
Adriano kembali ke dalam mobil dan menyuruh sang sopir untuk membawanya ke rumah sakit. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Mia saat ini. Perasaan khawatir yang ia rasakan begitu besar. Belum pernah ia begitu peduli pada seorang wanita yang bahkan telah menolaknya dengan mentah-mentah.
Selama ini, tak ada satu wanita pun yang sanggup untuk mengabaikan pesonanya. Akan tetapi, Mia begitu berbeda, padahal wanita itu bisa saja sedikit bermain-main dengannya.
Tak berselang lama, mobil yang membawa Adriano telah tiba di halaman parkir rumah sakit. Pria bertubuh tegap itu segera membuka pintu. Sebelum keluar, ia sempat berpesan kepada Benigno. "Nanti malam kembalilah ke tempat tadi. Ajak beberapa rekanmu untuk membereskan pekerjaanku yang belum selesai. Terserah mau kau buang di manapun mayat pria itu, yang pasti lakukan dengan rapi. Jangan sampai meninggalkan jejak," titahnya dengan penuh wibawa. Setelah itu, ia bergegas keluar dan merapikan kemejanya.
Adriano melangkah dengan gagah. Ia kembali ke ruang tunggu operasi. Di sana, ia melihat Matteo masih duduk termenung. Sedangkan Daniella dan Francesca tengah keluar membeli makanan.
Adriano mempercepat langkahnya, hingga ia berdiri di dekat Matteo yang saat itu duduk dengan setengah membungkukkan badan. "Tuan de Luca," sapa pria bermata biru itu ramah, seperti biasanya.
Matteo yang sudah mulai akrab dengan suara itu, segera menoleh. Ia tampak heran karena melihat Adriano ada di sana. "Tuan D'Angelo? Sedang apa Anda di sini?" tanya Matteo datar dan dingin. Sikap yang selalu ia tunjukkan terhadap pria bermata biru tersebut.
"Kebetulan aku ada urusan di Roma, maksudku sebelum kembali ke Monaco aku memang berniat untuk mampir dulu kemari," jelasnya. "Aku sempat menghubungi Anda, tapi nomor Anda berada di luar jangkauan. Karena itulah aku menghubungi Damiano. Ia mengatakan jika Anda sedang di sini," tutur pria itu lagi. "Bagaimana keadaan Nyonya de Luca?"
Matteo tak segera menjawab. Ia mengusap wajahnya untuk sesaat seraya mengela napas pelan penuh sesal. "Istriku harus menjalani beberapa tahapan operasi di kepalanya. Belum lagi, ia mengalami patah tulang kaki. Namun, baru saja dokter mengatakan jika operasi tahap pertama telah berhasil dilakukan," terang Matteo. Ia mencoba untuk kembali mengendalikan semua emosi dalam dirinya.
Mendengar penuturan Matteo tentang kondisi Mia, dada Adriano kembali bergemuruh. Ia merasa tidak puas hanya dengan menembak mati Alex. Rasanya ia ingin memutilasi pria Rusia itu dengan tangannya sendiri dan memberikan potongan tubuhnya pada Camaro, harimau peliharaannya yang ia simpan di Monaco. Adriano kemudian duduk di sebelah Matteo. "Semua akan baik-baik saja, Tuan de Luca," ucapnya pelan. Ia tidak mengatakan jika dirinya telah menghabisi nyawa Alex sebagai pembalasan dendam atas apa yang telah pria itu lakukan. Sementara Matteo tidak menjawab. Perasaannya masih kacau saat itu. Sesekali ia memijit keningnya.
"Tadinya aku ingin menemui Anda di Casa de Luca," Adriano kembali membuka percakapan dengan Matteo.
"Untuk apa? Aku sudah memberikan penjelasan dengan cukup terperinci. Lagi pula, dalam email yang kami kirimkan semuanya sudah tertera dengan jelas," ucap Matteo datar.
"Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat atau tidak. Ini bukan tentang Du Fontaine, tapi tentang hal lain," balas Adriano seraya melirik kepada Matteo untuk sesaat.
__ADS_1
Matteo menoleh. Tatap matanya tajam penuh selidik terhadap pria yang ada di sebelahnya. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang lain. "Aku harap bukan tentang Mia," gumamnya pelan.
Adriano mendehem pelan demi menetralkan perasaan dalam dirinya. Hatinya selalu bergetar setiap kali mendengar nama wanita itu. "Aku sangat menghormati Nyonya de Luca. Anda tenang saja, karena aku tidak akan berani untuk berbuat macam-macam terhadapnya," Adriano mengela napas untuk sesaat. Bayangan mimpi indah malam itu kembali hadir. Ia juga teringat pada moment ketika Mia menyuguhkan sarapan untuknya. Namun, dengan segera Adriano menepiskan semua itu. "Kita bahas ini nanti saja, saat Anda sudah benar-benar tenang," lanjutnya.
"Tak apa, katakan saja," ucap Matteo datar tanpa menoleh kepadanya.
Adriano membetulkan posisi duduknya. Raut wajah tampan yang selalu terlihat tenang, kini tampak semakin serius saat itu. "Begini, Tuan de Luca," ia mulai berbicara dengan nada yang terdengar sangat tenang.
