Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Come With Me


__ADS_3

Wajah cantik Mia terlihat dengan begitu jelas, meskipun tampak pucat dengan lipstik nude yang pakai. Iris mata coklat madunya menatap penuh arti pada Matteo yang sama sekali tak berkedip memandang gadis yang selalu menyelinap di hati dan pikirannya selama tiga tahun terakhir.


“Sudahkah kukatakan padamu bahwa kau terlihat semakin cantik?” bisik Matteo lirih.


Bibir Mia terkatup. Otot tubuhnya seakan kaku menghadapi sosok pria yang begitu dekat dengan dirinya saat ini. Terlebih saat jemari Matteo menyentuh lembut pipi dan bibir Mia, membuat gadis itu seakan membeku. Entah di mana kekuatan dan keberaniannya tadi.


“Tidakkah ada sedikit rasa rindu untukku, Mia?” Matteo semakin mencondongkan wajahnya. Sedikit lagi, dia akan melu•mat bibir ranum dan memesona itu. Namun, sayangnya sebelum keinginan Matteo terlaksana, dering nyaring ponsel memaksanya untuk mundur.


“Maafkan aku, Mia. Aku harus menjawab telepon,” Matteo segera merogoh ponsel dari balik saku mantelnya. “Ada apa Damiano?”


Mia mengamati wajah Matteo yang mendadak berubah menjadi tegang. Ia tampak berbicara serius dengan seseorang, sampai-sampai tak memperhatikan Mia yang beringsut, melangkah perlahan tanpa menimbulkan suara menuju pintu apartemennya. Pelan-pelan, Mia membuka selot pintu, lalu memutar kunci. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara yang akan membuat Matteo membalikkan badan.


Pintu itu sudah sedikit terbuka, sedikit lagi tubuhnya akan berada di luar apartemen. Akan tetapi, satu hal yang terlupa, ia meninggalkan hand bagnya di atas sofa ruang tamu.


“Kau melupakan tas kecilmu, Bella,” tiba-tiba saja Matteo sudah berdiri di samping Mia sambil mengulurkan tangan. Hand bag kesayangannya berada dalam genggaman Matteo. Dada Mia berdebar kencang melihat aksinya terpergok.


“Maafkan aku, cara mia. Aku tak bisa mengizinkanmu keluar,” Matteo menutup kembali pintu apartemen dan menguncinya. Tanpa permisi, ia merangkul Mia dengan erat dan mencium bibirnya. Tak hanya sampai di situ, Matteo juga menggendong tubuh Mia tanpa melepas tautan bibir mereka. Sejenak, Matteo menghentikan aksinya dan bertanya kepada Mia, “Bolehkah aku memilikimu saat ini? Di sini?”

__ADS_1


Seolah terhipnotis, Mia mengangguk pelan seraya melingkarkan tangannya dengan lebih erat, ketika Matteo membawanya ke dalam kamar.


Deru napas lembut, menghiasi kamar dengan nuansa putih itu. Di atas ranjang berlapis seprei warna senada, dengan mudahnya Mia pasrah dalam pesona seorang Matteo de Luca. Pria itu memang seperti sebuah magnet yang dapat menarik perhatian para gadis, termasuk Mia yang awalnya menolak keras kehadiran Matteo.


Akan tetapi, setelah sekian lama akhirnya mereka dapat mengulang kembali kenangan indah pada malam di mana Matteo pergi tanpa pamit untuk menuju Palermo. Harus Mia akui, jika kejadian pada malam itu telah mengubah hidupnya dengan sangat drastis. Ia seperti terobsesi kepada pria itu, sehingga logikanya menjadi cacat ketika ia berhadapan langsung dengan godaan yang diberikan Matteo.


Lama, Mia berusaha untuk melepaskan diri dari bayangan kegagahan seorang Matteo de Luca. Sedangkan Matteo pun kesulitan untuk membuang kenangan tentang betapa lembutnya seorang Mia.


Ya, semuanya terasa begitu berbeda. Jelas sangat berbeda. Semua yang Matteo rasakan ketika ia bercinta dengan Camilla yang agresif dan penuh gairah. Matteo seakan dapat mengekspresikan segala amarahnya di sana.


Namun, lain halnya dengan saat ia bercinta dengan Mia. Semua kemarahan dan emosi yang sulit ia kendalikan, seketika sirna dan luruh dalam kelembutan wanita muda tersebut. Matteo menjadi begitu tenang. Ia mencoba untuk mengikuti irama halus yang mengalun dari setiap sentuhan yang dirasakannya. Ia seperti terhipnotis oleh sebuah nyanyian merdu yang mengantarkannya untuk segera tidur dengan nyenyak.


