Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Florecita's Room


__ADS_3


Dengan rambut yang disanggul asal-asalan, Magdalena berjalan menghampiri putrinya. Ia lalu kembali mengalihkan tatapannya pada seraut wajah tampan yang berdiri di sebelah Daniella. Magdalena melayangkan senyuman kepada sepasang muda-mudi itu. “Hey, siapa si tampan ini, Dani?” tanyanya. Ia lalu mendudukan tubuh ringkihnya di atas sofa berwarna putih tulang dengan motif bunga. Sesekali, wanita itu merapikan cardigan rajut yang ia dikenakan.


“Ibu, perkenalkan ini Theo. Ia adalah kekasihku,” ucap Daniella dengan bangga. Sementara Matteo hanya tersenyum kecil. Pria itu tidak pernah menyangka jika ceritanya akan menjadi seperti ini. Kacau, itulah yang ada di pikiran Matteo saat itu. Ia mencoba menghindar dari perasaannya terhadap Mia, tapi kini malah terjebak dengan Daniella. Matteo sama sekali tidak berniat untuk menjalin asmara dengan kedua gadis tersebut. Sekali lagi ia tegaskan dalam dirinya, jika tujuannya kini hanya satu, yaitu Silvio Moriarty.


“Oh, Theo. Namaku Magdalena. Aku adalah ibu kandungnya Dani. Senang bisa mengenalmu, Nak.” ucap Magdalena lagi dengan ramah.


Matteo tersenyum simpul. Ia pun mengangguk sopan. Ia merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Ini semua tidak ada di dalam rencananya.


“Oh iya, Bu. Apakah ayah sudah pulang dari kedai?” tanya Daniella. Ia menoleh ke bagian lain dari rumah sederhana itu.


“Sudah. Ayahmu baru saja mandi. Lagi pula, Mia kakinya terluka. Entah ulah apa lagi yang telah diperbuat gadis itu?” terang Magdalena.


“Seperti biasa. Gadis itu selalu mencari perhatian. Menyebalkan!” umpat Daniella. Ia menimpali ucapan sang ibu dengan nada kesal. Sementara Matteo hanya terdiam dan memperhatikan sikap dari ibu dan anak itu. Ia dapat menangkap sesuatu dari cara mereka berbicara tentang Mia.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, muncul seorang gadis remaja berwajah manis dengan rambut panjangnya yang indah. Dari penampilannya, sudah menunjukkan jika gadis itu masih berusia belasan tahun. Ia baru keluar dari bagian lain rumah itu, yaitu sebuah kamar dengan pintu berwarna hijau wardah bertuliskan “Florecita’s Room”. Gadis itu berlalu begitu saja tanpa memedulikan Magdalena dan juga Daniella di sana.


“Hey, Francy! Kau tidak ingin berkenalan dengan kekasih baruku?” seru Daniella dengan senyum sinisnya.


“Aku tidak peduli! Kau sudah terlalu sering membawa kekasihmu ke rumah ini!” jawab gadis itu dengan nada bicaranya yang ketus. “Lebih baik aku menemani Mia. Setidaknya ia selalu membantuku belajar!” lanjut gadis itu lagi masih dengan nada bicaranya yang sama.


Daniella mendengus pelan. Sementara Magdalena hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak enak terhadap Matteo yang saat itu menjadi tamu di rumahnya. Dengan segera, wanita empat puluh lima tahun tersebut memberi isyarat kepada Daniella. Gadis itu pun kembali mengalihkan perhatiannya kepada Matteo. “Kau ingin minum sesuatu, Theo?” tawar Daniella seraya mengajak Matteo untuk duduk.


“Boleh,” jawab Matteo singkat. Sebenarnya ia sudah tidak nyaman berada di sana. Entah keluarga seperti apa yang tengah ia datangi kali ini.


“Baiklah. Tunggu sebentar!” Daniella kemudian beranjak dari duduknya. Baru saja ia akan ke dapur, Daniella berpapasan dengan Mia. Kebetulan gadis itu juga sepertinya akan menuju ke sana. Daniella tampak senang melihat Mia di sana. Dengan seenaknya, ia menyuruh adik tirinya agar membuatkan minuman untuk Matteo.


