Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Consiglio Saggio


__ADS_3

Meski agak gontai, tetapi Matteo masih bisa menguasai dirinya agar tidak jatuh. Dua botol whisky telah cukup membuat kepalanya menjadi pusing. Namun, ia masih tahu arah menuju kamar. Matteo menolak ketika Coco akan mengantarkannya ke sana, sehingga Coco langsung saja pergi ke kamarnya.


Matteo masuk ke kamar. Dilihatnya Mia telah terlelap dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh. Wanita itu tidur dalam posisi menyamping. Matteo kemudian melangkah ke arah tempat tidur. Ia menatap Mia untuk sesaat, meskipun wanita tersebut dalam posisi membelakanginya. “Kau sudah tidur, Cara mia? Ya, tentu saja. Sekarang sudah terlalu malam,” racau Matteo seraya tertawa pelan, membuat Mia yang sebenarnya belum terlelap segera membuka matanya. Namun, Mia tak menjawab pertanyaan sang suami.


Sesaat kemudian, Matteo mengempaskan tubuhnya di sebelah Mia. Terdengar deru napasnya yang cukup berat. Mia tahu jika pria itu pasti sedang dalam keadaan mabuk. Indra penciumannya menangkap aroma alkohol yang menguar dari mulut sang suami.


Perlahan Mia menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia lalu berbalik dan menatap sang suami yang terlihat sudah memejamkan mata tanpa berganti pakaian. Matteo juga tidak melepas sepatunya. Mia kemudian bangkit dan berjalan ke ujung tempat tidur. Dengan cekatan, ia melepas sepatu sang suami dan meletakannya di dalam rak khusus. Setelah itu, Mia kembali ke dekat tempat tidur dan menyelimuti tubuh Matteo. Namun, baru saja ia akan beranjak dari sana, tiba-tiba Matteo meraih tangannya. Mia tertegun dan menoleh.


Ditatapnya pria yang masih dalam keadaan terpejam itu. “Aku mencintaimu, Mia. Tidak ada yang lain. Kau harus tahu itu,” racau Matteo dalam tidurnya.


Terenyuh hati Mia mendengar ucapan Matteo. Ia tahu dengan pasti akan hal itu. Akan tetapi, rasa kecewa atas apa yang telah Matteo lakukan, membuatnya mengesampingkan keyakinan akan perasaan cinta tersebut. Perlahan Mia melepaskan pegangan tangan Matteo. Ia berlalu keluar kamar dan menuju ke ruang tamu. Mia berdiri di dekat bukaan ruangan tersebut seraya menatap halaman luas Casa de Luca.


Malam kian larut dan menghadirkan rasa sepi yang teramat menyiksa. Mia mulai terisak di sana. Perasaan tak nyaman yang mengusik fisik dan hatinya selama beberapa hari terakhir ini sungguh membuatnya lelah. Entah mengapa Mia menjadi begitu sensitif. Perasaannya mudah sekali terpengaruh oleh hal-hal yang bahkan begitu sepele dan tak seharusnya ia pedulikan. Semuanya menjadi semakin kacau dan terasa menyesakkan, ditambah dengan kejadian kemarin yang membuat dirinya ingin menjerit sekuat tenaga.


Beberapa saat lamanya termenung di sana, hingga tak terasa pagi telah tiba. Di bawah sana mulai terdengar hiruk pikuk pekerja perkebunan yang berdatangan. Mia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Dilihatnya Matteo telah tertidur lelap, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Mia kemudian menuju ke kamar mandi dan membasuh muka. Namun, ketika selesai, ia tak kunjung beranjak dari sana. Wanita itu terpekur menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel. Tak berapa lama, rasa tak nyaman di perutnya kembali hadir. Rasa mual membuatnya ingin mengeluarkan semua isi perut. Sudah beberapa hari ini Mia mengalami hal itu. Sebenarnya, ia ingin menceritakan keluhannya kepada Matteo. Akan tetapi, pertengkaran demi pertengkaran selalu saja menghalangi.


Setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnua, Mia berkumur dan membasuh muka sekali lagi. Ia lalu masuk ke ruang pakaian dan merapikan dirinya di sana. Tak berselang lama, Mia keluar dengan mengenakan midi dress bodycon. Ia juga membawa sebuah mantel dan tas selempang kesayangannya.

__ADS_1


Sebelum keluar dari kamar, Mia menyempatkan diri untuk duduk di tepian ranjang, dan membuka laci teratas yang berada di sebelah tempat tidur itu. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil. Mia menyobek secarik kertas, kemudian menulis sesuatu di sana. Setelah itu, ia meletakkannya di atas laci tersebut. Selesai menuliskan sebuah pesan, Mia mendekati Matteo dan mengecup kening pria yang masih terlelap dalam mimpinya. Dengan perasaan berat, ia keluar dari kamar dan menuju pintu gerbang halaman Casa de Luca.


Di sana, ia berpapasan dengan Damiano yang saat itu hendak mengawasi bagian terluar dari perkebunan. Pria kharismatik tersebut segera menghampiri Mia dengan raut keheranan. “Hendak ke mana kau sepagi ini, Nak?” tanyanya.


