hal itu, terlebih ketika ia melihat Matteo melepas jaket kulitnya dan melempar benda itu ke atas kursi kayu yang berada di sudut kamar. Matteo lalu kembali berdiri di hadapan Mia.
Ditatapnya gadis manis itu dengan lekat. “Aku ingin bertemu denganmu, karena itu aku memberanikan diriku untuk datang kemari,” ujar Matteo seraya mengelus lembut wajah Mia yang masih terlihat keheranan.
__ADS_1
“Hentikan ....” Mia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Matteo telah terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang tidak sempat ia hindari. Jangankan menghindar. Mia justru terlihat menikmati adegan itu, karena ia tidak menolak ketika Matteo melepas ikatan rambutnya. Rambut panjang itupun tergerai dengan bebas. Matteo kemudian meremas rambut itu dengan lembut. Ia juga mengangkat tubuh mungil Mia ke dalam pelukannya.
Disandarkannya tubuh Mia ke dinding tanpa melepaskan ciumannya. Ini adalah pengalaman pertama bagi Mia, ketika ada seorang pria masuk ke kamarnya dan melakukan hal seperti itu kepada dirinya. Namun, Mia sangat menyukainya.
Sesaat, Matteo melepaskan ciumannya. Ia menatap wajah manis yang masih berada dalam dekapannya. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang tergerai. “Kau sangat cantik, Mia,” sanjung Matteo seraya melayangkan ciumannya lagi. Sementara Mia semakin mempererat pegangannya pada leher Matteo yang kini menjalarkan ciumannya ke leher dan dada Mia yang masih tertutup piyama.
Matteo kemudian menurunkan tubuh gadis itu. Dengan cekatan ia membuka kancing atasan piyama yang Mia kenakan, sehingga tampaklah bra dengan pita yang cantik berwarna putih. Matteo membenamkan wajahnya di dada Mia seraya melepas pakaian yang telah terbuka itu. Ia juga melucuti setiap helai yang menutupi tubuh gadis itu hingga tak tersisa.
Mia tidak kuasa untuk menolak ketika sentuhan bibir Matteo mulai menyusuri setiap lekukan indah berbalut kulit kuning langsat miliknya. Ia terus menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan mata terpejam.
“Theo ....” de•sah Mia seraya meremas rambut pria yang kini berlutut di hadapannya, menyentuh paha mulusnya dan menikmati aroma keperawanannya dengan sangat hati-hati. Matteo mendongak untuk sesaat. Pria itu tersenyum melihat wajah gelisah Mia. Ia kembali menikmati bunga yang masih kuncup itu dan merasakan kesegarannya dengan sangat leluasa, dan membuat Mia semakin terbuai.
Matteo berdiri dengan perlahan. Ia melangkah ke hadapan Mia dan meraih wajah cantik itu. Matteo menangkup kedua pipi Mia dengan lembut. “Kenapa, Mia?” tanyanya. Ia melihat ada keresahan yang besar di dalam sorot mata gadis itu. “Jangan cemas, kau akan baik-baik saja!” bisik Matteo seraya mendekatkan wajahnya hingga pipi keduanya saling menempel.
Hangat, Mia merasakan setiap helaan napas Matteo di wajahnya. Rasa hangat itu kemudian menjalar pada lehernya. Mia lagi-lagi terpaku ketika merasakan sentuhan tangan Matteo mulai menjelajahi setiap lekukan indah dari tubuhnya.
Matteo sepertinya ingin menumpahkan segala keresahan atas rasa rindu yang telah mengganggunya selama ini. Pria itu ingin menikmati saat-saat berharga, di mana ia dapat meluruhkan segala kegalauan yang membuatnya seakan menjadi Matteo yang berbeda. Pria itu berharap agar dirinya dapat meninggalkan sebuah kesan yang mendalam di hati Mia. Terlebih ia tidak tahu, apakah dirinya akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu atau tidak.
“Mia, kau membuatku menjadi gila. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu,” bisik Matteo lagi seraya kembali melu•mat bibir gadis itu. “Serahkan dirimu padaku, Mia!” ucap Matteo lagi. “Setidaknya untuk malam ini,” lanjutnya.
Mia semakin terbius. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain mengangguk dengan perlahan. “Aku selalu menunggumu kembali, Theo,” ucap Mia pelan. Ia membiarkan dirinya larut dalam setiap belaian lembut penuh gairah yang diberikan Matteo kepada dirinya. Tak sejengkal pun bagian tubuh Mia yang luput dari sentuhannya, sehingga Mia sempat mende•sah dengan cukup keras.
__ADS_1
Mia segera menutup mulutnya, terlebih saat itu Mr. Gio kembali mengetuk pintu kamarnya. Rupanya pria itu belum tidur. Ia masih duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. “Mia! Apa kau baik-baik saja?” seru Mr. Gio dari luar kamar Mia.
Gadis itu terlihat cemas. Sementara Matteo hanya menyungingkan senyuman kecil. Ia memberi isyarat agar Mia segera menjawab panggilan sang ayah.
“A-ku tidak apa-apa, Ayah! Aku akan segera tidur!” seru Mia dari dalam. Ia menatap Matteo yang saat segera membopong tubuhnya menuju tempat tidur.
“Baiklah. Aku juga akan tidur sekarang,” sahut Mr. Gio lagi.
“I-iya, Ayah,” balas Mia terbata. Ia semakin merasa gugup ketika Matteo berada di atas tubuhnya dan menatapnya dengan buas.
__ADS_1