“Kau dan kekasihmu sama-sama merepotkan!” umpat Mia pelan. Rasa cemburu telah membuatnya mengeluarkan kata-kata kasar yang selalu ia hindari selama ini. Namun, sesaat kemudian Mia terdiam. Diliriknya ke arah Matteo sekali lagi. Perasaan indah itu mengaburkan semua logikanya. Dengan tertatih Mia melanjutkan langkahnya menuju dapur dan membuatkan minuman untuk tamu spesial malam itu. Sedangkan Daniella memilih untuk kembali ke ruang tamu. Ia duduk manis di sebelah Matteo dan mengikuti perbincangan santai antara Matteo dengan Magdalena.


Beberapa saat kemudian, Mia telah selesai membuat minuman dan akan segera ia hidangkan. Namun, tentu saja ia malas jika harus menampakan dirinya di depan Matteo. Kebetulan saat itu Francesca yang merupakan adik kandung Daniella muncul di sana. Gadis berusia delapan belas tahun itu terkejut melihat Mia ada di dapur.

__ADS_1


“Mia, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau istirahat!” protesnya.


Mia tersenyum lembut. Berbeda dengan Daniella, Mia sangat menyayangi Francesca. Gadis remaja itu pun jauh lebih dekat dengan Mia, dibandingkan kepada kakak kandungnya sendiri. “Bisakah kau antarkan minuman ini ke ruang tamu?” tanya Mia dengan nada bicaranya yang kembali lembut.


“Apa Dani menyuruhmu melakukan ini?” Francesca tampak jengkel dengan sikap kakaknya. “Oh, Tuhan! Kenapa Kau menciptakan orang yang sangat menyebalkan seperti Daniella?” keluh Francesca dengan setengah menggerutu. Sementara Mia lagi-lagi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman lembut.


“Sudahlah, Francy! Kau terlalu manis untuk berkata kasar seperti itu. Cepat antarkan ke sana!” Mia menyodorkan nampan berisi segelas minuman yang langsung diterima oleh Francesca. Gadis belia itu pun segera melaksanakan tugasnya. Ia masuk ke ruang tamu dan berdiri di hadapan ketiga orang yang tengah berbincang dengan santai di sana. Setelah itu, Francesca meletakkan minuman buatan Mia di atas meja.


“Grazie,” ucap Matteo pelan seraya menatap Francesca untuk sesaat. Gadis berambut panjang itu tersenyum sambil memeluk nampan stainless di dadanya. “Berterima kasihlah kepada kakakku Mia. Ia yang membuatkanmu minuman ini. Aku hanya bertugas mengantarkanya kemari,” jelas Francesca dengan nada bicara yang sedikit ketus terhadap Matteo, dan membuat pria tampan itu terdiam seraya menatap ke arah pintu menuju ruangan lain dari ruang tamu tersebut.


Sementara itu, Daniella melotot tajam ke arah Francesca yang saat itu hanya tersenyum puas seraya mendelik ke arahnya. Akan tetapi, Daniella tidak sempat berkata apa-apa, karena Mr. Gio terlebih dahulu muncul di sana. Pria paruh baya itu tertegun melihat Matteo berada di rumahnya malam itu.


Dengan segera Daniella menghampiri sang ayah. Gadis itu kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Mr. Gio dan bergelayut manja di pundak ayah sambungnya. Mr. Gio seakan sudah dapat menebak makna dari sikap manis yang ditunjukan Daniella kepada dirinya. Tanpa banyak berbasa-basi, pria berkepala setengah botak itu bertanya kepada Daniella. “Permintaan macam apa yang harus kukabulkan untukmu, Dani?”


Daniella tertawa pelan. Ia kemudian mencium pipi sang ayah dengan hangat seraya merengkuh pundak pria bertubuh agak gemuk itu. Sementara Magdalena hanya tersenyum melihat tingkah putri sulungnya. Ia juga memberi isyarat kepada Mr. Gio agar menuruti apa yang akan Daniella minta kepadanya.

__ADS_1


“Seperti yang selalu ayahmu lakukan terhadap Mia, maka ia juga pasti akan melakukan hal yang sama terhadapmu, Dani,” ucap Magdalena dengan yakin.


“Memangnya apa yang kau inginkan, Dani?” tanya Mr. Gio seraya melirik ke arah Daniella. Gadis itu pun balik menatap sang ayah. Setelah itu, ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Matteo. “Aku ingin agar Ayah mengizinkan Theo untuk menginap di sini.” jawab Daniella dengan lugas.


__ADS_2