“Aku ingin ke restoranku, Paman. Ada beberapa masalah yang harus kuselesaikan di sana,” jawab Mia dengan nada gugup.


“Kenapa Theo tidak mengantarmu?” tanya Damiano lagi.


“Aku kasihan padanya. Beberapa hari terakhir ini, suamiku terlihat lelah,” kilah Mia. Sesekali ia menunduk ketika sorot mata Damiano menatap penuh tanda tanya kepadanya.


Pria paruh baya itu tampak berpikir sejenak sembari mengusap dagu. “Setidaknya, ajaklah Nico. Suruh ia untuk mengantarkanmu,” saran Damiano kemudian.


Awalnya Mia ingin menolak. Namun, karena mengingat kondisi tubuhnya yang kurang baik, maka akhirnya ia pun mengangguk setuju, “Baiklah, akan kusuruh Nico mengantarkanku," ucapnya pelan.


“Ehm, satu hal yang perlu kau tahu, Nak. Tidak pernah ada jalan yang selalu mulus dalam suatu hubungan. Akan selalu ada kerikil kecil yang mengganggu langkah kita. Sikap kalianlah yang menentukan, berhasil atau tidaknya kalian berdua mengatasi hambatan itu. Tuhan yang menuliskan takdir untuk umat-Nya, tapi manusia akan selalu diberi pilihan yang terbaik,” tutur Damiano. Kata-katanya terdengar sangat lembut dan bijaksana.


“Ingatlah, Nak. Jangan memendam persoalan terlalu lama. Segera selesaikan dan maafkan semuanya. Hadapi masalah seberat apapun dan jangan sekali-kali kau melarikan diri darinya. Makin lama kau memendam permasalahan, akan semakin sulit kau mengatasinya,” imbuh Damiano sebelum ia pergi mencari Nico dan meninggalkan Mia yang terpaku di depan gerbang.


Sementara itu, cahaya matahari yang begitu hangat, merambat menembus celah-celah tirai jendela di kamar Matteo yang belum sepenuhnya terbuka. Akan tetapi, pria rupawan itu masih terlelap dalam tidurnya. Saat menjelang tengah hari, barulah pria itu membuka matanya. Matteo terduduk dengan kepala yang masih sedikit pusing. Ia menoleh ke sebelah, di mana Mia biasa tertidur di sana. Matteo lalu mengedarkan pandangannya. Ia pun turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Matteo keluar dari kamar dan menuju dapur. Biasanya pada jam seperti itu, Mia tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Namun, ternyata ia tidak menemukan sang istri di sana. Matteo mengernyitkan keningnya. Saat itu, ia melihat Coco yang sepertinya akan pulang ke bengkel.


“Amico,” sapa pria bermata cokelat tersebut.


Matteo tidak menyahut. Pikirannya mulai tidak enak. Hal itu membuat Coco kembali merasa heran. “Kau kenapa lagi? Apa pengaruh minuman semalam belum hilang atau ....”


“Aku sedang mencari Mia,” sela Matteo dengan raut tidak tenang.


“Kau sudah mencarinya ke kamar mandi, ruang kerja, atau ....” Coco ikut terlihat bingung. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya. “Ya, sudah. Aku harus kembali ke bengkel,” lanjut Coco seraya menepuk lengan Matteo. Pusing rasanya menjadi pengamat masalah rumah tangga orang lain. Coco lebih memilih untuk pergi saja. Lagi pula, hal itu sudah bukan merupakan ranahnya lagi.


Sepeninggal Coco, Matteo kembali ke dalam kamar. Ia lalu masuk ke ruang ganti dan membuka lemari pakaian Mia. Semuanya masih terlihat lengkap. Matteo mengalihkan pandangannya pada rak sepatu berlapis kaca tempat menyimpan koleksi sepatu Mia. Ia melihat ada tempat yang kosong di sana. Sepasang sepatu Mia telah hilang dari tempatnya.


Matteo bergegas kembali ke ruang utama kamar tidur. Pandangannya menyapu seluruh ruangan tersebut, hingga akhirnya sepasang mata abu-abu itu tertuju pada secarik kertas di atas laci. Matteo segera meraih kertas itu dan membaca pesan yang tertulis di dalamnya.


 


 Aku pergi ke Roma untuk menenangkan diri sejenak. Jangan mencariku, karena aku pasti akan kembali. Aku rasa, kau pun harus menenangkan dirimu. Jangan lupa makan, dan simpan sepatumu dengan rapi.


 

__ADS_1


Seperti itulah isi pesan yang ditulis Mia untuknya. Matteo meremas kertas itu dengan sekuat tenaga. Ia pun terduduk dengan setengah membungkuk di tepian tempat tidur. Helaan napas berat mengiringi emosi yang tertahan dalam dirinya. Matteo berpikir untuk sejenak.


Sesaat kemudian, ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. “Zucca, pergilah ke Roma sekarang juga dan awasi istriku di sana! Jangan sampai kau lengah sedikitpun! Aku tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya,” titah Matteo dengan tegas. Ia pun menutup teleponnya.


__ADS_2