"Aku akan kembali ke Monaco besok. Namun, semalam salah seorang kolega bisnisku mengirimkan pesan. Ia mengatakan jika dirinya membutuhkan pasokan senjata yang mumpuni dan lebih dari sekadar canggih. Aku pernah mendengar tentang kehebatan dari senjata hasil rakitan Anda. Jika Anda berminat, maka aku bisa membuka jalan kerja sama yang menguntungkan bagi Klan de Luca, mengingat kolegaku adalah orang yang sangat berpengaruh dalam dunia mafia internasional," tutur Adriano dengan yakin.
Matteo menoleh dan menatap pria itu dengan lekat. Lagi-lagi, ia seperti tengah mengamati gestur yang diperlihatkan Adriano dengan sangat teliti. Matteo harus berhati-hati, ia tak boleh gegabah dan tergiur dengan keuntungan semata. "Sudah cukup lama aku tidak merakit senjata, dari semenjak semua anak buahku terbunuh. Sulit untuk mencari pengganti mereka yang telah benar-benar mengerti sistem kerjaku. Lagi pula, tak semua orang memahami pekerjaan itu," jelas Matteo. Ia mulai terlihat tenang dalam pembawaannya.
"Ya, aku bisa memahaminya. Namun, menurutku akan sayang sekali jika kesempatan ini Anda lewatkan begitu saja. Jika Anda mau, aku bisa merekomendasikan beberapa ahli yang dapat Anda perbantukan. Namun, aku yakin Anda memiliki kriteria sendiri dalam hal itu," ujar Adriano lagi. Ia terus membujuk dan meyakinkan Matteo agar menerima tawaran darinya.
"Tentu saja. Aku tidak bisa membawa sembarangan orang untuk masuk ke bengkelku. Memangnya, kapan senjata itu dibutuhkan?" Matteo tampak mulai tertarik. Bagaimanapun juga, merakit senjata adalah seperti hidup kedua bagi pria bermata abu-abu tersebut.
Matteo terdiam dan berpikir. Belum sempat ia menanggapi ucapan dari Adriano, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Ia segera berdiri dengan jantung berdebar. Apalagi ketika dokter itu tampak hendak berbicara padanya.
“Bagaimana Miaku? Bagaimana keadaannya?”
Adriano melirik sesaat ke arah Matteo saat pria abu-abu itu menyebut nama istrinya yang terdengar begitu manis di telinga.
“Ini prosedur kraniotomi paling cepat yang pernah kami lakukan,” tutur dokter itu, membuat Matteo mengernyit keheranan.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Matteo.
“Kraniotomi adalah prosedur pembedahan otak. Untuk kasus cedera kepala seperti yang dialami oleh istri Anda, maka kami harus melubangi tempurung kepalanya agar kami dapat menghentikan pendarahan yang menumpuk di antara otak dan tengkorak,” jelas sang dokter.
Rasa ngilu dan perih menjalar di dada Matteo akibat mendengarkan keterangan dari dokter itu.
“Lalu, apakah operasinya berhasil? Apakah Mia baik-baik saja?” tanya Matteo.
“Kami berhasil menghentikan pendarahan. Dari scan otak, tidak ada pembengkakan yang terjadi. Kami bisa memastikan bahwa kondisinya baik. Mungkin yang membuatnya tidak baik adalah kami terpaksa harus mencukur habis rambut indah istri Anda,” dokter itu mencoba melempar gurauan untuk mencairkan suasana.
Matteo mengembuskan napas lega. Serasa ada ribuan batu berat yang terangkat secara bersamaan dari atas tubuhnya. Demikian pula halnya dengan Adriano yang juga memperlihatkan wajah lega.
“Jadi, bisakah aku bertemu dengan istriku sekarang?” raut Matteo tampak mengiba.
“Maaf Tuan. Setelah ini akan dilanjutkan dengan operasi tulang kaki yang patah di beberapa titik. Anda harus bersabar menunggunya. Berilah semangat istri Anda dalam doa,” saran dokter itu sebelum kembali masuk ke dalam ruangan.
Matteo terpaku di tempatnya. Saran sang dokter untuk berdoa, begitu mengusik sanubarinya. Ia bukanlah pria religius seperti Valentino Diori yang tidak pernah terlambat menghadiri acara peribadatan di gereja. Matteo tahu pasti akan hal itu, karena ia dulu pernah menyuruh seseorang untuk membuntuti pria tersebut. Setidaknya hal itulah yang patut ia simpulkan dari sosok mendiang suami Mia, pria malang yang bahkan belum sempat menyentuh istrinya. Matteo menunduk. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia sadar kini sepenuhnya kini bahwa dirinya tak sesempurna Valentino.
“Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali, Tuan D’Angelo. Aku tidak bisa memikirkan apapun saat ini,” ucap Matteo pelan sembari berjalan gontai, meninggalkan Adriano yang menatapnya iba.
“Anda mau ke mana?” seru Adriano.
Matteo menghentikan langkah untuk sejenak. Posisinya yang membelakangi Adriano sangat menguntungkan, karena Adriano tak dapat melihat mata abu-abunya yang berkaca-kaca. “Aku ingin berdo'a untuk istriku,” jawabnya.
__ADS_1