 


Dari belakang, Matteo bergerak dengan perlahan. Semua keberingasannya tak terlihat saat itu. Ia berubah menjadi sangat lembut dan membuat Mia semakin terhanyut. Entah sudah berapa kali, pria rupawan itu membawanya menuju puncak tertinggi. Namun, sepertinya Matteo belum ingin berhenti. “Apa kau sudah puas, Mia?” bisik Matteo. Pria itu menciumi pundak belakang Mia yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan menjadi daya tarik tersendiri bagi Matteo.


Mia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk perlahan dengan napasnya yang masih tersengal-sengal. Suara desa•hannya terdengar begitu lembut. Tak terbayangkan jika gadis seperti Mia, mampu mengeluarkan sebuah cacian menyakitkan bagi seorang Matteo. Namun, untungnya Matteo dapat memahami hal itu. Ia sangat mengerti dengan sikap yang ditunjukkan Mia. Lagi pula, semuanya telah terobati dengan setiap tetesan peluh yang membasahi tubuh keduanya saat itu.

__ADS_1


Matteo memeluk tubuh Mia dengan semakin erat. Beberapa saat kemudian, pria itu mengakhiri permainan pada pagi menuju siang tersebut.


Untuk sesaat, Mia terdiam. Sementara Matteo masih memeluknya dari belakang dengan helaan napas berat yang menghangat di belakang leher yang juga dihiasi bulu-bulu halus. Matteo dapat melihat hal itu dengan jelas, ketika ia menyibakkan rambut panjang Mia ke samping.


“Aku sangat lelah, Mia,” bisik Matteo. “Aku ingin beristirahat di dekatmu, dan terus memelukmu seperti ini,” lanjutnya seraya membenamkan wajahnya di belakang leher Mia. Sementara Mia hanya terdiam. Ia seakan tengah memikirkan sesuatu, tapi entah apa itu. Hanya dirinya yang tahu.


“Tidurlah, Theo,” ucap Mia pelan tanpa mengubah posisi. Ia lalu meraih ponselnya dan menghubungi salah seorang karyawan di restoran. "Maria. Ini aku Florecita," ucap Mia ketika panggilannya sudah tersambung. "Katakan pada teman-temanmu, hari ini restoran tutup. Nanti kuhubungi lagi, jika urusanku sudah selesai," tanpa berbasa-basi lagi, Mia mengakhiri panggilan teleponnya dan meletakan kembali ponsel tersebut di atas meja.


Beberapa saat kemudian, Mia menoleh ke belakangnya. Matteo sudah terlelap sambil terus memeluknya dengan erat. Pria itu sepertinya sangat kelelahan. Mia pun terdiam untuk sejenak. Wanita muda itu termenung tanpa mengubah posisinya. Hingga beberapa saat kemudian. Mia mulai bergerak. Perlahan, ia melepaskan dirinya dari dekapan pria itu. Mia lalu beranjak ke kamar mandi dan kembali membersihkan diri, dari sisa-sisa keringat dan aroma tubuh Matteo yang menempel di tubuhnya.


Seharusnya saat ini ia sudah berada di restoran, bukannya malah sibuk bergumul dengan pria yang sangat ia benci. Mia merasa jika dirinya begitu kotor. Kenapa ia begitu lemah ketika dihadapkan pada pesona Matteo yang memang sangat sulit untuk ia ingkari. Perasaan itu memang terlalu kuat meskipun telah berusaha untuk ia lawan.


Ada setitik rasa sesal, karena dengan mudahnya ia kembali ke dalam pelukan Matteo. Rasa itu kian berkecamuk di dalam dada. Segera dimatikan shower yang mengalir deras di atas kepalanya, Mia kemudian meraih handuk dan membelitkan handuk tersebut hingga menutupi bagian tubuhnya sebatas dada dan paha.


Dengan rambut yang masih basah, ia melangkah keluar dari kamar mandi dan menatap pria yang sedang terlelap di bawah selimut tempat tidurnya. Mia kemudian melangkah maju dan semakin mendekat ke tempat tidur. Namun, pandangannya kini tertuju pada pistol yang tergeletak begitu saja di atas meja sebelah tempat tidur tersebut. Matteo memang selalu membawa pistol ke manapun ia pergi. Biasanya, senjata api tersebut selalu tersembunyi di balik mantelnya.


Tanpa berpikir panjang, Mia meraih pistol itu. Ia lalu naik ke atas tubuh Matteo dan duduk tepat di bagian perut pria yang masih terlelap dalam tidurnya. Seakan tidak memikirkan apa akibatnya nanti, Mia menodongkan pistol yang ia pegang ke arah Matteo, membuat pria bermata abu-abu itu segera membuka matanya. Tajam, sepasang mata abu-abu milik pria tersebut menatap kepada Mia.

__ADS_1


"Mia?"


"Aku ingin kau mati di tanganku, Matteo de Luca!" geram Mia dengan jemari yang sudah siap menarik pelatuk pistol tersebut.


__ADS_2