Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Matteo's Seduction


__ADS_3

“Ah, hampir saja lupa. Aku tidak ingat jika tamu-tamuku sedang menunggu di ruang makan. Inilah yang selalu terjadi, Cara mia. Aku akan melupakan apapun saat tengah berduaan denganmu," jawab Matteo yang diakhiri dengan sebuah rayuan untuk Mia, sehingga membuat wanita itu kembali melotot padanya seraya mencubit pipi Matteo dengan gemas. "Apakah kau ingin ikut menemui mereka?” tawar pria itu.


"Ya, boleh. Aku mau. Lagi pula, aku bosan berada di kamar sepanjang hari,” jawab Mia dengan setengah mengeluh.


Matteo yang saat itu masih berlutut hingga wajahnya sejajar dengan wajah Mia, segera mencium lembut bibir sang istri. Ciuman yang terasa hangat serta begitu dalam, sehingga mampu membakar gairah pria itu. Namun, Matteo kembali sadar akan kondisi Mia yang masih belum memungkinkan, sehingga ia segera mengakhiri ciumannya dengan sebuah gigitan kecil di bibir bawah Mia.


“Maafkan aku, Theo. Aku belum bisa ....” ucapan Mia terhenti karena jari telunjuk Matteo sudah menempel di bibir indahnya.


“Jangan berpikiran macam-macam. Masih banyak waktu yang bisa kita habiskan di sisa usia kita,” ujar Matteo seraya tersenyum hangat. Ia kembali mengecup bibir Mia sekali lagi. Sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar, Matteo terlebih dahulu merapikan turban yang Mia kenakan. Ia juga membetulkan blouse berkancing depan Mia, dan memeriksa agar tak ada celah yang terbuka. Hal itu membuat Mia mengernyitkan keningnya. "Kau kenapa, Theo?" tanya wanita itu heran.


"Kau harus terlihat rapi dan cantik, Sayang. Namun, jangan sampai Adriano D'Angelo memelototi kancing blousemu yang terbuka. Aku tak akan menyukai hal itu," ujar Matteo dengan diakhiri tawa pelan.


"Astaga, Theo. Kenapa kau masih saja cemburu padanya," protes Mia. "Sekarang aku sudah tidak seperti dulu. Tak mungkin Tuan D'Angelo masih mau melirikku," ucap Mia dengan nada dan wajah penuh sesal.


"Itu menurutmu, Cara mia. Akan tetapi, instingku mengatakan hal lain. Aku melihat bagaimana cara pria itu menatapmu, entah dulu atau sekarang masih sama saja. Lagi pula, keadaanmu saat ini tak membuat kau kehilangan kecantikanmu. Buktinya, wajah manis ini masih selalu menghipnotisku," lagi, Matteo mengeluarkan rayuannya untuk Mia.


"Ya, Tuhan. Aku baru tahu jika kau ternyata bermulut manis. Rayuanmu membuatku merasa ingin terbang," ujar Mia seraya mengikuti Matteo dengan tatapannya. Saat itu, Matteo sudah berdiri dan memutari kursi roda. Ia lalu mendorong kursi roda tersebut dengan perlahan dan hati-hati keluar kamar.


"Aku jadi penasaran, apakah itu salah satu karakter yang tersembunyi dan hanya kau tunjukkan kepada para gadis?" gumam Mia, tetapi terdengar jelas oleh Matteo yang berada tepat di belakangnya.


"Karakter yang mana, Sayang?" tanya Matteo pura-pura tak tahu. Ia mengulum senyumnya karena merasa lucu dengan semua ucapan Mia yang terdengar begitu polos.


"Tentu saja karakter perayu yang baru kau perlihatkan padaku," sahut Mia tenang.


"Kau pikir aku akan merayu Damiano dan Coco?" balas Matteo lagi. Ia mengarahkan kursi roda itu menuju ke ruang tamu. Matteo memperkirakan bahwa tamu-tamunya kini sudah berpindah tempat, dari ruang makan ke ruangan itu. Sebuah ruangan luas bergaya Tuscany, yang terletak di bagian depan bangunan Casa de Luca. Ternyata, insting Matteo selalu saja tepat. Ia mendapati tamu-tamunya tengah berbincang di sana dan dengan ditemani oleh Damiano.


Sembari mendorong kursi roda yang diduduki Mia sampai di depan sofa, Matteo menyapa Adriano dan Valerie. “Istriku akan ikut mengobrol bersama kita di sini,” ujarnya.

__ADS_1


Damiano yang awalnya duduk di sebelah Adriano segera berdiri dan menghampiri Matteo. “Apakah kau membutuhkan bantuan, Nak?” tanyanya ketika melihat Matteo hendak menggendong Mia dan memindahkannya ke sofa.


“Aku bisa mengatasinya, Damiano. Tenang saja,” sahut Matteo sambil mengangkat tubuh ramping Mia. Sedangkan Mia mengalungkan tangannya di leher Matteo dan membiarkan sang suami mendudukkan dirinya.


“Grazie, Maritino (terima kasih, suamiku),” ucap Mia lirih dengan sebuah senyuman lembut di bibirnya.


“Tidak masalah, Amore mia,” Matteo menyempatkan diri untuk mencium kening Mia sebelum duduk di samping istrinya tersebut. Ia meluruskan tangan kirinya, dan membiarkan Mia bersandar di sana. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Mia dan terkadang memainkannya.


Valerie menyaksikan pemandangan tersebut tanpa berkedip. Gadis itu sama sekali tak menyangka bahwa Matteo bisa bersikap selembut itu pada istrinya, mengingat sikap dingin yang Matteo tunjukkan pada dirinya dan Adriano.


Ia lalu melirik kakak angkatnya yang malah memalingkan muka dan berpura-pura tersenyum kepada Damiano. Sementara Damiano sendiri ternyata juga tak melepaskan pandangannya dari Mia dan Matteo. “Aku tak sabar mendengar suara balita-balita kecil berlarian di dalam Casa de Luca,” celetuknya.


Hal itu semakin membuat Adriano gerah, sampai-sampai ia harus berdehem beberapa kali sebelum dapat kembali menguasai diri. Sementara Valerie segera menyembunyikan senyumanya. “Jadi, bagaimana Tuan de Luca? Bisakah kita melanjutkan percakapan yang tadi? Aku harus kembali ke Monaco siang ini,” tanya Adriano memastikan.


“Bukankah aku sudah memberikan masa percobaan satu bulan kepada Nona Nikolaev untuk membantuku merakit senjata?” balas Matteo tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari lentik Mia.


“Jadi, kapan kita akan memulai produksi?” tanya Adriano. Ia terlihat sudah tidak sabar.


“Bagaimana jika Anda membuatkan satu saja senjata prototipe sebagai contoh untuk kolegaku di Monaco? Jadi, aku bisa sekalian membawanya hari ini,” saran Adriano kemudian. Sementara Matteo hanya mendengus pelan ketika Adriano sedikit memaksanya untuk merakit senjata.


“Bene, bene (baiklah)!” ujarnya sambil berdiri. Digendongnya Mia kembali dan didudukkannya di kursi roda. “Mari ikut aku ke bengkel senjata,” ajak Matteo sembari mendorong kursi roda Mia.


“Apakah kau juga akan mengajak istrimu ke gudang senjata, Nak?” tanya Damiano keheranan.


“Aku tak bisa meninggalkannya sendirian, Damiano,” jawab Matteo dengan senyuman samar sebelum berlalu.


"Aku bisa menjaga Mia dengan baik," ujar Damiano.

__ADS_1


"Kau sudah menjagaku sejak kecil, Damiano. Aku tak ingin merepotkanmu lagi," sahut Matteo. "Lagi pula, Mia pasti akan kebingungan jika ia ingin ke kamar mandi kalau bukan aku yang mengantarkannya," ucap Matteo lagi seraya menyentuh pundak Mia dengan lembut. Sementara Mia membalasnya dengan meletakan tangannya di atas punggung tangan Matteo.


"Baiklah, tapi kau harus ekstra hati-hati. Jangan sampai Mia merasa kelelahan," ujar Damiano lagi.


"Kau tenang saja, Damiano. Aku dan Mia tidak akan melakukan apapun di sana," sahut Matteo dengan entengnya, sehingga membuat Adriano semakin tak nyaman mendengar ucapan pria itu. Adriano berkali-kali mengusap kening, sebelum akhirnya ia dan Valerie kemudian mengekor gerak Matteo yang mengarahkan mereka ke garasi.


“Jarak rumah dengan bengkel cukup jauh. Kita gunakan kendaraanku saja. Biarkan mobil kalian tetap berada di sini,” terang Matteo.


“Tidak masalah. Aku kemari dengan menggunakan motor bututku. Kurasa tak akan ada yang sudi mencuri benda itu,” gurau Valerie sambil mempermainkan kepang rambutnya.


Mia tertawa pelan mendengar celotehan Valerie. “Kau lucu juga, Nona” ujarnya dengan suara yang terdengar begitu lembut, sangat jauh berbeda dengan gaya bicara Valerie yang terdengar tanpa aturan.


“Lucu adalah nama tengahku, Nyonya,” guraunya lagi, membuat tawa Mia semakin lebar hingga menampakkan lesung pipitnya. Sejenak, Valerie terpana melihat wanita itu, hingga kemudian panggilan Matteo menyadarkannya.


“Segeralah naik. Temani istriku duduk di belakang,” sambil berkata demikian, Matteo mengangkat tubuh Mia untuk yang kesekian kali dan mendudukkannya di kursi belakang. Ia lalu melipat kursi roda dan meletakkannya di bagasi.


Sedangkan Adriano sudah siap duduk di kursi samping pengemudi.


Sesekali Adriano melirik Mia melalui spion tengah.


Wajah wanita cantik itu terlihat jauh lebih ceria dan segar. “Berapa lama lagi gips itu akan dilepas dari kaki Anda, Nyonya?” tanyanya seraya mengarahkan pandangan ke belakang. Tatapan mata birunya seketika berubah saat ia tujukan kepada Mia. Sebagai seseorang yang sangat mengenal Adriano, Valerie yang duduk di sebelah Mia hanya dapat memperhatikan sikap saudara angkatnya itu.


“Kurang lebih sebulan lagi, Tuan D’Angelo,” jawab Mia sopan.


“Aku pernah merasakan retak tulang rusuk dulu, tapi tidak sampai patah,” celetuk Valerie. Ia lalu tersenyum kepada Mia yang saat itu menoleh padanya. Mia pun membalas senyumannya dengan lembut.


“Pasti ngilu sekali ya rasanya Nona ....” Mia menggantungkan kalimatnya karena belum mengetahui nama gadis yang saat itu duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Valerie. Namun, Anda bisa memanggilku Val,” sahut Valerie cepat.


"Oh, nama yang sangat cantik. Kau juga memiliki bola mata yang sangat indah," sanjung Mia membuat Valerie tertawa renyah. Sementara Matteo sudah mulai menjalankan mobilnya dan pergi dari sana.


__ADS_2